เข้าสู่ระบบ"Dia bayar aku buat pura-pura jadi dia selama tiga bulan!" seru Zara dengan suara serak. "Dia mau kabur ke Bali bersama Anton karena dikejar-kejar penagih utang! Dia sendiri yang memberikan baju-bajunya, mengajariku cara bicaranya, dan menyerahkan kunci rumah ini padaku!""Cerita macam apa itu?!" bentak Gina asli dengan nada mengejek yang sangat kasar. "Kamu pikir Arham bodoh mau percaya dengan dongeng murahanmu?! Mana buktinya kalau aku menyuruhmu?! Mana ada surat perjanjian atau bukti transfernya?!"Kata 'bukti' yang diucapkan Gina asli memukul dada Zara seperti godam berat. Zara membeku seketika. Seluruh persetujuan di antara mereka tiga bulan lalu dilakukan secara lisan di kontrakan kumuh milik Zara. Tidak ada surat kontrak di atas kertas bermaterai, tidak ada rekaman suara, dan seluruh uang tunai untuk biaya rumah sakit neneknya diserahkan secara langsung oleh Gina tanpa melalui transaksi transfer bank."Aku ... aku tidak punya surat perjanjian ...," bisik Zara lemas, lututny
Setelah bayangan anak itu menghilang di balik belokan tangga, keheningan di ruang keluarga kembali terasa sangat mencekik. Arham berdiri tegak kembali, memutar tubuhnya perlahan menghadapi dua wanita berwajah serupa yang kini berdiri di hadapannya."Lanjutkan bicaramu, Gina," panggil Arham dingin pada wanita yang bersimpuh di atas lantai. "Bagaimana kamu bisa ada di sini malam ini kalau kamu disekap selama tiga bulan?"Gina asli menyapu air mata di pipinya menggunakan lengan baju yang robek, menatap Arham dengan pandangan yang dibuat teramat menyedihkan. "Tadi malam ... Anton mabuk berat setelah memukulku. Dia lupa mengunci pintu kamar tempat aku dikurung. Aku berusaha merayap keluar, tapi Anton kepergok melihatku saat aku lari ke jalan raya!"Ia berhenti sejenak untuk memegang dadanya, berpura-pura terengah-engah kehabisan napas demi memperkuat cerita bohongnya."Dia mengejarku pakai mobil sedan hitam itu, Arham!" lanjut Gina asli dengan suara gemetar hebat. "Dia mau menabrakku
Atmosfer di dalam ruang keluarga yang serba megah itu membeku seketika. Pertanyaan Arham menggantung berat di udara, memukul kesadaran Zara sampai wanita itu merasa bertelanjang dada di tengah embun malam yang menggigit. Setiap hembusan napas yang ditariknya terasa penuh pasir, mencekik paru-parunya hingga sulit bernapas.Sebelum Zara sempat membuka mulutnya yang terasa amat kaku, raungan tangis pecah dari lantai. Gina asli memukulkan telapak tangannya ke permukaan karpet tebal, merangkak terseok-seok mendekati kaki Arham. Noda darah kering di perbannya tampak makin pekat tersiram cahaya lampu gantung."Arham! Pria itu ... wanita itu ... mereka berdua jahat sekali!" jerit Gina asli seraya menunjuk lurus ke wajah Zara dengan tangan gemetaran. "Dia penipu, Arham! Wanita jalang ini sudah mencuri seluruh hidupku selama tiga bulan ini!"Jeritan itu bergaung kencang memantul di dinding-dinding marmar mansion Tawfeeq. Mama Lusi menyekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan, mundur dua la
Lusi yang baru saja hendak melangkah keluar dari kamarnya di lantai bawah langsung terhenti kaku, menatap ke arah pintu depan dengan raut wajah pucat pasi.Dua orang petugas keamanan berseragam hitam masuk terburu-buru seraya menopang tubuh seorang wanita yang terkulai lemas. Wanita itu mengenakan gaun malam yang sudah lusuh, robek di beberapa bagian, dan dipenuhi noda lumpur serta bercak darah kering. Dahi dan pipi kirinya tertutup kain perban putih yang bernoda merah pekat, sementara rambut panjangnya terurai berantakan menutupi sebagian wajahnya yang pucat pasi."Tolong ... Arham ... tolongin aku ...," jerit wanita itu dengan suara parau yang amat memilukan, air matanya meleleh kencang membasahi luka di pipinya.Langkah kaki wanita itu terseret kasar di atas lantai marmar mengilap. Begitu lengannya dilepaskan oleh petugas keamanan, tubuhnya langsung ambruk berlutut di atas karpet ruang keluarga, tepat beberapa meter di depan tempat Arham berdiri.Arham terpaku kaku di tempatny
Lampu gantung kristal di dalam ruang keluarga menyala remang, memancarkan pendar kuning hangat yang menenangkan. Malam makin larut, tetapi ketenangan di dalam rumah megah itu masih terjaga lembut. Di sudut meja kayu berukir, Zara duduk mendampingi Sean yang sedang menyelesaikan tugas menggambarnya. Jarum jam dinding besar di lorong utama menunjuk tepat ke angka dua lewat tiga puluh menit dini hari."Mama, lihat! Sean menggambar tiga orang di dekat rumah burung ini," panggil Sean polos, mengacungkan lembaran kertas gambar ke depan wajah Zara.Zara mengulas senyum manis, mengusap pelan kepala anak kecil itu dengan rasa penuh kasih yang buncah di dadanya. "Gambar Sean bagus sekali. Ini Papa, ini Sean, lalu wanita yang di sebelah kanan ini siapa, Sayang?""Ini Mama Gina dong!" sahut Sean cepat, memamerkan deretan gigi kecilnya yang rapi. "Soalnya Mama pakai gaun warna biru seperti yang Mama pakai waktu kita jalan-jalan ke taman kemarin."Dada Zara mendadak berdenyut nyeri mendengar j
Lusi menatap Arham dengan tatapan tidak percaya. "Arham, kamu tidak sedang mencurigai calon istrimu sendiri kan? Dia ada di atas sekarang, sedang menemani anakmu tidur! Kenapa kamu malah meragukannya hanya karena ada orang gila mabuk yang menyebut-nyebut namanya di depan rumah?!""Aku cuma mau memastikan keselamatan keluarga ini, Ma!" tegas Arham seraya berdiri tegak dari kursinya, membuat suasana ruangan mendadak tegang. "Aku sudah menyuruh tim intelijen perusahaan untuk memeriksa kembali seluruh dokumen identitas, riwayat transaksi bank, dan jejak perjalanan Gina sebelum dia kembali ke rumah ini tiga bulan lalu!"Lusi mendesah pelan, menggelengkan kepalanya seraya bangkit berdiri. "Kamu terlalu berburuk sangka, Nak. Jangan sampai kecurigaan tanpa dasar ini melukai perasaan wanita yang sudah merawat anakmu dengan penuh kasih sayang. Mama tahu mana ketulusan dan mana kepalsuan. Gina yang ada di rumah ini sangat tulus menyayangi Sean dan Mama."Arham mematung di balik mejanya, tida
Jojo menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan debaran jantungnya akibat keterkejutan yang teramat sangat. Sebagai seorang penata rambut profesional yang sudah bertahun-tahun melayani lingkaran sosialita kelas atas, ia tahu betul bahwa pertanyaan lebih lanjut hanya akan merusak bisnisnya. Uang
"Aku tidak ketakutan, Anton! Aku hanya sedang berpikir logis!" bentak Gina sembari menegakkan tubuhnya, menepis tangan Anton dari bahunya dengan kasar. Ia berdiri dari sofa, berjalan mondar-mandir di atas karpet bulu impor dengan langkah kaki yang menghentak-hentak gelisah. "Aku mencintaimu, kamu t
Sean menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangannya di depan dada dengan dagu yang diangkat tinggi-tinggi, menatap lurus ke arah Zara dengan sepasang mata yang berkilat menantang, menanti ledakan amarah yang ia harapkan akan keluar dari mulut wanita yang paling ia benci di dalam mansion ini. Bocah i
Sentuhan bibir Arham bergerak makin menuntut, membelenggu seluruh kesadaran Zara di dalam ruang kabin yang sempit dan remang. Pria matang itu tahu benar bagaimana cara mendominasi setiap jengkal pertahanan wanita melalui ritme ciuman yang sarat pengalaman hidup selama empat dekade. Zara merasakan







