Share

Bab 2

Author: Blue Moon
last update publish date: 2025-05-15 22:22:24

Sarah memang senang karena telah berhasil kabur dari keluarganya. Dan hingga kini, belum ada seorang pun yang berhasil menemukannya. Mereka pasti tak mengira dia akan melarikan diri ke sini.

Namun sekarang ada hal lain yang sedikit mengganggu pikirannya... Uang di rekeningnya tidak terlalu banyak. Ia tidak bisa menggunakan kartu kredit ayahnya karena akan membuat keberadaannya diketahui. Sudah pasti ia pun tidak bisa bekerja di Singapura karena ia hanyalah turis.

Sarah mulai menghitung biaya hidupnya. Dia bisa bertahan disini selama 3 minggu, lalu kemudian kembali ke Indonesia dan mencari pekerjaan. Ya betul! Dia yakin dia bisa tinggal di tempat yang jauh dari rumah keluarganya, lalu bekerja dan membangun kehidupannya sendiri. Dengan demikian orang tuanya tak bisa memaksanya menikah dengan pria yang tidak ia sukai. Sarah merasa puas dengan rencana hidupnya.

“Baiklah! Mari bersenang-senang selama tiga minggu!” teriaknya.

Setiap hari Sarah sibuk berkeliling kota, menikmati kuliner lezat, dan menonton show-show gratis. Walaupun gratis, tapi hiburan itu sudah cukup menarik untuknya. Saat ini kisah pelariannya terasa sangat menyenangkan.

Di suatu siang yang cerah, Sarah menikmati waktunya sendirian di Chijmes. Dia sedang mengagumi bentuk arsitektur cantik bergaya klasik di hadapannya, ketika tanpa sadar dia melangkah mundur dan menabrak seseorang. Dia terhuyung dan hampir saja terjatuh. Namun seseorang menangkap lengannya dan membantunya berdiri stabil kembali.

“Maaf, maafkan aku.” Otomatis Sarah meminta maaf karena tidak memperhatikan kondisi di sekitarnya saat melangkah.

“Tidak apa – apa. Aku juga salah.” Terdengar suara berat seorang pria.

Sarah menoleh dan menatapnya. Astaga! Pria tampan bertubuh tegap. Dia memiliki wajah tegas dan rahang yang kuat. Dan tubuh kekarnya itu… pantas saja Sarah langsung oleng saat menabraknya. Bagaikan menabrak buldoser.

Sambil memperbaiki postur berdirinya, Sarah tersenyum dan berkata, ”Dan juga terima kasih karena sudah menolongku.”

“Bukan masalah.” Pria itu balas tersenyum padanya. Dan entah mengapa, Sarah merasa tertarik. Orang ini tampak berbeda dengan Vicky yang berwajah babyface dan terlihat kekanakan. Orang seperti ini baru bisa dibilang laki-laki sesungguhnya.

Sarah menggerutu dalam hati. Huh, kenapa dia malah membandingkan pria sekeren ini dengan Vicky? Jelas-jelas mereka jauh berbeda. Tetapi memang Sarah tidak bisa membandingkan dengan pria lain, karena tak pernah ada pria lain dalam kehidupannya. Selain ayahnya, tentu saja.

Dia selalu fokus dengan pendidikannya dan tak pernah memikirkan tentang pacaran. Orang tuanya pun senang dengan fakta bahwa Sarah tidak pernah memiliki pacar, karena memang mereka sudah berniat menikahkannya dengan Vicky, putra dari teman Miranda.

“Aku Randy.” Pria itu mengulurkan tangan memperkenalkan diri.

Sarah menatap lengan kekar itu sesaat, sebelum akhirnya menjabatnya. “Sarah.”

“Kamu sedang bersama seseorang?” tanya Randy.

“Tidak. Aku hanya jalan-jalan sendiri.”

“Aku juga sendirian. Kalau begitu, mau berjalan bersama? Mungkin akan lebih menyenangkan karena kita bisa mengobrol.” Ia menawarkan.

Tanpa sadar Sarah langsung mengangguk.

‘Eh, tunggu! Dia orang asing. Bagaimana kalau dia berniat jahat? Bagaimana kalau dia ingin merampas uangku yang tidak seberapa ini?’

‘Tapi tidak mungkin. Dia tak tampak seperti orang jahat. Penampilannya saja rapi begitu. Dan dia bahkan menolongku saat aku hampir terjatuh tadi.’

‘Kita tidak bisa melihat orang dari penampilannya. Tidak ada yang tahu isi hati seseorang. Dan bisa saja dia hanya berpura-pura baik.’

‘Hmm, tapi ini kan negara yang cukup aman. Tingkat kejahatan disini rendah. Seharusnya tidak apa-apa. Lagipula kami hanya akan mengobrol di tempat umum kan? Kalau dia berbuat macam-macam, aku tinggal berteriak saja.’

Pikiran Sarah berkecamuk. Antara ia ingin mengenal orang ini, namun ia juga sedikit takut.

“Apa yang sedang kaupikirkan? Kau takut aku akan berbuat jahat padamu?” Randy seolah dapat menebak isi kepalanya. Sarah terkesiap kaget. Dan itu mengonfirmasi bahwa tebakan Randy benar.

Randy tertawa terbahak-bahak. “Hei, tenang saja. Aku janji tak akan berbuat jahat. Aku mengajakmu karena kamu tampak menarik. Hanya itu. Kita mengobrol sebentar saja sambil makan siang. Kalau kau merasa tidak nyaman denganku, kau boleh pergi kapan pun. Bagaimana?”

Akhirnya Sarah menyerah. “Maaf. Aku bukan bermaksud mencurigaimu...”

“Tidak apa–apa. Kau bersikap waspada. Itu bagus.”

Sarah tersenyum. Ya, sepertinya ia bertingkah berlebihan. Pria ini hanya ingin mengobrol dengannya. Itu bukan hal yang buruk. Dan sejujurnya Sarah juga ingin mengobrol lebih jauh.

Mereka berdua pun pergi makan siang. Dan benar saja, Randy memang orang yang asyik untuk diajak bicara. Sarah menikmati waktu yang mereka habiskan bersama.

Randy mengenakan kemeja linen berwarna biru langit dan celana panjang warna beige. Dia tampak chic dan classy.

Sejujurnya Sarah belum pernah melihat pria seperti ini di dalam hidupnya. Teman-teman kuliahnya sama sekali tidak ia anggap sebagai pria. Mereka semua tampak tak menarik di matanya. Tapi pria di hadapannya ini sungguh berbeda. Dia memiliki aura yang mampu membuatnya terpesona.

“Jadi, kamu sedang mengurus pekerjaanmu disini?”

“Ya, benar,” jawab Randy. “Aku ada meeting dengan beberapa partner bisnis. Hanya empat hari saja. Setelah itu aku harus pergi ke Hong Kong, masih lanjut bekerja.”

Sarah mengangguk-angguk. Randy orang yang tampak sibuk. Jadi dia tak mungkin menemaninya berjalan-jalan di sini. Dia bahkan harus berpindah ke negara lain dalam waktu empat hari. Sarah merasa sedikit kecewa. Sarah berharap mereka bisa menghabiskan waktu lebih banyak.

“Apa rencanamu selama empat hari ke depan?” tanya Randy.

“Seperti hari ini. Berkeliling dan menikmati makanan. Tidak ada rencana khusus.”

“Kalau begitu, kita bisa bertemu setiap makan siang. Dan mungkin saat makan malam juga, jika pekerjaanku bisa selesai tak terlalu malam. Apa kau mau?”

“Itu terdengar menyenangkan,” jawab Sarah sambil tersenyum manis.

“Okay, then. Boleh minta nomormu?”

Sarah memberinya nomor lokal Singapura yang ia beli di hari pertama ia datang.

“Terima kasih. Aku akan menghubungi kamu lagi besok,” ucap Randy.

Satu jam waktu makan siang mereka pun berlalu. Mereka berpisah karena Randy harus lanjut bekerja.

Berjam-jam setelahnya, Sarah merasa cukup bosan berkeliaran sendiri. Sudah seminggu lebih ia bepergian tanpa teman bicara. Awalnya ia merasa nyaman dan menikmatinya. Tetapi lama kelamaan, ia mulai jenuh.

Apalagi dengan adanya kehadiran Randy tadi. Perbedaannya jadi semakin terasa…. antara menghabiskan waktu sendirian dan bercengkerama dengan seseorang yang menarik.

Jujur saja ia menyukai kebersamaannya dengan Randy. Pembicaraan kecil mengenai hal sehari-hari… ternyata itu cukup menyenangkan. Sarah merasa tak sabar untuk bertemu Randy lagi esok hari.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 103

    Vicky melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang kerja kakaknya dengan ekspresi murung.Wajahnya tampak pucat dan lesu. Pikirannya kacau. Dia juga mengalami insomnia semalam, hingga bayangan lingkaran hitam samar muncul di sekeliling matanya.Randy yang melihatnya pun langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang tak beres.“Duduklah,” kata Randy dengan tenang ketika Vicky sudah berada di dekat mejanya. “Kau mau minum?”“Tidak, tidak,” tolaknya cepat seraya menarik kursi di hadapan kakaknya dan duduk. “Aku hanya ingin bicara.”“Oke,” ucap Randy sambil menautkan jari jemarinya di atas meja. “Ada masalah apa?”Vicky menarik napas panjang dan memberi jeda selama beberapa detik sebelum berkata, “Kau pasti sudah tahu kan, Kak?”“Tentang apa?” tanya Randy waspada.“Tentang ayahku,” jawabnya dengan suara tercekat. Dia merasa seolah tenggorokannya tersumbat. Dia berusaha menahan emosinya sebisa mungkin, agar dapat berbicara dengan kepala dingin.Barulah Randy memahami apa yang sedang dialami adiknya

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 102

    Tentu saja emosi Sarah meledak saat menghadapi ibunya. Apalagi Miranda tetap bersikeras bahwa dia sama sekali tidak melakukan kesalahan.“Memang apa salahnya? Suamimu sendiri rela memberikan semua barang itu. Ibu tidak pernah memaksanya!” protes Miranda kesal.“Ya walaupun begitu, tahu diri sedikit lah, Bu. Jangan memanfaatkannya seperti ini. Aku tidak suka Ibu melakukannya. Aku kan sudah pernah memperingatkan Ibu!” sahut Sarah.“Kau jadi sombong sekali ya, Sarah?! Kau bilang Ibu tidak tahu diri hanya karena Ibu menerima beberapa benda itu?!” Mata Miranda memerah dan dia menatap Sarah dengan murka. “Sekarang kau bisa hidup bersenang-senang bergelimang harta… Kau bisa tinggal di rumah yang bagus… Suamimu membelikanmu mobil, dan mungkin juga barang apa pun yang kau inginkan… Tapi kau bahkan tidak rela jika Ibu mendapatkan sebagian kecil dari itu?! Kau ingin menikmati semuanya seorang diri? Egois sekali! Apa kau tidak pernah memikirkan seberapa besar pengorbanan Ibu untukmu selama ini? M

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 101

    Satu minggu kemudian.Sarah datang berkunjung ke rumah orang tuanya. Beberapa hari yang lalu Steven menelepon, menanyakan kabarnya, lalu berkata bahwa mereka sudah lama tak bertemu. Sarah menangkap nada kerinduan di dalam suaranya. Maka dia pun memutuskan untuk segera mengunjungi ayahnya.Memang sudah cukup lama sejak terakhir kali mereka bertemu. Sesungguhnya Sarah juga merasa sedikit bersalah karena tidak berinisiatif untuk datang lebih awal. Kenapa dia harus menunggu hingga Ayah menghubunginya? Dia terlalu terfokus dengan rutinitas sehari-hari, sampai melupakan bahwa ada seseorang yang menunggunya untuk memberi kabar.Dia pun berniat dalam hati... ke depannya, dia akan bersikap lebih proaktif terhadap orang tuanya.Steven yang membukakan pintu, serta merta memeluk erat putri kesayangannya itu. “Akhirnya kau datang juga, Sarah.”“Hai, Ayah! Maaf ya, aku baru datang sekarang.”“Tidak apa-apa. Ayo, masuklah,” ucap Steven. “Kau datang sendirian?”“Iya. Randy sedang ada urusan pekerjaan

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 100

    Sarah terbangun di kamar yang beratap kayu dan jerami, dengan tirai putih bersih yang bergoyang pelan karena tertiup angin sepoi-sepoi.Sejenak dia sempat linglung dan berpikir, ‘Aku di mana?’Dia bergerak untuk duduk, mengusap matanya beberapa kali agar dapat melihat dengan lebih jelas. Dia memandang ke sekitarnya dan melihat berbagai ukiran estetik, pintu gebyok bergambar wayang dengan warna coklat keemasan, serta dekorasi payung khas Bali yang berada di salah satu sudut ruangan.‘Ah, iya! Aku sedang berada di villa di Bali,’ pikirnya. ‘Lalu di mana suamiku?’Ruangan itu tampak kosong. Dia hanya seorang diri di sana.Sambil bergerak perlahan, Sarah turun dari tempat tidur dan berjalan mendekat ke jendela yang sedikit terbuka. Dia mendorong daun jendela itu agar dapat melihat pemandangan yang lebih luas. Dalam sekejap udara segar dan aroma harum pepohonan menembus masuk ke dalam kamar. Sangat menenangkan dan terasa nyaman.Awalnya pandangan Sarah tertuju ke taman asri yang berada di

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 99

    Ronde ketiga dimulai.Tim mereka beranjak maju perlahan sambil menembak secara teratur, hanya untuk menahan dan menghalangi pergerakan lawan. Tidak ada yang berlari cepat ke arah bendera seperti yang Mario lakukan di dua babak awal.Satu orang dari tim lawan telah berlari maju terlebih dahulu. Dan mereka mengira bahwa di babak ini mereka lebih unggul. Well, terlalu cepat untuk menyimpulkan.Karena sesungguhnya, Randy juga telah merangkak maju di tanah di sisi terluar arena, tanpa ada lawan yang menyadarinya. Dia bergerak cepat hingga ke bagian tengah arena. Setelah dia berada cukup dekat, barulah kemudian dia bangkit berdiri dan serta merta berlari menghampiri bendera.Begitu melihat Randy yang sedang berlari, hampir seluruh anggota tim melaju dan melepaskan tembakan dengan brutal, mengakibatkan pelari lawan harus menunduk bersembunyi dan tidak bisa bergerak sama sekali.Demikianlah mereka berhasil merebut bendera terakhir, dan memenangkan pertandingan itu.Susan melompat bahagia dan

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 98

    Siang itu mereka semua berkumpul di sebuah lokasi untuk kegiatan team building. Ternyata aktivitas yang telah disiapkan oleh panitia ialah paint ball.Sarah sedikit terkejut saat mendengar tentang gambaran kegiatan yang akan mereka lakukan itu.First of all, tentu saja, karena dia tidak memiliki pengalaman sama sekali. Dia bahkan tidak pernah bermain game menembak, atau game apa pun. Jadi bagaimana mungkin dia bisa menembak lawan tepat sasaran? Sepertinya itu merupakan hal yang mustahil.Lalu yang kedua, dia yakin dia pasti akan merasa ketakutan ketika harus berhadapan face to face dengan lawan yang memegang senjata semacam itu. Jangankan menembak dengan tepat... jika dia mampu mengalahkan ketakutannya sendiri dan menarik pelatuk saja itu sudah sangat bagus.Sedikit khawatir, dia berujar pelan pada Susan. “Sepertinya aku akan jadi pemain yang paling payah,” ucapnya jujur.Susan pun tertawa. “Sama saja denganku. Aku jug

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 12

    Sarah sedang serius membuat laporan bulanan, ketika sebuah tangan cantik yang mengenakan gelang emas bermotif bunga lili muncul di mejanya, menyodorkan segelas es kopi. Tanpa perlu mengangkat kepala, Sarah sudah tahu pasti siapa pemilik tangan tersebut.“Terima kasih, Susan,” ucap Sarah.“Kamu seri

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 11

    Miranda mengamuk ketika mengetahui fakta bahwa Sarah sudah menikah.Beberapa minggu setelah pernikahan mereka, Sarah dan Randy memutuskan untuk menemui Miranda. Karena sekarang situasinya sudah berubah, Sarah tak ingin melarikan diri lagi.Kini statusnya sudah menjadi istri orang, maka tidak mungki

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 10

    Mereka menikah dengan proses yang sangat sederhana. Tanpa pesta. Tanpa gaun pengantin yang merepotkan. Tanpa tamu undangan. Dan bahkan tanpa kehadiran orangtua mereka.Bagi mereka berdua, yang terpenting adalah menikah secara sah dan mengurus surat nikah resmi. Yang terpenting adalah kehidupan merek

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 9

    Entah sudah berapa jam Sarah menangis tersedu-sedu di kamar kosnya. Dia merasa sangat marah pada Ibunya. Mengapa Ibu tidak mau mengerti posisinya? Mengapa Ibu terus saja memaksakan pernikahan itu? Dia bukanlah boneka milik Ibunya. Dia adalah seorang manusia yang memiliki keinginan dan perasaannya se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status