LOGINPOV Camila
Javier kembali mengangkat tubuhku ke atas meja kerja. Ia langsung menarik gaun tidur yang kukenakan ke atas, menyingkapnya begitu saja. Tangannya dengan perlahan mengusap seluruh tubuhku dengan lembut.
Mataku terpejam, menikmati setiap sentuhan jemarinya yang menelusuri kulitku.
Terdengar bunyi pengait bra yang terbuka. Javier langsung membuangnya begitu saja. Tangan besarnya meremas penuh payudaraku bersamaan, memainkan ujung putingnya, lalu langsung mem
Javier langsung mengangkat tubuhku, membawaku melangkah cepat menuju kamar utama untuk kembali melanjutkan penyatuan kami.Javier membaringkan tubuhku dengan hati-hati di atas ranjang king size, lalu kembali melumat bibirku dengan lembut, sarat akan gairah yang belum padam.Aku pun kembali tergoda, terlena dalam sentuhannya.Dengan bibir yang masih saling bertaut mesra, Javier merentangkan pahaku, lalu kembali menggesek-gesekkan penisnya yang sudah kembali berdiri tegak dan keras.Jleb.Penis itu kembali menusuk celah vaginaku, terasa begitu penuh, padat, dan sesak.Javier kembali bergerak, menghujamkan pinggulnya dengan ritme yang konstan.Suara penyatuan kulit kembali memenuhi kamar utama, beradu dengan suara desahan kami yang saling menyatu.“Aah, Javier, aku mau ...”“Mau apa, Sayang ...?”“Mau keluar lagi ... cepat, aku mau, Javier ...!”&
POV CamilaJavier kembali mengangkat tubuhku ke atas meja kerja. Ia langsung menarik gaun tidur yang kukenakan ke atas, menyingkapnya begitu saja. Tangannya dengan perlahan mengusap seluruh tubuhku dengan lembut.Mataku terpejam, menikmati setiap sentuhan jemarinya yang menelusuri kulitku.Terdengar bunyi pengait bra yang terbuka. Javier langsung membuangnya begitu saja. Tangan besarnya meremas penuh payudaraku bersamaan, memainkan ujung putingnya, lalu langsung memasukkannya ke dalam mulutnya yang hangat.Aku masih memejamkan mata, mulutku terbuka dengan napas terengah-engah. Javier semakin cepat menyedot putingku, membuat perutku terasa dipenuhi ribuan kupu-kupu—sensasi menggelitik yang membuatku ingin segera dilepaskan dan mendesah.Tangannya dengan cepat menyingkirkan pakaian bawah, melucuti celana dalamku, membuat aku langsung telanjang, dan berbaring di atas meja kerja yang dingin itu.Napas Javier menderu kasar. Ia menatap
POV AuthorJavier tidak langsung menjawab. Ia merasa ragu dan khawatir jika Camila nanti malah kembali menangis akibat dibayangi rasa takut jika Nicolas kenapa-napa. Oleh karena itu, ia hanya terdiam sejenak mengamati istrinya.Namun, Camila justru berjinjit dan melumat bibir suaminya lebih dulu dengan melingkarkan kedua tangannya di lehar.Javier—yang memang sangat mudah tergoda oleh istrinya—seketika tak bisa menahan diri. Hanya pada Camila-lah seluruh hasratnya selalu terpacu. Ia langsung menarik pinggul kecil Camila, merapatkan dekapan untuk memperdalam ciuman mereka.Javier melumat lembut bibir yang sangat ia rindukan beberapa hari ini.Sebenarnya ia ingin sekali protes dan menuntut haknya, namun ia menahannya rapat-rapat. Ia bahkan sengaja menyibukkan diri dengan tumpukan berkas kantor agar tidak terdorong untuk menarik istrinya ke atas ranjang di saat isytrinya tidak baik-baik saja.Javier mengangkat tubuh Camila d
Hari-hari berlalu begitu cepat. Aku perlahan mencoba melupakan masalah Adriana. Fokus utamaku kini sepenuhnya untuk menjaga Nicolas—aku tidak membiarkannya sendirian sedikit pun.Bahkan setelah ia diperbolehkan pulang dari rumah sakit, sudah beberapa hari ini aku memilih untuk tidur bersamanya di kamarnya.Aku masih diselimuti rasa takut. Aku tidak ingin hal buruk kembali terjadi padanya, hingga tanpa sadar aku mengabaikan suamiku sendiri.Sudah hampir satu minggu ini aku tidur di kamar Nicolas. Javier tidak protes sama sekali, ia bahkan terkadang ikut tidur bersama kami.Namun, belakangan ini ia juga tampak menyibukkan diri. Javier sering pulang sangat larut malam, saat aku dan Nicolas sudah tertidur pulas.Malam ini, aku masih memeluk tubuh Nicolas di atas ranjangnya. Namun mataku belum juga terpejam. Aku menoleh menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.Apakah Javier belum pulang? Atau dia sudah tidur di kamar
POV CamilaAku menatap Adriana yang kini hanya mengenakan bikini dengan tubuh terikat erat pada kursi. Dulu, dengan bentuk tubuh dan wajah cantiknya, wanita ini begitu sombong. Ia selalu merendahkan serta memandangku sebelah mata. Bahkan dulu, Adriana dengan sengaja menjebakku hingga aku terpaksa harus meninggalkan rumah dan diusir oleh Mama dan Papa.Namun lihatlah sekarang, kondisinya sungguh sangat menyedihkan.Adriana membuka matanya pelan. Tatapannya langsung tertuju lurus padaku dan Javier, menyalakan binar kebencian serta kemarahan yang meluap-luap.Aku tidak takut. Jika dulu aku hanya bisa diam dan pasrah, maka tidak untuk hari ini. Aku akan meluapkan semua yang aku pendam selama ini.“Lepaskan aku! Apa kamu memang tidak bisa move on dariku, Javier?!” serunya langsung tanpa basa-basi.Javier tidak menjawab. Ia bahkan enggan sekadar mengarahkan pandangannya pada Adriana—tatapannya hanya menunjukkan rasa jijik y
POV AuthorSebenarnya, Adriana tidak memiliki niat awal untuk membunuh Camila secara langsung. Dari awal ia hanya berniat untuk menculik Nicolas agar Javier dan Camila menderita. Namun, kedatangan Arlo yang mengundangnya kerja sama justru membuatnya murka—terlebih saat tahu bahwa Arlo mengincar Camila.Kenapa? Kenapa semua pria seakan mengagumi dan menginginkannya?! Padahal menurutnya, dirinya jauh lebih sempurna ketimbang Camila!Dari situlah tekat Adriana bulat untuk membunuh Camila, agar tidak ada satupun pria yang bisa memilikinya lagi. Lagipula jika Camila tewas, Javier pasti akan menderita seumur hidup.Karena sangat yakin aksinya tidak akan terendus, Adriana bahkan langsung pergi berlibur.Sudah lama ia tidak berleha-leha seperti ini. Sekarang ia tidak memikirkan anak maupun uang. Membayangkan Camila akan mati setelah menyerap zat mematikan di lipstik itu membuat suasana hatinya sangat santai saat berjemur di pantai.Syukur-syuk







