LOGIN~ Aku mencintaimu dengan tulus, tapi mengapa kamu membalasnya dengan pengkhianatan? ~ Abhimana Pratama
Abhi akhirnya menyusul Ayla ke kamar. Dadanya terasa sesak sejak tadi, seolah ada sesuatu yang terus menekan dari dalam. Ia tak sanggup lagi memendam semua yang selama ini ia simpan sendiri. Malam ini, ia harus bicara. Meski kata-kata itu akan melukainya lebih dalam. “Ayla…” panggilnya lirih. Ayla berdiri membelakanginya, kedua tangannya menggenggam ujung selimut di atas ranjang. Tubuhnya kaku, seakan sudah menebak arah pembicaraan ini akan berakhir ke mana. “Aku sudah memberikan segalanya padamu,” lanjut Abhi, suaranya bergetar. “Termasuk hatiku. Kamu tahu itu, kan?” Ia melangkah mendekat, meraih wajah Ayla dengan kedua tangannya. Sentuhannya lembut, penuh kehati-hatian, seolah wanita di hadapannya bisa hancur kapan saja. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh begitu saja, membasahi pipinya. Di hadapan Ayla Shanaya, Abhimana Pratama selalu kalah. Ayla tak berani menatap suaminya. Matanya menunduk, lidahnya kelu. Rasa bersalah itu ada—nyata dan menyakitkan. Namun perasaannya tak bisa dipaksa berbohong. Cinta itu tak pernah hadir untuk Abhi. Cinta itu justru tumbuh pada pria lain. “Aku mencintaimu dengan tulus,” suara Abhi meninggi, pecah oleh emosi yang selama ini ia kubur dalam-dalam. “Tapi kenapa kamu membalasnya dengan pengkhianatan seperti ini? Kenapa, Ayla?!” Bentakan itu keluar tanpa bisa ia cegah. Selama dua tahun pernikahan mereka, Abhi tak pernah sekalipun meninggikan suara. Namun malam ini, hatinya terlalu sakit untuk tetap tenang. Ayla pun menangis. Bahunya bergetar hebat, air mata jatuh satu per satu. “Maaf… Mas,” ucapnya lirih. Hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya. Abhi terdiam. Tatapannya kosong. Ia melepaskan genggaman tangannya dari wajah Ayla, lalu berbalik pergi. Tanpa kata, ia masuk ke kamar dan mengurung diri. Ia tak sanggup melihat wajah Ayla lebih lama—wanita yang ia cintai, sekaligus sumber luka terbesarnya. Karena dengan mencintai Ayla, Abhi sadar… ia telah memasang bom waktu di dadanya sendiri. Dan malam ini, bom itu meledak. “Maafkan aku, Mas Abhi,” gumam Ayla sambil mengusap air mata di pipinya. “Mungkin dengan cara ini… kamu akan bersedia menceraikanku secepatnya.” ** Keesokan paginya, Ayla tetap melakukan rutinitasnya seperti biasa. Ia menyiapkan sarapan—nasi goreng kesukaan Abhi, lengkap dengan telur mata sapi. Seolah tak terjadi apa-apa semalam. Ia mengetuk pintu kamar Abhi pelan. “Mas…” Tak ada jawaban. Ayla menunggu sejenak, lalu kembali ke meja makan. Duduk sendiri, menatap hidangan yang perlahan mendingin. Beberapa menit kemudian, Abhi keluar dari kamar. Ia mengenakan pakaian santai, wajahnya datar, tanpa ekspresi. Ia langsung duduk di meja makan tanpa menyapa Ayla sedikit pun. “Mas… hari ini kamu nggak ke kantor?” tanya Ayla akhirnya, memberanikan diri. Abhi hanya menggeleng pelan, lalu meminum segelas air putih. “Aku ambilkan makanannya ya,” ucap Ayla, berusaha tetap bersikap normal. Abhi hanya diam, memperhatikan Ayla menuangkan nasi goreng ke piringnya dengan penuh perhatian—seperti istri pada umumnya. Ironis. Wanita yang sama yang tadi malam mengaku mencintai pria lain. Mereka makan dalam diam. Tak ada obrolan hangat. Tak ada senyum kecil. Hanya bunyi sendok dan piring yang beradu pelan. Selesai makan, Ayla membereskan meja. Abhi beranjak ke ruang keluarga dan menyalakan televisi. Namun saat Ayla menghampirinya, Abhi justru mematikan televisi dan bangkit dari duduknya. Ayla refleks menahan lengannya. “Tunggu, Mas. Kita harus bicara.” Abhi menoleh, tatapannya dingin, penuh kekecewaan. “Apa lagi yang harus dibicarakan?” ucapnya tajam. “Kamu berharap aku langsung menceraikan kamu supaya kamu bisa hidup bahagia dengan dia, begitu?” “Mas…” suara Ayla bergetar. “Aku tahu aku salah. Aku mengkhianati kamu. Aku hanya ingin kita berpisah dengan baik-baik.” “Berpisah?” Abhi terkekeh sinis. “Siapa bilang aku akan menceraikan kamu? Jangan harap semudah itu.” “Tapi aku sudah menduakan kamu,” ucap Ayla lirih. “Kita juga belum punya anak… kamu berhak—” Abhi tertawa sumbang, lalu melipat tangan di depan dada. “Ayla…” ia menggeleng pelan. “Jangan kamu kira aku sebodoh itu melepas kamu begitu saja.” Ayla menatapnya terkejut. “Aku akan menahan kamu seumur hidup,” lanjut Abhi dingin. “Aku nggak akan membiarkan kamu bahagia dengan lelaki itu.” Kata-kata berikutnya membuat napas Ayla tercekat. “Soal anak, aku akan membuat kamu mengandung anakku secepat mungkin.” Abhi berlalu begitu saja, meninggalkan Ayla yang berdiri terpaku. Dadanya sesak, rencananya hancur total. 'Aku hanya ingin kita bahagia, Mas... meskipun tak bersama lagi.' ** Malam harinya, Abhi memberikan sebuah map biru pada Ayla. “Apa ini, Mas?” tanya Ayla ragu. “Kamu buka dan baca.” Ayla membuka map itu, jantungnya berdegup kencang. Surat Perjanjian Abhimana dan Ayla Abhi bersedia menceraikan Ayla dengan syarat: Ayla diperbolehkan bertemu Davin, dengan syarat Abhi harus selalu ikut. Ayla tetap menjalankan kewajiban sebagai istri dan melayani Abhi dengan baik. Ayla harus memberikan keturunan kepada Abhi dan bersedia menyerahkan hak asuh sepenuhnya setelah perceraian. Selama hamil, Ayla dilarang bertemu Davin. Jika seluruh syarat terpenuhi, Abhi akan memproses perceraian sesegera mungkin. “Apa-apaan ini?” suara Ayla bergetar. “Aku nggak mau hamil anak kamu!” “Kalau begitu,” Abhi menatapnya tajam, “jangan pernah temui Davin lagi.” Mata Ayla membulat. “Aku sudah terlalu baik,” lanjut Abhi dingin. “Aku nggak menuntut kalian, bahkan masih memberi jalan. Tapi kamu menolak?” Ia tersenyum—senyum yang membuat Ayla bergidik. “Kalau begitu, bersiaplah menjadi istriku selama-lamanya.” “Persyaratan kamu nggak masuk akal!” “Dan perselingkuhanmu masuk akal?” balas Abhi tajam. “Aku bekerja keras untuk kamu, tapi balasanmu pengkhianatan. Kalau pria lain di posisiku, kamu sudah diceraikan sejak semalam.” Abhi pergi membawa map itu, meninggalkan Ayla dalam diam dan ketakutan. Kamu telah mempermainkan perasaanku, Ayla, batinnya pahit. Tunggu saja permainan yang akan aku buat untuk kalian. ** “Davin… aku ingin kita putus.” “Apa?” Davin menatapnya tak percaya. “Kamu mau menyerah begitu saja?” “Aku nggak bisa menerima persyaratan Mas Abhi.” “Persyaratan apa?” “Dia… dia ingin anak dariku.” “APA?!” ** Beberapa hari kemudian, Abhi mengunjungi rumah orang tuanya. “Abhi, bagaimana kabar kamu dan menantu mama?” tanya Bu Rani ceria. “Kenapa nggak ajak Ayla sekalian?” “Kami baik, Ma,” jawab Abhi sambil tersenyum tipis. “Ayla sedang istirahat.” Pak Joni ikut menimpali, “Menantu papa sehat, kan?” “Sehat, Pa. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan.” Bu Rani tersenyum lega. “Mama sudah nggak sabar punya cucu, tapi santai saja. Kalau sudah waktunya, Allah pasti kasih.” Abhi hanya tersenyum masam. 'Bagaimana Ayla bisa hamil, batinnya getir, kalau dia diam-diam meminum obat itu di belakangku?' Dan luka itu… Akan Abhimana simpan rapat. Sendiri.Rumah kediaman Pratama sore itu disulap menjadi taman surgawi mini. Ratusan bunga lili putih dan mawar pastel menghiasi setiap sudut, memberikan aroma harum yang menenangkan. Acara tasyakuran 40 hari kelahiran Aydan Putra Pratama bukan sekadar perayaan syukur, tapi juga momentum "gencatan senjata" bagi dua pria yang selama seminggu terakhir ini terus bersaing memperebutkan gelar pria paling perhatian di rumah itu.Abhi tampak gagah mengenakan beskap modern berwarna cream, sementara Ayla terlihat sangat anggun dengan kebaya senada, rambutnya disanggul modern yang memperlihatkan leher jenjang dan aura keibuannya yang semakin terpancar. Di pelukan Ayla, Aydan tertidur pulas, terlihat sangat tampan dengan baju muslim bayi yang dirancang khusus."Mas, jangan pasang muka tegang gitu kalau lihat Aldi. Ini acara anak kita," bisik Ayla saat mereka berdiri di depan pintu untuk menyambut tamu.Abhi merapikan letak jam tangannya, matanya melirik Aldi yang sedang asyik mengatur letak panggung k
Pagi di kediaman Pratama biasanya tenang, diisi oleh suara kicauan burung dan gemericik air kolam. Namun, sejak kehadiran Aldi, udara di rumah itu seolah mengandung muatan listrik statis yang siap memercikkan api kapan saja.Abhimana, sang CEO yang biasanya dingin dan tak tersentuh, kini bertransformasi menjadi seorang pria yang sangat kompetitif—terutama jika itu menyangkut perhatian istrinya dan putra kecilnya, Aydan.“Pagi, Princess!” suara Aldi menggelegar di ruang makan. Ia muncul dengan kaus putih ketat yang memamerkan otot lengannya, hasil latihan rutin di pusat kebugaran London. Di tangannya, ia membawa nampan berisi avocado toast dengan telur mata sapi yang estetik.“Aku buatkan sarapan khusus buat kamu, Ay. Protein tinggi, lemak sehat, biar produksi ASI kamu melimpah,” Aldi meletakkan piring itu tepat di depan Ayla, menggeser piring nasi goreng buatan asisten rumah tangga yang baru saja hendak disantap Abhi.Abhi yang sedang menyesap kopi hitamnya hampir saja tersedak. I
Rumah kediaman Pratama pagi itu tampak begitu meriah. Aroma melati dan nasi kebuli menyeruak dari area ruang tamu hingga taman belakang. Hari ini adalah acara syukuran sekaligus aqiqah untuk Aydan Putra Pratama. Balon-balon berwarna pastel menghiasi sudut ruangan, dan foto-foto newborn Aydan yang sedang tertidur lelap sukses membuat siapa pun yang melihatnya merasa gemas.Abhi, yang mengenakan baju koko modern berwarna senada dengan gaun Ayla, tampak sibuk menyalami tamu. Namun, fokusnya tetap tak pernah lepas dari Ayla yang sedang duduk di sofa khusus sambil menggendong Aydan."Mas, minum dulu," ucap Ayla lembut saat Abhi mendekat.Abhi tersenyum, baru saja hendak mengambil gelas dari tangan istrinya, tiba-tiba sebuah suara bariton yang terdengar sangat akrab—namun memiliki aksen yang sedikit berbeda—menggelegar dari arah pintu masuk."Ayla! My favorite girl in the world!"Seorang pria tinggi dengan balutan jas kasual rancangan desainer ternama masuk dengan langkah penuh percaya
Tanpa terasa kandungan Ayla sudah berusia sembilan bulan. Suasana malam di Rumah Sakit Internasional Jakarta terasa begitu sunyi, namun di koridor depan ruang bersalin, denyut ketegangan terasa begitu nyata. Lampu merah bertuliskan “In Labor” menyala terang, seolah menjadi saksi bisu atas perjuangan hidup dan mati yang sedang berlangsung di dalamnya.Abhi tak pernah merasa sekecil ini. Sebagai seorang CEO, ia terbiasa mengendalikan angka, proyek, dan ribuan karyawan. Namun malam ini, ia hanya seorang pria biasa yang menggenggam erat tangan istrinya, merasa tak berdaya melihat peluh dan air mata membanjiri wajah Ayla.“Tarik napas, Ayla... pelan-pelan. Fokus pada suaramu, bukan pada sakitnya,” suara dokter Ammar terdengar tenang, meskipun di balik maskernya, ia juga bekerja dengan konsentrasi penuh.Ayla mengerang, cengkeramannya pada tangan Abhi begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih. “Mas... sakit... aku nggak kuat...” bisiknya dengan suara yang hampir habis.Abhi mendekatkan wa
Dunia terkadang bekerja dengan cara yang sangat misterius. Saat satu pintu tertutup dengan dentum keras yang menyakitkan, ia sering kali membiarkan sebuah jendela terbuka perlahan, memberikan jalan bagi sinar matahari baru untuk masuk. Begitulah yang dirasakan Bella saat ini.Di teras belakang Kafe Choco yang sudah tutup, Bella duduk menghadap taman kecil sambil memegang cangkir cokelat panas. Di sampingnya, Davin sedang sibuk mengutak-atik sebuah speaker bluetooth yang macet.“Davin, makasih ya buat semuanya,” ucap Bella tiba-tiba, suaranya pelan namun penuh penekanan.Davin menoleh, dahinya berkerut. “Semuanya apa? Ini speakernya belum bener, Bel. Masih bunyi kresek-kresek.”Bella tertawa kecil, tawa yang kini tak lagi terdengar sumbang. “Bukan itu. Makasih karena sudah kasih aku hidup baru. Tempat tinggal, pekerjaan di kafe ini, dan... karena sudah sabar dengerin aku nangis berminggu-minggu.”Davin meletakkan obengnya. Ia menatap Bella dengan tatapan yang sulit diartikan. “Bel
Pagi itu, aroma antiseptik rumah sakit yang biasanya terasa mencekam, mendadak terasa lebih ramah bagi Ayla. Mungkin karena hari ini adalah jadwal pemeriksaan rutin kandungannya yang sudah memasuki trimester akhir. Atau mungkin, karena sosok yang akan ia temui bukan sekadar dokter, melainkan kepingan masa lalu yang telah menjelma menjadi sahabat baik: Dokter Ammar Gauzan.Di dalam ruang konsultasi, Ammar tampak rapi dengan jas putihnya. Ia masih sama seperti dulu—tenang, teduh, dan memiliki cara bicara yang bisa membuat lawan bicaranya merasa menjadi orang paling penting di dunia.“Jadi, Dok... kalau nanti kontraksi itu rasanya seperti apa?” tanya Ayla, jemarinya meremas ujung gaunnya. “Benar kata orang ya, rasanya seperti tulang-tulang dipatahkan? Terus kalau aku nggak kuat mengejan bagaimana? Kalau aku pingsan di tengah jalan gimana?”Rentetan pertanyaan itu meluncur begitu saja. Wajah Ayla tampak pucat, kecemasan seorang calon ibu baru benar-benar menguasainya.Ammar meletakkan
POV Davin AlfiansyahAku masih mengingat hari pertama aku bertemu Ayla dengan detail yang terlalu jelas—terlalu tajam—untuk sekadar disebut kenangan. Beberapa ingatan seharusnya memudar seiring berjalannya waktu, namun bayangan Ayla sore itu seperti tinta permanen yang tumpah di atas kertas putih
~ Biar aku yang pergi, biar aku yang tersakiti ~Davin AlfiansyahDavin masih berdiri di hadapan Ayla, menunggu kalimat lanjutan yang tak kunjung terucap dari bibir wanita itu. Jantungnya berdetak tak beraturan, seolah ada firasat buruk yang perlahan merayap ke dalam dada. Tatapannya menelusuri wa
~ Bersabarlah, sejak awal kisah cinta kalian memang tidak akan mudah ~Rian IrsyadAbhi masih berdiri di sisi tempat tidur, menatap Ayla yang kini kembali menarik selimut hingga menutupi hampir seluruh tubuhnya. Tatapan lelaki itu penuh kekhawatiran, ada garis lelah yang tak bisa ia sembunyikan di
~ Meski kita belum saling mencintai, Mas tetap ingin berusaha membahagiakan kamu ~Abhimana Pratama**Pagi itu rumah terasa hangat. Bukan karena sinar matahari yang masuk dari jendela besar ruang makan, melainkan karena dua orang yang—meski belum saling mencintai—sedang belajar berbagi ruang da







