LOGINPOV Abhimana Pratama
Aku terbiasa mengambil keputusan besar. Sebagai CEO di sebuah perusahaan investasi multinasional, setiap hari aku menandatangani kontrak bernilai miliaran rupiah, memimpin rapat lintas negara melalui konferensi video, serta menentukan nasib ratusan karyawan hanya dengan satu garis pena. Aku dilatih untuk berpikir logis, rasional, dan terukur. Hidupku adalah deretan angka dalam neraca saldo yang harus selalu seimbang. Teratur, rapi, dan nyaris sempurna di mata siapa pun yang memandang dari luar kaca gedung kantorku yang menjulang tinggi di Sudirman. Kecuali satu hal yang tidak pernah bisa aku seimbangkan. Satu variabel yang selalu membuat kalkulasiku berantakan. Istriku, Ayla. Aku menatap layar laptop di hadapanku tanpa benar-benar membaca deretan data yang tersaji. Grafik penjualan kuartal keempat yang seharusnya menarik perhatianku justru terasa buram. Fokusku buyar total sejak panggilan telepon singkat pagi tadi. Panggilan yang aku putus sepihak sebelum dia sempat mengucapkan kata penutup. Bukan karena aku marah. Melainkan karena aku takut… jika aku terus mendengar nada suaranya yang datar dan penuh formalitas itu, aku akan terdengar terlalu lemah. Aku takut pertahananku runtuh dan aku akan memohon padanya untuk merindukanku—sebuah permintaan yang aku tahu tidak akan pernah bisa dia penuhi. ** Dua tahun. Sudah dua puluh empat bulan aku menjadi suami Ayla secara sah. Dua tahun kami berbagi atap yang sama, menggunakan nama belakang yang sama, dan menyandang status yang membuat banyak pria iri padaku. Namun, di balik pintu rumah kami yang megah, kebenarannya sangat kontras. Hatinya belum pernah benar-benar memilihku. Bahkan tidak sedetik pun. Aku tahu sejak awal pernikahan ini bukan keinginannya. Ayla adalah tipikal wanita yang menjunjung tinggi bakti kepada orang tua, dan ketika ayahnya memintanya menikahiku demi menyelamatkan hubungan bisnis keluarga mereka, dia mengangguk pelan tanpa protes. Aku tahu setiap senyum yang dia berikan di depan kamera adalah hasil latihan di depan cermin. Aku tahu setiap kali tanganku menyentuh pundaknya, dia akan sedikit menegang, menjaga jarak yang tak kasatmata namun terasa seperti jurang yang dalam. Tapi aku tetap maju. Dengan arogansi seorang pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya, aku percaya bahwa cinta bisa ditumbuhkan layaknya sebuah perusahaan rintisan. Aku percaya bahwa dedikasi, waktu, dan kesetiaanku akan meluluhkan dinding es di hatinya. Aku bersedia menunggu, meski harus kedinginan di luar dinding itu. Masalahnya sekarang adalah… aku tidak tahu sampai kapan kewarasanku sanggup bertahan dalam penantian ini. “Ada revisi untuk proposal ekspansi di Singapura, Pak,” suara Naya, sekretarisku, memecah lamunan yang menyesakkan itu. Aku tersentak kecil, lalu berdeham untuk memulihkan wibawaku. “Letakkan saja di meja, Nay. Saya akan periksa nanti malam.” Begitu pintu jati itu tertutup kembali, aku menyandarkan punggung ke kursi kulit yang mahal. Ruangan kantorku ini luas, dingin karena AC yang disetel maksimal, dan terlalu sunyi. Persis seperti suasana rumahku saat Ayla sendirian di sana. Sunyi yang menghakimi. Aku merindukannya. Rasa rindu ini aneh, karena sebenarnya kami hampir selalu berbicara setiap hari. Aku selalu meneleponnya di jam makan siang, memastikan dia sudah makan, memastikan dia sudah beristirahat. Bukan karena aku ingin menjadi suami yang posesif, tapi karena itu adalah satu-satunya caraku untuk merasa bahwa aku masih memiliki peran dalam hidupnya. ** Aku teringat pertama kali melihat Ayla. Hari itu dia mengenakan gaun sederhana berwarna krem. Wajahnya cantik dengan caranya sendiri—tenang dan menyejukkan. Tatapannya dingin, namun jujur. Saat orang tua kami memperkenalkan kami, dia tersenyum sopan. Tidak lebih, tidak kurang. Namun entah kenapa, sejak detik itu, ada insting di dalam diriku yang berteriak bahwa aku ingin menjaganya. Menikah dengannya adalah keputusan paling berani, sekaligus paling ceroboh yang pernah kuambil. Dan mencintainya… adalah keputusan yang perlahan-lahan membunuhku. Aku mencintainya dengan cara yang sangat detail. Aku mencintai kebiasaannya membaca buku sebelum tidur, cara kerutan kecil muncul di keningnya saat dia serius, dan caranya diam saat sedang marah. Aku mencintai Ayla dalam detail-detail kecil yang bahkan ia sendiri mungkin tidak menyadarinya. Dan bagian yang paling menyedihkan adalah: Aku mencintainya sendirian. Aku tahu tentang Davin. Aku tahu lebih cepat dari yang Ayla duga. Sebagai seorang pemimpin perusahaan, informasi adalah mata uangku. Aku memiliki jaringan yang luas, dan aku tidak butuh detektif swasta untuk menyadari perubahan pada istriku. Perubahan sikapnya yang tiba-tiba menjadi lebih cerah, senyum yang lebih hidup saat dia menatap ponselnya, dan bagaimana dia mulai menyembunyikan ponsel itu ketika aku memasuki ruangan. Semuanya terlalu klise untuk tidak disadari. Aku tidak buta. Aku hanya memilih untuk memakai penutup mata. Aku berpura-pura semua baik-baik saja karena aku takut jika aku mengonfrontasinya, kebohongan manis ini akan berakhir. ** Sampai tiba hari itu. Hari ketika aku pulang dari perjalanan bisnis lebih cepat dari jadwal, berniat memberinya kejutan. Aku sudah memesan bunga favoritnya dan berencana mengajaknya makan malam. Aku ingin kami berbicara, benar-benar berbicara tanpa jarak. Tapi yang kudapatkan justru pemandangan yang tak akan pernah bisa kuhapus dari memori otakku. Ayla sedang tertawa. Bukan tawa kecil sopan yang biasa ia berikan padaku. Melainkan tawa lepas, tulus, penuh cahaya. Dan tawa itu… bukan karena aku. Dadaku rasanya seperti diremas. Aku tidak langsung melangkah masuk. Aku berdiri di balik pilar, menyaksikan istriku bersandar nyaman pada pria lain di sofa kami. Davin. Pria yang namanya beberapa kali muncul secara tidak sengaja dalam percakapan. Melihat mereka, aku menyadari bahwa selama dua tahun ini, aku hanyalah seorang penjaga penjara bagi Ayla, sementara Davin adalah kebebasannya. Saat Ayla akhirnya menyadari kehadiranku, tawanya mati seketika. Wajahnya berubah pucat pasi. Dia berdiri dengan gemetar, menjauh dari Davin seolah-olah pria itu adalah bara api. Dalam logika bisnis, ini adalah pengkhianatan kontrak yang fatal. Aku bisa saja marah besar. Aku memiliki segala sumber daya untuk menghancurkan Davin dalam semalam. Aku bisa saja berteriak, mengusirnya, atau menyeret Ayla ke kamar. Aku bisa saja mengajukan cerai malam itu juga. Tapi aku tidak melakukannya. Karena di detik itu, saat aku menatap matanya yang penuh ketakutan bercampur rasa bersalah, aku menyadari satu hal: Ayla tidak pernah terlihat se-manusia itu saat bersamaku. Malam itu, di ruang tengah yang sunyi, dia menangis. Dia mengaku bahwa dia jatuh cinta pada Davin jauh sebelum pernikahan kami dimulai. Dia mengaku bahwa dia bahagia bersama pria itu dengan cara yang tidak bisa aku berikan. Setiap kata yang keluar dari bibirnya seperti pisau bedah yang menguliti harga diriku lapis demi lapis. Namun, di akhir pengakuannya, aku justru tersenyum. “Lanjutkan saja,” kataku waktu itu dengan nada suara yang sangat tenang. Aku masih ingat jelas ekspresi tidak percaya di wajah Ayla. “Aku izinkan kamu bersamanya,” lanjutku pelan. “Asal kamu tetap di sini. Jangan pernah minta cerai dariku. Tetaplah menjadi istriku di mata dunia, dan kamu boleh memiliki duniamu sendiri di luar sana.” Kenapa aku melakukannya? Banyak orang mungkin akan menganggapku bodoh atau lemah. Pria tanpa harga diri yang rela berbagi istri. Mereka tidak tahu. Mereka tidak mengerti rasanya mencintai seseorang sedalam ini hingga ego menjadi tidak relevan. Aku bertahan bukan karena aku tidak merasakan sakit. Setiap kali dia pergi menemui pria itu, hatiku rasanya seperti disayat. Setiap kali dia pulang dengan binar mata yang bukan milikku, aku mati sedikit demi sedikit. Aku bertahan karena aku terlalu mencintai. Aku tahu, jika aku melepaskannya sekarang, aku akan benar-benar kehilangan Ayla dari hidupku. Tapi jika aku bertahan… setidaknya aku masih bisa berada di dekatnya. Aku masih bisa melindunginya, memastikan dia tidak akan pernah kekurangan, memastikan dia aman. Aku tidak butuh kepemilikan penuh atas hatinya lagi. Aku hanya ingin dia tetap berada dalam jangkauan pandanganku. Aku hanya ingin ia bahagia. Meski kebahagiaan itu adalah racun bagi jiwaku. Malam ini, aku berdiri di depan jendela apartemen hotel di luar negeri. Lampu-lampu kota terlihat indah, namun kosong. Aku merogoh ponsel, melihat foto Ayla sebagai wallpaper. “Kalau suatu hari kamu benar-benar memilih dia sepenuhnya...” gumamku lirih, “...aku harap saat itu tiba, aku sudah cukup kuat untuk merelakanmu.” Sebagai CEO, aku terbiasa menang. Namun sebagai suami Ayla, aku rela kalah telak, asalkan ia bahagia. Bagiku, mencintainya adalah investasi yang paling merugikan secara logika, namun paling berarti secara jiwa. Aku akan tetap menjadi pelabuhan yang tenang baginya, meski aku tahu dia lebih suka berlayar di samudera milik orang lain.Rumah kediaman Pratama sore itu disulap menjadi taman surgawi mini. Ratusan bunga lili putih dan mawar pastel menghiasi setiap sudut, memberikan aroma harum yang menenangkan. Acara tasyakuran 40 hari kelahiran Aydan Putra Pratama bukan sekadar perayaan syukur, tapi juga momentum "gencatan senjata" bagi dua pria yang selama seminggu terakhir ini terus bersaing memperebutkan gelar pria paling perhatian di rumah itu.Abhi tampak gagah mengenakan beskap modern berwarna cream, sementara Ayla terlihat sangat anggun dengan kebaya senada, rambutnya disanggul modern yang memperlihatkan leher jenjang dan aura keibuannya yang semakin terpancar. Di pelukan Ayla, Aydan tertidur pulas, terlihat sangat tampan dengan baju muslim bayi yang dirancang khusus."Mas, jangan pasang muka tegang gitu kalau lihat Aldi. Ini acara anak kita," bisik Ayla saat mereka berdiri di depan pintu untuk menyambut tamu.Abhi merapikan letak jam tangannya, matanya melirik Aldi yang sedang asyik mengatur letak panggung k
Pagi di kediaman Pratama biasanya tenang, diisi oleh suara kicauan burung dan gemericik air kolam. Namun, sejak kehadiran Aldi, udara di rumah itu seolah mengandung muatan listrik statis yang siap memercikkan api kapan saja.Abhimana, sang CEO yang biasanya dingin dan tak tersentuh, kini bertransformasi menjadi seorang pria yang sangat kompetitif—terutama jika itu menyangkut perhatian istrinya dan putra kecilnya, Aydan.“Pagi, Princess!” suara Aldi menggelegar di ruang makan. Ia muncul dengan kaus putih ketat yang memamerkan otot lengannya, hasil latihan rutin di pusat kebugaran London. Di tangannya, ia membawa nampan berisi avocado toast dengan telur mata sapi yang estetik.“Aku buatkan sarapan khusus buat kamu, Ay. Protein tinggi, lemak sehat, biar produksi ASI kamu melimpah,” Aldi meletakkan piring itu tepat di depan Ayla, menggeser piring nasi goreng buatan asisten rumah tangga yang baru saja hendak disantap Abhi.Abhi yang sedang menyesap kopi hitamnya hampir saja tersedak. I
Rumah kediaman Pratama pagi itu tampak begitu meriah. Aroma melati dan nasi kebuli menyeruak dari area ruang tamu hingga taman belakang. Hari ini adalah acara syukuran sekaligus aqiqah untuk Aydan Putra Pratama. Balon-balon berwarna pastel menghiasi sudut ruangan, dan foto-foto newborn Aydan yang sedang tertidur lelap sukses membuat siapa pun yang melihatnya merasa gemas.Abhi, yang mengenakan baju koko modern berwarna senada dengan gaun Ayla, tampak sibuk menyalami tamu. Namun, fokusnya tetap tak pernah lepas dari Ayla yang sedang duduk di sofa khusus sambil menggendong Aydan."Mas, minum dulu," ucap Ayla lembut saat Abhi mendekat.Abhi tersenyum, baru saja hendak mengambil gelas dari tangan istrinya, tiba-tiba sebuah suara bariton yang terdengar sangat akrab—namun memiliki aksen yang sedikit berbeda—menggelegar dari arah pintu masuk."Ayla! My favorite girl in the world!"Seorang pria tinggi dengan balutan jas kasual rancangan desainer ternama masuk dengan langkah penuh percaya
Tanpa terasa kandungan Ayla sudah berusia sembilan bulan. Suasana malam di Rumah Sakit Internasional Jakarta terasa begitu sunyi, namun di koridor depan ruang bersalin, denyut ketegangan terasa begitu nyata. Lampu merah bertuliskan “In Labor” menyala terang, seolah menjadi saksi bisu atas perjuangan hidup dan mati yang sedang berlangsung di dalamnya.Abhi tak pernah merasa sekecil ini. Sebagai seorang CEO, ia terbiasa mengendalikan angka, proyek, dan ribuan karyawan. Namun malam ini, ia hanya seorang pria biasa yang menggenggam erat tangan istrinya, merasa tak berdaya melihat peluh dan air mata membanjiri wajah Ayla.“Tarik napas, Ayla... pelan-pelan. Fokus pada suaramu, bukan pada sakitnya,” suara dokter Ammar terdengar tenang, meskipun di balik maskernya, ia juga bekerja dengan konsentrasi penuh.Ayla mengerang, cengkeramannya pada tangan Abhi begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih. “Mas... sakit... aku nggak kuat...” bisiknya dengan suara yang hampir habis.Abhi mendekatkan wa
Dunia terkadang bekerja dengan cara yang sangat misterius. Saat satu pintu tertutup dengan dentum keras yang menyakitkan, ia sering kali membiarkan sebuah jendela terbuka perlahan, memberikan jalan bagi sinar matahari baru untuk masuk. Begitulah yang dirasakan Bella saat ini.Di teras belakang Kafe Choco yang sudah tutup, Bella duduk menghadap taman kecil sambil memegang cangkir cokelat panas. Di sampingnya, Davin sedang sibuk mengutak-atik sebuah speaker bluetooth yang macet.“Davin, makasih ya buat semuanya,” ucap Bella tiba-tiba, suaranya pelan namun penuh penekanan.Davin menoleh, dahinya berkerut. “Semuanya apa? Ini speakernya belum bener, Bel. Masih bunyi kresek-kresek.”Bella tertawa kecil, tawa yang kini tak lagi terdengar sumbang. “Bukan itu. Makasih karena sudah kasih aku hidup baru. Tempat tinggal, pekerjaan di kafe ini, dan... karena sudah sabar dengerin aku nangis berminggu-minggu.”Davin meletakkan obengnya. Ia menatap Bella dengan tatapan yang sulit diartikan. “Bel
Pagi itu, aroma antiseptik rumah sakit yang biasanya terasa mencekam, mendadak terasa lebih ramah bagi Ayla. Mungkin karena hari ini adalah jadwal pemeriksaan rutin kandungannya yang sudah memasuki trimester akhir. Atau mungkin, karena sosok yang akan ia temui bukan sekadar dokter, melainkan kepingan masa lalu yang telah menjelma menjadi sahabat baik: Dokter Ammar Gauzan.Di dalam ruang konsultasi, Ammar tampak rapi dengan jas putihnya. Ia masih sama seperti dulu—tenang, teduh, dan memiliki cara bicara yang bisa membuat lawan bicaranya merasa menjadi orang paling penting di dunia.“Jadi, Dok... kalau nanti kontraksi itu rasanya seperti apa?” tanya Ayla, jemarinya meremas ujung gaunnya. “Benar kata orang ya, rasanya seperti tulang-tulang dipatahkan? Terus kalau aku nggak kuat mengejan bagaimana? Kalau aku pingsan di tengah jalan gimana?”Rentetan pertanyaan itu meluncur begitu saja. Wajah Ayla tampak pucat, kecemasan seorang calon ibu baru benar-benar menguasainya.Ammar meletakkan
~ Dia adalah lelaki baik yang sudah ayah dan bunda percaya untuk menjadi suami kamu ~ Pak Mirza, ayah Ayla**Flashback On...Dua tahun sebelumnya...“Ayla ... ayah dan bunda ingin agar kamu segera menikah dengan anak sahabat ayah,” ujar pak Mirza, ayah dari Ayla.“Apa? Menikah? Nggak Ayah,
~ Cinta itu sederhana, yang rumit itu kamu ~ Abhimana Pratama**Semua orang dalam ruangan itu pun menghentikan aktivitas makannya lalu menatap pada Ayla, namun hanya Abhi saja yang masih terlihat sibuk dengan makanan di atas piringnya. Telinganya menyimak dengan tajam, meski pandangannya tak m
POV Davin AlfiansyahAku masih mengingat hari pertama aku bertemu Ayla dengan detail yang terlalu jelas—terlalu tajam—untuk sekadar disebut kenangan. Beberapa ingatan seharusnya memudar seiring berjalannya waktu, namun bayangan Ayla sore itu seperti tinta permanen yang tumpah di atas kertas putih
~ Biar aku yang pergi, biar aku yang tersakiti ~Davin AlfiansyahDavin masih berdiri di hadapan Ayla, menunggu kalimat lanjutan yang tak kunjung terucap dari bibir wanita itu. Jantungnya berdetak tak beraturan, seolah ada firasat buruk yang perlahan merayap ke dalam dada. Tatapannya menelusuri wa







