Home / Romansa / Cinta Tulus Istri Pengganti / Bab 7. Siasat di Balik Kemewahan

Share

Bab 7. Siasat di Balik Kemewahan

Author: Ucing Ucay
last update publish date: 2023-08-31 05:04:02

​"Aku tidak ketakutan, Anton! Aku hanya sedang berpikir logis!" bentak Gina sembari menegakkan tubuhnya, menepis tangan Anton dari bahunya dengan kasar. Ia berdiri dari sofa, berjalan mondar-mandir di atas karpet bulu impor dengan langkah kaki yang menghentak-hentak gelisah. "Aku mencintaimu, kamu tahu itu. Gairahku hanya milikmu, Anton. Arham itu terlalu kaku, dingin, dan bercinta dengannya terasa seperti melakukan transaksi bisnis yang membosankan. Tapi aku tidak bisa kehilangan hartanya! Aku butuh uangnya untuk mempertahankan gaya hidupku yang glamour ini! Ibuku ... wanita tua bangka itu juga terus-menerus memeras uangku untuk membeli obat-obatan terlarang sialan itu! Kalau aku putus dari Arham, dari mana lagi aku bisa mendapatkan miliaran rupiah dalam sebulan?!"

​Anton ikut bangkit berdiri, berjalan mendekati Gina dari belakang dan mengunci tubuh wanita itu di dalam pelukan eratnya, menempelkan dada bidangnya ke punggung Gina. "Tenanglah, Gina. Tenang. Kita pasti bisa menemukan caranya. Bukankah selama ini kamu selalu punya seribu satu muslihat untuk mengelabui duda kaya itu?" bisik Anton tepat di lubang telinga Gina, tangannya mulai meraba pinggul wanita itu dengan gerakan yang menuntut.

​Namun, fokus Gina malam ini sama sekali tidak berada pada gairah seksual Anton. Pikirannya masih berputar hebat, kembali memproyeksikan bayangan wajah gadis kafe bernama Zara yang ia tabrak beberapa jam yang lalu di bawah derasnya hujan. Kemiripan wajah mereka berdua benar-benar sebuah anomali yang tidak masuk akal, namun di dalam otak Gina yang dipenuhi oleh kelicikan dan rencana jahat, anomali tersebut mendadak bertransformasi menjadi sebuah berkah tersembunyi yang sangat brilian.

​Gina melepaskan diri dari dekapan Anton secara tiba-tiba, berbalik menghadap pria itu dengan binar mata yang memancarkan kegilaan sekaligus kecerdasan yang mematikan. Sebuah senyuman licik yang sangat lebar terukir di wajah cantiknya, membuat Anton mengernyitkan dahi kebingungan melihat perubahan drastis dari ekspresi kekasih gelapnya itu.

​"Anton ... kamu ingat gadis jalang yang menabrakku di halte bus tadi, kan? Yang serba kekurangan dan basah kuyup seperti tikus got?" tanya Gina dengan nada suara yang bersemangat, cengkeraman tangannya pada lengan Anton mengencang.

​"Iya, aku ingat. Yang wajahnya sekilas mirip denganmu itu, kan? Memangnya kenapa? Apa hubungannya dia dengan masalah kita?" tanya Anton bingung, tidak mampu membaca arah pemikiran Gina.

​"Bukan sekilas mirip, Anton! Wajahnya itu mutlak seratus persen identik denganku! Jika dia memotong rambutnya menjadi bob pendek seperti ini, memakai riasanku, dan mengenakan pakaian-pakaian mahalku... tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang bisa membedakan mana Gina Susanti yang asli dan mana yang palsu! Bahkan Arham sekalipun tidak akan pernah menyadarinya!" seru Gina dengan tawa kecil yang terdengar sangat mengerikan di dalam keheningan malam apartemen tersebut.

​Anton tertegun, matanya melebar sempurna saat menyadari implikasi dari kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Gina. "Maksudmu ... kamu mau memanfaatkan gadis itu untuk menggantikan posisimu di Jakarta selama kita pergi liburan?!"

​"Tepat sekali! Pintar kamu, Sayang!" ucap Gina penuh kemenangan, menepuk pipi Anton dengan gemas. "Kita akan menyuruh gadis kafe miskin itu untuk menyamar menjadi diriku selama tiga bulan penuh. Dia yang akan tinggal di mansion Arham, dia yang akan menghadiri makan malam korporasi yang membosankan itu, dan dia yang akan menghadapi ocehan ibu Arham yang menyebalkan serta anaknya yang nakal itu. Sementara itu, aku dan kamu bisa bebas bersenang-senang di Maladewa tanpa perlu mengkhawatirkan apa pun!"

​Anton terdiam selama beberapa saat, mencoba mencerna ide gila yang terdengar sangat berisiko namun luar biasa menguntungkan itu jika berhasil dieksekusi dengan rapi. Ia berjalan menuju meja bar, menuangkan kembali wiski ke dalam gelasnya dengan pikiran yang berkecamuk.

​"Tunggu dulu, Gina. Rencanamu ini terlalu gila dan penuh celah. Bagaimana kalau gadis itu menolak? Dari penampilannya tadi, dia terlihat seperti tipe gadis lugu yang jujur dan punya harga diri tinggi. Dia tidak akan mau terlibat dalam aksi penipuan identitas kelas kakap seperti ini. Dan lagi, bagaimana kalau dia justru mengacaukan segalanya? Menyamar menjadi dirimu bukan cuma soal kemiripan wajah, tapi soal sikap, gaya bicara, dan pengetahuan tentang lingkaran sosialmu dengan Arham," cetus Anton membeberkan keraguannya secara logis.

​Gina berjalan mendekati Anton, merebut gelas wiski dari tangan pria itu dan meminumnya sedikit sebelum menjawab dengan nada suara yang sangat meremehkan. "Menolak? Orang miskin di kota ini tidak punya kemewahan untuk menolak uang, Anton. Kamu lihat sendiri bagaimana dia memunguti lembaran uang ratusan ribu yang basah di lantai trotoar tadi seolah-olah uang itu adalah nyawanya. Gadis itu butuh uang, dan aku punya tumpukan uang yang tidak akan habis untuk membelinya. Soal cara bersikap ... aku punya waktu beberapa hari sebelum keberangkatan kita untuk melatihnya. Aku akan buatkan lembar panduan hidupku, dan dia hanya perlu menghafalnya seperti membaca skrip drama teater murahan."

​"Tapi bagaimana dengan Arham? Arham adalah pria dewasa berumur empat puluh tahun yang memiliki insting sangat tajam, Gina. Bagaimana jika saat mereka berada di satu ranjang, Arham menyadari perbedaan sentuhan atau aroma tubuh gadis itu? Kamu tahu sendiri bagaimana Arham selalu menuntut haknya sebagai tunanganmu," ujar Anton mengingatkan tentang aspek seksual yang paling berbahaya dari penyamaran ini.

​Mendengar kata "ranjang" dan "Arham," kilatan dingin yang kejam melintas di sepasang mata Gina Susanti. Ia mencengkeram gelas kristalnya hingga jemarinya memutih, menahan rasa muak yang mendalam setiap kali mengingat interaksi fisiknya dengan sang tunangan kaya yang tidak pernah ia cintai itu.

​"Itu bagian yang paling mudah, Anton. Aku akan memberikan instruksi mutlak kepada gadis itu: jangan pernah biarkan Arham menyentuhnya di atas ranjang! Dia harus menggunakan seribu satu alasan, mulai dari sakit, datang bulan, hingga alasan psikologis untuk menolak sentuhan fisik Arham. Lagipula, Arham adalah pria yang sangat angkuh dan punya harga diri tinggi. Jika 'Gina' menolaknya berulang kali dengan sikap dingin yang ekstrem, Arham tidak akan sudi memaksa. Pria itu akan memilih mengunci diri di ruang kerjanya daripada mengemis selangkangan kepada wanita yang menolaknya," jelas Gina dengan senyum penuh keyakinan yang sangat licik.

​"Dan jika gadis itu tetap melanggar aturanmu dan berakhir tidur dengan Arham?" kejar Anton, menguji batas toleransi kelicikan kekasih gelapnya.

Gina tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat hampa dan tidak memiliki empati sedikit pun sebagai sesama wanita. "Jika gadis kafe itu berakhir tidur dengan Arham, maka itu adalah bonus untuknya karena bisa merasakan servis dari seorang penguasa kaya raya. Tapi aku yakin dia tidak akan berani. Aku akan mengikatnya dengan kontrak tertulis yang sangat ketat, dengan ancaman hukuman penjara dan pemutusan seluruh aliran dana bantuan jika dia berani melanggar satu poin pun dari aturanku. Dia hanya sebuah alat, Anton. Sebuah boneka pengganti yang akan menjaga takhta kemewahanku di Jakarta tetap aman sampai aku kembali untuk mengambilnya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 244: Hati dan Tubuh yang Terkunci

    ​Suara benturan pintu ganda yang mengunci rapat dari dalam menggema berat di sepanjang koridor lantai dua mansion keluarga Tawfeeq. Arham mematung di tengah ruangan kamar utama yang luas, membiarkan napasnya memburu tidak beraturan menghantam udara dingin. Pria tegap berusia empat puluh tahun itu menyandarkan punggungnya perlahan pada daun pintu kayu yang kokoh.​Jemarinya yang terbalut perban putih mengepal erat hingga luka di tangannya kembali berdenyut perih mengeluarkan tetesan darah segar. Ia menutup kedua matanya rapat-rapat, mencoba menghalau sisa-sisa aroma parfum menyengat yang masih menempel di sekitar hidungnya. Bau itu terasa begitu busuk dan memuakkan, mengotori indra penciumannya yang selama berbulan-bulan terbiasa dengan wangi yang sama sekali berbeda.​Arham mengangkat tangan kirinya yang bebas, menempelkan telapak tangan itu tepat di atas dadanya sendiri. Jantungnya bergemuruh hebat bukan karena sisa-sisa gairah atau ketegangan dari pertarungan barusan, melainkan kare

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 243: Penolakan yang Menghancurkan Harga Diri

    ​Sentakan keras dari lengan tegap Arham melempar tubuh Gina ke udara sebelum akhirnya terhempas kasar ke atas lantai marmar yang dingin. Gaun tidur merah super tipis bercorak renda hitam yang melilit tubuhnya tersingkap tinggi, memperlihatkan paha dan pinggulnya yang terbuka tanpa perlindungan. Suara benturan tubuhnya dengan lantai keras bergaung nyaring di dalam kamar utama yang temaram.​Gina mengaduh kesakitan seraya memegangi siku kakinya yang memar menghantam marmar. Wajahnya yang terpoles bedak tebal berubah pucat pasi, menatap tidak percaya pada sosok Arham yang berdiri mengangkang tepat di hadapannya. Pria itu menundukkan kepala, memancarkan pancaran kebencian yang teramat pekat dari sepasang matanya yang memerah.​"Keluar dari kamarku!" bentak Arham dengan suara bariton yang begitu menggelegar hingga membuat kaca-kaca jendela kamar bergetar hebat.​Arham memajukan langkah tegapnya satu tindak, menunjuk muka Gina dengan jari telunjuk kirinya yang gemetaran menahan amarah. "Jan

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 242: Rasa Jijik Sang Alpha Male

    ​Gelombang rasa mual yang luar biasa hebat seketika membakar isi perut Arham. Sentuhan kulit Gina yang dilapisi losion tebal serta serbuan bau parfum menyengat itu tidak melahirkan gairah sedikit pun di dalam dadanya. Tubuhnya menolak secara spontan, memicu reaksi kebencian yang teramat sangat dari dalam lubuk hatinya.​Arham memutar tubuhnya dengan sentakan kilat yang teramat kasar. Tangan kirinya yang bebas langsung menyambar pergelangan tangan Gina, mencengkeram tulang kecil itu dengan kekuatan cengkeraman yang sanggup meremukkan kayu keras.​"Aww! Sakit, Arham! Lepaskan!" pekik Gina melengking seraya berusaha menarik tangannya dari cengkeraman kencang pria itu.​Garis-garis rahang Arham menegang kaku, sepasang matanya menyala merah dipenuhi kilatan amarah yang membakar. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap wanita bergaun tidur merah di hadapannya dengan tatapan paling dingin dan menjijikkan yang pernah ada.​"Siapa yang memberi kamu izin untuk masuk ke kamar ini dan menyentuh

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 241: Rayuan Murahan di Kamar Mandi

    ​Pintu tebal kamar mandi berbahan kaca buram itu terdorong pelan dari dalam, mengeluarkan uap hangat yang membumbung tipis ke udara kamar. Arham melangkah keluar dengan tubuh basah kuyup, membiarkan sisa-sisa tetesan air mengalir dari dada bidang berototnya menuju ke perut yang terpahat rata. Pria tegap berusia empat puluh tahun itu hanya melilitkan selembar handuk putih tebal di pinggangnya, sementara tangan kirinya sibuk mengusap rambut hitamnya yang basah menggunakan handuk kecil.​Tangan kanannya yang terbalut perban putih masih membeku di samping tubuh, terasa berdenyut perih tersiram uap panas. Arham berjalan gontai mendekati meja vas bunga di dekat jendela besar, menarik napas panjang untuk menetralkan Pikirannya yang masih dipenuhi kekacauan usai kepergian Zara.​Tiba-tiba, aroma parfum menyengat beraroma vanila manis yang sangat kuat menyergap indra penciumannya secara mendadak. Aroma itu terasa begitu asing dan menusuk hidung, berbanding terbalik dengan wangi lembut bunga me

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 240: Tuntutan Hak Tunangan

    ​Dentang nyaring piring porselen yang dihempaskan kasar ke atas meja kaca terdengar menggema di dalam kamar utama. Gina berdiri tegap di depan cermin rias yang menjulang tinggi, menatap pantulan dirinya sendiri dengan sepasang mata yang berkilat penuh amarah. Perban tipis yang melekat di pipi kirinya bergerak-gerak seiring dengan helaan napasnya yang naik turun tak beraturan.​Ia memandangi gaun tidur sutra merah menyala yang kini melekat di tubuhnya, lalu mengusap sisa-sisa bedak tebal di lehernya secara kasar. Semua kemewahan yang ada di dalam kamar ini seolah hanya menjadi pajangan bisu yang sengaja mengejek kekalahannya. Ibu Lusi terang-terangan memperlakukannya bagaikan patri plastik yang tak berguna, sementara Sean yang berusia tujuh tahun justru menjerit ketakutan tiap kali mendengar namanya dipanggil.​"Kalian semua pikir aku ini cuma barang pajangan yang bisa dibuang sesuka hati?!" desis Gina dengan suara tertahan yang sarat akan racun.​Ia melangkah ke tepi ranjang besar ber

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 239. Tabiat Buruk Gina. 

    Salah seorang penjaga berseragam hitam melangkah maju satu tindak, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Maaf, Nyonya Gina. Tuan Arham memberi perintah tegas bahwa tidak ada yang boleh mengganggu Mas Sean pagi ini."​"Apa kamu bilang?!" pekik Gina dengan mata melotot lebar, menunjuk dada penjaga itu dengan ujung telunjuknya. "Saya ini calon ibu tirinya! Saya mau melihat anak itu! Singkirkan badan kalian sekarang juga!"​"Perintah Tuan Arham sangat jelas, Nyonya," sahut penjaga itu dengan suara dingin tanpa keraguan sedikit pun. "Kami hanya menjalankan instruksi langsung dari pemilik rumah ini."​Gina mengetakkan giginya kencang-kencang, matanya berkaca-kaca menahan rasa malu dan amarah yang nyaris meledakkan pikirannya. Tanpa memedulikan barikade dua penjaga itu, Gina memajukan tubuhnya dan memukul pintu kayu bercat biru itu menggunakan telapak tangannya kencang-kencang.​Brak! Brak! Brak!​"Sean! Buka pintunya!" jerit Gina dengan suara melengking yang menggema di sepanjang lor

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 52. Sentuhan yang Berbeda. 

    ​Sean menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangannya di depan dada dengan dagu yang diangkat tinggi-tinggi, menatap lurus ke arah Zara dengan sepasang mata yang berkilat menantang, menanti ledakan amarah yang ia harapkan akan keluar dari mulut wanita yang paling ia benci di dalam mansion ini. Bocah i

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 49. Batasan yang Hampir Runtuh.

    ​Sentuhan bibir Arham bergerak makin menuntut, membelenggu seluruh kesadaran Zara di dalam ruang kabin yang sempit dan remang. Pria matang itu tahu benar bagaimana cara mendominasi setiap jengkal pertahanan wanita melalui ritme ciuman yang sarat pengalaman hidup selama empat dekade. Zara merasakan

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 17. Make Over Zara Menjadi Gina. 

    ​Jojo menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan debaran jantungnya akibat keterkejutan yang teramat sangat. Sebagai seorang penata rambut profesional yang sudah bertahun-tahun melayani lingkaran sosialita kelas atas, ia tahu betul bahwa pertanyaan lebih lanjut hanya akan merusak bisnisnya. Uang

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 6. Jawaban Sang Nenek 

    ​"Dengarkan Nenek baik-baik, Zara Alfathunisa," ucap Nenek Ajeng dengan nada suara yang ditekan serendah dan setegas mungkin, tangannya yang gemetar bergerak meraih jemari Zara di atas meja. "Menurut mendiang ibumu sebelum dia meninggal dunia, dan menurut ingatan Nenek sendiri yang merawat ibumu saa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status