Share

Bab 104

Penulis: Blue Moon
last update Tanggal publikasi: 2026-05-14 22:01:51

Hari-hari terus berlalu dengan semua rutinitas mereka masing-masing.

Randy lebih banyak menghabiskan waktu untuk menjalankan perusahaan aset manajemen yang ditinggalkan oleh ibunya, dengan dibantu oleh Vicky yang perlahan-lahan mempelajari kegiatan operasional di sana.

Otomatis Randy pun jarang datang ke perusahaannya sendiri. Segala kebijakan dan strategi krusial perusahaan diserahkan ke tangan Alana yang didapuk menjadi pimpinan tertinggi.

Awalnya Alana merasa keberatan, karena dia yang merup
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 104

    Hari-hari terus berlalu dengan semua rutinitas mereka masing-masing.Randy lebih banyak menghabiskan waktu untuk menjalankan perusahaan aset manajemen yang ditinggalkan oleh ibunya, dengan dibantu oleh Vicky yang perlahan-lahan mempelajari kegiatan operasional di sana.Otomatis Randy pun jarang datang ke perusahaannya sendiri. Segala kebijakan dan strategi krusial perusahaan diserahkan ke tangan Alana yang didapuk menjadi pimpinan tertinggi.Awalnya Alana merasa keberatan, karena dia yang merupakan karyawan baru sudah diberi tanggung jawab sebesar itu. Namun dengan sifat Alana yang pada dasarnya memang ambisius dan menyukai tantangan, tentu saja dia tidak mundur. Dia gigih dan berusaha keras untuk memenuhi tugas barunya.Dia merasa ini lah saatnya untuk membuktikan diri... bahwa seorang wanita yang dahulu diremehkan di dalam keluarganya sendiri, kini mampu menduduki jabatan puncak dalam sebuah perusahaan. Dia akan menunjukkan kualitasnya dan menampilkan performa yang terbaik. Dia berk

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 103

    Vicky melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang kerja kakaknya dengan ekspresi murung.Wajahnya tampak pucat dan lesu. Pikirannya kacau. Dia juga mengalami insomnia semalam, hingga bayangan lingkaran hitam samar muncul di sekeliling matanya.Randy yang melihatnya pun langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang tak beres.“Duduklah,” kata Randy dengan tenang ketika Vicky sudah berada di dekat mejanya. “Kau mau minum?”“Tidak, tidak,” tolaknya cepat seraya menarik kursi di hadapan kakaknya dan duduk. “Aku hanya ingin bicara.”“Oke,” ucap Randy sambil menautkan jari jemarinya di atas meja. “Ada masalah apa?”Vicky menarik napas panjang dan memberi jeda selama beberapa detik sebelum berkata, “Kau pasti sudah tahu kan, Kak?”“Tentang apa?” tanya Randy waspada.“Tentang ayahku,” jawabnya dengan suara tercekat. Dia merasa seolah tenggorokannya tersumbat. Dia berusaha menahan emosinya sebisa mungkin, agar dapat berbicara dengan kepala dingin.Barulah Randy memahami apa yang sedang dialami adiknya

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 102

    Tentu saja emosi Sarah meledak saat menghadapi ibunya. Apalagi Miranda tetap bersikeras bahwa dia sama sekali tidak melakukan kesalahan.“Memang apa salahnya? Suamimu sendiri rela memberikan semua barang itu. Ibu tidak pernah memaksanya!” protes Miranda kesal.“Ya walaupun begitu, tahu diri sedikit lah, Bu. Jangan memanfaatkannya seperti ini. Aku tidak suka Ibu melakukannya. Aku kan sudah pernah memperingatkan Ibu!” sahut Sarah.“Kau jadi sombong sekali ya, Sarah?! Kau bilang Ibu tidak tahu diri hanya karena Ibu menerima beberapa benda itu?!” Mata Miranda memerah dan dia menatap Sarah dengan murka. “Sekarang kau bisa hidup bersenang-senang bergelimang harta… Kau bisa tinggal di rumah yang bagus… Suamimu membelikanmu mobil, dan mungkin juga barang apa pun yang kau inginkan… Tapi kau bahkan tidak rela jika Ibu mendapatkan sebagian kecil dari itu?! Kau ingin menikmati semuanya seorang diri? Egois sekali! Apa kau tidak pernah memikirkan seberapa besar pengorbanan Ibu untukmu selama ini? M

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 101

    Satu minggu kemudian.Sarah datang berkunjung ke rumah orang tuanya. Beberapa hari yang lalu Steven menelepon, menanyakan kabarnya, lalu berkata bahwa mereka sudah lama tak bertemu. Sarah menangkap nada kerinduan di dalam suaranya. Maka dia pun memutuskan untuk segera mengunjungi ayahnya.Memang sudah cukup lama sejak terakhir kali mereka bertemu. Sesungguhnya Sarah juga merasa sedikit bersalah karena tidak berinisiatif untuk datang lebih awal. Kenapa dia harus menunggu hingga Ayah menghubunginya? Dia terlalu terfokus dengan rutinitas sehari-hari, sampai melupakan bahwa ada seseorang yang menunggunya untuk memberi kabar.Dia pun berniat dalam hati... ke depannya, dia akan bersikap lebih proaktif terhadap orang tuanya.Steven yang membukakan pintu, serta merta memeluk erat putri kesayangannya itu. “Akhirnya kau datang juga, Sarah.”“Hai, Ayah! Maaf ya, aku baru datang sekarang.”“Tidak apa-apa. Ayo, masuklah,” ucap Steven. “Kau datang sendirian?”“Iya. Randy sedang ada urusan pekerjaan

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 100

    Sarah terbangun di kamar yang beratap kayu dan jerami, dengan tirai putih bersih yang bergoyang pelan karena tertiup angin sepoi-sepoi.Sejenak dia sempat linglung dan berpikir, ‘Aku di mana?’Dia bergerak untuk duduk, mengusap matanya beberapa kali agar dapat melihat dengan lebih jelas. Dia memandang ke sekitarnya dan melihat berbagai ukiran estetik, pintu gebyok bergambar wayang dengan warna coklat keemasan, serta dekorasi payung khas Bali yang berada di salah satu sudut ruangan.‘Ah, iya! Aku sedang berada di villa di Bali,’ pikirnya. ‘Lalu di mana suamiku?’Ruangan itu tampak kosong. Dia hanya seorang diri di sana.Sambil bergerak perlahan, Sarah turun dari tempat tidur dan berjalan mendekat ke jendela yang sedikit terbuka. Dia mendorong daun jendela itu agar dapat melihat pemandangan yang lebih luas. Dalam sekejap udara segar dan aroma harum pepohonan menembus masuk ke dalam kamar. Sangat menenangkan dan terasa nyaman.Awalnya pandangan Sarah tertuju ke taman asri yang berada di

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 99

    Ronde ketiga dimulai.Tim mereka beranjak maju perlahan sambil menembak secara teratur, hanya untuk menahan dan menghalangi pergerakan lawan. Tidak ada yang berlari cepat ke arah bendera seperti yang Mario lakukan di dua babak awal.Satu orang dari tim lawan telah berlari maju terlebih dahulu. Dan mereka mengira bahwa di babak ini mereka lebih unggul. Well, terlalu cepat untuk menyimpulkan.Karena sesungguhnya, Randy juga telah merangkak maju di tanah di sisi terluar arena, tanpa ada lawan yang menyadarinya. Dia bergerak cepat hingga ke bagian tengah arena. Setelah dia berada cukup dekat, barulah kemudian dia bangkit berdiri dan serta merta berlari menghampiri bendera.Begitu melihat Randy yang sedang berlari, hampir seluruh anggota tim melaju dan melepaskan tembakan dengan brutal, mengakibatkan pelari lawan harus menunduk bersembunyi dan tidak bisa bergerak sama sekali.Demikianlah mereka berhasil merebut bendera terakhir, dan memenangkan pertandingan itu.Susan melompat bahagia dan

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 48

    Suara kicauan riang burung yang bersahut-sahutan membangunkan Sarah dari tidurnya. Saat membuka mata, dia melihat cahaya lembut matahari yang merambat lurus, masuk melalui sela-sela tirai jendela. Cahaya yang tampak indah dan menghangatkan jiwa.“Hm, sudah pagi. Tidurku nyenyak sekali,” gumamnya pe

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 47

    Saat melangkahkan kaki masuk ke dalam mall, Miranda bersenandung dengan gembira. Belakangan ini suasana hatinya sangat bagus. Dia merasa bahagia dan akhirnya bisa menikmati hidupnya. Keinginannya sudah terwujud, yaitu melihat Sarah masuk ke dalam keluarga yang berada.Apalagi dia sudah tahu persis

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 46

    Randy mengajak Sarah untuk pergi menemui Regina. Dia ingin mulai menjembatani hubungan antara istri dan ibunya itu. Sesungguhnya dia pun tahu, bahwa tak mudah untuk melunakkan hati Ibu agar bersedia menerima istrinya. Waktu itu Regina sudah dengan jelas menyatakan ketidaksetujuannya. Namun tak ada s

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 44

    Sarah memutuskan untuk menelepon Susan. Sahabatnya itu langsung heboh ketika menerima panggilan teleponnya.“Astaga, kenapa kau menghilang begitu saja, Sarah? Kau di mana sekarang? Kau tidak apa-apa kan? Ada orang yang mengganggumu, tidak? Aku juga dengar bahwa kau sakit?” cerocosnya.Sarah tertawa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status