Se connecterDi hari kedua, ketiga dan keempat, mereka terus bertemu. Pertemuan makan siang berlanjut ke makan malam. Dan di hari keempat, makan malam pun berlanjut ke sebuah bar di Clarke Quay.
Sebenarnya hal ini di luar rencana Sarah. Ia sama sekali tidak berencana pergi ke bar bersama Randy.
Awalnya mereka makan malam bersama, lalu duduk menikmati langit malam berbintang yang juga berhiaskan lampu gedung berwarna warni. Di hadapan mereka terdapat air mancur kecil yang menimbulkan suara gemericik. Sarah belum pernah merasakan indahnya suasana romantis seperti ini… Ada sesuatu yang berbeda... sesuatu yang lebih besar dari dunianya yang ia kenal selama ini. Seolah-olah ia tersedot ke dalam dunia baru yang mengagumkan.
Ditatapnya siluet wajah Randy yang duduk di sebelahnya. Bentuk hidung mancungnya tampak jelas dari samping. Sarah terpukau. Dan tanpa sadar dia tersenyum. Bertemu dengan Randy adalah hal yang sangat ia syukuri. Untuk saat ini, di momen ini, dia merasa bahagia.
Sarah bersyukur telah mengambil langkah yang tepat. Dengan nekat pergi meninggalkan calon suaminya, justru ia dapat bertemu pria yang ia sukai.
Di pukul 8 malam saat mereka hendak berpisah, tiba-tiba Sarah tersadar bahwa esok hari Randy sudah tidak berada di sini lagi. Dia sudah berpindah ke negara lain. Hal itu membuatnya sedikit kacau. Ia tak ingin berpisah. Belum ingin.
Dan tampaknya Randy pun menyadari keengganan Sarah untuk berpisah, karena tiba-tiba saja dia mendekatkan wajahnya ke telinga Sarah dan berbisik pelan. “Mau lanjut pergi ke bar?”
Sarah tersenyum dan mengangguk. Dia merasa senang. Pesannya tersampaikan. Entah bagaimana caranya, Randy seolah mengetahui apa yang ia pikirkan.
Mereka berjalan bergandengan tangan menuju tempat tujuan.
***
Di bar yang sedikit remang itu mereka duduk di sebuah sofa nyaman, dengan pemandangan di luar jendela menghadap langsung ke Singapore river. Dinding bar dihiasi pilar-pilar klasik besar berwarna emas dan terdapat beberapa patung pahatan anggun sebagai dekorasi. Lampu berwarna kuning dan biru berpendar di beberapa sisi, memberi penerangan yang cukup untuk ruangan besar tersebut. Suasana di dalam bar cukup ramai. Banyak anak muda yang berkumpul dan bersenang-senang.
Randy memesan segelas beer dan beberapa snack. Dan Sarah memesan strawberry cocktail.
Setelah waiter pergi dengan pesanan mereka, Randy bertanya, “Apa kau biasa minum alkohol, Sarah?”
“Hm, tidak juga. Sebenarnya aku belum pernah,” jawab Sarah jujur.
Randy tersenyum simpul. “Lalu kau memesan cocktail?”
“Aku pesan strawberry kan?” sahut Sarah dengan polosnya.
Randy tak bisa menahan tawanya. “Ya, memang namanya strawberry. Tapi itu cocktail, Sayangku... Cocktail mengandung alkohol lebih tinggi daripada beer,” jelas Randy.
“Oh, begitukah?” Sarah tampak tak menduganya. “Aku tak tahu. Kupikir itu semacam jus buah…”
‘Ah, memang dia ini polos dan menggemaskan,’ ucap Randy dalam hati.
“Seharusnya kau bertanya dulu padaku,” sahut Randy. “Tapi tak apa. Itu hanya segelas kecil. Mungkin tidak masalah.”
Pesanan mereka datang dan diletakkan di meja. Strawberry cocktail yang berwarna merah muda terlihat cantik di gelas tinggi, dengan potongan buah lemon dan strawberry di dalamnya. Sarah mengeluarkan ponselnya dan memfoto minuman spesial yang belum pernah ia lihat sebelumnya itu.
Lalu ia mencicipinya… Hmm, tidak buruk. Terasa manis dan segar. Ada sedikit hint rasa pahit, tapi itu tidak terlalu mengganggu. Sarah dapat menikmatinya.
Sejak tadi Randy hanya terdiam memandang wanita di hadapannya itu. Sarah sangat ekspresif. Segala macam emosi terlihat jelas di wajahnya. Saat dia tampak tertarik dan penasaran dengan minumannya, saat dia sedikit terkejut dengan rasa yang tak dia duga, lalu saat dia mulai tersenyum dan menikmatinya. Semuanya terlihat begitu jelas. That face with subtitles… Randy merasa terhibur hanya dengan memperhatikannya.
Segelas beer dan cocktail berlanjut ke Long Island, lalu ke margarita. Setiap gelas mereka telah kosong, mereka memesan kembali. Hal itu terjadi berulang kali. Mereka menikmati kebersamaan mereka dan tak ingin berpisah. Mungkin itulah yang mendorong mereka untuk memesan lebih banyak lagi dan lagi.
***
Sarah berusaha berjalan secepat yang ia bisa, mencoba menyamakan langkahnya dengan langkah kaki Randy yang panjang. Randy masih tetap menggenggam erat tangannya sejak tadi, memastikan bahwa ia tak akan melepaskan Sarah malam ini.
Mereka terburu-buru masuk ke dalam hotel bintang lima tempat Randy menginap. Sarah melihat sekilas situasi di lobby hotel. Tampak luas dan megah dengan dinding marmer dan plafon yang tinggi. Namun ia tak sempat memperhatikan lebih banyak, karena Randy sudah menariknya ke dalam lift.
Mereka menuju ke lantai teratas, dan berjalan di lorong berkarpet mewah. Dalam hati Sarah menggumam, ‘Wah beda sekali dengan hostel tempatku menginap.’
Ketika mereka sudah masuk ke dalam kamar, barulah Randy berbalik menatap Sarah. Dan wanita itu terkejut. Ekspresi Randy berubah. Tidak seperti ekspresinya yang manis tadi ketika mereka makan malam ataupun minum bersama di bar. Kini Randy tampak berbahaya… seolah dia ingin segera menerkam Sarah.
Baru kemudian rasa takut menyelinap dalam hatinya. Sejak tadi Sarah hanya terbuai dengan momen manisnya bersama Randy. Namun apa yang ia lakukan kini? Mengapa ia setuju untuk kembali ke hotel bersama pria itu? Bagaimanapun juga, dia baru beberapa hari mengenalnya. Dia tidak tahu banyak tentang Randy. Sepertinya ini adalah sebuah kesalahan.
Sarah bergerak mundur satu langkah. Apa sebaiknya dia pergi sekarang? Apa seharusnya dia tidak berada di sini?
Tetapi sudah terlambat. Randy maju dengan cepat dan langsung mencium bibirnya.
Sarah membeku. Perubahan suasana ini begitu tiba-tiba. Dia kaget dan tak siap. Dia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Rasa takut itu semakin menjadi-jadi.
“Kemarilah, Sayangku,” ucap Randy di tengah-tengah ciumannya.
Randy mengangkat tubuh kaku Sarah, dan membawanya ke tempat tidur besar di tengah ruangan. Dia pun membaringkan Sarah di ranjang besar itu.
Vicky melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang kerja kakaknya dengan ekspresi murung.Wajahnya tampak pucat dan lesu. Pikirannya kacau. Dia juga mengalami insomnia semalam, hingga bayangan lingkaran hitam samar muncul di sekeliling matanya.Randy yang melihatnya pun langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang tak beres.“Duduklah,” kata Randy dengan tenang ketika Vicky sudah berada di dekat mejanya. “Kau mau minum?”“Tidak, tidak,” tolaknya cepat seraya menarik kursi di hadapan kakaknya dan duduk. “Aku hanya ingin bicara.”“Oke,” ucap Randy sambil menautkan jari jemarinya di atas meja. “Ada masalah apa?”Vicky menarik napas panjang dan memberi jeda selama beberapa detik sebelum berkata, “Kau pasti sudah tahu kan, Kak?”“Tentang apa?” tanya Randy waspada.“Tentang ayahku,” jawabnya dengan suara tercekat. Dia merasa seolah tenggorokannya tersumbat. Dia berusaha menahan emosinya sebisa mungkin, agar dapat berbicara dengan kepala dingin.Barulah Randy memahami apa yang sedang dialami adiknya
Tentu saja emosi Sarah meledak saat menghadapi ibunya. Apalagi Miranda tetap bersikeras bahwa dia sama sekali tidak melakukan kesalahan.“Memang apa salahnya? Suamimu sendiri rela memberikan semua barang itu. Ibu tidak pernah memaksanya!” protes Miranda kesal.“Ya walaupun begitu, tahu diri sedikit lah, Bu. Jangan memanfaatkannya seperti ini. Aku tidak suka Ibu melakukannya. Aku kan sudah pernah memperingatkan Ibu!” sahut Sarah.“Kau jadi sombong sekali ya, Sarah?! Kau bilang Ibu tidak tahu diri hanya karena Ibu menerima beberapa benda itu?!” Mata Miranda memerah dan dia menatap Sarah dengan murka. “Sekarang kau bisa hidup bersenang-senang bergelimang harta… Kau bisa tinggal di rumah yang bagus… Suamimu membelikanmu mobil, dan mungkin juga barang apa pun yang kau inginkan… Tapi kau bahkan tidak rela jika Ibu mendapatkan sebagian kecil dari itu?! Kau ingin menikmati semuanya seorang diri? Egois sekali! Apa kau tidak pernah memikirkan seberapa besar pengorbanan Ibu untukmu selama ini? M
Satu minggu kemudian.Sarah datang berkunjung ke rumah orang tuanya. Beberapa hari yang lalu Steven menelepon, menanyakan kabarnya, lalu berkata bahwa mereka sudah lama tak bertemu. Sarah menangkap nada kerinduan di dalam suaranya. Maka dia pun memutuskan untuk segera mengunjungi ayahnya.Memang sudah cukup lama sejak terakhir kali mereka bertemu. Sesungguhnya Sarah juga merasa sedikit bersalah karena tidak berinisiatif untuk datang lebih awal. Kenapa dia harus menunggu hingga Ayah menghubunginya? Dia terlalu terfokus dengan rutinitas sehari-hari, sampai melupakan bahwa ada seseorang yang menunggunya untuk memberi kabar.Dia pun berniat dalam hati... ke depannya, dia akan bersikap lebih proaktif terhadap orang tuanya.Steven yang membukakan pintu, serta merta memeluk erat putri kesayangannya itu. “Akhirnya kau datang juga, Sarah.”“Hai, Ayah! Maaf ya, aku baru datang sekarang.”“Tidak apa-apa. Ayo, masuklah,” ucap Steven. “Kau datang sendirian?”“Iya. Randy sedang ada urusan pekerjaan
Sarah terbangun di kamar yang beratap kayu dan jerami, dengan tirai putih bersih yang bergoyang pelan karena tertiup angin sepoi-sepoi.Sejenak dia sempat linglung dan berpikir, ‘Aku di mana?’Dia bergerak untuk duduk, mengusap matanya beberapa kali agar dapat melihat dengan lebih jelas. Dia memandang ke sekitarnya dan melihat berbagai ukiran estetik, pintu gebyok bergambar wayang dengan warna coklat keemasan, serta dekorasi payung khas Bali yang berada di salah satu sudut ruangan.‘Ah, iya! Aku sedang berada di villa di Bali,’ pikirnya. ‘Lalu di mana suamiku?’Ruangan itu tampak kosong. Dia hanya seorang diri di sana.Sambil bergerak perlahan, Sarah turun dari tempat tidur dan berjalan mendekat ke jendela yang sedikit terbuka. Dia mendorong daun jendela itu agar dapat melihat pemandangan yang lebih luas. Dalam sekejap udara segar dan aroma harum pepohonan menembus masuk ke dalam kamar. Sangat menenangkan dan terasa nyaman.Awalnya pandangan Sarah tertuju ke taman asri yang berada di
Ronde ketiga dimulai.Tim mereka beranjak maju perlahan sambil menembak secara teratur, hanya untuk menahan dan menghalangi pergerakan lawan. Tidak ada yang berlari cepat ke arah bendera seperti yang Mario lakukan di dua babak awal.Satu orang dari tim lawan telah berlari maju terlebih dahulu. Dan mereka mengira bahwa di babak ini mereka lebih unggul. Well, terlalu cepat untuk menyimpulkan.Karena sesungguhnya, Randy juga telah merangkak maju di tanah di sisi terluar arena, tanpa ada lawan yang menyadarinya. Dia bergerak cepat hingga ke bagian tengah arena. Setelah dia berada cukup dekat, barulah kemudian dia bangkit berdiri dan serta merta berlari menghampiri bendera.Begitu melihat Randy yang sedang berlari, hampir seluruh anggota tim melaju dan melepaskan tembakan dengan brutal, mengakibatkan pelari lawan harus menunduk bersembunyi dan tidak bisa bergerak sama sekali.Demikianlah mereka berhasil merebut bendera terakhir, dan memenangkan pertandingan itu.Susan melompat bahagia dan
Siang itu mereka semua berkumpul di sebuah lokasi untuk kegiatan team building. Ternyata aktivitas yang telah disiapkan oleh panitia ialah paint ball.Sarah sedikit terkejut saat mendengar tentang gambaran kegiatan yang akan mereka lakukan itu.First of all, tentu saja, karena dia tidak memiliki pengalaman sama sekali. Dia bahkan tidak pernah bermain game menembak, atau game apa pun. Jadi bagaimana mungkin dia bisa menembak lawan tepat sasaran? Sepertinya itu merupakan hal yang mustahil.Lalu yang kedua, dia yakin dia pasti akan merasa ketakutan ketika harus berhadapan face to face dengan lawan yang memegang senjata semacam itu. Jangankan menembak dengan tepat... jika dia mampu mengalahkan ketakutannya sendiri dan menarik pelatuk saja itu sudah sangat bagus.Sedikit khawatir, dia berujar pelan pada Susan. “Sepertinya aku akan jadi pemain yang paling payah,” ucapnya jujur.Susan pun tertawa. “Sama saja denganku. Aku jug
Di hari ulang tahun Regina, Sarah meminta suaminya untuk mengajaknya turut serta.Sesungguhnya Randy merasa berat hati. Setelah acara makan bersama ibunya waktu itu, Randy yakin bahwa Regina tak akan memperlakukan istrinya dengan baik. Apalagi jelas-jelas dia malah memanggil Alana dan membuat kesepa
Hari Sabtu siang. Sarah baru saja menyelesaikan riasan ringannya dan menyemprotkan setting spray ke wajahnya, ketika Randy masuk ke dalam kamar. Dilihatnya istrinya yang tampak cantik dengan off shoulder linen dress berwarna hijau sage yang manis itu. “Kau mau pergi, Sayang?” “Iya. Aku mau pergi
Siang itu ketika Sarah sedang mengerjakan laporannya dengan penuh semangat, sebuah pesan dari Vicky masuk di ponselnya.“Kau ada waktu nanti sore? Mau bertemu sebentar untuk membahas rencana kita?”“Memangnya kau punya rencana apa?” balas Sarah.“Ibuku berulang tahun sebentar lagi. Bagaimana kalau
Tubuh Randy menegang. Dia hampir-hampir tak bisa mengendalikan kemarahannya lagi. “Dengar Alana, aku tidak tahu apa yang telah ibuku katakan padamu. Tapi yang jelas, aku tidak bisa berada di sini denganmu. Aku sudah menikah.”“Hmm... tapi katanya pernikahan itu akan dibatalkan?”“Ibuku bilang begit







