Masuk"Mereka akan bertindak anarkis jika yang datang adalah seorang bos sombong yang mengancam akan memotong upah mereka dengan surat keputusan hukum, bukan seorang kepala keluarga yang datang untuk duduk bersama di atas lantai semen pabrik," balas Zara, senyuman tipis yang sarat akan ketulusan murni mengembang di sudut bibirnya yang manis."Bawa dokumen cadangan alokasi dana darurat, tunjukkan pada perwakilan serikat pekerja bahwa kamu sudah menyiapkan skema pembayaran bonus mereka secara bertahap dalam waktu tiga puluh hari ke depan," sambung Zara sembari menepuk pelan dada bidang Arham menggunakan ujung jari telunjuknya yang lentik.Arham terdiam sempurna, otaknya yang selama puluhan tahun dilatih untuk berpikir dalam koridor teori manajemen bisnis modern kini dipaksa menerima sebuah kebenaran praktis yang teramat sederhana namun memiliki daya tembus yang luar biasa kuat untuk menyentuh akar masalah. Sosok Gina Susanti yang ada di hadapannya malam ini benar-benar telah menjelma menja
Cengkeraman lengan kokoh Arham pada pinggang ramping Zara terasa kian menghangat, mengunci posisi tubuh wanita itu hingga tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk bergeser di atas pangkuan pahanya yang tegap. Zara dapat merasakan detak jantung pria itu bergolak tidak beraturan di balik kain kemeja hitam yang tipis, mengirimkan getaran konstan yang anehnya perlahan meruntuhkan kepanikan awalnya. Jarak yang tersisa di antara ujung hidung mereka berdua kian menipis, menyebarkan aroma parfum kayu cendana bercampur sisa kafeina yang menguar kuat dari helaan napas Arham. Keheningan ruang kerja yang semula dipenuhi aura kemarahan korporasi kini telah sepenuhnya menjelma menjadi ketegangan sensorik yang teramat intim, pekat, dan sarat akan daya pikat maskulin yang matang."Lepaskan aku, Arham, posisi seperti ini sama sekali tidak akan membantu menjernihkan pikiranmu yang sedang semrawut," ucap Zara dengan nada suara yang sengaja dikeras-keraskan meskipun getaran di dalam rongga dadanya tida
Zara mengulurkan kedua telapak tangannya yang bersih dan hangat, mendaratkan ujung-ujung jemarinya yang lentik tepat di atas permukaan pelipis kepala Arham yang urat-urat halusnya tampak menegang kaku menahan aliran darah yang berpacu kencang. Sentuhan fisik pertama itu seketika mengirimkan gelombang kejut yang teramat nyaman menjalar ke seluruh sistem saraf pusat Arham, memicu helaan napas panjang yang sarat akan rasa lega keluar dari celah bibir tipis sang CEO paruh baya. Zara mulai menggerakkan jari-jarinya dengan ritme memutar yang teratur, memberikan tekanan yang pas dan konsisten pada titik-titik simpul ketegangan di sekitar dahi serta batas rambut tegap pria tersebut."Dari mana kamu mempelajari teknik pijatan seperti ini? Rasanya... rasa sakit di bagian belakang mataku mendadak berkurang dalam hitungan detik," gumam Arham tanpa membuka matanya, menikmati kelembutan kulit jemari Zara yang bergerak lincah di atas permukaan wajahnya yang kaku."Sentuhan yang jujur selalu tahu
Langkah kaki Zara yang terbungkus selop beludru tipis terhenti di depan pintu jati ganda yang membatasi lorong utama lantai dua dengan ruang kerja pribadi Arham. Keheningan malam yang pekat di dalam mansion mewah itu mendadak koyak oleh suara hantaman benda padat yang membentur permukaan dinding kayu dengan kekuatan yang cukup masif. Zara menurunkan pandangannya pada baki perak di dalam genggaman tangannya, memastikan mangkuk porselen berisi sup ayam kampung dan secangkir kopi hitam tanpa gula tidak bergeser dari posisi semula akibat guncangan suara tersebut. Ia menarik napas panjang melalui hidung, mengatur ritme debaran jantungnya yang sempat melonjak pendek, lalu mendorong daun pintu yang tidak terkunci itu menggunakan sikut kanannya secara perlahan.Pemandangan di dalam ruangan berukuran luas itu tampak menyerupai medan pertempuran yang porak-poranda oleh amukan badai emosi seorang pria dewasa. Ratusan lembar kertas laporan keuangan, map berkas audit berwarna merah menyala, dan
Suasana di dalam ruang rapat utama kantor pusat Tawfeeq Group tampak begitu mendung meskipun jarum jam baru menunjukkan pukul sembilan pagi yang cerah di luar jendela kaca raksasa. Arham duduk di kursi kebesarannya dengan raut wajah yang teramat kaku, sepasang matanya yang memerah akibat kurang tidur menatap tajam ke arah layar proyektor yang menampilkan grafik penurunan nilai saham perusahaan secara drastis dalam waktu dua puluh empat jam terakhir. Di samping kanan dan kirinya, beberapa dewan direksi dan manajer divisi finansial tampak duduk dengan kepala tertunduk, tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun di tengah kepungan aura ketegangan yang memancar dari tubuh sang CEO matang tersebut."Bagaimana bisa berita bohong tentang kegagalan sistem rem hidrolik pada produk varian terbaru kita bisa tersebar luas ke media massa tanpa ada filter dari divisi humas?" tanya Arham, suaranya rendah namun bergetar menahan amarah yang mendidih di dalam ulu hatinya."Pihak eksternal sengaja m
Mendengar kata kamera pengawas disebut dengan begitu lantang oleh Zara, rahang Anji seketika mengeras sempurna, wajah tampannya mendadak berubah menjadi pucat pasi dalam hitungan detik. Pria bajingan itu baru menyadari kekeliruan fatalnya bahwa mansion mewah milik keluarga Tawfeeq telah dilengkapi oleh sistem keamanan digital tingkat tinggi yang merekam setiap sudut ruangan selama dua puluh empat jam penuh tanpa henti. Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipis Anji, membuat posisi duduknya kian gelisah di atas sofa kulit yang mendadak terasa bagai hamparan bara api yang membakar habis seluruh sisa keberaniannya."Kak Arham, kurasa tidak perlu membuang waktu hanya untuk memeriksa kamera pengawas, masalah pribadi seperti ini sebaiknya kita selesaikan secara kekeluargaan saja," cetus Anji dengan suara yang mendadak gagap, mencoba menghentikan langkah taktis yang bisa menghancurkan reputasinya dalam sekejap mata."Kenapa kamu mendadak takut, Anji? Bukankah tadi kamu sangat yakin ba
"Kami telah menyiapkan meja khusus untuk Anda berdua di barisan depan, Tuan Arham, silakan menikmati hidangan utama yang telah disediakan," ucap sekretaris Tuan Wijaya sembari mengarahkan tangan ke arah deretan meja bundar mewah di dekat panggung utama."Terima kasih, kami akan ke sana sekarang
Sedan mewah berwarna hitam legam itu membelah jalanan protokol Jakarta yang padat, membawa keheningan yang mencekam di dalam kabinnya yang kedap suara. Arham fokus menatap jalanan di depan, sementara tangan kirinya masih sesekali mengetuk setir dengan ritme yang kaku. Di sampingnya, Zara duduk mem
Ketukan teratur sepatu hak tinggi Nyonya Besar Lusi Tawfeeq memecah kesunyian selasar lantai dua tepat pada jam makan siang. Langkah kakinya terdengar mantap, tidak lagi menyisakan jejak getaran rapuh akibat sisa ketergantungan obat penenang yang sempat diredam oleh teh herbal buatan Zara kemarin.
"Jangan harap aku akan tertipu oleh getaran tubuhmu atau air mata palsumu itu, Gina!" Arham kian memajukan wajahnya, mengabaikan protes Zara saat sepasang matanya meneliti lekat-lekat setiap perubahan ekspresi di wajah wanita di hadapannya. Jarak yang teramat dekat ini kembali mempertemukan indra







