MasukZara mengulurkan kedua telapak tangannya yang bersih dan hangat, mendaratkan ujung-ujung jemarinya yang lentik tepat di atas permukaan pelipis kepala Arham yang urat-urat halusnya tampak menegang kaku menahan aliran darah yang berpacu kencang. Sentuhan fisik pertama itu seketika mengirimkan gelombang kejut yang teramat nyaman menjalar ke seluruh sistem saraf pusat Arham, memicu helaan napas panjang yang sarat akan rasa lega keluar dari celah bibir tipis sang CEO paruh baya. Zara mulai menggerakkan jari-jarinya dengan ritme memutar yang teratur, memberikan tekanan yang pas dan konsisten pada titik-titik simpul ketegangan di sekitar dahi serta batas rambut tegap pria tersebut."Dari mana kamu mempelajari teknik pijatan seperti ini? Rasanya... rasa sakit di bagian belakang mataku mendadak berkurang dalam hitungan detik," gumam Arham tanpa membuka matanya, menikmati kelembutan kulit jemari Zara yang bergerak lincah di atas permukaan wajahnya yang kaku."Sentuhan yang jujur selalu tahu
Langkah kaki Zara yang terbungkus selop beludru tipis terhenti di depan pintu jati ganda yang membatasi lorong utama lantai dua dengan ruang kerja pribadi Arham. Keheningan malam yang pekat di dalam mansion mewah itu mendadak koyak oleh suara hantaman benda padat yang membentur permukaan dinding kayu dengan kekuatan yang cukup masif. Zara menurunkan pandangannya pada baki perak di dalam genggaman tangannya, memastikan mangkuk porselen berisi sup ayam kampung dan secangkir kopi hitam tanpa gula tidak bergeser dari posisi semula akibat guncangan suara tersebut. Ia menarik napas panjang melalui hidung, mengatur ritme debaran jantungnya yang sempat melonjak pendek, lalu mendorong daun pintu yang tidak terkunci itu menggunakan sikut kanannya secara perlahan.Pemandangan di dalam ruangan berukuran luas itu tampak menyerupai medan pertempuran yang porak-poranda oleh amukan badai emosi seorang pria dewasa. Ratusan lembar kertas laporan keuangan, map berkas audit berwarna merah menyala, dan
Suasana di dalam ruang rapat utama kantor pusat Tawfeeq Group tampak begitu mendung meskipun jarum jam baru menunjukkan pukul sembilan pagi yang cerah di luar jendela kaca raksasa. Arham duduk di kursi kebesarannya dengan raut wajah yang teramat kaku, sepasang matanya yang memerah akibat kurang tidur menatap tajam ke arah layar proyektor yang menampilkan grafik penurunan nilai saham perusahaan secara drastis dalam waktu dua puluh empat jam terakhir. Di samping kanan dan kirinya, beberapa dewan direksi dan manajer divisi finansial tampak duduk dengan kepala tertunduk, tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun di tengah kepungan aura ketegangan yang memancar dari tubuh sang CEO matang tersebut."Bagaimana bisa berita bohong tentang kegagalan sistem rem hidrolik pada produk varian terbaru kita bisa tersebar luas ke media massa tanpa ada filter dari divisi humas?" tanya Arham, suaranya rendah namun bergetar menahan amarah yang mendidih di dalam ulu hatinya."Pihak eksternal sengaja m
Mendengar kata kamera pengawas disebut dengan begitu lantang oleh Zara, rahang Anji seketika mengeras sempurna, wajah tampannya mendadak berubah menjadi pucat pasi dalam hitungan detik. Pria bajingan itu baru menyadari kekeliruan fatalnya bahwa mansion mewah milik keluarga Tawfeeq telah dilengkapi oleh sistem keamanan digital tingkat tinggi yang merekam setiap sudut ruangan selama dua puluh empat jam penuh tanpa henti. Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipis Anji, membuat posisi duduknya kian gelisah di atas sofa kulit yang mendadak terasa bagai hamparan bara api yang membakar habis seluruh sisa keberaniannya."Kak Arham, kurasa tidak perlu membuang waktu hanya untuk memeriksa kamera pengawas, masalah pribadi seperti ini sebaiknya kita selesaikan secara kekeluargaan saja," cetus Anji dengan suara yang mendadak gagap, mencoba menghentikan langkah taktis yang bisa menghancurkan reputasinya dalam sekejap mata."Kenapa kamu mendadak takut, Anji? Bukankah tadi kamu sangat yakin ba
Derap langkah kaki yang tergesa-gesa memutus keheningan koridor lantai dua saat Nindy menerobos masuk ke dalam ruang kerja pribadi Arham tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Napas wanita muda itu memburu pendek, wajahnya memerah padam oleh perpaduan antara amarah yang meluap dan kepuasan yang teramat pekat karena merasa telah memegang kartu as untuk menghancurkan musuh dirinya. Arham yang sedang memeriksa draf laporan keuangan tahunan di balik meja jati raksasanya langsung meletakkan pena penanda, menatap sang adik dengan sepasang mata elang yang menyiratkan ketidaksukaan mendalam atas pelanggaran privasi tersebut."Kak Arham harus melihat sendiri bagaimana perempuan ular itu bertingkah di belakang Kakak malam-malam begini!" seru Nindy sembari menggebrak permukaan meja kerja Arham dengan telapak tangannya yang gemetar."Tenangkan dirimu, Nindy, bicaralah dengan kalimat yang teratur atau keluar dari ruangan ini sekarang juga," jawab Arham, suaranya terdengar begitu rendah dan dingi
Nindy berdiri terpaku di ujung selasar yang gelap, sepasang matanya yang dilapisi riasan tebal membelalak sempurna menyaksikan kedekatan fisik antara calon suaminya dan wanita yang paling ia benci di rumah ini. Sudut pandangnya yang terhalang oleh pilar beton besar membuat ia tidak bisa melihat dengan jelas adegan tamparan keras yang dilayangkan oleh Zara beberapa saat yang lalu di awal konfrontasi. Di dalam kepala Nindy yang sudah dipenuhi oleh prasangka buruk, posisi tubuh Anji yang condong ke depan dan gerakan tangan Zara yang naik ke atas justru terlihat seperti sebuah adegan rayuan intim yang sengaja dilakukan untuk menggoda kekasih hatinya di tengah malam buta."Dasar perempuan murahan tidak tahu diri, sudah kuduga kamu tidak akan pernah melepaskan milikku begitu saja," desis Nindy dalam hati, seluruh tubuhnya bergetar hebat akibat luapan rasa cemburu dan amarah yang seketika membakar habis logika berpikir sehatnya.Nindy mencengkeram ujung gaun tidurnya dengan kencang, menah
"Oh, lihat ini! Pemandangan apa yang sedang saya saksikan di pagi hari yang cerah ini?" seru Nindy dengan nada suara yang sengaja ditinggikan, memecah kesunyian ruang makan dengan keagresifan yang teramat kentara. Ia mendudukkan dirinya di kursi tepat di samping Arham, menatap Zara dengan kilat ke
Sinar fajar Jakarta menembus celah-celah gorden sutra kelabu dengan kejam, memaksa Zara membuka sepasang matanya yang terasa seberat timah. Tubuhnya kaku, setiap jengkal ototnya merintih akibat ketegangan semalam yang menguras habis seluruh daya hidupnya. Selimut sutra premium berukuran super king
Bukan hanya tekstur kulit yang membuat Arham tertegun. Di bawah cengkeraman tangannya, ia bisa merasakan seluruh tubuh wanita di bawahnya ini sedang bergetar hebat. Getaran itu bukan getaran kemarahan, bukan pula getaran gairah agresif yang biasa dipamerkan Gina untuk menantangnya di atas ranjang.
Pintu kayu jati yang menghubungkan kamar tidur utama dengan ruang kerja dalam itu tertutup dengan bunyi klik yang teramat solid, meninggalkan Zara dalam kesunyian yang mencekam. Ruangan megah bernuansa hitam arang dan abu-abu gelap itu mendadak terasa semakin luas, dingin, dan asing. Zara masih te







