Share

Bab 4

Author: Blue Moon
last update Last Updated: 2025-05-15 22:23:38

Di hari kedua, ketiga dan keempat, mereka terus bertemu. Pertemuan makan siang berlanjut ke makan malam. Dan di hari keempat, makan malam pun berlanjut ke sebuah bar di Clarke Quay.

Sebenarnya hal ini di luar rencana Sarah. Ia sama sekali tidak berencana pergi ke bar bersama Randy.

Awalnya mereka makan malam bersama, lalu duduk menikmati langit malam berbintang yang juga berhiaskan lampu gedung berwarna warni. Di hadapan mereka terdapat air mancur kecil yang menimbulkan suara gemericik. Sarah belum pernah merasakan indahnya suasana romantis seperti ini… Ada sesuatu yang berbeda... sesuatu yang lebih besar dari dunianya yang ia kenal selama ini. Seolah-olah ia tersedot ke dalam dunia baru yang mengagumkan.

Ditatapnya siluet wajah Randy yang duduk di sebelahnya. Bentuk hidung mancungnya tampak jelas dari samping. Sarah terpukau. Dan tanpa sadar dia tersenyum. Bertemu dengan Randy adalah hal yang sangat ia syukuri. Untuk saat ini, di momen ini, dia merasa bahagia.

Sarah bersyukur telah mengambil langkah yang tepat. Dengan nekat pergi meninggalkan calon suaminya, justru ia dapat bertemu pria yang ia sukai.

Di pukul 8 malam saat mereka hendak berpisah, tiba-tiba Sarah tersadar bahwa esok hari Randy sudah tidak berada di sini lagi. Dia sudah berpindah ke negara lain. Hal itu membuatnya sedikit kacau. Ia tak ingin berpisah. Belum ingin.

Dan tampaknya Randy pun menyadari keengganan Sarah untuk berpisah, karena tiba-tiba saja dia mendekatkan wajahnya ke telinga Sarah dan berbisik pelan. “Mau lanjut pergi ke bar?”

Sarah tersenyum dan mengangguk. Dia merasa senang. Pesannya tersampaikan. Entah bagaimana caranya, Randy seolah mengetahui apa yang ia pikirkan.

Mereka berjalan bergandengan tangan menuju tempat tujuan.

***

Di bar yang sedikit remang itu mereka duduk di sebuah sofa nyaman, dengan pemandangan di luar jendela menghadap langsung ke Singapore river. Dinding bar dihiasi pilar-pilar klasik besar berwarna emas dan terdapat beberapa patung pahatan anggun sebagai dekorasi. Lampu berwarna kuning dan biru berpendar di beberapa sisi, memberi penerangan yang cukup untuk ruangan besar tersebut. Suasana di dalam bar cukup ramai. Banyak anak muda yang berkumpul dan bersenang-senang.

Randy memesan segelas beer dan beberapa snack. Dan Sarah memesan strawberry cocktail.

Setelah waiter pergi dengan pesanan mereka, Randy bertanya, “Apa kau biasa minum alkohol, Sarah?”

“Hm, tidak juga. Sebenarnya aku belum pernah,” jawab Sarah jujur.

Randy tersenyum simpul. “Lalu kau memesan cocktail?”

“Aku pesan strawberry kan?” sahut Sarah dengan polosnya.

Randy tak bisa menahan tawanya. “Ya, memang namanya strawberry. Tapi itu cocktail, Sayangku... Cocktail mengandung alkohol lebih tinggi daripada beer,” jelas Randy.

“Oh, begitukah?” Sarah tampak tak menduganya. “Aku tak tahu. Kupikir itu semacam jus buah…”

‘Ah, memang dia ini polos dan menggemaskan,’ ucap Randy dalam hati.

“Seharusnya kau bertanya dulu padaku,” sahut Randy. “Tapi tak apa. Itu hanya segelas kecil. Mungkin tidak masalah.”

Pesanan mereka datang dan diletakkan di meja. Strawberry cocktail yang berwarna merah muda terlihat cantik di gelas tinggi, dengan potongan buah lemon dan strawberry di dalamnya. Sarah mengeluarkan ponselnya dan memfoto minuman spesial yang belum pernah ia lihat sebelumnya itu.

Lalu ia mencicipinya… Hmm, tidak buruk. Terasa manis dan segar. Ada sedikit hint rasa pahit, tapi itu tidak terlalu mengganggu. Sarah dapat menikmatinya.

Sejak tadi Randy hanya terdiam memandang wanita di hadapannya itu. Sarah sangat ekspresif. Segala macam emosi terlihat jelas di wajahnya. Saat dia tampak tertarik dan penasaran dengan minumannya, saat dia sedikit terkejut dengan rasa yang tak dia duga, lalu saat dia mulai tersenyum dan menikmatinya. Semuanya terlihat begitu jelas. That face with subtitles… Randy merasa terhibur hanya dengan memperhatikannya.

Segelas beer dan cocktail berlanjut ke Long Island, lalu ke margarita. Setiap gelas mereka telah kosong, mereka memesan kembali. Hal itu terjadi berulang kali. Mereka menikmati kebersamaan mereka dan tak ingin berpisah. Mungkin itulah yang mendorong mereka untuk memesan lebih banyak lagi dan lagi.

***

Sarah berusaha berjalan secepat yang ia bisa, mencoba menyamakan langkahnya dengan langkah kaki Randy yang panjang. Randy masih tetap menggenggam erat tangannya sejak tadi, memastikan bahwa ia tak akan melepaskan Sarah malam ini.

Mereka terburu-buru masuk ke dalam hotel bintang lima tempat Randy menginap. Sarah melihat sekilas situasi di lobby hotel. Tampak luas dan megah dengan dinding marmer dan plafon yang tinggi. Namun ia tak sempat memperhatikan lebih banyak, karena Randy sudah menariknya ke dalam lift.

Mereka menuju ke lantai teratas, dan berjalan di lorong berkarpet mewah. Dalam hati Sarah menggumam, ‘Wah beda sekali dengan hostel tempatku menginap.’

Ketika mereka sudah masuk ke dalam kamar, barulah Randy berbalik menatap Sarah. Dan wanita itu terkejut. Ekspresi Randy berubah. Tidak seperti ekspresinya yang manis tadi ketika mereka makan malam ataupun minum bersama di bar. Kini Randy tampak berbahaya… seolah dia ingin segera menerkam Sarah.

Baru kemudian rasa takut menyelinap dalam hatinya. Sejak tadi Sarah hanya terbuai dengan momen manisnya bersama Randy. Namun apa yang ia lakukan kini? Mengapa ia setuju untuk kembali ke hotel bersama pria itu? Bagaimanapun juga, dia baru beberapa hari mengenalnya. Dia tidak tahu banyak tentang Randy. Sepertinya ini adalah sebuah kesalahan.

Sarah bergerak mundur satu langkah. Apa sebaiknya dia pergi sekarang? Apa seharusnya dia tidak berada di sini?

Tetapi sudah terlambat. Randy maju dengan cepat dan langsung mencium bibirnya.

Sarah membeku. Perubahan suasana ini begitu tiba-tiba. Dia kaget dan tak siap. Dia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Rasa takut itu semakin menjadi-jadi.

“Kemarilah, Sayangku,” ucap Randy di tengah-tengah ciumannya.

Randy mengangkat tubuh kaku Sarah, dan membawanya ke tempat tidur besar di tengah ruangan. Dia pun membaringkan Sarah di ranjang besar itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 19

    Setelah makan malam sendirian seperti biasa, Sarah duduk santai di ruang tamu sambil memainkan ponselnya.Tiba-tiba terdengar suara mobil Randy yang memasuki halaman rumah.‘Damn!’ pikirnya. ‘Ini baru pukul tujuh. Kenapa Randy sudah pulang?’Biasanya pria itu pulang di atas jam sembilan. Sarah tak menyangka hari ini akan berbeda. Terburu-buru dia mematikan lampu di ruang tamu, berlari secepat mungkin ke kamar tidur dan menyalakan lampu nakas bercahaya redup di samping tempat tidurnya.Dia segera meringkuk di atas kasur, berpura-pura sudah tidur karena tak ingin bicara dengan suaminya. Dia ingin menghindari suasana tidak nyaman yang belakangan ini selalu terasa di antara mereka berdua.Suara langkah kaki Randy yang berat, dan suara pintu dibuka terdengar jelas. Sarah memejamkan mata dengan erat, berharap Randy akan segera keluar lagi setelah melihatnya tidur.Namun sayangnya, setelah beberapa menit berlalu, Randy belum juga keluar dari kamar. Pria itu duduk di sisi lain tempat tidur.“

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 18

    Di hari Senin pagi, Sarah tak bisa menahan diri untuk tidak bicara pada sahabatnya. Begitu dia melihat Susan melangkah masuk ke ruangan, Sarah langsung beranjak dan mendekatinya.“Pagi, Sarah!” sapa gadis yang ceria itu.“Pagi. Hei, aku ingin bicara denganmu,” ucap Sarah tanpa basa basi.Barulah Susan memperhatikan ekspresi Sarah. “Wah, apa ada hal yang serius? Kau terlihat menyeramkan.”“Iya, serius. Sangat serius!” pekik Sarah dengan suara tertahan.“Oke,” jawab Susan sedikit tegang. “Apa itu?”“Kau ingat pembicaraan kita tentang bos kita yang tak pernah terlihat itu?”“Iyaaa… aku ingat. Memangnya kenapa?”“Apa kau tahu siapa namanya?”“Tentu saja. Bos kita Pak Randy Sutanto. Kenapa dengan dia?”Sarah terduduk lemas. Ternyata benar. Bahkan Susan mengetahuinya. Hanya dirinya sendirilah yang bodoh. Seharusnya dia bertanya pada Susan sejak dulu. Kenapa dia tak pernah terpikirkan hal itu?“Hei, kau kenapa, Sarah? Kau terlihat tidak sehat. Kau sakit?” Susan tampak khawatir.“Tidak, aku t

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 17

    Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sarah sudah bangun.Hari itu merupakan hari Sabtu, namun karena Sarah tidur cepat semalam, jadi sepagi ini pun dia sudah merasa segar. Randy masih terlelap di sebelahnya. Dia mendekatkan wajah, mengecup pipi pria itu dengan lembut, lalu bangun dan keluar dari kamar.Bik Ratih belum datang. Biasanya dia datang pukul sembilan. Berarti Sarah memiliki cukup banyak waktu untuk mengambil alih dan mengacak-acak dapur.Dia memutuskan untuk memasak hari ini. Sejak mereka menikah, belum pernah satu kali pun Sarah memasak untuk Randy. Dan sekarang dia akan memberi kejutan untuk suaminya itu.Sarah membuka kulkas, mencari bahan dan menimbang-nimbang makanan apa yang dapat dia siapkan.Akhirnya dia memutuskan untuk membuat pasta. Pasta yang creamy dengan topping seafood sepertinya cukup menarik.Dia merebus pasta, membuat saus creamy-nya menggunakan susu dan keju, lalu memasak udang, cumi dan oyster dengan metode stir fry.Tak sampai satu jam, masakannya sudah se

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 16

    Sarah, Susan dan Dimas semakin dekat satu sama lain. Susan dan Dimas sudah menjalin hubungan, namun mereka tetap menghabiskan waktu bersama Sarah.“Jujur saja deh, kalian berdua benar-benar tidak merasa terganggu olehku?” tanya Sarah suatu hari.“Tidak,” jawab Susan cepat. “Mana mungkin terganggu. Kamu adalah teman baikku. Aku suka pergi bertiga seperti ini.”“Ya, tentu saja kau berpikir begitu. Tapi bagaimana dengan pacarmu? Dia pasti ingin menghabiskan waktu berdua saja denganmu. Kamu tidak kasihan padanya?” sahut Sarah.“Dia yang kau maksud baik-baik saja kok.” Dimas yang menjawab.Sarah menoleh dan menatap pria itu. “Sungguh? Kok bisa kau baik-baik saja?”Dimas tertawa. “Apa sih maksudmu? Kita kan hanya makan siang bersama. Aku punya waktu makan malam dan punya seharian di weekend untuk pacaran. Tentu saja aku tidak keberatan.”“Makan siang itu setiap hari lho. Kamu makan malam bersamanya kan tidak setiap hari, belum lagi kalau kami lembur.”“Sudahlah, tidak usah pikirkan itu, Sar

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 15

    Pagi itu suasana di kantor terasa meriah dan menggembirakan. Terutama bagi Dimas. Dia mencapai rekor penjualan tertinggi di bulan ini, setelah dia berhasil closing transaksi sebanyak 50 unit mobil dengan sebuah perusahaan properti. Pencapaiannya itu diumumkan langsung oleh Julio, sang General Manager.Selain perasaan bangga karena hasil kerjanya diapresiasi dengan pujian dari bos dan tepuk tangan serta ucapan selamat dari para karyawan lain, sudah tentu ada hadiah bonus yang menanti Dimas. Dia tampak sangat bahagia.Susan ikut berada di tengah keramaian karyawan, tersenyum lebar dan juga merasa sangat bangga atas pencapaian Dimas.Ketika satu per satu karyawan bubar dan kembali ke tempat kerja masing-masing, barulah Susan bergerak mendekati kekasihnya itu.“Selamat ya,” ucap Susan tulus seraya menatap pria itu.“Terima kasih,” jawab Dimas dengan wajah sumringah. “Nanti sepulang kerja kita makan all you can eat, yuk. Aku yang traktir.”“Wah… sungguh? Boleh ajak Sarah juga kan?”Pria it

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 14

    Julio memasuki cafe tempat dia biasa janjian dengan Randy, sambil membawa tas penuh dengan dokumen penting yang harus segera ditandatangani bosnya itu. Dalam beberapa bulan terakhir, seminggu tiga kali mereka bertemu di cafe itu.Dan dia memantapkan hati untuk protes hari ini. Kenapa dia harus repot-repot begini? Kenapa Randy tidak datang saja ke kantor dan mengerjakan semuanya di sana?Randy sudah berada di dalam cafe, sedang duduk menyilangkan kaki dan tampak sibuk dengan ponselnya.Bruk!! Dijatuhkannya tas itu di atas meja, lalu Julio menarik kursi di hadapan Randy dan duduk.Randy pun mengalihkan pandangan dari ponselnya. “Ah, kau sudah datang.”“Ya, ya, aku sudah datang. Terburu-buru dari kantor, berjuang melawan kemacetan parah untuk datang ke cafe ini, yang letaknya berlawanan dengan arah pulang ke rumahku. Padahal rumahku saja sudah cukup jauh,” sahut Julio.Randy tertawa kecil. “Datang-datang langsung komplain. Ada apa denganmu? Di kantor ada masalah?”Julio menatapnya sengit

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status