Se connecterPintu tebal kamar mandi berbahan kaca buram itu terdorong pelan dari dalam, mengeluarkan uap hangat yang membumbung tipis ke udara kamar. Arham melangkah keluar dengan tubuh basah kuyup, membiarkan sisa-sisa tetesan air mengalir dari dada bidang berototnya menuju ke perut yang terpahat rata. Pria tegap berusia empat puluh tahun itu hanya melilitkan selembar handuk putih tebal di pinggangnya, sementara tangan kirinya sibuk mengusap rambut hitamnya yang basah menggunakan handuk kecil.Tangan kanannya yang terbalut perban putih masih membeku di samping tubuh, terasa berdenyut perih tersiram uap panas. Arham berjalan gontai mendekati meja vas bunga di dekat jendela besar, menarik napas panjang untuk menetralkan Pikirannya yang masih dipenuhi kekacauan usai kepergian Zara.Tiba-tiba, aroma parfum menyengat beraroma vanila manis yang sangat kuat menyergap indra penciumannya secara mendadak. Aroma itu terasa begitu asing dan menusuk hidung, berbanding terbalik dengan wangi lembut bunga me
Dentang nyaring piring porselen yang dihempaskan kasar ke atas meja kaca terdengar menggema di dalam kamar utama. Gina berdiri tegap di depan cermin rias yang menjulang tinggi, menatap pantulan dirinya sendiri dengan sepasang mata yang berkilat penuh amarah. Perban tipis yang melekat di pipi kirinya bergerak-gerak seiring dengan helaan napasnya yang naik turun tak beraturan.Ia memandangi gaun tidur sutra merah menyala yang kini melekat di tubuhnya, lalu mengusap sisa-sisa bedak tebal di lehernya secara kasar. Semua kemewahan yang ada di dalam kamar ini seolah hanya menjadi pajangan bisu yang sengaja mengejek kekalahannya. Ibu Lusi terang-terangan memperlakukannya bagaikan patri plastik yang tak berguna, sementara Sean yang berusia tujuh tahun justru menjerit ketakutan tiap kali mendengar namanya dipanggil."Kalian semua pikir aku ini cuma barang pajangan yang bisa dibuang sesuka hati?!" desis Gina dengan suara tertahan yang sarat akan racun.Ia melangkah ke tepi ranjang besar ber
Salah seorang penjaga berseragam hitam melangkah maju satu tindak, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Maaf, Nyonya Gina. Tuan Arham memberi perintah tegas bahwa tidak ada yang boleh mengganggu Mas Sean pagi ini.""Apa kamu bilang?!" pekik Gina dengan mata melotot lebar, menunjuk dada penjaga itu dengan ujung telunjuknya. "Saya ini calon ibu tirinya! Saya mau melihat anak itu! Singkirkan badan kalian sekarang juga!""Perintah Tuan Arham sangat jelas, Nyonya," sahut penjaga itu dengan suara dingin tanpa keraguan sedikit pun. "Kami hanya menjalankan instruksi langsung dari pemilik rumah ini."Gina mengetakkan giginya kencang-kencang, matanya berkaca-kaca menahan rasa malu dan amarah yang nyaris meledakkan pikirannya. Tanpa memedulikan barikade dua penjaga itu, Gina memajukan tubuhnya dan memukul pintu kayu bercat biru itu menggunakan telapak tangannya kencang-kencang.Brak! Brak! Brak!"Sean! Buka pintunya!" jerit Gina dengan suara melengking yang menggema di sepanjang lor
Sinar matahari pagi menerobos tipis di antara celah gorden tebal ruang makan utama mansion keluarga Tawfeeq. Bau harum nasi goreng seafood dan aroma kopi hitam yang baru diseduh memenuhi ruangan yang berdinding kayu jati tersebut. Suasana yang biasanya hangat oleh celoteh riang anak kecil kini mendadak berubah menjadi sangat canggung dan mencekik.Gina duduk dengan angkuh di kursi kepala meja makan, tempat yang biasa ditempati oleh Arham atau Zara selama tiga bulan terakhir. Pipi kirinya masih terbalut perban putih tipis, namun pakaian gaun sutra berwarna merah menyala yang dikenakannya tampak sangat mencolok. Ia mengaduk cangkir porselen berisi teh hangat dengan gerakan lambat, menikmati denting sendok besi yang beradu dengan pinggiran cangkir."Bi Inah! Mana jus jeruk segar pesanan saya?!" bentak Gina seraya menghentakkan cangkirnya ke atas piring kecil.Seorang wanita paruh baya berseragam pembantu keluar dari arah dapur dengan langkah gemetaran. Tangannya memegang nampan perak
Arham memiringkan kepalanya sedikit, menatap pengacara senior itu dengan pandangan dingin dan tajam. "Ada apa lagi, Farhan? Bukankah kamu sudah berhasil menghentikanku mengejar Zara malam ini?"Farhan membetulkan letak kacamatanya dengan canggung, memegang sebuah folder dokumen tebal di tangannya. "Saya baru saja selesai berbicara dengan Nyonya Gina di ruang tamu bawah. Beliau menuntut agar besok pagi seluruh akses rekening dan fasilitas atas nama Gina Susanti dipulihkan total."Arham menyunggingkan senyum sinis yang amat dingin, suara tawa pelan yang sarat akan racun meluncur dari tenggorokannya. "Dia pikir dia bisa langsung menikmati fasilitas rumah ini setelah membuat kekacauan sebesar ini?!""Nyonya Gina memiliki bukti identitas hukum yang sah, Tuan," terang Farhan penuh kehati-hatian. "Secara aturan legalitas, kita tidak bisa menahan hak-haknya jika tidak ingin masalah ini berlanjut ke meja hijau dan tercium oleh jurnalis media massa."Arham melangkah maju tiga tindak, berdir
Tangannya yang pucat dan menggigil kencang terulur meraih telapak tangan Nenek Ajeng yang keriput dan terasa amat dingin. Zara membawa tangan tua itu ke pipinya yang basah, menyatukan rasa dingin dari air hujan dan kehangatan tipis dari kulit sang nenek."Nenek ...," bisik Zara dengan tangis yang kembali pecah tanpa suara, air matanya menetes hangat menimpa buku-buku jari Nenek Ajeng. "Zara sudah pulang, Nek ... Zara sudah kembali jadi Zara yang dulu ...."Nenek Ajeng tidak memberikan respons apa pun. Kelopak mata tua itu tetap terpejam rapat, napasnya naik turun secara teratur dibantu oleh dorongan alat bantu pernapasan yang berbunyi teratur.Support medis bernilai puluhan juta rupiah yang terpasang di tubuh neneknya adalah alasan utama mengapa Zara harus menerima hinaan dan diusir bagaikan sampah malam ini. Jika ia bertahan semenit saja di rumah Arham, Gina tidak akan segan-segan mencabut seluruh jaminan medis atas nama administrasi rumah sakit tersebut, membiarkan wanita tua in
Zara mematung dengan mulut sedikit terbuka, matanya melebar sempurna menatap garis wajah wanita di depannya. Hal yang sama juga terjadi pada wanita glamour tersebut; ia menghentikan aktivitas mengibas gaunnya, tangannya membeku di udara dengan pandangan mata yang terkunci rapat pada wajah Zara. Mer
Suara tamparan yang teramat keras bergema di lorong sempit itu. Wajah pria gempal itu terlempar ke samping, meninggalkan bekas kemerahan yang sangat jelas di pipi tembamnya. Cengkeraman tangannya pada pergelangan tangan Zara terlepas seketika karena rasa syok yang luar biasa. Pria itu memegangi pip
"Ini upah ku menyanyi malam ini, Nek. Besok pagi-pagi sekali, aku akan pergi ke apotek depan gang untuk menebus seluruh resep obat nenek yang sempat tertunda kemarin. Sisanya bisa kita gunakan untuk membeli beras dan kebutuhan dapur untuk seminggu ke depan," ucap Zara dengan binar mata penuh kepuas
"Nenek ... apa yang sebenarnya terjadi?" bisik Zara lirih ke tengah kesunyian malam, suaranya tenggelam bersama deru angin malam dan hantaman hujan yang tidak kunjung menampakkan tanda-tanda akan mereda.Ia perlahan bangkit berdiri, memunguti tas kainnya yang basah dan memasukkan kartu nama itu ke







