LOGINSuara dari tablet itu mengisi ruangan dengan lantang."TERUNGKAP! Dokter kandungan terkemuka menikah dengan seorang wanita muda yang merupakan salah satu karyawan di kliniknya.Mengejutkan sekali. Duda kesayangan kita semua sudah mengakhiri masa lajangnya secara diam-diam.Nama wanita muda itu adalah Meilissa Rose. Teman kuliah Liora Sinclair, puteri Lionel Sinclair. Wanita itu dikenal sebagai salah satu mahasiswi berprestasi. Saat ini dikabarkan kalau Meilissa Rose dan Dokter Lionel sedang bekerja sama dalam penelitian terbaru pil untuk kontrasepsi.Ini bukan kabar burung. Bukan hoaks.Sudah terbukti! Pernyataan itu keluar dari mulut Dokter Lionel sendiri saat Meilissa berseteru dengan wanita yang mengaku sebagai ibu kandung Meilissa."Sesaat ditampilkan tayangan video pendek interaksi Lionel, Meilissa dan Miranda di lobby rumah sakit. Percakapan mereka terdengar jelas.Tayangan video berakhir. Narasi kembali mengalun."Yang menjadi pertanyaan kita semua adalah kapan mereka menikah?
"Anak durhaka! Seharusnya aku tidak pernah melahirkan kamu! Kamu memang anak tidak tahu diri!"Teriakan itu membahana di lobby rumah sakit yang luas. Terlalu keras, untuk fasilitas umum yang sangat butuh ketenangan.Lobby rumah sakit yang biasanya hanya diramaikan oleh suara langkah kaki dan roda brankar mendadak sunyi sesaat, lalu bisikan-bisikan terdengar seperti dengungan lebah.Kepala orang-orang menoleh hampir bersamaan ke arah sumber suara. Tatapan mereka tertuju pada Lionel yang memang punya nama, tidak hanya di rumah sakit tapi juga di kota ini.Rahang Lionel mengeras saat mendapati perlakuan kasar Miranda terhadap istrinya.Miranda berdiri dengan postur satu tangannya mencengkeram rambut Meilissa kuat-kuat. Jari-jarinya terbenam jauh ke dalam helai-helai itu seolah tidak berniat melepas.Meilissa tidak bisa menoleh. Istrinya itu hanya bisa menahan kepalanya mengikuti setiap gerakan Miranda.Tubuhnya meliuk ke sisi yang ditarik, mencoba dengan segala cara untuk mengurangi rasa
Rumah Sakit Sinclair, kamar VVIP Liora.Lampu kamar menyala hangat, cukup terang untuk bercermin. Liora berdiri di depan cermin kecil di samping ranjang, meneliti wajahnya dengan ekspresi serius. "Mei," panggilnya pelan, "kulitku jadi keriput. Asap kebakaran itu merusaknya."Meilissa yang sedang duduk di kursi sebelah meja mendongak, lalu bangkit mendekat. Dia memiringkan kepala, mengamati wajah sahabatnya dari jarak dekat, sisi kiri lalu sisi kanan."Mana kerutannya?" tanyanya menyelidik. Matanya menyapu kulit Liora yang tampak bersih, tanpa tanda-tanda kerusakan berarti. "Dua hari pakai skincare yang benar, sudah kembali bagus."Liora terus menatap wajahnya di cermin. Wajahnya tampak lega karena lolos dari musibah kebakaran. Kakinya terkilir dan sudah ditangani dengan baik.Tidak membuang waktu, Meilissa mengambil tasnya dari atas meja, membukanya, dan mengeluarkan rangkaian perawatan kulit yang rupanya memang sudah dia siapkan dari rumah.Satu per satu diaplikasikan dengan tangan l
Orang pertama yang Rick lihat saat kesadarannya pulih adalah Lionel.Beberapa detik pertama, Rick hanya bisa diam. Pikirannya masih terasa seperti kapas basah — berat, tidak teratur, serta susah diajak bekerja sama. Bau antiseptik masuk ke hidungnya lebih dulu sebelum apapun yang lain.Dari situlah otaknya mulai menyusun keping-keping kesadaran: langit-langit putih, lampu neon, selimut rumah sakit yang kaku di atas pahanya.Rumah sakit."Sudah waras, Bro?" tanya Lionel.Dia berdiri tepat di hadapan Rick — di ujung tempat tidur, dekat kaki, dengan kedua tangan dibenamkan santai ke dalam saku celananya. Postur tubuhnya terlalu rileks untuk seseorang yang seharusnya khawatir."Apa yang terjadi?" tanya Rick.Lionel tidak menjawab dengan kata-kata.Dia mengeluarkan ponsel dari sakunya, mengutak-atiknya sebentar dengan ekspresi datar, lalu melemparkan benda itu begitu saja ke pangkuan Rick."Seharusnya aku yang bertanya," kata Lionel, nada suaranya terdengar seperti orang yang sedang menaha
"Sosok laki-laki 'gila' yang mencari kerabatnya yang hilang dalam kebakaran."Meilissa membaca teks yang tertera di bagian bawah layar ponselnya, matanya menyipit mengikuti deretan kata-kata itu.Keningnya berkerut. Ada sesuatu yang familiar dari sosok di dalam video itu, dari cara tubuh itu bergerak, dari siluet bahunya yang tegang di bawah sorot lampu darurat."Om," panggilnya pelan.Lionel melirik sebentar dari balik kemudi, matanya kembali ke jalan dalam hitungan detik. "Apa?""Ini..." Meilissa membalik ponselnya ke arah Lionel, tapi sadar suaminya sedang menyetir, dia menarik ponselnya lagi. "Rick."Hening sesaat."Rick?" Lionel mengulang nama itu dengan nada yang berbeda. Bukan pertanyaan, lebih seperti konfirmasi yang tidak dia harapkan."Dia di TKP, Om. Kayaknya dia nyari Liora, tapi dilarang masuk." Meilissa membesarkan volume ponselnya, membiarkan suara dari siaran langsung itu mengisi kabin mobil.Di layar, Rick tampak terduduk lemas di aspal.Seorang petugas kepolisian jon
Di Klinik Sinclair,Meilissa menerobos masuk ke ruang praktik Lionel seperti orang yang kehilangan arah. Kakinya melangkah lebih cepat dari pikirannya.Pasien terakhir baru saja menutup pintu dari luar, dan perempuan itu langsung menyerbu masuk tanpa sempat mengetuk, satu tangan masih sibuk menekan layar ponsel, mencoba menghubungi Pak Sopir untuk kesekian kalinya.Nada sambung beruntun terdengar, pertanda Pak Sopir sedang online dengan orang lain.Tapi, Meilissa tidak menyadarinya. Dalam pikirannya hanya ada satu, yaitu Pak Sopir tidak merespon. Artinya GAWAT!Lionel mendongak dari meja kerjanya, kedua alis terangkat saat melihat raut wajah panik Meilissa."Ada apa?" tanyanya. Nada suaranya datar, tapi matanya langsung membaca bahwa ini bukan urusan biasa. Meilissa bukan tipe orang yang main masuk tanpa permisi, apalagi saat jam praktik belum selesai."Om, aku mau ke apartemen Elara. Sekarang!" seru Meilissa. Suaranya sudah retak di ujung. Tangannya menggenggam erat ponsel yang baru
Kabar kepulangan Lionel menyebar jauh lebih cepat dari yang dia perkirakan.Pagi itu, Nyonya Besar Sinclair duduk tegak di kursi utama ruang makan. Cahaya matahari menembus tirai tipis berwarna gading, memantul di permukaan meja marmer panjangSuasana pagi yang indah tidak bisa membuat wanita itu t
"Setelah Nona Liora bangun, Bibi sampaikan pesannya. Ya, Non?" jawab Bibi Emma akhirnya."Ya," jawab Meilissa pendek. Dia tahu kalau Bibi Emma tentu tidak berani membangunkan Liora.Meilissa kembali menatap layar ponselnya lagi, berharap ada perubahan sekecil apa pun. Satu notifikasi. Satu tanda kal
"Astaga, Mei! Pertanyaan macam apa itu?" sergah Lionel gemas. Seluruh tubuhnya bereaksi hebat setiap kali mendengar ucapan-ucapan Meilissa yang terus menyerang benteng pertahanannya.Meilissa mengerjapkan mata. "Itu isi kepalaku.""Kamu membuatku gila!" Lionel langsung meraup tubuh Meilissa.Angkat
Pelan-pelan Meilissa mulai menikmati setiap sentuhan Lionel. Tubuhnya terasa lebih relaks. Dia menyukai semua pijatan yang di lakukan oleh Lionel padanya.Otot-otot di bahu dan lehernya tidak setegang tadi. Semakin lama pijatan itu semakin membuatnya nyaman."Bagaimana? Enak bukan?" tanya Lionel di







