Mag-log inRefleks, semua kepala menoleh ke asal suara.Salah satu unit apartemen meledak dengan keras, getarannya terasa hingga ke dada. Api yang tadinya sudah mengkhawatirkan kini merembet semakin liar, melalap aSirene mobil pemadam kebakaran memekakkan telinga. Lima unit tambahan didatangkan, namun api seolah tidak mau takluk. Benda-benda mudah terbakar di dalam gedung menjadi bahan bakar yang terus memperpanjang umur si jago merah.Mata Rick terbelalak. Mulutnya membuka dan menutup beberapa kali, tidak mampu membentuk satu kata pun. Pikirannya benar-benar kacau balau. Dia bahkan tidak tahu nomor unit Elara. Tadi sudah bertanya pada Meilissa, tapi wanita muda itu sama bingungnya dengan dia."Cutie pie... Sayang..., jangan menakuti aku. Please, please..."Batin Rick terus mengulang kalimat itu, seperti doa yang dilafalkan berulang kali tanpa sadar. Dadanya naik turun tidak beraturan. Matanya menatap nanar lantai yang terbakar itu, dan sesuatu dalam dirinya, perasaan yang tidak bisa dijelaskan
"Uncle, coba tebak! Dimana aku sekarang? Aku sedang mengantar kue buatanku...."Suara itu terus berputar di kepala Rick.Nada Liora yang menggoda, kalimat yang belum selesai diucapkan, lalu foto kue yang tidak kunjung terkirim. Rick benar-benar takut kalau itu akan menjadi suara terakhir yang dia dengar dari Liora.Kakinya mengetuk-ngetuk secara beirama. Jarak yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu hanya lima menit, terasa lebih lama dari seharusnya.Taksi tidak bisa masuk. Jalan juga ditutup. Ada jarak aman yang harus dipatuhi oleh semua pengguna jalan di sekitar area kebakaran.Peraturan itu biasa dilakukan saat penanganan kebakaran, tapi Rick tidak bisa patuh malam ini."Terima kasih, Pak." Rick menempelkan jempol pada dompet digitalnya untuk membayar taksi, lalu membuka pintu dan melompat keluar.Begitu kakinya menyentuh aspal, Rick langsung berlari sekuat tenaga ke arah gedung apartemen yang tampak menyala dan berasap hitam tebal.Napas Rick menderu, bersamaan dengan dadanya t
Di Maple Grove Resident,"T-tolooong!" teriak Liora sekeras yang dia bisa. Berharap ada seseorang atau siapa pun diluar sana akan mendengar suaranya.Otaknya memerintah untuk lari, tapi kakinya tidak mau patuh. Kakinya seolah terpaku di lantai, berat dan tidak mau bergerak.Sekujur tubuhnya bergetar tak terkendali. Di depan mata, dia melihat sendiri bagaimana api dengan ganas melahap tubuh Helena."O-oma..." Liora ingin berteriak, tapi yang keluar hanya bisikan parau yang nyaris tidak terdengar di tengah kepanikan."TOLOOOOONG!" Helena berteriak lebih keras, suaranya membelah ruangan.Helena berputar-putar seperti orang yang kehilangan arah.LTubuhnya bergerak ke sana ke mari, mencari pertolongan yang tidak kunjung datang. Kakinya goyahkan, dan dia menjatuhkan diri ke lantai.Sayangnya, itu bukan keputusan yang tepat.lKarpet di bawahnya sudah basah oleh cairan yang tumpah sebelumnya, dan justru cairan itulah yang membuat api makin liar menyebar.lSedetik kemudian, lidah api sudah menj
"Uncle, coba tebak! Dimana aku sekarang?"Suara Liora mengalir dari speaker — bernada menggoda dan penuh teka teki. Rick menggelengkan kepala pelan.Dibenaknya langsung terbayang ekspresi Liora yang menyebalkan, tapi sangay menggemaskan. Mata yang berbinar nakal, serta kedua sudut bibir yang menahan senyum.Rick melangkah keluar menuju area kedatangan terminal sambil menyeret trolley hitamnya, kemudian dia berhenti sejenak di tengah arus penumpang yang berlalu-lalang.Awalnya, Rick sengaja datang tanpa pemberitahuan untuk memberi kejutan kecil pada gadis kesayangannya.Berhubung Liora memberi permainan tebak-tebakan, maka Rick mengikuti permainan gadis itu. Dia mengangkat ponsel, lalu membiarkan keramaian bandara mengisi rekaman voice notenya.Pengumuman dari pengeras suara, langkah kaki dan suara orang-orang disekitar bercampur dengan bunyi gesekan roda koper di lantai. Semuanya masuk ke dalam voice note, demi memberi petunjuk.Setelah beberapa detik, Rick mendekatkan ponsel ke bibir
"... Membunuh Ethan?"Ya Tuhan...Liora tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Kata-kata itu seperti suara lebah yang berdengu—tajam, tidak mau lepas..Menghalalkan segala cara demi harta? Setega itulah seorang Helena?Baru sekarang Liora mengerti mengapa Elara hampir tidak pernah menyebut nama ibunya dalam percakapan mereka.Bukan sekadar tidak akur atau beda prinsip, melainkan ada sesuatu yang jauh lebih kelam—dan kini kegelapan itu terkuak secara bertahap, tepat di depan telinga Liora yang tidak mempersiapkan diri untuk mendengarnya."Tapi, siapa yang bodoh di sini? Ethan marah karena kamu ketahuan hamil dan punya anak di luar nikah!" Helena berteriak, suaranya tinggi seperti orang histeris.Liora bisa merasakan bahwa emosi Helena sudah meledak sepenuhnya.Andai kamu menurut padaku sejak awal! Ethan tidak akan pernah tahu kamu punya anak! Tapi kamu—""Mama!""—kamu ceroboh! Kamu sendiri yang merusak rencanaku demi gadis ingusan itu. Dan sekarang kamu malah berani menya
"Mamamu sedang kesulitan. Apa hatimu tidak tergerak untuk membantu?" Helena terus mendesak Liora.Tidak langsung menjawab, Liora menarik napas pelan dan menghembuskannya. Sebisa mungkin menjaga mimik wajahnya supaya tetap tenang meski perasaan tidak nyaman mulai merayapinya.l"Ingin sih...," jawab Liora akhirnya. Kalimat itu sengaja dibiarkan menggantung. Nalurinya mengatakan kalau dia harus segera kabur dari tempat ini.Belum sempat Liora menyusun kalimat berikutnya, tangan Helena sudah terulur ke arahnya. Lebih tepatnya, tangan itu tertuju pada tas selempang yang menggantung di bahu Liora."Kalau ingin membantu, cepat berikan padaku kartumu!" pinta Helena tanpa sungkan.'Tidak sopan sekali!' umpat Liora dalam hati."Maaf, Oma. Bukan begitu caranya." Liora menepis tangan itu sebelum sempat menyentuh tasnya. Gerakannya halus, tapi tegas.Jarak Helena dan dirinya tidak sampai satu meter, terasa seperti ancaman."Aku tunggu Mama diluar saja," putus Liora cepat.Liora berbalik badan dan b
Napas Meilissa tersentak saat bibir Lionel tiba-tiba menangkup bibirnya. Matanya membelalak, sementara jantungnya berdegup begitu keras hingga terasa menyakitkan di dada.Ada sepersekian detik ketika pikirannya menolak mempercayai apa yang sedang terjadi.Tidak.Ini tidak mungkin.Namun, sebelum se
“Hey, ponselku!” pekik Meilissa. Tangannya refleks terulur ke depan, tapi ponsel itu sudah lebih dulu berpindah tangan.Dia mendongak—dan amarah yang sempat menyala di matanya langsung meredup, berubah menjadi keterkejutan yang nyaris membuatnya lupa bernapas.Lionel berdiri di hadapannya dengan se
Tangan Kevin menutup mulut Meilissa dengan refleks, seolah takut kata-kata yang hendak keluar dari bibir gadis itu akan melukai dirinya sendiri.Mata Meilissa terbelalak. Ada keterkejutan yang tidak sempat dia sembunyikan—bukan karena sentuhan itu, melainkan karena situasinya.Baru kali ini dalam hi
"Maafkan. Aku benar-benar tidak tahan…."Kata-kata itu terus terngiang di kepala Meilissa, membuat tidurnya tidak pernah benar-benar nyenyak. Seharian dia tidak fokus pada apa yang dikerjakannya.Dia pergi ke kampus secara otomatis, mengerjakan segala sesuatu bagaikan robot yang sudah diprogram.Bah







