Mag-log in"... Membunuh Ethan?"Ya Tuhan...Liora tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Kata-kata itu seperti suara lebah yang berdengu—tajam, tidak mau lepas..Menghalalkan segala cara demi harta? Setega itulah seorang Helena?Baru sekarang Liora mengerti mengapa Elara hampir tidak pernah menyebut nama ibunya dalam percakapan mereka.Bukan sekadar tidak akur atau beda prinsip, melainkan ada sesuatu yang jauh lebih kelam—dan kini kegelapan itu terkuak secara bertahap, tepat di depan telinga Liora yang tidak mempersiapkan diri untuk mendengarnya."Tapi, siapa yang bodoh di sini? Ethan marah karena kamu ketahuan hamil dan punya anak di luar nikah!" Helena berteriak, suaranya tinggi seperti orang histeris.Liora bisa merasakan bahwa emosi Helena sudah meledak sepenuhnya.Andai kamu menurut padaku sejak awal! Ethan tidak akan pernah tahu kamu punya anak! Tapi kamu—""Mama!""—kamu ceroboh! Kamu sendiri yang merusak rencanaku demi gadis ingusan itu. Dan sekarang kamu malah berani menya
"Mamamu sedang kesulitan. Apa hatimu tidak tergerak untuk membantu?" Helena terus mendesak Liora.Tidak langsung menjawab, Liora menarik napas pelan dan menghembuskannya. Sebisa mungkin menjaga mimik wajahnya supaya tetap tenang meski perasaan tidak nyaman mulai merayapinya.l"Ingin sih...," jawab Liora akhirnya. Kalimat itu sengaja dibiarkan menggantung. Nalurinya mengatakan kalau dia harus segera kabur dari tempat ini.Belum sempat Liora menyusun kalimat berikutnya, tangan Helena sudah terulur ke arahnya. Lebih tepatnya, tangan itu tertuju pada tas selempang yang menggantung di bahu Liora."Kalau ingin membantu, cepat berikan padaku kartumu!" pinta Helena tanpa sungkan.'Tidak sopan sekali!' umpat Liora dalam hati."Maaf, Oma. Bukan begitu caranya." Liora menepis tangan itu sebelum sempat menyentuh tasnya. Gerakannya halus, tapi tegas.Jarak Helena dan dirinya tidak sampai satu meter, terasa seperti ancaman."Aku tunggu Mama diluar saja," putus Liora cepat.Liora berbalik badan dan
Liora menelan ludah, dan matanya tidak bisa lepas dari meja dengan tabung-tabung di atasnya.Ruangan itu lumayan besar, dan dia baru menyadari kalau beberapa aroma bercampur menjadi satu Manis, tajam, hangat, dan sedikit pahit.Di atas meja kayu panjang, berjejer puluhan botol kaca, tabung reaksi, pipet, serta kertas-kertas kecil dengan coretan yang tidak bisa dia lihat dengan jelas dari posisi berdirinya."Mmm..., maaf, Oma. Aku cuma penasaran untuk apa benda-benda itu?" Liora memberanikan diri bertanya sambil menunjuk ke arah meja tadi.Helena beranjak dari posisinya dan melangkah dengan gerakan anggun yang dibuat-buat.Sepersekian detik tatapan matanya berubah, bersamaan dengan senyumnya yang merekah.Sayangnya, senyum itu bukan senyum hangat. Melainkan senyum yang membuat tengkuk Liora meremang."Kenapa? Kamu heran?" Helena bertanya pelan.Lalu, tanpa aba-aba, ekspresinya berubah tajam. "Itu semua gara-gara kamu!" ketusnya.Liora terdiam. Ekspresinya tampak berpikir keras."Aku?"
"Mau apa kesini?" tanya Helena.Liora menelan ludah. Ada sesuatu dalam cara wanita itu berdiri di ambang pintu yang terasa seperti tembok es. Dingin, kokoh, dan tidak ramah.Sepasang mata Helena menatapnya dengan tajam, seakan sedang menilai setiap inci dalam diri Liora. Dari ujung kepala hingga ujung kaki."Ehm, Oma... Helena?" Liora berusaha menyapa sesopan mungkin, suaranya sedikit bergetar saat menyebut nama Neneknya.Sepasang mata Liora tanpa sadar bergerak ke celah pintu di belakang Helena, mencari-cari sosok yang lebih familiar."Aku ingin bertemu dengan Mama. Apa Mama ada di dalam?" tanya Liora kemudian."Elara sedang tidak ada di rumah," jawab Helena singkat."Oo...." Liora mengerucutkan bibirnya sambil berpikir ulang tentang kejutan ulang tahun hari ini.Keheningan yang menyusul terasa begitu tidak nyaman. Liora berdiri mematung di depan pintu, tidak tahu apakah sebaiknya dia pamit pulang atau bertahan.Ini adalah pertemuan pertama Helena dan Liora. Selama ini, Liora hanya pe
Keesokan paginya, Meilissa sudah berdandan cantik. Dia turun dari lantai dua lengkap dengan setelan kerjanya.Rencananya, Pak Sopir akan mengantar Meilissa lebih dulu kemudian baru mengantar Liora ke apartment Elara.Berhubung Liora akan menghabiskan waktu dengan Elara, maka Meilissa berencana menghabiskan lebih banyak waktu untuk bekerja di klinik dan bersama Lionel setelah jam kerja usai."Kamu sudah siap?" sapa Meilissa. Dia memperhatikan penampilan Liora yang sudah cantik.Liora memutar tubuhnya, kain dressnya mengembang. "Sudah dong. Yuk!" ajaknya.Mereka berjalan keluar rumah, langsung ke mobil yang sudah stand by di dekat teras. Di belakang mereka, Bibi Emma mengikuti sambil menjinjing kotak berisi kue buatan Liora."Non Mei," panggil Bibi Emma terlihat gelisah, "Nanti Non Mei turun di klinik lebih dulu dari Non Liora ya?""Iya. Kenapa, Bi?" tanya Meilissa heran. Mobil mereka akan melewati klinik Sinclair barulah apartment yang dituju oleh Liora.Alih-alih menjawab, Bibi Emma me
Air jacuzzi beriak pelan, memantulkan cahaya hangat dari lampu di langit-langit ruang gym yang sepi.Sisa-sisa aroma manis kue tart masih samar tercium dari rambut mereka, bercampur dengan wangi aroma terapi yang menenangkan.Di tepi jacuzzi, sebuah nampan kecil diletakkan rapi. Di atasnya, satu teko berisi jus dingin yang mulai berembun dan dua gelas kosong.Liora berdiri perlahan dari dalam air, kulitnya berkilau oleh percikan. Tanpa banyak bicara, dia meraih teko itu, lalu menuangkan jus ke dalam kedua gelas kosong itu.Dia sengaja melakukan semua itu dengan gerakan yang sangat lambat, seolah menunda selama mungkin untuk menjawab pertanyaan sahabatnya.Dia menyerahkan satu gelas pada Meilissa, lalu kembali ke posisinya semula, menyandarkan punggung pada dinding jacuzzi.Dia menyodorkan satu gelas kepada Meilissa, lalu kembali duduk di sisi semula, membiarkan air hangat memeluk tubuhnya. Liora meneguk minumannya pelan, lalu menatap permukaan air sejenak sebelum akhirnya berkata,“Un
“Papa dari mana?” tanya Liora heran saat Lionel akhirnya masuk ke dalam kamar rawatnya.Sudah hampir satu jam berlalu sejak Bibi Emma mengatakan Lionel hendak menemui dokter sebentar. Suster bahkan datang lebih dulu untuk memeriksa tekanan darah dan memastikan kondisi Liora stabil.Dengan wajah mas
“Dokter, saya mohon—”Tanpa memberi kesempatan pada Clara untuk melanjutkan kalimatnya, Lionel langsung memotong dengan suara dingin, “Temui HRD. Aku tetap akan memberimu kompensasi, meski ini adalah salahmu.”Bahu Clara luruh seketika. Dia sudah mengenal Lionel cukup lama untuk tahu ketika laki-lak
"Non, Tuan Lionel mau datang. Katanya sudah dalam perjalanan...." Bibi Emma berkata pelan sambil membaca pesan singkat di ponselnya.Suara itu memecah kesunyian kamar rawat mewah yang dihuni oleh Liora. Di dekat jendela, tirai putih tipis bergerak pelan tertiup angin dari ventilasi AC.Di atas ran
Nama-nama itu meluncur masuk ke dalam otak Liora. Satu per satu, seperti tali yang dilemparkan ke seseorang yang hampir tenggelam.Bukan sekadar nama-nama orang, melainkan lingkaran orang yang mencintainya tanpa syarat.Meilissa.Papanya.Bibi Emma.Oma Beatrice.Mereka berbeda dari Ferdinand. Mere







