LOGINLionel memejamkan mata. Pertanyaan itu terasa menekan dirinya begitu hebat. Tidak hanya ada Liora di ruangan ini, tapi juga Meilissa.Sungguh, Lionel tidak ingin menyakiti salah satu dari mereka.“Aku tidak membencinya. Bagaimana pun, dia adalah wanita yang melahirkan putri kesayanganku," ungkap Lionel kemudian.Dia hanya bisa berharap Meilisa punya hati seluas samudera untuk memaklumi kondisinya saat ini.Di hadapannya Liora termangu saat Lionel melanjutkan ceritanya. “Tapi aku juga tidak akan pernah mencarinya.”"Kenapa, Papa?" tanya Liora. Di dalam kepalanya muncul sebuah potret keluarga bahagia. Orang tua lengkap. Papa, Mama dan dirinya.Lionel menatap sendu pada Liora. Dalam hati, dia berkata, "Karena tanpa dia pun, hidup kita baik-baik saja."“Papa tidak mencintainya?” bisik Liora seakan tak percaya. Di dalam kepalanya, hanya ada sebuah pemahaman lugu seorang anak gadis bahwa seorang anak hadir karena cinta sepasang laki-laki dan perempuan.Pertanyaan itu melesat cepat menembus
Di Klinik Sinclair…“Hasil uji panel hormonnya sudah keluar semua, Dok?” tanya Meilissa.Tatapannya serius menelusuri grafik pada tablet di tangannya. Disana tertera deretan angka progesteron dan estrogen yang menjadi fondasi penelitian Lionel selama enam bulan terakhir.“Sudah. Sampel terakhir masuk semalam,” jawab Lionel tenang. “Polanya konsisten. Respons terapi kombinasi dosis rendah stabil sesuai hipotesis awal.”Percakapan profesional memenuhi ruangan itu. Saat ini Lionel dan Meilissa tidak sedang melakukan percakapan suami dan istri atau pun berbicara santai seperti dua sahabat lama.Yang ada hanyalah dua tenaga medis yang sedang menatap masa depan riset mereka.Sebagai farmasi analis junior, Meilissa sengaja dilibatkan penuh dalam proyek ini. Lionel ingin istrinya berkembang. Dia ingin suatu hari nanti Meilissa berdiri mandiri dan memiliki apotek sendiri, membangun namanya dengan kompetensi, bukan bayangannya.“Respons terhadap kombinasi dosis rendah tetap stabil ya, Dok?” Mei
Ponsel Liora bergetar pelan di atas meja, memecah sunyi yang beberapa saat melingkupi Elara dan dirinya.Getaran kecil itu terasa seperti jeda yang menyelamatkan. Ritme napas Liora yang sempat tercekat perlahan kembali teratur. Setidaknya telepon ini bisa menmnberi celah bagi hatinya untuk beristirahat dari percakapan yang terlalu berat.Tanpa banyak pikir, dia meraih ponselnya. Satu nama tertera jelas di sana.Meilissa.Segera jempol Liora segera menggeser ikon hijau di layar.“Kamu di mana, Sayang?” Suara Meilissa yang lembut mengalun dari seberang.Seketika sudut bibir Liora terangkat. Hanya dengan mendengar suara sahabatnya, beban di dadanya terasa sedikit mengendur.“Aku ada di kafe dekat rumah. Sarapan bersama Tante Elara."Sebutan Tante meluncur begitu saja seperti yang sudah-sudah. Sekarang dia tahu kebenaran yang sesungguhnya, tapi lidahnya belum siap menyebut Elara sebagai Mama, terutama di depan Meilissa.Di seberang sana, Meilissa terdiam sesaat. Nama Elara membuat firasat
Bertahun-tahun yang lalu…Aroma antiseptik yang tajam memenuhi indera penciuman Elara saat kesadarannya perlahan kembali. Langit-langit putih menyambut pandangannya yang masih buram.Kepalanya terasa berat, tubuhnya lemas seolah seluruh tenaga tersedot habis.Dia mengedarkan pandangan, mencoba menyusun ingatan yang tercerai berai“Elara," panggil Helena. Suara itu terdengar tegas dan dingin.Elara menoleh. Sosok Helena berdiri di samping ranjang rumah sakit dengan wajah tegang.“Ini dimana, Ma?” tanyanya lirih, memastikan kalau dugaannya tidak salah. Hal terakhir yang dia ingat adalah perutnya mual dan kepalanya berkunang-kunang. Setelah itu, semua gelap.“Rumah sakit,” jawab Helena singkat.Tatapan wanita itu tajam. Bukan tatapan cemas seorang ibu yang menunggu anaknya siuman, melainkan sorot mata penuh tekanan yang membuat dada Elara terasa sesak.“Ada apa denganku, Ma?” Suaranya melemah. Dia bisa merasakan kejanggalan yang tidak bisa dijelaskan.Kalau cuma sekedar pingsan, seharusn
Sebuah kafe yang letaknya tidak jauh dari rumah Lionel menjadi pilihan Elara untuk bertemu dengan Liora pagi itu.Dua wanita dari generasi berbeda itu saling melempar senyum saat bertemu.Senyum yang canggung, tapi juga tersirat rindu di dalamnya. Mereka berpelukan dengan hangat.“Apa kabar, Sayang?” tanya Elara ketika Liora melerai pelukan.Tangannya masih menggenggam jari Liora sementara sepasang matanya menelusuri Liora dari kepala hingga ke ujung kaki. Penampilan Liora terlalu santai untuk pergi ke sebuah cafe.“Kamu darimana, hm?” tanya Elara kemudian, nada suaranya lembut namun bergetar.“Aku baru dari airport, mengantarkan Uncle Rick. Papa tidak bisa ikut karena sedang ada operasi di rumah sakit." Liora, entah kenapa, menjelaskan tanpa keberatan.Elara menganggukkan samar. “Hm… kamu pasti kesepian dong?” godanya, berusaha mencairkan suasana. Dia lalu mengajak Liora duduk di sudut kafe yang lebih sepi. Tempat itu cukup jauh dari lalu lalang pengunjung. Tempat yang aman untuk per
Suasana rumah Lionel masih sunyi ketika pintu kamar tamu terbuka perlahan.Langit bahkan masih gelap saat Rick keluar sambil menarik trolley kecil di belakangnya.Roda koper itu bergulir pelan di lantai marmer, menciptakan bunyi lirih yang memantul di lorong rumah besar tersebut.Dia berhenti sebentar di depan tangga, dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Penghuni rumah ini pasti masih tidur.Seminggu dia menghabiskan waktu di rumah ini, tetapi entah kenapa rasanya waktu berlalu begitu cepat, seperti kembali ke masa-masa lama yang pernah hilang. Rick menghela napas panjang. Sudah waktunya bagi dia untuk kembali ke dunia nyata. Bekerja.Lionel sudah membereskan semua urusan transportasinya sejak malam sebelumnya. Pak Sopir pribadi Lionel bahkan sudah sudah sia sedia mengantar sejak sebelum subuh.Sahabatnya tidak ikut mengantar karena ada operasi mendadak yang harus dia tengah malam tadi. Meilissa dan Liora pasti masih tidur. Dan, Rick memakluminya.Tiba di ruang tamu, langkah Rick l
Ucapan itu membuat Meilissa terhenyak. Untung saja makanannya sudah tinggal sepotong kecil, sehingga mudah baginya untuk langsung menelan."Bagaimana?" tanya Lionel dengan alis terangkat. Ada seberkas senyum menggoda di wajah tampannya. Pesona Om satu ini sungguh tidak tertahankan."Tinggal... disin
Rasa yogurt masih menempel di lidah Meilissa ketika dia meletakkan sendok dan menyeka mulut dengan kain. Selanjutnya, dia menatap Lionel yang terlihat ingin mengatakan sesuatu yang serius."Ya, Om?” tanyanya pelan. Wajahnya ikut serius mengikuti ekspresi laki-laki di depannya.Lionel berdehem kecil,
"A-aku bisa menjelaskan semuanya," gagap Ron. Kedua tangannya menangkup di depan dada seperti orang memohon ampun.Lionel mencondongkan tubuhnya sedikit, wajahnya hanya beberapa inchi dari Ron."Pengacaraku akan mengurusmu. Bersiaplah dengan hukumannya!" ancam Lionel dengan suara pelan namun menusu
"Aku hanya perlu menyelinap, lalu kabur darinya," gumam Meilissa.Dia melirik pada laki-laki yang duduk bersandar pada motor bututnya. Satu kakinya menjejak tanah, sementara satu kakinya yang lain bertumpu pada sepeda motor.Itu Ron, pacar Miranda. Preman kacangan itu sedang asyik menghisap rokok sa







