MasukZara memasukkan dokumen pelunasan tersebut ke dalam bagian terdalam tas jinjingnya, menyatukannya dengan surat kontrak pernikahan palsu yang selalu ia bawa kemana-mana sebagai pengingat atas status sosialnya yang rapuh di mata hukum. Ia membalikkan tubuh tegapnya, bersiap melangkah menuju pintu keluar lobi utama untuk mencari taksi daring baru yang bisa membawanya kembali ke area pusat perbelanjaan sebelum Arham menyelesaikan agenda negosiasi pabriknya yang melelahkan di luar kota. Namun, baru saja kaki kanannya melangkah melewati batas pintu kaca koridor ruang rawat kemuning, indra pendengarannya mendadak menangkap sepotong suara bariton yang teramat familier sedang berbicara dengan nada tinggi di dekat area lift pengunjung yang terletak tidak jauh dari posisinya berdiri saat ini."Saya tidak peduli dengan prosedur birokrasi asuransi yang berbelit-belit itu, yang saya butuhkan adalah kamar perawatan kelas satu untuk kepala mekanik Tawfeeq Group yang terluka dalam insiden demonstras
Zara mengembuskan napas panjang, setidaknya komitmen tertulis dari wanita egois itu masih berjalan lancar tanpa ada pemotongan sepihak yang bisa mengancam nyawa sang nenek. Ia merapatkan genggaman pada tas jinjingnya yang berisi tumpukan uang tunai dari Arham, merasa sedikit lega karena dana cadangan pribadinya masih utuh dan bisa dialokasikan untuk keperluan obat luar yang tidak dicover oleh pihak penjamin. Petugas administrasi itu memandang wajah Zara dengan binar keramahan yang tulus, mencetak lembar bukti transaksi terbaru tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun pada identitas ganda yang sedang bergulir di hadapannya."Ini salinan nota pembaruannya, Mbak Zara, semua fasilitas medis terbaik sudah diaktifkan sesuai permintaan dari pihak rekening penjamin," sahut petugas administrasi yang kini menyerahkan selembar kertas berstempel resmi ke atas meja kaca."Terima kasih, pastikan tidak ada satu pun pihak luar yang mendapatkan informasi mengenai rincian mutasi atau keberadaan saya di
Sinar matahari pagi menyengat permukaan aspal pelataran mansion dengan begitu terik saat Zara melangkah keluar melalui pintu utama. Pakaian katun kasual berwarna krem melekat pas di tubuh rampingnya, dipadukan dengan kacamata hitam besar yang bertengger di atas pangkal hidungnya yang bangir. Tas jinjing berbahan kulit sintetis hitam bergelayut di lengan kirinya, terasa sedikit lebih berat karena menyimpan beberapa dokumen rahasia. Arham sudah berangkat sejak pukul lima subuh menuju pabrik perakitan luar kota menggunakan mobil dinas operasional yang paling sederhana, persis seperti skenario taktis yang mereka rumuskan bersama semalam di ruang kerja."Selamat pagi, Nyonya Muda, apakah perlu saya siapkan mobil pengawal untuk menemani perjalanan Anda hari ini?" tanya kepala pelayan berseragam hitam putih yang sudah berdiri takzim di dekat pintu gerbang samping."Tidak perlu, Anton, aku hanya ingin menyegarkan pikiran ke pusat perbelanjaan di pusat kota sendirian tanpa ada buntutan di b
"Mereka akan bertindak anarkis jika yang datang adalah seorang bos sombong yang mengancam akan memotong upah mereka dengan surat keputusan hukum, bukan seorang kepala keluarga yang datang untuk duduk bersama di atas lantai semen pabrik," balas Zara, senyuman tipis yang sarat akan ketulusan murni mengembang di sudut bibirnya yang manis."Bawa dokumen cadangan alokasi dana darurat, tunjukkan pada perwakilan serikat pekerja bahwa kamu sudah menyiapkan skema pembayaran bonus mereka secara bertahap dalam waktu tiga puluh hari ke depan," sambung Zara sembari menepuk pelan dada bidang Arham menggunakan ujung jari telunjuknya yang lentik.Arham terdiam sempurna, otaknya yang selama puluhan tahun dilatih untuk berpikir dalam koridor teori manajemen bisnis modern kini dipaksa menerima sebuah kebenaran praktis yang teramat sederhana namun memiliki daya tembus yang luar biasa kuat untuk menyentuh akar masalah. Sosok Gina Susanti yang ada di hadapannya malam ini benar-benar telah menjelma menja
Cengkeraman lengan kokoh Arham pada pinggang ramping Zara terasa kian menghangat, mengunci posisi tubuh wanita itu hingga tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk bergeser di atas pangkuan pahanya yang tegap. Zara dapat merasakan detak jantung pria itu bergolak tidak beraturan di balik kain kemeja hitam yang tipis, mengirimkan getaran konstan yang anehnya perlahan meruntuhkan kepanikan awalnya. Jarak yang tersisa di antara ujung hidung mereka berdua kian menipis, menyebarkan aroma parfum kayu cendana bercampur sisa kafeina yang menguar kuat dari helaan napas Arham. Keheningan ruang kerja yang semula dipenuhi aura kemarahan korporasi kini telah sepenuhnya menjelma menjadi ketegangan sensorik yang teramat intim, pekat, dan sarat akan daya pikat maskulin yang matang."Lepaskan aku, Arham, posisi seperti ini sama sekali tidak akan membantu menjernihkan pikiranmu yang sedang semrawut," ucap Zara dengan nada suara yang sengaja dikeras-keraskan meskipun getaran di dalam rongga dadanya tida
Zara mengulurkan kedua telapak tangannya yang bersih dan hangat, mendaratkan ujung-ujung jemarinya yang lentik tepat di atas permukaan pelipis kepala Arham yang urat-urat halusnya tampak menegang kaku menahan aliran darah yang berpacu kencang. Sentuhan fisik pertama itu seketika mengirimkan gelombang kejut yang teramat nyaman menjalar ke seluruh sistem saraf pusat Arham, memicu helaan napas panjang yang sarat akan rasa lega keluar dari celah bibir tipis sang CEO paruh baya. Zara mulai menggerakkan jari-jarinya dengan ritme memutar yang teratur, memberikan tekanan yang pas dan konsisten pada titik-titik simpul ketegangan di sekitar dahi serta batas rambut tegap pria tersebut."Dari mana kamu mempelajari teknik pijatan seperti ini? Rasanya... rasa sakit di bagian belakang mataku mendadak berkurang dalam hitungan detik," gumam Arham tanpa membuka matanya, menikmati kelembutan kulit jemari Zara yang bergerak lincah di atas permukaan wajahnya yang kaku."Sentuhan yang jujur selalu tahu
"Jangan harap aku akan tertipu oleh getaran tubuhmu atau air mata palsumu itu, Gina!" Arham kian memajukan wajahnya, mengabaikan protes Zara saat sepasang matanya meneliti lekat-lekat setiap perubahan ekspresi di wajah wanita di hadapannya. Jarak yang teramat dekat ini kembali mempertemukan indra
Malam telah turun sepenuhnya menyelimuti kota Jakarta, membawa serta udara dingin yang pekat bercampur dengan kegelapan misteri yang seolah mengunci rapat seluruh batas privasi di dalam mansion keluarga Tawfeeq. Tepat pukul sembilan malam, keheningan di selasar lantai dua kembali pecah oleh suara
Sambil membawa nampan berisi cangkir teh herbal hangat tersebut, Zara kembali melangkah menuju kamar pribadi Lusi. Para pelayan yang berpapasan dengannya di koridor hanya bisa memandang dengan sepasang mata yang melebar sempurna, kian tenggelam dalam pusaran kebingungan mengenai perubahan drastis
"Apa kamu bilang?!" Lusi menjerit histeris, wajahnya yang pucat pasi mendadak memerah akibat tekanan darah yang melonjak drastis. Ia menyibak selimut sutra hijau zamrudnya dengan kasar, menurunkan sepasang kakinya ke atas karpet beludru, lalu mencoba berdiri meskipun seluruh tubuhnya bergetar heba







