LOGINAdrian mengangguk mantap, menyetujui taktik serangan balik yang baru saja dicetuskan Kalea. Di bawah lampu neon lorong ICU yang temaram, ia segera mengeluarkan komputer jinjing taktis militer dari dalam ranselnya.Jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik, sementara layar dipenuhi baris kode enkripsi yang berubah dengan cepat.“Miko sedang memprogram pemancar sekunder di laboratorium bawah,” bisik Adrian tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. “Kita akan mereplikasi frekuensi cip pelacak Nata.”Kalea menoleh kepadanya. “Dan mengirimkannya ke Baturraden?”“Bukan sekadar ke Baturraden.” Adrian memperbesar sebuah peta digital. “Kita kirim gelombang koordinat statis palsu ke arah lereng terdalam. Mereka akan mengira Nata masih bergerak di sana.”“Kalau mereka mengecek pergerakannya?”“Mereka akan melihat pola yang kita buat.”“Bagaimana kalau mereka sadar?”Adrian menatap Kalea sejenak.“Itulah kenapa kita tidak boleh memberi mereka waktu untuk berpikir.”Kalea mengangguk, lalu kem
Keheningan dingin seketika menyergap koridor steril rumah sakit setelah dokter bedah utama menyerahkan tabung kaca berisi cip mikro itu kepada Adrian. Kalea mematung, pandangannya terkunci pada kedipan lampu merah redup di dalam tabung, seolah benda kecil itu sedang menertawakan semua pelarian melelahkan yang mereka lakukan sepanjang malam.“Bawa tabung ini ke laboratorium forensik taktis sekarang, Miko. Cari tahu frekuensi yang digunakan dan server induk yang menerima data dari cip ini,” perintah Adrian dengan suara rendah yang bergetar menahan amarah.Miko menerima tabung kaca itu menggunakan sapu tangan.“Kalau cip ini masih menyimpan riwayat transmisi, kita bisa tahu sejak kapan Nata dilacak,” katanya.“Dan siapa yang menerima datanya,” balas Adrian tegas.Miko mengangguk cepat. “Saya akan cari tahu.”Ia segera melangkah pergi membelah lorong dengan terburu-buru. Beberapa detik kemudian, sosoknya menghilang di tikungan koridor.Kalea merasakan lututnya mendadak lemas hingga ia har
Aroma cairan antiseptik yang pekat menyengat indra penciuman Kalea saat seorang dokter ortopedi membalut pergelangan kaki kirinya yang membengkak kebiruan. Di atas ranjang periksa klinik darurat, Kalea duduk bersandar sembari mendekap boks Aletta yang mulai menggeliat kecil dalam tidurnya.“Cedera ligamen Anda cukup parah, Nona. Beruntung tidak ada keretakan tulang setelah benturan keras itu,” ujar dokter sembari merapikan perban elastis.“Kalau begitu, saya masih bisa berjalan, Dok?” tanya Kalea.“Masih bisa, tetapi jangan terlalu banyak menapak. Kaki Anda membutuhkan waktu untuk pulih.”“Saya tidak bisa terlalu lama di sini. Suami saya masih menjalani operasi.”Dokter menatapnya serius. “Saya mengerti, tetapi kalau Anda memaksakan diri, cedera ini bisa semakin parah.”Kalea mengangguk. Rasa sakit di kakinya sama sekali tidak sebanding dengan sesak yang menghuni dadanya sejak melihat sobekan kertas di map Svara. Matanya terus menatap pintu kaca yang menghubungkan ruangan dengan loron
Lampu strobo merah dan biru dari belasan mobil patroli polisi Banyumas membelah kabut pagi yang kian menipis, mengawal ketat ambulans taktis yang kini dipacu cepat menuju Rumah Sakit Pusat Darurat di pusat kota. Di dalam kabin, kesunyian mendadak terasa begitu pekat, menyisakan suara deru mesin dan bunyi monitor jantung Nata yang kembali berdetak teratur.Beep... beep... beep...Kalea duduk bersimpuh di lantai ambulans yang miring, kedua tangannya menggenggam jemari Nata yang perlahan mulai terasa hangat terkena embusan penghangat kabin. Di sampingnya, boks Aletta diletakkan di tempat yang aman. Sang bayi akhirnya tertidur pulas setelah kelelahan menangis sepanjang malam yang mencekam."Tahan sedikit lagi, Nata... kita hampir sampai di tempat yang aman," bisik Kalea parau sembari menyeka sisa darah kering di pelipis suaminya menggunakan ujung lengan hoodie-nya.Nata tidak menyahut dengan kata-kata. Kelopak matanya yang berat perlahan terpejam kembali karena pengaruh obat bius darurat
Suara derap langkah sepatu bot yang berat beradu dengan aspal basah, berbaur dengan deru mesin jip Mawar Hitam yang mengepung ambulans miring itu. Adrian tidak membuang waktu satu detik pun; ia segera menendang pintu belakang ambulans yang ringsek hingga terbuka paksa demi mendapatkan ruang tembak."Miko! Pasang barikade di depan! Lea, tetap merunduk di bawah brankar!" raung Adrian sembari melepaskan rentetan tembakan balasan ke arah siluet musuh yang mulai mendekat dari balik kabut.DOR! DOR! DOR!Kalea mendekap boks Aletta seerat mungkin di sela lantai kabin yang miring, menggunakan punggungnya sendiri untuk menahan roda brankar Nata agar tidak merosot menjepit bayinya. Di tengah kepulan asap mesiu dan bau hangus ban yang menyengat, air mata Kalea menetes mengenai masker oksigen Nata yang kembali berembun tebal."Kumohon... jangan malam ini," bisik Kalea parau, batinnya terkoyak melihat suaminya kembali dihadapkan pada ancaman eksekusi tepat saat jantungnya baru saja kembali berdeta
Adrian mengokang senjatanya dengan tatapan mata yang berkilat tajam di bawah temaram lampu kabin ambulans. "Mereka mengira kita akan menyerah setelah Hendra jatuh, tapi mereka salah besar," desisnya sembari memberikan isyarat taktis kepada Miko melalui kaca penghubung."Miko! Ambil jalur potong lewat perkebunan sayur di depan! Jangan biarkan mereka mengunci posisi kita!" perintah Adrian dengan suara tegas membelah deru sirene."Jalur perkebunan?" Miko melirik sekilas melalui kaca spion. "Itu jalan tanah dan penuh turunan!""Justru itu yang kita butuhkan!""Kalau ambulans ini terguling?""Kita tidak punya pilihan lain!"Miko mengatupkan rahang. "Baik, Tuan!"Di jok depan, Miko langsung memutar kemudi ambulans taktis itu secara ekstrem ke arah kiri, menerobos pembatas jalan aspal menuju jalanan tanah yang curam dan berbatu. Guncangan dahsyat seketika melanda seluruh isi mobil, membuat brankar Nata bergeser pelan dan monitor medis kembali berbunyi tidak beraturan."Kalea! Pegang erat bra







