Share

Bab 4 : Terjebak

"Mau apa lagi kamu?" tanya Freya, suaranya terdengar dingin.

Apartemen Freya terasa seperti penjara yang penuh dengan keputusasaan. Saat dia menjawab panggilan Marcus, ia merasa seperti sedang dikurung dalam kenangan yang menyakitkan.

Udara terasa pekat dengan kata-kata yang tak terucap, dan dia menguatkan diri untuk percakapan yang tengah berlangsung.

Marcus: "Freya, kita perlu bicara. Aku pikir tidak ada gunanya membuat masalah menjadi serumit ini."

Freya: "Rumit? Marcus, kamu telah menjalani kehidupan ganda. Jangan mencoba menutup-nutupinya."

Marcus: "Freya, please. Aku tidak pernah ingin membuatmu terluka. Kamu harus mengerti, keadaan terjadi diluar kendali."

Rahang Freya mengencang. "Di luar kendali? Kenapa bisa sampai di luar kendali, hah? Kamu udah gak mampu berpikir lagi kah sampai bisa terjebak di keadaan seperti ini?”

“Bagaimana dengan kita, Marcus? Bagaimana dengan kehidupan yang telah kita bangun bersama?" sambung Freya.

Marcus: "Aku tahu aku salah, Freya, tapi aku mau kamu coba dengarkan aku dulu. Ini tidak sesederhana yang kamu bayangkan."

Mata Freya berkaca-kaca karena marah dan terluka. "Simpanlah alasan-alasan itu, Marcus. Aku membaca screenshot pesan kamu sama perempuan itu. Kamu telah merencanakan masa depan dengan orang lain."

Marcus: "Freya, semua kata yang aku tulis dalam chat itu, nggak ada artinya bagiku. Cuma kamu orang yang aku sayang. Aku baru saja dijebak, dan aku nggak tahu bagaimana cara melepaskannya."

Freya mencemooh, dorongan dari rasa sakit hati melebur dalam kata-katanya yang keluar dari lisannya. "Dijebak? Kamu pikir itu bisa membenarkan tindakan yang sudah menghancurkan semua yang sudah kita bangun?"

Marcus: "Iya, aku salah, Freya. Tapi kita bisa mengatasi ini. Kita bisa mulai lagi dari awal. Toh, kita telah melalui banyak hal bersama. Apa kamu lupa dengan semua yang pernah kita lalui?"

Kesabarannya mulai memudar, Freya dengan tegas membalas, "Mengatasi ini? Marcus, untuk apa kamu menghianatiku dan membuang semuanya? Sekedar bercinta dengan orang baru? Beritahu aku, bagaimana caranya aku bisa mempercayaimu lagi?"

Marcus: "Dengar Freya, aku berjanji akan memperbaikinya. Kita bisa melewatinya. Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpamu."

Freya menghela nafas panjang lalu menjawab "Seharusnya kamu memikirkan hal itu sebelum kamu mulai berjanji kepada orang lain. Aku mempercayaimu, Marcus."

Marcus: "Freya, aku mohon. Tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan, untuk menebus kesalahan. Kita bisa membangun kembali apa yang kita miliki. Aku mencintaimu. Tolong dengarkan aku dulu"

Tidak terima dengan apa yang baru saja ia dengar, Freya membantah "Ha! Cinta? Kalau ini adalah cinta menurut kamu, aku tidak mau terlibat di dalamnya."

Klik. Freya menutup sambungan teleponnya dengan Marcus sambil mendengus kesal.

Saat telepon itu berakhir, Freya merasakan aliran kekuatan yang bercampur dengan rasa sakit.

Taktik manipulatif yang dilakukan Marcus tidak dapat menghapus luka, dan saat ia menatap ponselnya, ia menyadari bahwa perjalanannya ke depan tidak hanya menyembuhkan diri, tetapi juga mendapatkan kembali rasa percaya diri dan kekuatannya.

Freya menghela nafas panjang dan berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air putih. Air itu terasa sangat segar mengalir di tenggorokannya yang menegang akibat menahan diri untuk tidak berteriak saat berbicara dengan Marcus lewat telepon.

“Dijebak katanya? Bagaimana bisa laki-laki berusia 30 tahun tiba-tiba kehilangan kemampuan berpikirnya dan terjebak dalam tindakan konyol seperti ini” alis Freya bertaut, ia tidak habis pikir kenapa Marcus bisa sebodoh itu.

Kakinya tanpa sadar menuntunnya ke kamar, seolah mengerti tubuhnya sudah tidak sanggup untuk berdiri lagi.

Kamar itu masih diselimuti oleh badai emosi ketika Freya berbaring di ranjangnya, pikirannya dipenuhi dengan kemarahan dan rasa sakit hati.

Di tengah-tengah rasa sedihnya, tumbuhlah benih tekad dalam dirinya. Ia menyeka air matanya, menguatkan diri melawan kepedihan yang telah menggerogoti dirinya beberapa saat sebelumnya.

Selagi pikiran Freya bergejolak dengan emosi yang saling bertentangan, secercah rasa ingin balas dendam muncul dalam benaknya.

"Apa aku terlihat bodoh di matanya? Kenapa dia tega sekali melakukan ini? Dia baru saja menghinaku! Dia menghina harga diriku" gumam Freya, tiba-tiba dadanya terasa sesak lagi.

Rasa sakit dan penghinaan itu menuntut jawaban, dan dia mendapati dirinya merenungkan bagaimana caranya agar Marcus bisa merasakan hal yang sama.

Freya mengepalkan tangannya erat-erat hingga kukunya menancap ke telapak tangannya, seolah-olah ingin menghancurkan sesuatu. Ia merasakan energi yang kuat mengalir di dalam tubuhnya.

"Aku sudah menghabiskan waktu, pikiran dan tenagaku selama 3 tahun terakhir ini. Aku percaya dengan semua yang kumiliki bersamanya" ucap Freya lirih.

Freya menatap keluar jendela dengan mata yang kosong, seolah-olah ia tidak melihat apa pun. Bibir bawahnya bergetar, dan air mata mengalir di pipinya.

"Kau harus membayar semua ini, Marcus Wilder."

Komen (4)
goodnovel comment avatar
Hertibilkis
bagus bgt bikin gemes
goodnovel comment avatar
192 Jihan Salsabila
gregetan ama marcus ihhhh >:(
goodnovel comment avatar
Wasini Handayani
baguss bgtttt
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status