LOGINPintu villa itu terbuka hampir bersamaan.Bibi Emma dan Margaretha melangkah keluar lebih dulu, langkah mereka tergesa seolah takut terlambat menyambut sesuatu yang penting.Gaun mereka sedikit berkibar tertiup angin pantai, dan wajah yang semula tegang seketika berubah cerah begitu sebuah mobil berwarna gelap berhenti di pelataran villa.Meilissa yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka ikut menoleh.Awalnya dia mengira itu hanya tamu biasa. Mungkin rekan Lionel, atau kerabat jauh yang baru tiba. Tapi detik berikutnya, alisnya terangkat, lalu matanya terbelalak tanpa bisa dicegah.Satu per satu tamu mereka muncul saat pintu mini bus terbuka. Yang turun bukan orang dewasa dengan setelan rapi—melainkan rombongan anak-anak.Anak-anak kecil, dengan wajah polos, rambut sedikit berantakan, dan mata yang penuh rasa ingin tahu.Ada yang langsung meloncat turun dengan antusias. Ada yang menggenggam tangan temannya. Ada pula yang menoleh kagum ke arah bangunan villa seakan itu istana d
“… kita akan lebih banyak menikmati liburan di atas tempat tidur. Bukankah itu liburan impianmu?” bisik Lionel, merujuk pada keinginan Meilissa untuk liburan semacam staycation.Setiap kata meluncur perlahan, sengaja diberi jeda kata demi kata. Lionel bahkan sengaja memberi tekanan pada setiap kata.Meilissa mendongak. Napasnya tertahan beberapa detik. Matanya melebar, sementara bibirnya sedikit terbuka, tiba-tiba lupa bagaimana caranya merangkai kata.Lionel tidak segera melanjutkan kata-katanya. Dia hanya menatap Meilissa. Sudut bibirnya terangkat samar ketika rona merah mulai merambat dari pipi Meilissa hingga ke lehernya. Reaksinya selalu sama, dan Lionel sangat menyukainya.Sorot mata malu-malu, pipi yang memerah, serta cara Meilissa menelan ludah tanpa sadar. Istrinya itu bagai buku yang terbuka—mudah terbaca.“Cantiknya istriku,” puji Lionel tulus, jarinya terangkat, mengarahkan dagu Meilissa agar wajah itu kembali sejajar dengannya."Heh?!" Meilissa mendongak sambil melotot,
Meilissa tidak berhenti melihat cincin yang melingkar di jarinya. Cincin yang kecil itu seakan membawa beban tanggung jawab tersendiri di bahunya yang kecil.Saat ini, Meilissa dihadapkan dengan sebuah fakta bahwa dia adalah istri seorang Lionel Sinclair yang punya status sosial jauh diatasnya. Selain itu, ada perbedaan usia yang mencolok diantara mereka.Berbeda dengan Meilissa, Lionel terlihat jauh lebih santai. Senyum terus tersungging di wajah tampannya. Hatinya pun terasa ringan.Impian untuk menikahi Meilissa sudah terlaksana."Aku mencintaimu, Meilissa Rose," bisik Lionel pelan di dekat telinga wanita muda yang sudah resmi menjadi istrinya.Meilissa mendongakkan kepala pada Lionel. Sorot matanya yang sayu bertemu dengan tatapan tenang nan teduh milik Lionel, seketika hatinya menjadi tenang.Mereka sudah memutuskan, jadi seharusnya sudah siap dengan segala resiko di masa yang akan datang. Toh, Lionel sudah berjanji akan bersamanya baik saat laut tenang atau pun bergelombang.Ber
Tempat yang digunakan sebagai tempat pernikahan adalah sebuah villa yang berada di sebuah kawasan pelabuhan favorite para turis di kota itu.Villa itu berdiri sedikit menjorok ke tepi danau, berada di kawasan pelabuhan yang ramai oleh wisatawan, tapi terpisah oleh pagar hijau dan kontur tanah yang membuatnya terasa privat.Dari halaman rumput luasnya, samar terdengar suara kapal dan percakapan turis di kejauhan, sementara teras batu yang lebar cukup menampung meja panjang dan kursi lipat untuk acara kecil.Di sisi villa, area kosong sengaja dimanfaatkan Lionel untuk wahana mini outdoor—perosotan kecil, ayunan, dan tenda kanvas warna krem. "Wow! Indah sekali." Meilissa menahan napas saat mobil mulai memasuki halaman villa. Dia memandang dengan kagum pohon cemara yang berbaris seakan menyambut mereka.Dia menoleh pada Lionel yang ternyata sedang memperhatikan reaksinya. 'Om, tempat ini rasanya seperti ada di surga," ucapnya seperti anak kecil yang sedang bahagia karena diajak berwisata
Tidak sampai dua puluh empat jam, pakaian pengantin yang diinginkan oleh Lionel dan Meilissa sudah selesaiSeakan alam merestui, semuanya berjalan lancar. Tepat setelah sarapan pagi, persiapan selesai. Sebuah mobil pengantin mewah sudah menunggu. Tempat pernikahan pun sudah ditentukan.Mereka hanya tinggal berangkat ke lokasi yang sejak awal dipilih oleh Lionel dengan berbagai pertimbangan.Lionel berdiri gelisah di tengah ruang tamu apartment mewahnya. Jas yang dikenakannya sudah sempurna, rambutnya tertata rapi, namun kegugupan itu tetap merayap tanpa bisa dicegah.Matanya berkali-kali melirik ke arah lorong menuju kamar Meilissa—pintunya sejak tadi tertutup rapat.“Apa kamu pikir dia akan berubah pikiran mendadak?” bisiknya pelan pada Rick, yang berdiri tidak jauh darinya. Rick terlihat sangat tampan dengan setelan jas barunya, tentu saja ekspresinya jauh lebih santai dibandingkan Lionel yang nyaris tidak bisa diam.Rick memukul bahu Lionel ringan. “Kalau dia berubah pikiran, ulang
Dari sepuluh gaun yang direkomendasikan oleh Lionel, Meilissa jatuh cinta pada satu gaun pengantin dengan model klasik dengan siluet A-line. Tangannya mengusap satin sutera yang berlapis chiffon tipis. Gaun ini kalau dipakai jatuhnya ringan Dan mengikuti lekuk tubuh."Aku tidak menyangka Om Lionel akan melakukan hal segila ini," gumam Meilissa. Mungkin kalau tidak mengalami sendiri, dia tidak akan percaya ada pernikahan dadakan seperti ini.Tadi pagi, dia baru saja merasa aneh dengan sikap Lionel. Tapi sekarang, dia sedang mencoba gaun pengantin. Semuanya benar-benar dilakukan dengan sangat cepat.Bibi Emma menganggukkan kepala. "Bibi sudah berkali-kali bertanya pada Tuan, tapi Tuan Lionel tetap pada keputusannya untuk menikah di kota ini."Meilissa membelalakkan mata lebar-lebar. "Lho, jadi Bibi sudah tau rencana ini?"Bibi Emma tersenyum, lalu menjawab dengan kalem. "Itulah alasannya kenapa Bibi ada disini. Tuan terbiasa bicara semuanya pada Bibi." Sepasang mata wanita itu menerawan







