INICIAR SESIÓNSarah baru saja lulus kuliah, namun ia sudah diperintahkan oleh ibunya untuk menikah dengan pria yang tidak ia kenal. Sarah, yang bahkan belum pernah berpacaran, tentu saja merasa marah. Ia selalu berpikir bahwa ia akan menikah dengan seseorang yang ia cintai. Karena itu di hari pernikahannya, Sarah memutuskan untuk melarikan diri ke luar negeri. Di tempat pelarian, Sarah bertemu dengan seorang pria menawan. Entah karena pengaruh alkohol, atau karena fisik Randy, atau memang ia hanya kesepian dan butuh seseorang untuk menemani, Sarah terbuai perasaannya sendiri. Sarah berdebar dan jatuh cinta, lalu ia setuju untuk menikahi Randy. Satu hal penting yang tak Sarah ketahui adalah bahwa Randy merupakan kakak beda ayah dari Vicky, calon suami yang telah ia tinggalkan...
Ver más“Di mana pengantin wanitanya?”
“Apa acaranya ditunda?”
“Apa yang sedang terjadi?”
Para tamu yang hadir mulai berbisik-bisik. Waktu menunjukkan pukul 11 siang, sudah lewat satu jam dari jadwal upacara pernikahan yang tertera di undangan. Vicky, pengantin pria yang sudah sejak tadi berdiri di depan altar pun tampak kebingungan. Bukan hanya Vicky, tampak seluruh keluarga panik dan bingung. Mereka tidak dapat menghubungi sang pengantin wanita yang begitu saja menghilang tanpa jejak. Ponselnya juga non aktif. Entah di mana gadis itu.
“Sudah cari ke kamar?” Miranda, ibu Sarah, bertanya pada Steven, suaminya. Pernikahan putri mereka itu diadakan di hotel tempat mereka menginap semalam. Memang semuanya sudah dipersiapkan oleh keluarga mempelai pria agar waktu mereka tidak terbuang karena kemacetan.
“Sudah tiga kali aku ke sana. Dia tak ada,” jawab Steven.
“Apa kau cek toiletnya juga?”
“Pintu toilet terbuka dan kosong.”
“Ke mana anak nakal ini?! Bisa-bisanya dia menghilang di hari sepenting ini!” Miranda mendesis marah. Dia merasa malu dan tak enak hati kepada keluarga calon besannya. Mereka adalah keluarga pengusaha sukses yang memiliki banyak kolega penting. Maka dari itu, tamu-tamu yang hadir pun merupakan figur pengusaha-pengusaha berpengaruh. Dan anak itu memutuskan untuk membuat masalah di saat seperti ini?! Tidak bisakah dia membuat masalah di hari lain saja? “Lihat saja kalau aku menemukannya! Akan kuberi dia hukuman yang berat!”
“Tenanglah, Sayang,” ucap Steven. “Kita cari lagi pelan-pelan. Kita akan menemukan dia.”
Miranda bergegas pergi. “Aku akan cek lagi restoran, cafe, kolam renang. Akan kucari dia di semua sudut hotel ini.”
Namun hingga berjam-jam waktu berlalu, Sarah tak juga ditemukan. Karena memang ia sudah tak berada di dalam hotel.
***
Sarah, yang melarikan diri menggunakan taksi, kini sudah berada di bandara. Apa yang ia lakukan hari ini sangatlah impulsif, dan ia sama sekali tak menyesali perbuatannya. Justru ia merasa bahagia. Ia berhasil! Ia bebas! Ia telah menggagalkan rencana pernikahan yang dibuat oleh orangtuanya secara sepihak. Kini dia bisa menggapai masa depannya sendiri!
Pagi hari itu, saat Sarah sedang dirias di kamar hotel, tiba-tiba terlintas dalam pikirannya... bahwa ia harus kabur. Ia tak bisa menikah seperti ini. Ia tak mau menyerahkan hidupnya kepada seorang pria yang bahkan tidak ia kenal.
Ketika make up artist bolak balik mengambil peralatan, secepat mungkin Sarah membuka ponselnya dan memesan satu tiket penerbangan ke Singapura. Syukurlah, masih ada seat! Dia bisa langsung terbang siang ini! Beruntung juga paspornya sudah disiapkan di dalam tasnya di kamar hotel tersebut, karena memang rencananya besok mereka akan langsung pergi honeymoon ke Jepang.
Sarah tersenyum getir. Siapa juga yang mau pergi ke Jepang. Apalagi dengan calon suami yang tak dikenalnya itu. Mereka baru bertemu satu kali di pertemuan keluarga, bersama dengan orangtua Sarah dan Ibu dari Vicky. Hanya satu kali! Dan pertemuan kedua mereka akan terjadi di altar. Yang benar saja!
Sarah ingin menikah dengan pria pilihannya sendiri. Ia ingin merasakan indahnya jatuh cinta dan dicintai. Perjodohan semacam ini bukanlah hal yang cocok untuk dirinya.
Ketika Sarah sudah selesai dengan make up dan gaunnya, seluruh keluarga pun bergegas untuk menuju ke aula pernikahan. Sarah mengikuti orangtuanya berjalan ke sana. Namun setibanya di depan aula yang terletak di lantai dasar hotel, ia menyelinap menjauh. Di saat seluruh keluarga sedang bercengkerama dengan antusias dan penuh tawa, tak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa Sarah berjalan cepat menuju taksi di depan lobby.
Sambil bergerak terburu-buru dan kerepotan sendiri dengan gaun pengantin yang ia kenakan, Sarah meminta sopir taksi untuk mengantarnya ke bandara. Sang sopir terlihat heran, namun tak berkomentar dan menjalankan taksinya sesuai permintaan customernya tersebut.
Setibanya di bandara, Sarah segera menuju ke pintu keberangkatan dan melewati imigrasi. Lalu ia mampir di toko pakaian dan asal mengambil pakaian casual yang tampak cocok dengan ukurannya. Saat ia membayar, kasir toko menatapnya heran dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Yah, itu reaksi yang wajar. Penampilan Sarah saat ini memang sangat saltum. Sejak tadi pun banyak orang yang memperhatikannya. Lagipula orang waras mana yang mengenakan gaun pengantin heboh berlari-lari di tengah bandara?
Tapi Sarah berusaha untuk tak memedulikannya. Ia hanya fokus dengan tujuannya saat ini. Ia harus kabur ke luar negeri tanpa ada seorang pun yang tahu. Itu yang terpenting. Biarkan saja ia menjadi bahan tontonan orang. Ia tak peduli dengan semua itu.
Ia pun bergegas ke toilet wanita dan meminta tolong pada seorang petugas cleaning untuk membantu membuka gaunnya yang merepotkan.
“Maaf, aku tahu ini terlihat aneh. Tapi tolong, bantu aku sekali ini saja, Kak.” Sarah memohon pada petugas cleaning tersebut.
“Apa kau kabur?” tanyanya.
“Iya, bisa dibilang begitu. Aku dipaksa menikah. Padahal aku tidak mau. Aku harus menyelamatkan diriku sendiri.”
Wanita itu pun tampak prihatin. “Kasihan sekali. Jaman sudah maju pun masih ada saja pemaksaan semacam ini.”
“Iya kan? Ini tidak adil untukku kan?” Sarah merasa senang karena ada yang mendukungnya, walau itu orang yang tak ia kenal sekalipun. “Kak, tolong rahasiakan ini ya. Jangan ceritakan pada siapapun. Anggap saja kita tidak pernah bertemu.”
Dia mengangguk dan tersenyum. “Semoga kau berhasil,” ucapnya tulus.
“Terima kasih, Kak.”
Setelah berganti pakaian, Sarah melangkah dengan lega. Tubuhnya terasa ringan. Ia mengambil gaunnya dan melemparnya begitu saja ke atas tempat sampah.
Sarah pun berlari secepat mungkin untuk mengejar penerbangannya.
Setelah makan malam sendirian seperti biasa, Sarah duduk santai di ruang tamu sambil memainkan ponselnya.Tiba-tiba terdengar suara mobil Randy yang memasuki halaman rumah.‘Damn!’ pikirnya. ‘Ini baru pukul tujuh. Kenapa Randy sudah pulang?’Biasanya pria itu pulang di atas jam sembilan. Sarah tak menyangka hari ini akan berbeda. Terburu-buru dia mematikan lampu di ruang tamu, berlari secepat mungkin ke kamar tidur dan menyalakan lampu nakas bercahaya redup di samping tempat tidurnya.Dia segera meringkuk di atas kasur, berpura-pura sudah tidur karena tak ingin bicara dengan suaminya. Dia ingin menghindari suasana tidak nyaman yang belakangan ini selalu terasa di antara mereka berdua.Suara langkah kaki Randy yang berat, dan suara pintu dibuka terdengar jelas. Sarah memejamkan mata dengan erat, berharap Randy akan segera keluar lagi setelah melihatnya tidur.Namun sayangnya, setelah beberapa menit berlalu, Randy belum juga keluar dari kamar. Pria itu duduk di sisi lain tempat tidur.“
Di hari Senin pagi, Sarah tak bisa menahan diri untuk tidak bicara pada sahabatnya. Begitu dia melihat Susan melangkah masuk ke ruangan, Sarah langsung beranjak dan mendekatinya.“Pagi, Sarah!” sapa gadis yang ceria itu.“Pagi. Hei, aku ingin bicara denganmu,” ucap Sarah tanpa basa basi.Barulah Susan memperhatikan ekspresi Sarah. “Wah, apa ada hal yang serius? Kau terlihat menyeramkan.”“Iya, serius. Sangat serius!” pekik Sarah dengan suara tertahan.“Oke,” jawab Susan sedikit tegang. “Apa itu?”“Kau ingat pembicaraan kita tentang bos kita yang tak pernah terlihat itu?”“Iyaaa… aku ingat. Memangnya kenapa?”“Apa kau tahu siapa namanya?”“Tentu saja. Bos kita Pak Randy Sutanto. Kenapa dengan dia?”Sarah terduduk lemas. Ternyata benar. Bahkan Susan mengetahuinya. Hanya dirinya sendirilah yang bodoh. Seharusnya dia bertanya pada Susan sejak dulu. Kenapa dia tak pernah terpikirkan hal itu?“Hei, kau kenapa, Sarah? Kau terlihat tidak sehat. Kau sakit?” Susan tampak khawatir.“Tidak, aku t
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sarah sudah bangun.Hari itu merupakan hari Sabtu, namun karena Sarah tidur cepat semalam, jadi sepagi ini pun dia sudah merasa segar. Randy masih terlelap di sebelahnya. Dia mendekatkan wajah, mengecup pipi pria itu dengan lembut, lalu bangun dan keluar dari kamar.Bik Ratih belum datang. Biasanya dia datang pukul sembilan. Berarti Sarah memiliki cukup banyak waktu untuk mengambil alih dan mengacak-acak dapur.Dia memutuskan untuk memasak hari ini. Sejak mereka menikah, belum pernah satu kali pun Sarah memasak untuk Randy. Dan sekarang dia akan memberi kejutan untuk suaminya itu.Sarah membuka kulkas, mencari bahan dan menimbang-nimbang makanan apa yang dapat dia siapkan.Akhirnya dia memutuskan untuk membuat pasta. Pasta yang creamy dengan topping seafood sepertinya cukup menarik.Dia merebus pasta, membuat saus creamy-nya menggunakan susu dan keju, lalu memasak udang, cumi dan oyster dengan metode stir fry.Tak sampai satu jam, masakannya sudah se
Sarah, Susan dan Dimas semakin dekat satu sama lain. Susan dan Dimas sudah menjalin hubungan, namun mereka tetap menghabiskan waktu bersama Sarah.“Jujur saja deh, kalian berdua benar-benar tidak merasa terganggu olehku?” tanya Sarah suatu hari.“Tidak,” jawab Susan cepat. “Mana mungkin terganggu. Kamu adalah teman baikku. Aku suka pergi bertiga seperti ini.”“Ya, tentu saja kau berpikir begitu. Tapi bagaimana dengan pacarmu? Dia pasti ingin menghabiskan waktu berdua saja denganmu. Kamu tidak kasihan padanya?” sahut Sarah.“Dia yang kau maksud baik-baik saja kok.” Dimas yang menjawab.Sarah menoleh dan menatap pria itu. “Sungguh? Kok bisa kau baik-baik saja?”Dimas tertawa. “Apa sih maksudmu? Kita kan hanya makan siang bersama. Aku punya waktu makan malam dan punya seharian di weekend untuk pacaran. Tentu saja aku tidak keberatan.”“Makan siang itu setiap hari lho. Kamu makan malam bersamanya kan tidak setiap hari, belum lagi kalau kami lembur.”“Sudahlah, tidak usah pikirkan itu, Sar












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.