LOGINSarah memang senang karena telah berhasil kabur dari keluarganya. Dan hingga kini, belum ada seorang pun yang berhasil menemukannya. Mereka pasti tak mengira dia akan kabur sejauh ini.
Namun sekarang ada hal lain yang sedikit mengganggu pikirannya... Uang di rekeningnya tidak terlalu banyak. Ia tidak bisa menggunakan kartu kredit ayahnya karena akan membuat keberadaannya diketahui. Sudah pasti ia pun tidak bisa bekerja di Singapura karena ia hanyalah turis.
Sarah mulai menghitung biaya hidupnya. Dia bisa bertahan disini selama 3 minggu, lalu kemudian kembali ke Indonesia dan mencari pekerjaan. Ya betul! Dia yakin dia bisa tinggal di tempat yang jauh dari rumah keluarganya, lalu bekerja dan membangun kehidupannya sendiri. Dengan demikian orangtuanya tak bisa memaksanya menikah dengan orang yang tidak ia sukai. Sarah merasa puas dengan rencana hidupnya.
“Baiklah! Mari bersenang-senang selama tiga minggu!” teriaknya.
Setiap hari Sarah sibuk berkeliling kota, menikmati kuliner lezat, dan menonton show-show gratis. Walaupun gratis, tapi hiburan itu sudah cukup menarik untuknya. Saat ini kisah pelariannya terasa sangat menyenangkan.
Di suatu siang yang cerah, Sarah menikmati waktunya sendirian di Chijmes. Dia sedang mengagumi bentuk arsitektur cantik bergaya klasik di hadapannya, ketika tanpa sadar dia melangkah mundur dan menabrak seseorang. Dia terhuyung dan hampir saja terjatuh. Namun seseorang menangkap lengannya dan membantunya berdiri stabil kembali.
“Maaf, maafkan aku.” Otomatis Sarah meminta maaf karena tidak memperhatikan kondisi di sekitarnya saat melangkah.
“Tidak apa – apa. Aku juga salah.” Terdengar suara berat seorang pria.
Sarah menoleh dan menatapnya. Astaga! Pria tampan bertubuh tegap. Dia memiliki wajah tegas dan rahang yang kuat. Dan tubuh kekarnya itu… pantas saja Sarah langsung oleng saat menabraknya. Bagaikan menabrak buldoser.
Sambil memperbaiki postur berdirinya, Sarah tersenyum dan berkata, ”Dan juga terima kasih karena sudah menolongku.”
“Bukan masalah.” Pria itu balas tersenyum padanya. Dan entah mengapa, Sarah merasa tertarik. Orang ini tampak berbeda dengan Vicky yang berwajah babyface dan terlihat kekanakan. Orang seperti ini baru bisa dibilang laki-laki sesungguhnya.
Sarah menggerutu dalam hati. Huh, kenapa dia malah membandingkan pria sekeren ini dengan Vicky. Jelas-jelas mereka jauh berbeda. Tetapi memang Sarah tidak bisa membandingkan dengan pria lain, karena tak pernah ada pria lain dalam kehidupannya. Selain ayahnya, tentu saja.
Dia selalu fokus dengan pendidikannya dan tak pernah memikirkan tentang pacaran. Orangtuanya pun senang dengan fakta bahwa Sarah tidak pernah memiliki pacar, karena memang mereka sudah berniat menikahkannya dengan Vicky, putra dari teman Miranda.
“Aku Randy.” Pria itu mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
Sarah menatap lengan kekar itu sesaat, sebelum akhirnya menjabatnya. “Sarah.”
“Kamu sedang bersama seseorang?” tanya Randy.
“Tidak. Aku hanya jalan-jalan sendiri.”
“Aku juga sendirian. Kalau begitu, mau berjalan bersama? Mungkin akan lebih menyenangkan karena kita bisa mengobrol.” Ia menawarkan.
Tanpa sadar Sarah langsung mengangguk.
‘Eh, tunggu! Dia orang asing. Bagaimana kalau dia berniat jahat? Bagaimana kalau dia ingin merampas uangku yang tidak seberapa ini?’
‘Tapi tidak mungkin. Dia tak tampak seperti orang jahat. Penampilannya saja rapi begitu. Dan dia bahkan menolongku saat aku hampir terjatuh tadi.’
‘Kita tidak bisa melihat orang dari penampilannya. Tidak ada yang tahu isi hati seseorang. Dan bisa saja dia hanya berpura-pura baik.’
‘Hmm, tapi ini kan negara yang cukup aman. Tingkat kejahatan disini rendah. Seharusnya tidak apa-apa. Lagipula kami hanya akan mengobrol di tempat umum kan? Kalau dia berbuat macam-macam, aku tinggal berteriak saja.’
Pikiran Sarah berkecamuk. Antara ia ingin mengenal orang ini, namun ia juga sedikit takut.
“Apa yang sedang kaupikirkan? Kau takut aku akan berbuat jahat padamu?” Randy seolah dapat menebak isi kepalanya. Sarah terkesiap kaget. Dan itu mengonfirmasi bahwa tebakan Randy benar.
Randy tertawa terbahak-bahak. “Hei, tenang saja. Aku janji tak akan berbuat jahat. Aku mengajakmu karena kamu tampak menarik. Hanya itu. Kita mengobrol sebentar saja sambil makan siang. Kalau kau merasa tidak nyaman, kau boleh pergi kapanpun. Bagaimana?”
Akhirnya Sarah menyerah. “Maaf. Aku bukan bermaksud mencurigaimu...”
“Tidak apa – apa. Kau bersikap waspada. Itu bagus.”
Sarah tersenyum. Ya, sepertinya ia bertingkah berlebihan. Pria ini hanya ingin mengobrol dengannya. Itu bukan hal yang buruk. Dan sejujurnya Sarah juga ingin mengobrol lebih jauh.
Mereka berdua pun pergi makan siang. Dan benar saja, Randy memang orang yang asyik untuk diajak bicara. Sarah menikmati waktu yang mereka habiskan bersama.
Randy mengenakan kemeja linen berwarna biru langit dan celana panjang warna beige. Dia tampak chic dan classy. Sejujurnya Sarah belum pernah melihat pria seperti ini dalam hidupnya. Teman-teman kuliahnya sama sekali tidak ia anggap pria. Kebanyakan hanya bocah-bocah kecanduan game. Sama sekali tidak tampak menarik. Tapi pria di hadapannya ini sungguh berbeda. Dia memiliki aura yang mampu membuatnya terpesona.
“Jadi, kamu sedang mengurus pekerjaanmu disini?”
“Ya, benar,” jawab Randy. “Aku ada meeting dengan beberapa partner bisnis. Hanya 4 hari saja. Setelah itu aku harus pergi ke Hongkong, masih lanjut bekerja.”
Sarah mengangguk-angguk. Randy orang yang tampak sibuk. Jadi dia tak mungkin menemaninya berjalan-jalan disini. Dia bahkan harus berpindah ke negara lain dalam waktu 4 hari. Sarah merasa sedikit kecewa. Sarah berharap mereka bisa menghabiskan waktu lebih banyak.
“Apa rencanamu 4 hari ke depan?” tanya Randy.
“Seperti hari ini. Berkeliling dan menikmati makanan. Tidak ada rencana khusus.”
“Kalau begitu, kita bisa bertemu setiap makan siang. Dan mungkin saat makan malam juga, jika pekerjaanku bisa selesai tak terlalu malam. Apa kau mau?”
“Itu terdengar menyenangkan,” jawab Sarah sambil tersenyum manis.
“Okay then. Boleh minta nomormu?”
Sarah memberinya nomor lokal Singapura yang ia beli di hari pertama ia datang.
“Terima kasih. Aku akan menghubungi kamu lagi besok,” ucap Randy.
Satu jam waktu makan siang mereka pun berlalu. Mereka berpisah karena Randy harus lanjut bekerja.
Berjam-jam setelahnya, Sarah merasa cukup bosan berkeliaran sendiri. Sudah seminggu lebih ia bepergian tanpa teman bicara. Awalnya ia merasa nyaman dan menikmatinya. Tetapi lama kelamaan, ia mulai jenuh.
Apalagi dengan adanya kehadiran Randy tadi. Perbedaannya jadi semakin terasa…. antara menghabiskan waktu sendirian dan bercengkerama dengan seseorang yang menarik.
Jujur saja ia menyukai kebersamaannya dengan Randy. Pembicaraan kecil mengenai hal sehari-hari… ternyata itu cukup menyenangkan. Sarah merasa tak sabar untuk bertemu Randy lagi esok hari.
Usai acara, Vicky menghampiri Regina ke kamarnya. Dia memilih untuk melakukan pendekatan yang lebih persuasif. Vicky tipe orang yang lebih suka membujuk secara halus, bukan mendebat lantang seperti kakaknya.“Ibu, apa Ibu lelah hari ini?” tanyanya pelan.“Yah, lumayan,” jawab Regina. “Terutama karena ulah kakakmu itu. Bukan hanya lelah, tapi Ibu jadi sakit kepala juga.”“Sini, Bu... Biar kupijat pundak Ibu, supaya ototnya tidak terlalu tegang.” Vicky menawarkan.“Astaga, kau memang anak yang benar-benar baik ya. Kau selalu memperhatikan Ibu…”Tentu saja Regina tak menolaknya. Terkadang memang putranya memanjakannya seperti ini.Pijatan itu perlahan-lahan membuat Regina rileks. Ototnya tak lagi tegang. Suasana hatinya mulai membaik. Dia menutup mata dan menikmati sekian menit itu berlalu.“Ibu…”“Ya, kenapa?”“Ibu kan tahu, kak Randy memang orang yang keras. Kalau Ibu terus menerus bersitegang dengannya, tak akan ada habisnya, Bu. Itu hanya membuat Ibu lelah saja.”“Bagaimana Ibu tidak
Di hari ulang tahun Regina, Sarah meminta suaminya untuk mengajaknya turut serta.Sesungguhnya Randy merasa berat hati. Setelah acara makan bersama ibunya waktu itu, Randy yakin bahwa Regina tak akan memperlakukan istrinya dengan baik. Apalagi jelas-jelas dia malah memanggil Alana dan membuat kesepakatan dengan keluarganya. Situasinya tak akan menguntungkan bagi Sarah.Randy ingin memberi jeda waktu yang lebih lama… Sampai ibunya itu melunak dan mau berusaha menerima Sarah dengan lapang dada, barulah dia akan mempertemukan mereka lagi.“Aku sendiri saja malas untuk pergi ke sana, Sarah. Bahkan aku sempat berpikir untuk mangkir. Kenapa justru kamu yang bersemangat?” oceh Randy.“Ini ulang tahun ibumu, lho. Kau harus ikut merayakannya kan?”“Ya, aku memang terpaksa harus pergi. Tapi kau kan lebih baik tenang-tenang saja di rumah, daripada harus menghadapi perilaku ibuku yang tak masuk akal.”“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengucapkan selamat padanya, dan juga memberi hadiah yang sudah
Setelah selesai menonton, mereka bertiga pergi untuk makan di sebuah restoran bernuansa alam, dengan panorama yang asri dan suasana yang cukup sejuk.Mereka duduk di sebuah saung yang menghadap langsung ke danau yang luas. Danau itu terisi dengan berbagai jenis ikan yang berlompatan kesana kemari dengan lincah. Sarah terpesona akan pemandangan di hadapannya.Sesekali Vicky mengajak Sarah mengobrol dan bercanda, namun tentunya dari jarak yang tidak terlalu dekat. Karena Vicky juga sadar bahwa kakaknya selalu mengawasi mereka. Jika dia mendekat hingga kurang dari satu meter, pasti akan ada omelan. Vicky tak mau mencari masalah dengan kakaknya. Dia ingin menikmati pengalaman langka yang menyenangkan ini sebaik-baiknya.Sedangkan Randy masih melanjutkan aksi tutup mulutnya. Dia hanya duduk diam sambil memperhatikan istrinya. Terkadang dia menggertakkan gigi karena geram melihat keakraban mereka berdua.‘Kenapa mereka jadi sedekat ini, sih? Memang apa bagusnya Vicky sampai Sarah mau saja m
Hari Sabtu siang. Sarah baru saja menyelesaikan riasan ringannya dan menyemprotkan setting spray ke wajahnya, ketika Randy masuk ke dalam kamar. Dilihatnya istrinya yang tampak cantik dengan off shoulder linen dress berwarna hijau sage yang manis itu. “Kau mau pergi, Sayang?” “Iya. Aku mau pergi nonton. Apa kau mau ikut denganku?” tanya Sarah dengan tatapan menggoda. “Tidak. Untuk apa aku ikut,” tolaknya cepat. “Bersenang-senang lah dengan teman-temanmu…” “Siapa bilang aku pergi dengan teman-temanku?” Randy mulai kelihatan bingung. “Bukan dengan Susan dan Dimas? Lalu dengan siapa?” “Aku pergi dengan adikmu.” Seketika itu juga ekspresi wajah Randy berubah drastis. Dia pun mengomel, “Astaga! Yang benar saja, Sarah?! Kau mau pergi nonton dengan anak itu? Lalu, apa-apaan dandananmu ini? Haruskah kau berdandan kalau hanya untuk bertemu dengannya? Ganti juga gaunmu. Jangan yang memperlihatkan bahu seperti itu. Sekarang kau percaya sekali padanya, ya?” “Makanya aku mengajakmu kan… A
Randy mengerutkan keningnya karena keheranan. “Vicky? Untuk apa kau bertemu dengannya?”Roman wajahnya tampak tidak senang.Ya, sudah pasti dia tidak senang jika Sarah menemui adik yang dibencinya. Tapi Sarah tidak ingin merahasiakan hal ini. Randy berhak untuk tahu.“Aku meminta sarannya untuk mencoba mengambil hati ibumu.”“Buat apa kau mengambil hati ibuku, Sarah? Kau tidak perlu melakukan itu. Aku sendiri yang akan menangani ibuku.”“Tapi aku juga ingin dia menerimaku, Randy.”“Itu sama sekali tidak perlu! Dia mau menerimamu ataupun tidak, itu bukan masalah, Sarah. Dia tidak bisa mengontrol hidup kita. Kita jalani saja hidup seperti biasa. Aku akan memastikan dia tidak mengganggumu.”“Aku tahu kau pasti akan melakukannya. Tapi… tidak ada salahnya kan kalau aku berusaha untuk bersikap baik padanya?” bujuk Sarah.“Kau tidak mengenal dia, Sarah. Ibuku orang yang sangat dominan dan keras. Aku tidak mau kau nantinya tersakiti jika harus menghadapi dia. Biar aku saja yang urus semua ini
Siang itu ketika Sarah sedang mengerjakan laporannya dengan penuh semangat, sebuah pesan dari Vicky masuk di ponselnya.“Kau ada waktu nanti sore? Mau bertemu sebentar untuk membahas rencana kita?”“Memangnya kau punya rencana apa?” balas Sarah.“Ibuku berulang tahun sebentar lagi. Bagaimana kalau kau memberinya sebuah hadiah? Aku tahu apa yang ibuku sukai.”Sarah berpikir sejenak. Hmm, ide Vicky tidak buruk juga. Setidaknya dia memang harus berusaha melakukan sesuatu untuk mendekati ibu mertuanya itu kan?“Baiklah. Mari bertemu.”***Sewaktu Sarah tiba di cafe tempat pertemuan mereka, Vicky sudah berada di sana. Dia duduk sendirian di kursi dekat jendela, sambil menikmati minumannya.Sarah melangkah mendekat. Dan saat Vicky menyadari ada bayangan seseorang di dekatnya, dia pun mendongakkan kepala.“Hai, Kakak Ipar! Apa kabar?” sapanya riang.“Berhenti memanggilku seperti itu,” komplain Sarah sembari menarik kursi dan duduk.“Kenapa kau tidak suka kupanggil begitu?”“Usiaku kan lebih







