Home / Romansa / Cinta Yang Lain / 3. Sebuah penjelasan

Share

3. Sebuah penjelasan

Author: Aprilia Choi
last update publish date: 2026-01-29 18:40:29

~ Aku sangat mencintaimu, tolong jangan tinggalkan aku ~ Davin Alfiansyah

Kutuliskan kenangan tentang, caraku menemukan dirimu…

Sorot lampu kuning temaram menyinari panggung kecil di tengah kafe Choco malam itu. Alunan musik mengalir lembut, berpadu dengan suara pengunjung yang sesekali bersorak. Seorang pria berdiri di atas panggung dengan gitar di tangannya, suaranya hangat dan penuh perasaan—membuat siapa pun yang mendengarnya larut tanpa sadar.

Namun di antara puluhan pasang mata yang menatapnya penuh kagum, hanya satu yang benar-benar ia cari.

Ayla.

Seorang wanita duduk di barisan depan, mengenakan gaun sederhana berwarna pastel. Rambut panjangnya tergerai, matanya berbinar setiap kali tatapan mereka bertemu. Ayla tersenyum, senyum yang selalu berhasil membuat Davin lupa bahwa dunia mereka seharusnya tidak boleh bertemu.

Tentang apa yang membuatku mudah, berikan hatiku padamu…

“Aaa… Davin!!!”

Teriakan histeris para wanita memenuhi ruangan. Mereka menyebut nama Davin berulang kali, seakan pria itu adalah milik mereka semua. Davin hanya tersenyum sekilas—sopan, ramah—namun hatinya sudah menetap pada satu nama saja.

Ayla.

Perlahan, Davin turun dari atas panggung sambil tetap bernyanyi. Mic masih berada di tangannya, langkahnya mantap menghampiri wanita yang membuat dadanya selalu berdebar tak wajar.

Tak kan habis sejuta lagu, untuk menceritakan cantikmu…

Sorak sorai semakin menggema saat Davin berhenti tepat di hadapan Ayla. Dari saku belakang celananya, ia mengeluarkan setangkai mawar merah—sudah ia siapkan sejak sore. Ayla terkejut, kedua matanya membulat sebelum akhirnya tersenyum lembut.

Davin menyerahkan bunga itu, lalu menunduk sedikit dan mencium punggung tangan Ayla dengan penuh penghormatan.

Teriakan semakin menggila.

Ayla merasa wajahnya panas, pipinya merona. Ia menunduk malu, tapi hatinya menghangat. Tidak pernah sekalipun ia mendapatkan perlakuan seperti ini dari siapa pun sebelumnya.

Kan teramat panjang puisi, tuk menyuratkan cinta ini…

“Ayla... nyanyi bareng aku, ya?” bisik Davin pelan.

Ayla ragu sejenak, namun tangan Davin sudah merangkul bahunya dengan lembut. Ia menuntunnya naik ke atas panggung. Para pengunjung bertepuk tangan, menikmati momen romantis yang terasa seperti adegan film.

Sepanjang lagu, Davin tak henti menatap Ayla. Tatapannya penuh cinta, seolah dunia hanya menyisakan mereka berdua. Ayla ikut menyanyikan bagian reff dengan suara pelan, sedikit bergetar karena gugup.

Namun di dadanya, ada perasaan yang membuatnya yakin.

Inilah cinta.

Saat lagu berakhir, tepuk tangan membahana. Ayla tersenyum, Davin menunduk hormat. Malam itu terasa terlalu indah… sampai Ayla ingat satu hal yang selalu menjadi bayang-bayang.

Ia adalah istri orang.

**

Ayla Shanaya—dua puluh lima tahun, istri sah seorang CEO ternama, hidup dalam rumah mewah dengan segala fasilitas yang diimpikan banyak wanita.

Namun hatinya justru tertambat pada Davin.

Davin Alfiansyah

Pria sederhana yang hidup di rumah susun, berpindah dari satu kafe ke kafe lain demi bernyanyi. Tidak punya harta berlimpah, tidak punya status sosial mentereng.

Tapi Davin punya sesuatu yang tak pernah Ayla temukan dalam pernikahannya.

Cinta.

Kesederhanaan Davin, caranya mendengarkan, caranya membuat Ayla merasa diinginkan—semuanya membuat Ayla jatuh tanpa perlawanan. Satu tahun terakhir terasa seperti dunia rahasia yang hanya mereka berdua miliki.

Dan malam ini, Davin mengantarnya pulang.

Mobil Davin berhenti di depan gerbang rumah mewah berwarna putih. Lampu taman menyala terang, seolah menyambut Ayla kembali ke kehidupan yang selalu membuatnya merasa asing.

Davin mematikan mesin, lalu menoleh.

“Aku sangat mencintaimu, Ayla,” ucapnya lirih, kemudian memeluk wanita itu erat. Tangannya melingkar di pinggang Ayla, seakan takut jika dilepas, wanita itu akan menghilang. “Tolong jangan tinggalkan aku.”

Ayla memejamkan mata, membalas pelukan itu. Dadanya bergetar.

“Tapi, Davin… aku harus masuk. Mas Abhi pasti sudah menungguku,” ucapnya pelan.

“Aku nggak peduli,” sahut Davin spontan. “Kita saling mencintai. Kamu sama dia nggak. Jadi temani aku sebentar saja, ya?”

Davin mengecup puncak kepala Ayla dengan penuh kasih. Sentuhan itu membuat hati Ayla semakin bimbang.

Ia terdiam.

'Apa yang harus aku lakukan? Masuk dan menemui Mas Abhi… atau tetap di sini bersama Davin?'

“Ayla!”

Suara itu datang seperti petir di langit cerah.

Ayla dan Davin sama-sama terkejut. Mereka mengurai pelukan dan menoleh bersamaan. Seorang pria berdiri tak jauh dari mereka—bertubuh tinggi, bahu tegap, mengenakan kemeja navy dengan lengan tergulung.

Abhimana Pratama.

Wajahnya keras, rahangnya mengeras, sorot matanya tajam menusuk.

“Ma—Mas Abhi…” suara Ayla nyaris tak terdengar.

Davin menatap Ayla, lalu menoleh ke pria yang kini berdiri di hadapan mereka. Aura Abhi dingin, berwibawa, dan… marah.

Kini Abhi sudah berdiri tepat di depan mereka. Tangannya mengepal, napasnya berat. Ia menatap Davin seolah ingin menghancurkan pria itu saat juga.

“Apa yang kamu lakukan dengan lelaki ini?” tanya Abhi, suaranya rendah namun mengancam.

“Mas, dia ini Da—”

“Davin,” potong Davin cepat. Ia melangkah sedikit ke depan, sikapnya tenang, bahkan tersenyum. Ia mengulurkan tangan. “Kekasih Ayla.”

Kata itu menghantam Abhi tanpa ampun.

Abhi menatap tangan yang terulur itu, lalu mengangkat wajahnya. “Berani sekali kamu menyebut istriku sebagai kekasihmu,” ucapnya dingin. “Kamu tahu nggak, dia itu sudah punya suami?”

Davin menarik kembali tangannya, mengangguk pelan. “Aku tahu,” jawabnya santai. “Dan itu bukan masalah.”

Detik itu, Abhi hampir kehilangan kendali.

“Apa?” desisnya.

“Mas, lebih baik kita masuk,” Ayla cepat memegang lengan Abhi. Tangannya gemetar. “Aku akan jelaskan semuanya.”

Ia menoleh pada Davin. “Davin, kamu pulang dulu, ya.”

Davin menatap Ayla lama, lalu mengangguk. “Aku tunggu kamu,” ucapnya pelan sebelum berbalik pergi.

Ayla masuk ke dalam rumah bersama Abhi yang berjalan lebih dulu tanpa menoleh.

Sunyi menyelimuti rumah itu.

“Jadi?” Abhi berbalik tajam. “Apa yang bisa kamu jelaskan?”

Ayla menghela napas panjang. “Iya… pria tadi memang kekasih aku.”

Kalimat itu menghancurkan sesuatu di dada Abhi.

“Aku minta maaf sudah mengkhianati kamu,” lanjut Ayla, suaranya bergetar tapi tegas. “Tapi dari awal aku sudah bilang… aku nggak bisa mencintai kamu. Jadi kalau sampai ini terjadi, jangan salahkan aku.”

Abhi tersenyum getir. Matanya berkaca-kaca, namun ia menahannya agar tak jatuh.

Dua tahun.

Dua tahun ia mencintai istrinya sendirian.

Dan malam ini… ia kalah telak.

Namun alih-alih marah, Abhi hanya berkata pelan, “Mas cuma mau satu hal.”

Ayla menatapnya.

“Jangan minta cerai.”

Ayla terdiam.

Dan di sanalah, cinta, pengkhianatan, dan pengorbanan mulai saling melukai.

'Apa yang aku lakukan sudah di luar batas wajar, tapi kenapa dia nggak mau ceraikan aku? Sebegitu besarkah cintanya padaku? Tapi kenapa aku nggak bisa merasakan cinta itu?'

Ayla yang tak bisa berkata lagi akhirnya memilih masuk ke kamar sambil merenungkan perkataan suaminya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Yang Lain   43. Pesta 40 hari (END)

    Rumah kediaman Pratama sore itu disulap menjadi taman surgawi mini. Ratusan bunga lili putih dan mawar pastel menghiasi setiap sudut, memberikan aroma harum yang menenangkan. Acara tasyakuran 40 hari kelahiran Aydan Putra Pratama bukan sekadar perayaan syukur, tapi juga momentum "gencatan senjata" bagi dua pria yang selama seminggu terakhir ini terus bersaing memperebutkan gelar pria paling perhatian di rumah itu.Abhi tampak gagah mengenakan beskap modern berwarna cream, sementara Ayla terlihat sangat anggun dengan kebaya senada, rambutnya disanggul modern yang memperlihatkan leher jenjang dan aura keibuannya yang semakin terpancar. Di pelukan Ayla, Aydan tertidur pulas, terlihat sangat tampan dengan baju muslim bayi yang dirancang khusus."Mas, jangan pasang muka tegang gitu kalau lihat Aldi. Ini acara anak kita," bisik Ayla saat mereka berdiri di depan pintu untuk menyambut tamu.Abhi merapikan letak jam tangannya, matanya melirik Aldi yang sedang asyik mengatur letak panggung k

  • Cinta Yang Lain   42. Dua singa satu atap

    Pagi di kediaman Pratama biasanya tenang, diisi oleh suara kicauan burung dan gemericik air kolam. Namun, sejak kehadiran Aldi, udara di rumah itu seolah mengandung muatan listrik statis yang siap memercikkan api kapan saja.Abhimana, sang CEO yang biasanya dingin dan tak tersentuh, kini bertransformasi menjadi seorang pria yang sangat kompetitif—terutama jika itu menyangkut perhatian istrinya dan putra kecilnya, Aydan.“Pagi, Princess!” suara Aldi menggelegar di ruang makan. Ia muncul dengan kaus putih ketat yang memamerkan otot lengannya, hasil latihan rutin di pusat kebugaran London. Di tangannya, ia membawa nampan berisi avocado toast dengan telur mata sapi yang estetik.“Aku buatkan sarapan khusus buat kamu, Ay. Protein tinggi, lemak sehat, biar produksi ASI kamu melimpah,” Aldi meletakkan piring itu tepat di depan Ayla, menggeser piring nasi goreng buatan asisten rumah tangga yang baru saja hendak disantap Abhi.Abhi yang sedang menyesap kopi hitamnya hampir saja tersedak. I

  • Cinta Yang Lain   41. Sepupu dari London

    Rumah kediaman Pratama pagi itu tampak begitu meriah. Aroma melati dan nasi kebuli menyeruak dari area ruang tamu hingga taman belakang. Hari ini adalah acara syukuran sekaligus aqiqah untuk Aydan Putra Pratama. Balon-balon berwarna pastel menghiasi sudut ruangan, dan foto-foto newborn Aydan yang sedang tertidur lelap sukses membuat siapa pun yang melihatnya merasa gemas.Abhi, yang mengenakan baju koko modern berwarna senada dengan gaun Ayla, tampak sibuk menyalami tamu. Namun, fokusnya tetap tak pernah lepas dari Ayla yang sedang duduk di sofa khusus sambil menggendong Aydan."Mas, minum dulu," ucap Ayla lembut saat Abhi mendekat.Abhi tersenyum, baru saja hendak mengambil gelas dari tangan istrinya, tiba-tiba sebuah suara bariton yang terdengar sangat akrab—namun memiliki aksen yang sedikit berbeda—menggelegar dari arah pintu masuk."Ayla! My favorite girl in the world!"Seorang pria tinggi dengan balutan jas kasual rancangan desainer ternama masuk dengan langkah penuh percaya

  • Cinta Yang Lain   40. Pelangi yang sempurna

    Tanpa terasa kandungan Ayla sudah berusia sembilan bulan. Suasana malam di Rumah Sakit Internasional Jakarta terasa begitu sunyi, namun di koridor depan ruang bersalin, denyut ketegangan terasa begitu nyata. Lampu merah bertuliskan “In Labor” menyala terang, seolah menjadi saksi bisu atas perjuangan hidup dan mati yang sedang berlangsung di dalamnya.Abhi tak pernah merasa sekecil ini. Sebagai seorang CEO, ia terbiasa mengendalikan angka, proyek, dan ribuan karyawan. Namun malam ini, ia hanya seorang pria biasa yang menggenggam erat tangan istrinya, merasa tak berdaya melihat peluh dan air mata membanjiri wajah Ayla.“Tarik napas, Ayla... pelan-pelan. Fokus pada suaramu, bukan pada sakitnya,” suara dokter Ammar terdengar tenang, meskipun di balik maskernya, ia juga bekerja dengan konsentrasi penuh.Ayla mengerang, cengkeramannya pada tangan Abhi begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih. “Mas... sakit... aku nggak kuat...” bisiknya dengan suara yang hampir habis.Abhi mendekatkan wa

  • Cinta Yang Lain   39. Hati yang pulang

    Dunia terkadang bekerja dengan cara yang sangat misterius. Saat satu pintu tertutup dengan dentum keras yang menyakitkan, ia sering kali membiarkan sebuah jendela terbuka perlahan, memberikan jalan bagi sinar matahari baru untuk masuk. Begitulah yang dirasakan Bella saat ini.Di teras belakang Kafe Choco yang sudah tutup, Bella duduk menghadap taman kecil sambil memegang cangkir cokelat panas. Di sampingnya, Davin sedang sibuk mengutak-atik sebuah speaker bluetooth yang macet.“Davin, makasih ya buat semuanya,” ucap Bella tiba-tiba, suaranya pelan namun penuh penekanan.Davin menoleh, dahinya berkerut. “Semuanya apa? Ini speakernya belum bener, Bel. Masih bunyi kresek-kresek.”Bella tertawa kecil, tawa yang kini tak lagi terdengar sumbang. “Bukan itu. Makasih karena sudah kasih aku hidup baru. Tempat tinggal, pekerjaan di kafe ini, dan... karena sudah sabar dengerin aku nangis berminggu-minggu.”Davin meletakkan obengnya. Ia menatap Bella dengan tatapan yang sulit diartikan. “Bel

  • Cinta Yang Lain   38. Kecemburuan Abhi

    Pagi itu, aroma antiseptik rumah sakit yang biasanya terasa mencekam, mendadak terasa lebih ramah bagi Ayla. Mungkin karena hari ini adalah jadwal pemeriksaan rutin kandungannya yang sudah memasuki trimester akhir. Atau mungkin, karena sosok yang akan ia temui bukan sekadar dokter, melainkan kepingan masa lalu yang telah menjelma menjadi sahabat baik: Dokter Ammar Gauzan.Di dalam ruang konsultasi, Ammar tampak rapi dengan jas putihnya. Ia masih sama seperti dulu—tenang, teduh, dan memiliki cara bicara yang bisa membuat lawan bicaranya merasa menjadi orang paling penting di dunia.“Jadi, Dok... kalau nanti kontraksi itu rasanya seperti apa?” tanya Ayla, jemarinya meremas ujung gaunnya. “Benar kata orang ya, rasanya seperti tulang-tulang dipatahkan? Terus kalau aku nggak kuat mengejan bagaimana? Kalau aku pingsan di tengah jalan gimana?”Rentetan pertanyaan itu meluncur begitu saja. Wajah Ayla tampak pucat, kecemasan seorang calon ibu baru benar-benar menguasainya.Ammar meletakkan

  • Cinta Yang Lain   16. Aku yang akan pergi

    ~ Biar aku yang pergi, biar aku yang tersakiti ~Davin AlfiansyahDavin masih berdiri di hadapan Ayla, menunggu kalimat lanjutan yang tak kunjung terucap dari bibir wanita itu. Jantungnya berdetak tak beraturan, seolah ada firasat buruk yang perlahan merayap ke dalam dada. Tatapannya menelusuri wa

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Cinta Yang Lain   15. Sabar

    ~ Bersabarlah, sejak awal kisah cinta kalian memang tidak akan mudah ~Rian IrsyadAbhi masih berdiri di sisi tempat tidur, menatap Ayla yang kini kembali menarik selimut hingga menutupi hampir seluruh tubuhnya. Tatapan lelaki itu penuh kekhawatiran, ada garis lelah yang tak bisa ia sembunyikan di

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Cinta Yang Lain   13. Mengharap kesabaran

    ~ Meski kita belum saling mencintai, Mas tetap ingin berusaha membahagiakan kamu ~Abhimana Pratama**Pagi itu rumah terasa hangat. Bukan karena sinar matahari yang masuk dari jendela besar ruang makan, melainkan karena dua orang yang—meski belum saling mencintai—sedang belajar berbagi ruang da

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Cinta Yang Lain   14. Hadiah yang tak diinginkan

    ~ Aku sadar, aku tidak berhak untuk terus memaksamu mencintaiku sepenuh hati ~Abhimana PratamaWaktu telah menunjukkan pukul 05.00 sore, Abhi baru saja pulang dari kantor dan langsung menuju kamarnya untuk segera mandi dan berganti pakaian. Pria itu merasa lebih baik setelah mandi, tidak seperti

    last updateLast Updated : 2026-03-19
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status