Share

Bab 3

Penulis: Blue Moon
last update Tanggal publikasi: 2025-05-15 22:23:05

Tentu saja Randy mengenali Sarah.

Tidak, bukan berarti dia mengenalnya secara personal. Dia sama sekali tak pernah bertemu dengan Sarah sebelumnya. Namun dia melihat foto Sarah di undangan pernikahan Vicky, adiknya. Pengantin wanita yang membuat geger seluruh keluarga, dan membuat upacara pernikahan yang seharusnya sakral menjadi berantakan dengan pelarian dirinya.

Sesungguhnya Randy tidak terlalu peduli siapa wanita yang akan menikah dengan Vicky. Dia juga sudah mendengar bahwa pernikahan itu hanyalah formalitas, rancangan kedua keluarga. Dan Vicky sendiri sudah memiliki kekasih yang sepertinya tak akan pernah ia lepaskan. Intinya, kehidupan percintaan Vicky bukanlah urusannya.

Namun gebrakan yang dilakukan Sarah di hari itu membuatnya sedikit tergelitik. Wanita seperti apa yang berani mempermainkan keluarga mereka? Berani meninggalkan adiknya tepat di hari pernikahannya. Menurutnya ini jadi menarik.

Setelah hari yang heboh itu, Randy kembali disibukkan dengan urusan pekerjaan. Ia berangkat ke Singapura untuk bertemu rekan bisnisnya. Dan sama sekali tak disangka, ia justru bertemu dengan Sarah.

Awalnya dia tak yakin wanita itu adalah pengantin adiknya yang melarikan diri. Wajahnya memang mirip dengan foto yang ia lihat, tetapi ada kemungkinan ia orang yang berbeda. Terkadang ada orang-orang yang berwajah mirip satu sama lain. Namun di saat Sarah memperkenalkan diri dan menyebutkan namanya, Randy langsung yakin bahwa itulah dia, si pengantin yang menghilang. Tak mungkin orang yang berwajah mirip memiliki nama yang sama juga.

Sebuah seringai muncul di wajahnya. Tetapi ia buru-buru menjaga ekspresinya saat Sarah menatapnya.

Tidak. Wanita ini tak boleh tahu siapa Randy sebenarnya. Belum saatnya bagi Sarah untuk tahu. Lebih baik Randy mendekatinya secara perlahan.

Ditatapnya wanita yang sedang mengunyah makanannya itu. Parasnya cukup cantik. Yah, bukan wajah sangat cantik yang dapat membuat semua pria menoleh. Tidak se-eyecatching itu. Tapi cukup menarik. Kulitnya putih dan halus. Bulu matanya tebal dan lentik. Hidungnya mungil dan lucu. Dan bibirnya… hmm, cukup menggoda sebenarnya. Oke, buang pikiran itu. Ini pertemuan pertama mereka. Randy harus tampil berwibawa.

“Apa yang sedang kamu lakukan di negara ini, Sarah? Hanya traveling? Atau ada kegiatan tertentu?” Randy mulai mengorek informasi, namun ia tetap berusaha agar pembicaraan ini mengalir se-natural dan se-ringan mungkin. Ia tak boleh terlihat terlalu penasaran.

“Hanya traveling,” jawab Sarah. “Aku ingin menikmati waktuku sendiri, sebelum aku kembali pulang dan bekerja.”

“Oh, kau bekerja di mana?”

“Mm… belum ada. Aku belum punya pekerjaan. Maksudku aku akan mencari pekerjaan saat pulang nanti.”

“Seingatku ada temanku yang sedang membuka lowongan pekerjaan. Apa kau mau coba?”

“Oh benarkah? Temanmu bekerja sebagai apa?” Sarah tampak tertarik.

“Dia seorang manajer umum. Kalau kau mau, aku akan memberimu alamat emailnya. Kau bisa coba menghubungi dia.”

“Boleh. Aku akan mencobanya.”

Lagi-lagi Randy tersenyum dalam hati. Tentu saja kantor tempat temannya bekerja itu adalah miliknya. Usaha yang ia bangun sendiri, tidak termasuk dalam grup perusahaan keluarga. Jadi Sarah pasti belum pernah mendengarnya.

Dan sebenarnya tidak ada lowongan pekerjaan yang sedang dibuka. Namun ia bisa saja memerintahkan karyawannya untuk menerima Sarah. Jika Sarah bekerja di kantornya, Randy dapat mengawasi wanita itu dengan mudah.

“Apa hobimu, Sarah?” Randy membuka percakapan lagi.

“Sebenarnya selama ini aku hanya sibuk belajar, jadi aku tidak pernah memikirkan tentang hobi. Tetapi kalau kegiatan yang sering kulakukan di waktu luang… mungkin memasak. Aku cukup menikmatinya.”

Randy mengangguk-angguk. “Itu kegiatan yang bagus.”

“Bagaimana denganmu? Apa yang kausukai?”

“Olahraga,” jawab Randy. “Aku suka tenis, basket, renang, gym juga.”

“Ah, pantas saja tubuhmu bagus.”

Sudut-sudut bibir Randy terangkat. “Menurutmu tubuhku bagus? Kau memperhatikan tubuhku ternyata.”

“Bu-bukan begitu maksudku. Tapi karena kau sering berolahraga…” Sarah tampak bingung untuk menyelesaikan ucapannya.

Senyum Randy semakin melebar. Ditatapnya lekat-lekat gadis yang kini tersipu malu itu. Tingkah Sarah membuatnya semakin tergelitik dan penasaran. Wah, sayang sekali Vicky kehilangan gadis seperti ini di hari pernikahannya. Mungkin semua ini memang merupakan keberuntungan bagi Randy.

“Tidak apa-apa, Sarah. Aku merasa tersanjung dengan ucapanmu.”

“Tapi sungguh bukan itu yang kumaksud…”

“Baiklah. Aku percaya padamu,” sahut Randy, masih dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya.

“Berhentilah tersenyum. Kenapa kau tersenyum seperti itu?” Sarah menggerutu.

“Kenapa? Aku bahkan tidak boleh tersenyum?”

“Ya, untuk kali ini kau tidak boleh tersenyum... karena aku jadi malu...” Sarah memalingkan wajah dengan telinga yang memerah.

Randy malah tertawa terbahak-bahak.

Gadis ini menggemaskan. Dan jelas terlihat bahwa dia tertarik pada Randy. Ini bagus.

Randy merasa hidupnya jadi jauh lebih menarik sejak kemunculan Sarah. Tindakan Sarah yang berani dan tak terduga di pesta pernikahan itu, lalu tindakan malu-malunya saat ini… membuatnya semakin terpesona.

Baiklah, lagipula rencana pernikahan Vicky dengan Sarah kan sudah hancur berantakan. Mungkin ini kesempatan baginya untuk maju.

‘Maaf Vick, tapi aku yang akan mendapatkan wanita ini. Aku akan merebut calon pengantinmu,’ batin Randy.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 55

    Usai acara, Vicky menghampiri Regina ke kamarnya. Dia memilih untuk melakukan pendekatan yang lebih persuasif. Vicky tipe orang yang lebih suka membujuk secara halus, bukan mendebat lantang seperti kakaknya.“Ibu, apa Ibu lelah hari ini?” tanyanya pelan.“Yah, lumayan,” jawab Regina. “Terutama karena ulah kakakmu itu. Bukan hanya lelah, tapi Ibu jadi sakit kepala juga.”“Sini, Bu... Biar kupijat pundak Ibu, supaya ototnya tidak terlalu tegang.” Vicky menawarkan.“Astaga, kau memang anak yang benar-benar baik ya. Kau selalu memperhatikan Ibu…”Tentu saja Regina tak menolaknya. Terkadang memang putranya memanjakannya seperti ini.Pijatan itu perlahan-lahan membuat Regina rileks. Ototnya tak lagi tegang. Suasana hatinya mulai membaik. Dia menutup mata dan menikmati sekian menit itu berlalu.“Ibu…”“Ya, kenapa?”“Ibu kan tahu, kak Randy memang orang yang keras. Kalau Ibu terus menerus bersitegang dengannya, tak akan ada habisnya, Bu. Itu hanya membuat Ibu lelah saja.”“Bagaimana Ibu tidak

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 54

    Di hari ulang tahun Regina, Sarah meminta suaminya untuk mengajaknya turut serta.Sesungguhnya Randy merasa berat hati. Setelah acara makan bersama ibunya waktu itu, Randy yakin bahwa Regina tak akan memperlakukan istrinya dengan baik. Apalagi jelas-jelas dia malah memanggil Alana dan membuat kesepakatan dengan keluarganya. Situasinya tak akan menguntungkan bagi Sarah.Randy ingin memberi jeda waktu yang lebih lama… Sampai ibunya itu melunak dan mau berusaha menerima Sarah dengan lapang dada, barulah dia akan mempertemukan mereka lagi.“Aku sendiri saja malas untuk pergi ke sana, Sarah. Bahkan aku sempat berpikir untuk mangkir. Kenapa justru kamu yang bersemangat?” oceh Randy.“Ini ulang tahun ibumu, lho. Kau harus ikut merayakannya kan?”“Ya, aku memang terpaksa harus pergi. Tapi kau kan lebih baik tenang-tenang saja di rumah, daripada harus menghadapi perilaku ibuku yang tak masuk akal.”“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengucapkan selamat padanya, dan juga memberi hadiah yang sudah

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 53

    Setelah selesai menonton, mereka bertiga pergi untuk makan di sebuah restoran bernuansa alam, dengan panorama yang asri dan suasana yang cukup sejuk.Mereka duduk di sebuah saung yang menghadap langsung ke danau yang luas. Danau itu terisi dengan berbagai jenis ikan yang berlompatan kesana kemari dengan lincah. Sarah terpesona akan pemandangan di hadapannya.Sesekali Vicky mengajak Sarah mengobrol dan bercanda, namun tentunya dari jarak yang tidak terlalu dekat. Karena Vicky juga sadar bahwa kakaknya selalu mengawasi mereka. Jika dia mendekat hingga kurang dari satu meter, pasti akan ada omelan. Vicky tak mau mencari masalah dengan kakaknya. Dia ingin menikmati pengalaman langka yang menyenangkan ini sebaik-baiknya.Sedangkan Randy masih melanjutkan aksi tutup mulutnya. Dia hanya duduk diam sambil memperhatikan istrinya. Terkadang dia menggertakkan gigi karena geram melihat keakraban mereka berdua.‘Kenapa mereka jadi sedekat ini, sih? Memang apa bagusnya Vicky sampai Sarah mau saja m

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 52

    Hari Sabtu siang. Sarah baru saja menyelesaikan riasan ringannya dan menyemprotkan setting spray ke wajahnya, ketika Randy masuk ke dalam kamar. Dilihatnya istrinya yang tampak cantik dengan off shoulder linen dress berwarna hijau sage yang manis itu. “Kau mau pergi, Sayang?” “Iya. Aku mau pergi nonton. Apa kau mau ikut denganku?” tanya Sarah dengan tatapan menggoda. “Tidak. Untuk apa aku ikut,” tolaknya cepat. “Bersenang-senang lah dengan teman-temanmu…” “Siapa bilang aku pergi dengan teman-temanku?” Randy mulai kelihatan bingung. “Bukan dengan Susan dan Dimas? Lalu dengan siapa?” “Aku pergi dengan adikmu.” Seketika itu juga ekspresi wajah Randy berubah drastis. Dia pun mengomel, “Astaga! Yang benar saja, Sarah?! Kau mau pergi nonton dengan anak itu? Lalu, apa-apaan dandananmu ini? Haruskah kau berdandan kalau hanya untuk bertemu dengannya? Ganti juga gaunmu. Jangan yang memperlihatkan bahu seperti itu. Sekarang kau percaya sekali padanya, ya?” “Makanya aku mengajakmu kan… A

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 51

    Randy mengerutkan keningnya karena keheranan. “Vicky? Untuk apa kau bertemu dengannya?”Roman wajahnya tampak tidak senang.Ya, sudah pasti dia tidak senang jika Sarah menemui adik yang dibencinya. Tapi Sarah tidak ingin merahasiakan hal ini. Randy berhak untuk tahu.“Aku meminta sarannya untuk mencoba mengambil hati ibumu.”“Buat apa kau mengambil hati ibuku, Sarah? Kau tidak perlu melakukan itu. Aku sendiri yang akan menangani ibuku.”“Tapi aku juga ingin dia menerimaku, Randy.”“Itu sama sekali tidak perlu! Dia mau menerimamu ataupun tidak, itu bukan masalah, Sarah. Dia tidak bisa mengontrol hidup kita. Kita jalani saja hidup seperti biasa. Aku akan memastikan dia tidak mengganggumu.”“Aku tahu kau pasti akan melakukannya. Tapi… tidak ada salahnya kan kalau aku berusaha untuk bersikap baik padanya?” bujuk Sarah.“Kau tidak mengenal dia, Sarah. Ibuku orang yang sangat dominan dan keras. Aku tidak mau kau nantinya tersakiti jika harus menghadapi dia. Biar aku saja yang urus semua ini

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 50

    Siang itu ketika Sarah sedang mengerjakan laporannya dengan penuh semangat, sebuah pesan dari Vicky masuk di ponselnya.“Kau ada waktu nanti sore? Mau bertemu sebentar untuk membahas rencana kita?”“Memangnya kau punya rencana apa?” balas Sarah.“Ibuku berulang tahun sebentar lagi. Bagaimana kalau kau memberinya sebuah hadiah? Aku tahu apa yang ibuku sukai.”Sarah berpikir sejenak. Hmm, ide Vicky tidak buruk juga. Setidaknya dia memang harus berusaha melakukan sesuatu untuk mendekati ibu mertuanya itu kan?“Baiklah. Mari bertemu.”***Sewaktu Sarah tiba di cafe tempat pertemuan mereka, Vicky sudah berada di sana. Dia duduk sendirian di kursi dekat jendela, sambil menikmati minumannya.Sarah melangkah mendekat. Dan saat Vicky menyadari ada bayangan seseorang di dekatnya, dia pun mendongakkan kepala.“Hai, Kakak Ipar! Apa kabar?” sapanya riang.“Berhenti memanggilku seperti itu,” komplain Sarah sembari menarik kursi dan duduk.“Kenapa kau tidak suka kupanggil begitu?”“Usiaku kan lebih

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status