Share

Bab 33

Author: Blue Moon
last update publish date: 2026-02-27 00:01:11
Di awal minggu itu, Sarah merasakan suasana yang tidak nyaman ketika datang ke kantor. Entah mengapa, tampaknya ada beberapa orang yang terus menerus memperhatikannya. Namun Sarah berusaha menepis perasaan aneh tersebut. ‘Mungkin saja ini hanya khayalanku sendiri. Lebih baik aku fokus dengan pekerjaanku,' pikirnya.

Saat memasuki ruangan divisi keuangan, dan melihat Susan yang sudah berada di mejanya, Sarah merasa lega. Hanya dengan melihat sahabatnya itu saja, perasaannya kembali rileks.

“Hai,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 59

    Di hari Senin sore, Reina datang untuk menginap. “Hai Sarah, aku datang!!” teriak Reina penuh semangat ketika melihatnya. Gadis itu serta merta memeluknya dan menggoyang-goyangkan tubuh mereka bersamaan, seolah-olah mereka berdua sedang berdansa. Sarah tertawa melihat tingkah Reina. Dia benar-benar lucu. “Terima kasih ya kau mau repot-repot menginap di sini, Rei.” “Ah, sama sekali tidak repot. Justru aku senang. Kapan lagi aku bisa mendapatkan tawaran staycation di rumah Kak Randy? Ini kesempatan langka, lho,” candanya. “Staycation apanyaa…” sahut Sarah geli. “Maaf ya, aku baru bisa datang hari ini, Sarah. Kemarin aku sudah terlanjur punya janji ke luar kota dengan teman-temanku.” “Kamu tidak perlu minta maaf, dong. Justru aku sangat berterima kasih karena kau masih menyempatkan datang sekarang. Dan sebetulnya aku juga sudah bilang pada Randy, aku tidak masalah di rumah sendirian…” “Dia hanya mencemaskanmu, Sarah. Lagipula, sendirian di rumah itu mana asyik?” “Benar j

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 58

    Sarah sedang menikmati waktu liburnya yang tenang di dalam kamar, sewaktu Bik Ratih mengetuk pintu dan memanggilnya. “Non Sarah…”“Iya, Bik.” Sarah segera membukakan pintu.“Ada tamu yang ingin bertemu.”Sarah mengernyitkan kening. “Tamu? Siapa? Aku tidak sedang menunggu siapapun.”“Katanya temannya Pak Randy.”Walau merasa semakin heran, namun Sarah segera merapikan pakaiannya dan beranjak ke luar.Di ruang tamu mereka, ada seorang wanita cantik yang berpenampilan anggun dengan tubuh tinggi langsingnya. Dia mengenakan bodycon dress berwarna kombinasi nude and brown yang terlihat mewah. Rambutnya ditata dengan model twisted side bun, menonjolkan gaya yang effortlessly classy. Dia pasti bukan orang sembarangan.Sarah sama sekali tidak mengenalnya.Teman Randy katanya? Astaga, apa memang teman-teman suaminya secantik wanita ini? Sangat mengkhawatirkan...“Hallo, aku Sarah. Aku istri dari Randy,” ucap Sarah memperkenalkan diri dengan sopan.“Ya, aku tahu siapa kamu,” jawab wanita itu den

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 57

    Ketika Randy sedang sibuk bekerja di ruangannya, ada panggilan telepon masuk dari Regina.Dia pun segera mengangkatnya. “Ya, ada apa, Bu?”“Kau sedang sibuk?”“Ya, seperti biasa.”“Hmm, oke. Ibu tidak akan bicara panjang lebar. Hanya ingin menginformasikan, kau harus pergi ke Hong Kong lagi minggu depan. Ada beberapa client baru yang direkomendasikan pada kita.”Randy sempat bungkam sesaat, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk menjawab. “Tidak mau.”“Apa katamu?” Regina seolah tak mempercayai pendengarannya.“Aku tidak mau, Bu. Ibu cari saja orang lain untuk pergi ke sana.”“Kau ini kenapa, Randy? Selama ini kau tidak pernah menolak pekerjaan.” Regina terdengar tidak senang.“Ya, karena aku tidak pernah menolak, Ibu jadi seenaknya kan? Dipikir-pikir lagi, memang seharusnya aku tidak melakukan semua perintah Ibu secara gratis. Ada harga yang harus Ibu bayar jika ingin menugaskan aku.”“Hah! Sekarang kau mulai perhitungan dengan Ibu?!” Nada suara Regina mulai meninggi.“Bukan perhitung

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 56

    Vina terduduk lesu di kamarnya. Dia sama sekali tak menyangka bahwa hidupnya akan berubah sedrastis ini.Dia sudah terbiasa hidup nyaman selama bertahun-tahun. Selama ini pekerjaannya menjanjikan. Asetnya perlahan bertumbuh. Dia bisa membeli barang apapun yang dia inginkan, pergi makan di restoran manapun, berjalan-jalan ke tempat-tempat yang dia suka. Dulu membelanjakan uang seperti itu sama sekali bukan masalah baginya. Dia bisa sepenuhnya menikmati hidup.Lalu dia menjadi lengah.Belum terlalu lama semenjak dia resign, tapi kenyataan pahit telah menghantamnya.Vina tidak memperhitungkan bahwa dia memiliki banyak tanggungan. Dia harus membayar cicilan rumahnya, cicilan mobilnya, utang di beberapa kartu kredit yang dipakainya untuk gaya hidup, lalu biaya berobat ibunya yang sama sekali tidak murah.Berlanjut lagi, bagaikan efek bola salju, berbagai utang yang tertunggak itu pun bunga berbunga, dan semakin lama nominalnya semakin besar.Dia mulai merasa tertekan. Tak pernah terbayangka

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 55

    Usai acara, Vicky menghampiri Regina ke kamarnya. Dia memilih untuk melakukan pendekatan yang lebih persuasif. Vicky tipe orang yang lebih suka membujuk secara halus, bukan mendebat lantang seperti kakaknya.“Ibu, apa Ibu lelah hari ini?” tanyanya pelan.“Yah, lumayan,” jawab Regina. “Terutama karena ulah kakakmu itu. Bukan hanya lelah, tapi Ibu jadi sakit kepala juga.”“Sini, Bu... Biar kupijat pundak Ibu, supaya ototnya tidak terlalu tegang.” Vicky menawarkan.“Astaga, kau memang anak yang benar-benar baik ya. Kau selalu memperhatikan Ibu…”Tentu saja Regina tak menolaknya. Terkadang memang putranya memanjakannya seperti ini.Pijatan itu perlahan-lahan membuat Regina rileks. Ototnya mulai melemas. Suasana hatinya mulai membaik. Dia menutup mata dan menikmati sekian menit itu berlalu.“Ibu…”“Ya, kenapa?”“Ibu kan tahu, kak Randy memang orang yang keras. Kalau Ibu terus menerus bersitegang dengannya, tak akan ada habisnya, Bu. Itu hanya membuat Ibu lelah saja,” ucap Vicky dengan nada

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 54

    Di hari ulang tahun Regina, Sarah meminta suaminya untuk mengajaknya turut serta.Sesungguhnya Randy merasa berat hati. Setelah acara makan bersama ibunya waktu itu, Randy yakin bahwa Regina tak akan memperlakukan istrinya dengan baik. Apalagi jelas-jelas dia malah memanggil Alana dan membuat kesepakatan dengan keluarganya. Situasinya tak akan menguntungkan bagi Sarah.Randy ingin memberi jeda waktu yang lebih lama… Sampai ibunya itu melunak dan mau berusaha menerima Sarah dengan lapang dada, barulah dia akan mempertemukan mereka lagi.“Aku sendiri saja malas untuk pergi ke sana, Sarah. Bahkan aku sempat berpikir untuk mangkir. Kenapa justru kamu yang bersemangat?” oceh Randy.“Ini ulang tahun ibumu, lho. Kau harus ikut merayakannya kan?”“Ya, aku memang terpaksa harus pergi. Tapi kau kan lebih baik tenang-tenang saja di rumah, daripada harus menghadapi perilaku ibuku yang tak masuk akal.”“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengucapkan selamat padanya, dan juga memberi hadiah yang sudah k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status