เข้าสู่ระบบ"Aku tidak ketakutan, Anton! Aku hanya sedang berpikir logis!" bentak Gina sembari menegakkan tubuhnya, menepis tangan Anton dari bahunya dengan kasar. Ia berdiri dari sofa, berjalan mondar-mandir di atas karpet bulu impor dengan langkah kaki yang menghentak-hentak gelisah. "Aku mencintaimu, kamu tahu itu. Gairahku hanya milikmu, Anton. Arham itu terlalu kaku, dingin, dan bercinta dengannya terasa seperti melakukan transaksi bisnis yang membosankan. Tapi aku tidak bisa kehilangan hartanya! Aku butuh uangnya untuk mempertahankan gaya hidupku yang glamour ini! Ibuku ... wanita tua bangka itu juga terus-menerus memeras uangku untuk membeli obat-obatan terlarang sialan itu! Kalau aku putus dari Arham, dari mana lagi aku bisa mendapatkan miliaran rupiah dalam sebulan?!"
Anton ikut bangkit berdiri, berjalan mendekati Gina dari belakang dan mengunci tubuh wanita itu di dalam pelukan eratnya, menempelkan dada bidangnya ke punggung Gina. "Tenanglah, Gina. Tenang. Kita pasti bisa menemukan caranya. Bukankah selama ini kamu selalu punya seribu satu muslihat untuk mengelabui duda kaya itu?" bisik Anton tepat di lubang telinga Gina, tangannya mulai meraba pinggul wanita itu dengan gerakan yang menuntut.
Namun, fokus Gina malam ini sama sekali tidak berada pada gairah seksual Anton. Pikirannya masih berputar hebat, kembali memproyeksikan bayangan wajah gadis kafe bernama Zara yang ia tabrak beberapa jam yang lalu di bawah derasnya hujan. Kemiripan wajah mereka berdua benar-benar sebuah anomali yang tidak masuk akal, namun di dalam otak Gina yang dipenuhi oleh kelicikan dan rencana jahat, anomali tersebut mendadak bertransformasi menjadi sebuah berkah tersembunyi yang sangat brilian.
Gina melepaskan diri dari dekapan Anton secara tiba-tiba, berbalik menghadap pria itu dengan binar mata yang memancarkan kegilaan sekaligus kecerdasan yang mematikan. Sebuah senyuman licik yang sangat lebar terukir di wajah cantiknya, membuat Anton mengernyitkan dahi kebingungan melihat perubahan drastis dari ekspresi kekasih gelapnya itu.
"Anton ... kamu ingat gadis jalang yang menabrakku di halte bus tadi, kan? Yang serba kekurangan dan basah kuyup seperti tikus got?" tanya Gina dengan nada suara yang bersemangat, cengkeraman tangannya pada lengan Anton mengencang.
"Iya, aku ingat. Yang wajahnya sekilas mirip denganmu itu, kan? Memangnya kenapa? Apa hubungannya dia dengan masalah kita?" tanya Anton bingung, tidak mampu membaca arah pemikiran Gina.
"Bukan sekilas mirip, Anton! Wajahnya itu mutlak seratus persen identik denganku! Jika dia memotong rambutnya menjadi bob pendek seperti ini, memakai riasanku, dan mengenakan pakaian-pakaian mahalku... tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang bisa membedakan mana Gina Susanti yang asli dan mana yang palsu! Bahkan Arham sekalipun tidak akan pernah menyadarinya!" seru Gina dengan tawa kecil yang terdengar sangat mengerikan di dalam keheningan malam apartemen tersebut.
Anton tertegun, matanya melebar sempurna saat menyadari implikasi dari kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Gina. "Maksudmu ... kamu mau memanfaatkan gadis itu untuk menggantikan posisimu di Jakarta selama kita pergi liburan?!"
"Tepat sekali! Pintar kamu, Sayang!" ucap Gina penuh kemenangan, menepuk pipi Anton dengan gemas. "Kita akan menyuruh gadis kafe miskin itu untuk menyamar menjadi diriku selama tiga bulan penuh. Dia yang akan tinggal di mansion Arham, dia yang akan menghadiri makan malam korporasi yang membosankan itu, dan dia yang akan menghadapi ocehan ibu Arham yang menyebalkan serta anaknya yang nakal itu. Sementara itu, aku dan kamu bisa bebas bersenang-senang di Maladewa tanpa perlu mengkhawatirkan apa pun!"
Anton terdiam selama beberapa saat, mencoba mencerna ide gila yang terdengar sangat berisiko namun luar biasa menguntungkan itu jika berhasil dieksekusi dengan rapi. Ia berjalan menuju meja bar, menuangkan kembali wiski ke dalam gelasnya dengan pikiran yang berkecamuk.
"Tunggu dulu, Gina. Rencanamu ini terlalu gila dan penuh celah. Bagaimana kalau gadis itu menolak? Dari penampilannya tadi, dia terlihat seperti tipe gadis lugu yang jujur dan punya harga diri tinggi. Dia tidak akan mau terlibat dalam aksi penipuan identitas kelas kakap seperti ini. Dan lagi, bagaimana kalau dia justru mengacaukan segalanya? Menyamar menjadi dirimu bukan cuma soal kemiripan wajah, tapi soal sikap, gaya bicara, dan pengetahuan tentang lingkaran sosialmu dengan Arham," cetus Anton membeberkan keraguannya secara logis.
Gina berjalan mendekati Anton, merebut gelas wiski dari tangan pria itu dan meminumnya sedikit sebelum menjawab dengan nada suara yang sangat meremehkan. "Menolak? Orang miskin di kota ini tidak punya kemewahan untuk menolak uang, Anton. Kamu lihat sendiri bagaimana dia memunguti lembaran uang ratusan ribu yang basah di lantai trotoar tadi seolah-olah uang itu adalah nyawanya. Gadis itu butuh uang, dan aku punya tumpukan uang yang tidak akan habis untuk membelinya. Soal cara bersikap ... aku punya waktu beberapa hari sebelum keberangkatan kita untuk melatihnya. Aku akan buatkan lembar panduan hidupku, dan dia hanya perlu menghafalnya seperti membaca skrip drama teater murahan."
"Tapi bagaimana dengan Arham? Arham adalah pria dewasa berumur empat puluh tahun yang memiliki insting sangat tajam, Gina. Bagaimana jika saat mereka berada di satu ranjang, Arham menyadari perbedaan sentuhan atau aroma tubuh gadis itu? Kamu tahu sendiri bagaimana Arham selalu menuntut haknya sebagai tunanganmu," ujar Anton mengingatkan tentang aspek seksual yang paling berbahaya dari penyamaran ini.
Mendengar kata "ranjang" dan "Arham," kilatan dingin yang kejam melintas di sepasang mata Gina Susanti. Ia mencengkeram gelas kristalnya hingga jemarinya memutih, menahan rasa muak yang mendalam setiap kali mengingat interaksi fisiknya dengan sang tunangan kaya yang tidak pernah ia cintai itu.
"Itu bagian yang paling mudah, Anton. Aku akan memberikan instruksi mutlak kepada gadis itu: jangan pernah biarkan Arham menyentuhnya di atas ranjang! Dia harus menggunakan seribu satu alasan, mulai dari sakit, datang bulan, hingga alasan psikologis untuk menolak sentuhan fisik Arham. Lagipula, Arham adalah pria yang sangat angkuh dan punya harga diri tinggi. Jika 'Gina' menolaknya berulang kali dengan sikap dingin yang ekstrem, Arham tidak akan sudi memaksa. Pria itu akan memilih mengunci diri di ruang kerjanya daripada mengemis selangkangan kepada wanita yang menolaknya," jelas Gina dengan senyum penuh keyakinan yang sangat licik.
"Dan jika gadis itu tetap melanggar aturanmu dan berakhir tidur dengan Arham?" kejar Anton, menguji batas toleransi kelicikan kekasih gelapnya.
Gina tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat hampa dan tidak memiliki empati sedikit pun sebagai sesama wanita. "Jika gadis kafe itu berakhir tidur dengan Arham, maka itu adalah bonus untuknya karena bisa merasakan servis dari seorang penguasa kaya raya. Tapi aku yakin dia tidak akan berani. Aku akan mengikatnya dengan kontrak tertulis yang sangat ketat, dengan ancaman hukuman penjara dan pemutusan seluruh aliran dana bantuan jika dia berani melanggar satu poin pun dari aturanku. Dia hanya sebuah alat, Anton. Sebuah boneka pengganti yang akan menjaga takhta kemewahanku di Jakarta tetap aman sampai aku kembali untuk mengambilnya."
"Dia bayar aku buat pura-pura jadi dia selama tiga bulan!" seru Zara dengan suara serak. "Dia mau kabur ke Bali bersama Anton karena dikejar-kejar penagih utang! Dia sendiri yang memberikan baju-bajunya, mengajariku cara bicaranya, dan menyerahkan kunci rumah ini padaku!""Cerita macam apa itu?!" bentak Gina asli dengan nada mengejek yang sangat kasar. "Kamu pikir Arham bodoh mau percaya dengan dongeng murahanmu?! Mana buktinya kalau aku menyuruhmu?! Mana ada surat perjanjian atau bukti transfernya?!"Kata 'bukti' yang diucapkan Gina asli memukul dada Zara seperti godam berat. Zara membeku seketika. Seluruh persetujuan di antara mereka tiga bulan lalu dilakukan secara lisan di kontrakan kumuh milik Zara. Tidak ada surat kontrak di atas kertas bermaterai, tidak ada rekaman suara, dan seluruh uang tunai untuk biaya rumah sakit neneknya diserahkan secara langsung oleh Gina tanpa melalui transaksi transfer bank."Aku ... aku tidak punya surat perjanjian ...," bisik Zara lemas, lututny
Setelah bayangan anak itu menghilang di balik belokan tangga, keheningan di ruang keluarga kembali terasa sangat mencekik. Arham berdiri tegak kembali, memutar tubuhnya perlahan menghadapi dua wanita berwajah serupa yang kini berdiri di hadapannya."Lanjutkan bicaramu, Gina," panggil Arham dingin pada wanita yang bersimpuh di atas lantai. "Bagaimana kamu bisa ada di sini malam ini kalau kamu disekap selama tiga bulan?"Gina asli menyapu air mata di pipinya menggunakan lengan baju yang robek, menatap Arham dengan pandangan yang dibuat teramat menyedihkan. "Tadi malam ... Anton mabuk berat setelah memukulku. Dia lupa mengunci pintu kamar tempat aku dikurung. Aku berusaha merayap keluar, tapi Anton kepergok melihatku saat aku lari ke jalan raya!"Ia berhenti sejenak untuk memegang dadanya, berpura-pura terengah-engah kehabisan napas demi memperkuat cerita bohongnya."Dia mengejarku pakai mobil sedan hitam itu, Arham!" lanjut Gina asli dengan suara gemetar hebat. "Dia mau menabrakku
Atmosfer di dalam ruang keluarga yang serba megah itu membeku seketika. Pertanyaan Arham menggantung berat di udara, memukul kesadaran Zara sampai wanita itu merasa bertelanjang dada di tengah embun malam yang menggigit. Setiap hembusan napas yang ditariknya terasa penuh pasir, mencekik paru-parunya hingga sulit bernapas.Sebelum Zara sempat membuka mulutnya yang terasa amat kaku, raungan tangis pecah dari lantai. Gina asli memukulkan telapak tangannya ke permukaan karpet tebal, merangkak terseok-seok mendekati kaki Arham. Noda darah kering di perbannya tampak makin pekat tersiram cahaya lampu gantung."Arham! Pria itu ... wanita itu ... mereka berdua jahat sekali!" jerit Gina asli seraya menunjuk lurus ke wajah Zara dengan tangan gemetaran. "Dia penipu, Arham! Wanita jalang ini sudah mencuri seluruh hidupku selama tiga bulan ini!"Jeritan itu bergaung kencang memantul di dinding-dinding marmar mansion Tawfeeq. Mama Lusi menyekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan, mundur dua la
Lusi yang baru saja hendak melangkah keluar dari kamarnya di lantai bawah langsung terhenti kaku, menatap ke arah pintu depan dengan raut wajah pucat pasi.Dua orang petugas keamanan berseragam hitam masuk terburu-buru seraya menopang tubuh seorang wanita yang terkulai lemas. Wanita itu mengenakan gaun malam yang sudah lusuh, robek di beberapa bagian, dan dipenuhi noda lumpur serta bercak darah kering. Dahi dan pipi kirinya tertutup kain perban putih yang bernoda merah pekat, sementara rambut panjangnya terurai berantakan menutupi sebagian wajahnya yang pucat pasi."Tolong ... Arham ... tolongin aku ...," jerit wanita itu dengan suara parau yang amat memilukan, air matanya meleleh kencang membasahi luka di pipinya.Langkah kaki wanita itu terseret kasar di atas lantai marmar mengilap. Begitu lengannya dilepaskan oleh petugas keamanan, tubuhnya langsung ambruk berlutut di atas karpet ruang keluarga, tepat beberapa meter di depan tempat Arham berdiri.Arham terpaku kaku di tempatny
Lampu gantung kristal di dalam ruang keluarga menyala remang, memancarkan pendar kuning hangat yang menenangkan. Malam makin larut, tetapi ketenangan di dalam rumah megah itu masih terjaga lembut. Di sudut meja kayu berukir, Zara duduk mendampingi Sean yang sedang menyelesaikan tugas menggambarnya. Jarum jam dinding besar di lorong utama menunjuk tepat ke angka dua lewat tiga puluh menit dini hari."Mama, lihat! Sean menggambar tiga orang di dekat rumah burung ini," panggil Sean polos, mengacungkan lembaran kertas gambar ke depan wajah Zara.Zara mengulas senyum manis, mengusap pelan kepala anak kecil itu dengan rasa penuh kasih yang buncah di dadanya. "Gambar Sean bagus sekali. Ini Papa, ini Sean, lalu wanita yang di sebelah kanan ini siapa, Sayang?""Ini Mama Gina dong!" sahut Sean cepat, memamerkan deretan gigi kecilnya yang rapi. "Soalnya Mama pakai gaun warna biru seperti yang Mama pakai waktu kita jalan-jalan ke taman kemarin."Dada Zara mendadak berdenyut nyeri mendengar j
Lusi menatap Arham dengan tatapan tidak percaya. "Arham, kamu tidak sedang mencurigai calon istrimu sendiri kan? Dia ada di atas sekarang, sedang menemani anakmu tidur! Kenapa kamu malah meragukannya hanya karena ada orang gila mabuk yang menyebut-nyebut namanya di depan rumah?!""Aku cuma mau memastikan keselamatan keluarga ini, Ma!" tegas Arham seraya berdiri tegak dari kursinya, membuat suasana ruangan mendadak tegang. "Aku sudah menyuruh tim intelijen perusahaan untuk memeriksa kembali seluruh dokumen identitas, riwayat transaksi bank, dan jejak perjalanan Gina sebelum dia kembali ke rumah ini tiga bulan lalu!"Lusi mendesah pelan, menggelengkan kepalanya seraya bangkit berdiri. "Kamu terlalu berburuk sangka, Nak. Jangan sampai kecurigaan tanpa dasar ini melukai perasaan wanita yang sudah merawat anakmu dengan penuh kasih sayang. Mama tahu mana ketulusan dan mana kepalsuan. Gina yang ada di rumah ini sangat tulus menyayangi Sean dan Mama."Arham mematung di balik mejanya, tida
Suara tamparan yang teramat keras bergema di lorong sempit itu. Wajah pria gempal itu terlempar ke samping, meninggalkan bekas kemerahan yang sangat jelas di pipi tembamnya. Cengkeraman tangannya pada pergelangan tangan Zara terlepas seketika karena rasa syok yang luar biasa. Pria itu memegangi pip
"Satu lagu lagi, Zara. Tolonglah, malam ini pengunjung kafe sedang ramai-ramainya. Sisa tips dari meja depan bakal aku bagi dua buat kamu," ucap Hendra, pemilik kafe remang-remang di sudut jalanan kota itu, sembari menyodorkan segelas air putih hangat ke arah Zara.Zara menghela napas panjang, men
Sean menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangannya di depan dada dengan dagu yang diangkat tinggi-tinggi, menatap lurus ke arah Zara dengan sepasang mata yang berkilat menantang, menanti ledakan amarah yang ia harapkan akan keluar dari mulut wanita yang paling ia benci di dalam mansion ini. Bocah i
Zara mematung dengan mulut sedikit terbuka, matanya melebar sempurna menatap garis wajah wanita di depannya. Hal yang sama juga terjadi pada wanita glamour tersebut; ia menghentikan aktivitas mengibas gaunnya, tangannya membeku di udara dengan pandangan mata yang terkunci rapat pada wajah Zara. Mer







