LOGINTentu saja Randy mengenali Sarah.
Tidak, bukan berarti dia mengenalnya secara personal. Dia sama sekali tak pernah bertemu dengan Sarah sebelumnya. Namun dia melihat foto Sarah di undangan pernikahan Vicky, adiknya. Pengantin wanita yang membuat geger seluruh keluarga, dan membuat upacara pernikahan yang seharusnya sakral menjadi berantakan dengan pelarian dirinya.
Sesungguhnya Randy tidak terlalu peduli siapa wanita yang akan menikah dengan Vicky. Dia juga sudah mendengar bahwa pernikahan itu hanyalah formalitas, rancangan kedua keluarga. Dan Vicky sendiri sudah memiliki kekasih yang sepertinya tak akan pernah ia lepaskan. Intinya, kehidupan percintaan Vicky bukanlah urusannya.
Namun gebrakan yang dilakukan Sarah di hari itu membuatnya sedikit tergelitik. Wanita seperti apa yang berani mempermainkan keluarga mereka? Berani meninggalkan adiknya tepat di hari pernikahannya. Menurutnya ini jadi menarik.
Setelah hari yang heboh itu, Randy kembali disibukkan dengan urusan pekerjaan. Ia berangkat ke Singapura untuk bertemu rekan bisnisnya. Dan sama sekali tak disangka, ia justru bertemu dengan Sarah.
Awalnya dia tak yakin wanita itu adalah pengantin adiknya yang melarikan diri. Wajahnya memang mirip dengan foto yang ia lihat, tetapi ada kemungkinan ia orang yang berbeda. Terkadang ada orang-orang yang berwajah mirip satu sama lain. Namun di saat Sarah memperkenalkan diri dan menyebutkan namanya, Randy langsung yakin bahwa itulah dia, si pengantin yang menghilang. Tak mungkin orang yang berwajah mirip memiliki nama yang sama juga.
Sebuah seringai muncul di wajahnya. Tetapi ia buru-buru menjaga ekspresinya saat Sarah menatapnya.
Tidak. Wanita ini tak boleh tahu siapa Randy sebenarnya. Belum saatnya bagi Sarah untuk tahu. Lebih baik Randy mendekatinya secara perlahan.
Ditatapnya wanita yang sedang mengunyah makanannya itu. Parasnya cukup cantik. Yah, bukan wajah sangat cantik yang dapat membuat semua pria menoleh. Tidak se-eyecatching itu. Tapi cukup menarik. Kulitnya putih dan halus. Bulu matanya tebal dan lentik. Hidungnya mungil dan lucu. Dan bibirnya… hmm, cukup menggoda sebenarnya. Oke, buang pikiran itu. Ini pertemuan pertama mereka. Randy harus tampil berwibawa.
“Apa yang sedang kamu lakukan di negara ini, Sarah? Hanya traveling? Atau ada kegiatan tertentu?” Randy mulai mengorek informasi, namun ia tetap berusaha agar pembicaraan ini mengalir se-natural dan se-ringan mungkin. Ia tak boleh terlihat terlalu penasaran.
“Hanya traveling,” jawab Sarah. “Aku ingin menikmati waktuku sendiri, sebelum aku kembali pulang dan bekerja.”
“Oh, kau bekerja di mana?”
“Mm… belum ada. Aku belum punya pekerjaan. Maksudku aku akan mencari pekerjaan saat pulang nanti.”
“Seingatku ada temanku yang sedang membuka lowongan pekerjaan. Apa kau mau coba?”
“Oh benarkah? Temanmu bekerja sebagai apa?” Sarah tampak tertarik.
“Dia seorang manajer umum. Kalau kau mau, aku akan memberimu alamat emailnya. Kau bisa coba menghubungi dia.”
“Boleh. Aku akan mencobanya.”
Lagi-lagi Randy tersenyum dalam hati. Tentu saja kantor tempat temannya bekerja itu adalah miliknya. Usaha yang ia bangun sendiri, tidak termasuk dalam grup perusahaan keluarga. Jadi Sarah pasti belum pernah mendengarnya.
Dan sebenarnya tidak ada lowongan pekerjaan yang sedang dibuka. Namun ia bisa saja memerintahkan karyawannya untuk menerima Sarah. Jika Sarah bekerja di kantornya, Randy dapat mengawasi wanita itu dengan mudah.
“Apa hobimu, Sarah?” Randy membuka percakapan lagi.
“Sebenarnya selama ini aku hanya sibuk belajar, jadi aku tidak pernah memikirkan tentang hobi. Tetapi kalau kegiatan yang sering kulakukan di waktu luang… mungkin memasak. Aku cukup menikmatinya.”
Randy mengangguk-angguk. “Itu kegiatan yang bagus.”
“Bagaimana denganmu? Apa yang kausukai?”
“Olahraga,” jawab Randy. “Aku suka tenis, basket, renang, gym juga.”
“Ah, pantas saja tubuhmu bagus.”
Sudut-sudut bibir Randy terangkat. “Menurutmu tubuhku bagus? Kau memperhatikan tubuhku ternyata.”
“Bu-bukan begitu maksudku. Tapi karena kau sering berolahraga…” Sarah tampak bingung untuk menyelesaikan ucapannya.
Senyum Randy semakin melebar. Ditatapnya lekat-lekat gadis yang kini tersipu malu itu. Tingkah Sarah membuatnya semakin tergelitik dan penasaran. Wah, sayang sekali Vicky kehilangan gadis seperti ini di hari pernikahannya. Mungkin semua ini memang merupakan keberuntungan bagi Randy.
“Tidak apa-apa, Sarah. Aku merasa tersanjung dengan ucapanmu.”
“Tapi sungguh bukan itu yang kumaksud…”
“Baiklah. Aku percaya padamu,” sahut Randy, masih dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya.
“Berhentilah tersenyum. Kenapa kau tersenyum seperti itu?” Sarah menggerutu.
“Kenapa? Aku bahkan tidak boleh tersenyum?”
“Ya, untuk kali ini kau tidak boleh tersenyum... karena aku jadi malu...” Sarah memalingkan wajah dengan telinga yang memerah.
Randy malah tertawa terbahak-bahak.
Gadis ini menggemaskan. Dan jelas terlihat bahwa dia tertarik pada Randy. Ini bagus.
Randy merasa hidupnya jadi jauh lebih menarik sejak kemunculan Sarah. Tindakan Sarah yang berani dan tak terduga di pesta pernikahan itu, lalu tindakan malu-malunya saat ini… membuatnya semakin terpesona.
Baiklah, lagipula rencana pernikahan Vicky dengan Sarah kan sudah hancur berantakan. Mungkin ini kesempatan baginya untuk maju.
‘Maaf Vick, tapi aku yang akan mendapatkan wanita ini. Aku akan merebut calon pengantinmu,’ batin Randy.
Vicky melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang kerja kakaknya dengan ekspresi murung.Wajahnya tampak pucat dan lesu. Pikirannya kacau. Dia juga mengalami insomnia semalam, hingga bayangan lingkaran hitam samar muncul di sekeliling matanya.Randy yang melihatnya pun langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang tak beres.“Duduklah,” kata Randy dengan tenang ketika Vicky sudah berada di dekat mejanya. “Kau mau minum?”“Tidak, tidak,” tolaknya cepat seraya menarik kursi di hadapan kakaknya dan duduk. “Aku hanya ingin bicara.”“Oke,” ucap Randy sambil menautkan jari jemarinya di atas meja. “Ada masalah apa?”Vicky menarik napas panjang dan memberi jeda selama beberapa detik sebelum berkata, “Kau pasti sudah tahu kan, Kak?”“Tentang apa?” tanya Randy waspada.“Tentang ayahku,” jawabnya dengan suara tercekat. Dia merasa seolah tenggorokannya tersumbat. Dia berusaha menahan emosinya sebisa mungkin, agar dapat berbicara dengan kepala dingin.Barulah Randy memahami apa yang sedang dialami adiknya
Tentu saja emosi Sarah meledak saat menghadapi ibunya. Apalagi Miranda tetap bersikeras bahwa dia sama sekali tidak melakukan kesalahan.“Memang apa salahnya? Suamimu sendiri rela memberikan semua barang itu. Ibu tidak pernah memaksanya!” protes Miranda kesal.“Ya walaupun begitu, tahu diri sedikit lah, Bu. Jangan memanfaatkannya seperti ini. Aku tidak suka Ibu melakukannya. Aku kan sudah pernah memperingatkan Ibu!” sahut Sarah.“Kau jadi sombong sekali ya, Sarah?! Kau bilang Ibu tidak tahu diri hanya karena Ibu menerima beberapa benda itu?!” Mata Miranda memerah dan dia menatap Sarah dengan murka. “Sekarang kau bisa hidup bersenang-senang bergelimang harta… Kau bisa tinggal di rumah yang bagus… Suamimu membelikanmu mobil, dan mungkin juga barang apa pun yang kau inginkan… Tapi kau bahkan tidak rela jika Ibu mendapatkan sebagian kecil dari itu?! Kau ingin menikmati semuanya seorang diri? Egois sekali! Apa kau tidak pernah memikirkan seberapa besar pengorbanan Ibu untukmu selama ini? M
Satu minggu kemudian.Sarah datang berkunjung ke rumah orang tuanya. Beberapa hari yang lalu Steven menelepon, menanyakan kabarnya, lalu berkata bahwa mereka sudah lama tak bertemu. Sarah menangkap nada kerinduan di dalam suaranya. Maka dia pun memutuskan untuk segera mengunjungi ayahnya.Memang sudah cukup lama sejak terakhir kali mereka bertemu. Sesungguhnya Sarah juga merasa sedikit bersalah karena tidak berinisiatif untuk datang lebih awal. Kenapa dia harus menunggu hingga Ayah menghubunginya? Dia terlalu terfokus dengan rutinitas sehari-hari, sampai melupakan bahwa ada seseorang yang menunggunya untuk memberi kabar.Dia pun berniat dalam hati... ke depannya, dia akan bersikap lebih proaktif terhadap orang tuanya.Steven yang membukakan pintu, serta merta memeluk erat putri kesayangannya itu. “Akhirnya kau datang juga, Sarah.”“Hai, Ayah! Maaf ya, aku baru datang sekarang.”“Tidak apa-apa. Ayo, masuklah,” ucap Steven. “Kau datang sendirian?”“Iya. Randy sedang ada urusan pekerjaan
Sarah terbangun di kamar yang beratap kayu dan jerami, dengan tirai putih bersih yang bergoyang pelan karena tertiup angin sepoi-sepoi.Sejenak dia sempat linglung dan berpikir, ‘Aku di mana?’Dia bergerak untuk duduk, mengusap matanya beberapa kali agar dapat melihat dengan lebih jelas. Dia memandang ke sekitarnya dan melihat berbagai ukiran estetik, pintu gebyok bergambar wayang dengan warna coklat keemasan, serta dekorasi payung khas Bali yang berada di salah satu sudut ruangan.‘Ah, iya! Aku sedang berada di villa di Bali,’ pikirnya. ‘Lalu di mana suamiku?’Ruangan itu tampak kosong. Dia hanya seorang diri di sana.Sambil bergerak perlahan, Sarah turun dari tempat tidur dan berjalan mendekat ke jendela yang sedikit terbuka. Dia mendorong daun jendela itu agar dapat melihat pemandangan yang lebih luas. Dalam sekejap udara segar dan aroma harum pepohonan menembus masuk ke dalam kamar. Sangat menenangkan dan terasa nyaman.Awalnya pandangan Sarah tertuju ke taman asri yang berada di
Ronde ketiga dimulai.Tim mereka beranjak maju perlahan sambil menembak secara teratur, hanya untuk menahan dan menghalangi pergerakan lawan. Tidak ada yang berlari cepat ke arah bendera seperti yang Mario lakukan di dua babak awal.Satu orang dari tim lawan telah berlari maju terlebih dahulu. Dan mereka mengira bahwa di babak ini mereka lebih unggul. Well, terlalu cepat untuk menyimpulkan.Karena sesungguhnya, Randy juga telah merangkak maju di tanah di sisi terluar arena, tanpa ada lawan yang menyadarinya. Dia bergerak cepat hingga ke bagian tengah arena. Setelah dia berada cukup dekat, barulah kemudian dia bangkit berdiri dan serta merta berlari menghampiri bendera.Begitu melihat Randy yang sedang berlari, hampir seluruh anggota tim melaju dan melepaskan tembakan dengan brutal, mengakibatkan pelari lawan harus menunduk bersembunyi dan tidak bisa bergerak sama sekali.Demikianlah mereka berhasil merebut bendera terakhir, dan memenangkan pertandingan itu.Susan melompat bahagia dan
Siang itu mereka semua berkumpul di sebuah lokasi untuk kegiatan team building. Ternyata aktivitas yang telah disiapkan oleh panitia ialah paint ball.Sarah sedikit terkejut saat mendengar tentang gambaran kegiatan yang akan mereka lakukan itu.First of all, tentu saja, karena dia tidak memiliki pengalaman sama sekali. Dia bahkan tidak pernah bermain game menembak, atau game apa pun. Jadi bagaimana mungkin dia bisa menembak lawan tepat sasaran? Sepertinya itu merupakan hal yang mustahil.Lalu yang kedua, dia yakin dia pasti akan merasa ketakutan ketika harus berhadapan face to face dengan lawan yang memegang senjata semacam itu. Jangankan menembak dengan tepat... jika dia mampu mengalahkan ketakutannya sendiri dan menarik pelatuk saja itu sudah sangat bagus.Sedikit khawatir, dia berujar pelan pada Susan. “Sepertinya aku akan jadi pemain yang paling payah,” ucapnya jujur.Susan pun tertawa. “Sama saja denganku. Aku jug
Sarah, Susan dan Dimas semakin dekat satu sama lain. Susan dan Dimas sudah menjalin hubungan, namun mereka tetap menghabiskan waktu bersama Sarah.“Jujur saja deh, kalian berdua benar-benar tidak merasa terganggu olehku?” tanya Sarah suatu hari.“Tidak,” jawab Susan cepat. “Mana mungkin terganggu.
Pagi itu suasana di kantor terasa meriah dan menggembirakan. Terutama bagi Dimas. Dia mencapai rekor penjualan tertinggi di bulan ini, setelah dia berhasil closing transaksi sebanyak 50 unit mobil dengan sebuah perusahaan properti. Pencapaiannya itu diumumkan langsung oleh Julio, sang General Manag
Julio memasuki cafe tempat dia biasa janjian dengan Randy, sambil membawa tas penuh dengan dokumen penting yang harus segera ditandatangani bosnya itu. Dalam beberapa bulan terakhir, seminggu tiga kali mereka bertemu di cafe itu.Dan dia memantapkan hati untuk protes hari ini. Kenapa dia harus repo
Sarah sedang mematut dirinya di depan cermin ketika Randy masuk ke kamar dan melihatnya. Wanita itu mengenakan dress ringan sederhana berwarna biru muda sepanjang lutut. Rambutnya di-blow dengan rapi dan diberinya jepit mutiara kecil di sisi kiri. Wajahnya menggunakan make up tipis yang membuatnya t







