Share

Bab 5

Penulis: Blue Moon
last update Tanggal publikasi: 2025-05-15 22:24:12

“Tung – tunggu!” teriak Sarah yang dengan susah payah akhirnya mampu mengumpulkan suaranya. “Apa yang sedang kau lakukan sekarang?”

“Apa lagi?” Randy menatapnya dan memiringkan kepala. “Tentu saja bercinta denganmu.”

“Tapi aku tidak berpikir kita akan secepat ini melaku… hmmpp...”

Ucapan Sarah terputus karena ciuman dari Randy.

Sarah kesulitan mengambil napas. Wajah dan tubuhnya terasa begitu panas, dan jantungnya berdebar kencang.

“Randy, tunggu… Aku belum...” Sarah masih berusaha menahan pria itu.

Tetapi sia-sia saja, tampaknya Randy sama sekali tidak berniat untuk mendengarkan Sarah. Dia terfokus dengan hal lain. Ciuman Randy berpindah ke leher Sarah dan menuruninya perlahan.

Satu tangan Randy menyelinap cepat ke balik kaus yang dikenakan Sarah. Wanita itu terkesiap saat Randy menyentuhnya.

Apa ini? Apa yang terjadi? Sarah kebingungan karena ia tak pernah mengalami hal semacam ini.

Namun ia juga tahu bahwa Randy tak akan mendengarkan kata-katanya lagi. Maka ia memutuskan untuk melawan dengan tenaganya. Ia mendorong tubuh Randy sekuat tenaga dan menendang kakinya.

Sayangnya, dorongan maupun tendangannya tidak terlalu berefek untuk Randy. Pria itu hanya terdiam sebentar, seolah menyadari perlawanan Sarah, lalu menyeringai. “Ah… kau mulai main kasar rupanya... Ini jadi semakin menarik.”

Dengan satu tarikan, dia melepaskan kemejanya, lalu kembali menyerang Sarah.

Malam yang panjang itu pun dimulai.

***

Sinar matahari menembus masuk melalui sela-sela tirai yang tidak tertutup rapat.

Sarah terbangun dan bergerak perlahan. Matanya terasa berat, dan tubuhnya… Astaga, ada apa dengan tubuhnya? Ia merasakan pegal yang luar biasa.

Seketika ingatan tentang kejadian semalam mulai masuk ke dalam otaknya.

Sarah menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Wah, gila! Aku benar-benar sudah gila!” ucapnya pada dirinya sendiri.

Dia menoleh dan melihat Randy yang masih tertidur di sisinya. Dia tampak sangat lelap, dan wajahnya yang tampan itu bagai orang yang tak berdosa.

‘Cih!’ Sarah mengumpat dalam hati. ‘Tidak adil kan dia terlihat innocent seperti itu sekarang, setelah semua hal yang dia lakukan semalam?!’

Sarah beringsut turun dari kasur, lalu berjalan ke kamar mandi.

Ya sudahlah, mandi dulu saja, sisanya akan dia pikirkan lagi nanti.

Kamar mandi berdinding marmer itu cukup luas, dan ada sebuah bathtub di salah satu sisinya. Sarah mengisi bathtub dengan air hangat, lalu ia melangkah masuk dan menikmati mandi paginya yang menenangkan.

“Hmm… enak juga bisa berendam seperti ini,” gumam Sarah.

Merasakan hangatnya air yang menyentuh kulitnya, dan harumnya aroma lavender dari sabun yang ia gunakan… Sarah menjadi lebih rileks.

Lalu dia pun terlarut dalam pikirannya sendiri. ‘Apa yang akan terjadi pada diriku sekarang? Mungkin saja Randy melakukannya tanpa menginginkan hubungan yang serius. Apa baginya yang semalam itu hanya one night stand? Apa dia hanya bermain-main denganku? Apa dia akan pergi begitu saja meninggalkan aku? Lalu bagaimana denganku? Ini pengalaman pertamaku, jadi aku pasti tidak bisa melupakannya dengan mudah. Apa aku akan mengalami patah hati? Apa ini karma untukku karena kabur meninggalkan keluargaku dan calon suamiku begitu saja?’

Tak terasa waktu berlalu dan Sarah sudah menghabiskan lebih dari setengah jam di dalam kamar mandi. Suara ketukan di pintu membuatnya tersadar kembali.

“Sarah?” panggil Randy.

“Y-ya?” sahutnya kaget. Dia merasa belum siap untuk bicara dengan Randy lagi. Bagaimana caranya menghadapi pria itu setelah malam panas mereka kemarin?

“Kau sedang mandi? Apa masih lama?”

“T-tidak, sebentar lagi aku akan keluar.”

“Aku perlu menggunakan toilet.”

“Oh, oke, sebentar!” Sarah buru-buru beranjak dari bathtub, mengelap tubuhnya dengan handuk, lalu memakai bathrobe yang tersedia di sana.

Dia membuka pintu kamar mandi dan melihat Randy yang tersenyum manis padanya.

Saat mereka berpapasan, Randy sempat memeluk pinggangnya sekilas dan mengecup keningnya. “Pagi, Sayang.”

Sarah hanya terdiam dan menahan napas karena tegang, tak yakin bagaimana harus menanggapinya. Ia baru bisa menghembuskan napasnya lagi setelah Randy masuk dan menutup pintu.

Terduduk di kasur yang super berantakan akibat ulah mereka berdua semalam, membuat Sarah merasa tak nyaman. Dia pun beranjak menghampiri jendela dan membuka tirainya, berusaha mengalihkan perhatiannya ke hal yang lain.

Mereka berada di penthouse suite di lantai 10. Pemandangan di luar jendela mengarah ke sebuah taman yang hijau dan asri. Di latar belakang berdiri puluhan gedung pencakar langit. Kaca-kaca gedung itu memantulkan cahaya matahari. Menyilaukan, tapi juga indah.

Randy keluar dari kamar mandi, masih bertelanjang dada. Otot-otot tubuhnya terlihat dengan jelas.

Yah, wajar saja, dia bilang sering berolahraga kan? Sejujurnya pemandangan ini jauh lebih menarik daripada taman indah di luar.

Randy memergoki Sarah yang sedang memperhatikannya. ‘Shit!’ umpat Sarah dalam hati. Dia langsung memalingkan wajah.

“Tidak apa-apa, Sarah. Kau boleh melihatku sepuasmu.” Tawa Randy terdengar renyah.

“Kau salah paham…” Sarah asal bicara.

“Aku salah paham? Coba jelaskan, di bagian mana aku salah?” Randy mulai bergerak mendekati Sarah.

Sarah tidak menjawabnya.

Semakin Randy mendekat, semakin ia merasakan debaran jantungnya. ‘Ini bahaya,’ batin Sarah.

“Sepertinya kau menyukai tubuhku? Ya kan, Sayang?” Randy melingkarkan lengannya di leher Sarah, dan mulai menciumnya perlahan, mulai dari pipi menuju ke lehernya.

Sarah bergidik. Tiba-tiba kilasan kejadian semalam bermunculan di pikirannya. Ia pun merasa panik. “Randy, jangan…” bisiknya pelan.

“Kenapa? Kau menyukai aku kan? Semalam kau terlihat cukup menikmatinya,” seloroh Randy.

Melihat wajah Sarah yang merona justru membuat Randy semakin ingin menggodanya. Wanita ini memang sungguh menarik.

“Jadi… bagaimana? Kita ulangi lagi sekarang?” lanjut Randy.

“T-tidak! Jangan sekarang!” Sarah buru-buru menjawab. Dia melepaskan dirinya dari rangkulan Randy dan bergerak menjauh.

Mata Randy berbinar. “Jangan sekarang? Lalu kapan?”

Sarah menutup mata dan menarik napas panjang. “Tolong hentikan, Randy. Berhenti menggodaku. Ini sudah mulai siang. Bukankah kau orang yang sibuk? Dan bukankah seharusnya kita turun untuk sarapan?”

Randy terkekeh. “Baiklah… Ayo pergi sarapan. Kau pasti lapar berat setelah pertarungan kita semalam...”

“Bisa berhenti, tidak?” sahut Sarah dengan nada galak, diiringi suara tawa Randy yang semakin keras.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 105 (Tamat)

    Beberapa hari kemudian, Miranda datang ke rumah. Awalnya dia menyampaikan permintaan maaf kepada Sarah, karena telah meminta hal yang berlebihan dari menantunya. Miranda tidak sepenuhnya merasa bersalah. Tetapi, karena berbagai teguran dan tekanan dari Steven, akhirnya dia pun bersedia mengalah. Dia memilih untuk menjaga hubungan baik dengan putrinya. Sudah pasti Sarah menerima permintaan maaf ibunya dengan tulus hati. Sarah pun berjanji untuk tidak mempermasalahkan hal itu lagi, jika Ibu memang tidak mengulangi kesalahan yang sama. Pembicaraan mereka berlanjut dengan cukup positif… Hingga di satu titik, mereka kembali berdebat, “Kapan kau akan berusaha untuk punya anak lagi, Sarah? Sudah cukup lama sejak kau keguguran waktu itu kan? Bukankah seharusnya sudah boleh?” Pertanyaan itulah yang seketika mengubah atmosfer di antara mereka. “Secara medis memang boleh, Bu. Tapi aku belum mau memikirkan itu. Aku ingin fokus untuk menjaga kesehatan mental dan kestabilan emosiku dulu.

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 104

    Hari-hari terus berlalu dengan semua rutinitas mereka masing-masing. Randy lebih banyak menghabiskan waktu untuk menjalankan perusahaan asset management yang ditinggalkan oleh ibunya, dengan dibantu oleh Vicky yang perlahan-lahan mempelajari kegiatan operasional di sana. Otomatis Randy pun jarang datang ke perusahaannya sendiri. Segala kebijakan dan strategi krusial perusahaan diserahkan ke tangan Alana yang didapuk menjadi pimpinan tertinggi. Awalnya Alana merasa keberatan, karena dia yang merupakan karyawan baru sudah diberi tanggung jawab sebesar itu. Namun dengan sifat Alana yang pada dasarnya memang ambisius dan menyukai tantangan, tentu saja dia tidak mundur. Dia gigih dan berusaha keras untuk memenuhi tugas barunya. Dia merasa ini lah saatnya untuk membuktikan diri... bahwa seorang wanita yang dahulu diremehkan di dalam keluarganya sendiri, kini mampu menduduki jabatan puncak dalam sebuah perusahaan. Dia akan menunjukkan kualitasnya dan menampilkan performa yang terbaik.

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 103

    Vicky melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang kerja kakaknya dengan ekspresi murung.Wajahnya tampak pucat dan lesu. Pikirannya kacau. Dia juga mengalami insomnia semalam, hingga bayangan lingkaran hitam samar muncul di sekeliling matanya.Randy yang melihatnya pun langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang tak beres.“Duduklah,” kata Randy dengan tenang ketika Vicky sudah berada di dekat mejanya. “Kau mau minum?”“Tidak, tidak,” tolaknya cepat seraya menarik kursi di hadapan kakaknya dan duduk. “Aku hanya ingin bicara.”“Oke,” ucap Randy sambil menautkan jari jemarinya di atas meja. “Ada masalah apa?”Vicky menarik napas panjang dan memberi jeda selama beberapa detik sebelum berkata, “Kau pasti sudah tahu kan, Kak?”“Tentang apa?” tanya Randy waspada.“Tentang ayahku,” jawabnya dengan suara tercekat. Dia merasa seolah tenggorokannya tersumbat. Dia berusaha menahan emosinya sebisa mungkin, agar dapat berbicara dengan kepala dingin.Barulah Randy memahami apa yang sedang dialami adiknya

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 102

    Tentu saja emosi Sarah meledak saat menghadapi ibunya. Apalagi Miranda tetap bersikeras bahwa dia sama sekali tidak melakukan kesalahan.“Memang apa salahnya? Suamimu sendiri rela memberikan semua barang itu. Ibu tidak pernah memaksanya!” protes Miranda kesal.“Ya walaupun begitu, tahu diri sedikit lah, Bu. Jangan memanfaatkannya seperti ini. Aku tidak suka Ibu melakukannya. Aku kan sudah pernah memperingatkan Ibu!” sahut Sarah.“Kau jadi sombong sekali ya, Sarah?! Kau bilang Ibu tidak tahu diri hanya karena Ibu menerima beberapa benda itu?!” Mata Miranda memerah dan dia menatap Sarah dengan murka. “Sekarang kau bisa hidup bersenang-senang bergelimang harta… Kau bisa tinggal di rumah yang bagus… Suamimu membelikanmu mobil, dan mungkin juga barang apa pun yang kau inginkan… Tapi kau bahkan tidak rela jika Ibu mendapatkan sebagian kecil dari itu?! Kau ingin menikmati semuanya seorang diri? Egois sekali! Apa kau tidak pernah memikirkan seberapa besar pengorbanan Ibu untukmu selama ini? M

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 101

    Satu minggu kemudian.Sarah datang berkunjung ke rumah orang tuanya. Beberapa hari yang lalu Steven menelepon, menanyakan kabarnya, lalu berkata bahwa mereka sudah lama tak bertemu. Sarah menangkap nada kerinduan di dalam suaranya. Maka dia pun memutuskan untuk segera mengunjungi ayahnya.Memang sudah cukup lama sejak terakhir kali mereka bertemu. Sesungguhnya Sarah juga merasa sedikit bersalah karena tidak berinisiatif untuk datang lebih awal. Kenapa dia harus menunggu hingga Ayah menghubunginya? Dia terlalu terfokus dengan rutinitas sehari-hari, sampai melupakan bahwa ada seseorang yang menunggunya untuk memberi kabar.Dia pun berniat dalam hati... ke depannya, dia akan bersikap lebih proaktif terhadap orang tuanya.Steven yang membukakan pintu, serta merta memeluk erat putri kesayangannya itu. “Akhirnya kau datang juga, Sarah.”“Hai, Ayah! Maaf ya, aku baru datang sekarang.”“Tidak apa-apa. Ayo, masuklah,” ucap Steven. “Kau datang sendirian?”“Iya. Randy sedang ada urusan pekerjaan

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 100

    Sarah terbangun di kamar yang beratap kayu dan jerami, dengan tirai putih bersih yang bergoyang pelan karena tertiup angin sepoi-sepoi.Sejenak dia sempat linglung dan berpikir, ‘Aku di mana?’Dia bergerak untuk duduk, mengusap matanya beberapa kali agar dapat melihat dengan lebih jelas. Dia memandang ke sekitarnya dan melihat berbagai ukiran estetik, pintu gebyok bergambar wayang dengan warna coklat keemasan, serta dekorasi payung khas Bali yang berada di salah satu sudut ruangan.‘Ah, iya! Aku sedang berada di villa di Bali,’ pikirnya. ‘Lalu di mana suamiku?’Ruangan itu tampak kosong. Dia hanya seorang diri di sana.Sambil bergerak perlahan, Sarah turun dari tempat tidur dan berjalan mendekat ke jendela yang sedikit terbuka. Dia mendorong daun jendela itu agar dapat melihat pemandangan yang lebih luas. Dalam sekejap udara segar dan aroma harum pepohonan menembus masuk ke dalam kamar. Sangat menenangkan dan terasa nyaman.Awalnya pandangan Sarah tertuju ke taman asri yang berada di

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 99

    Ronde ketiga dimulai. Tim mereka beranjak maju perlahan sambil menembak secara teratur, hanya untuk menahan dan menghalangi pergerakan lawan. Tidak ada yang berlari cepat ke arah bendera seperti yang Mario lakukan di dua babak awal. Satu orang dari tim lawan telah berlari maju terlebih dahulu. Dan

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 98

    Siang itu mereka semua berkumpul di sebuah lokasi untuk kegiatan team building. Ternyata aktivitas yang telah disiapkan oleh panitia ialah paint ball.Sarah sedikit terkejut saat mendengar tentang gambaran kegiatan yang akan mereka lakukan itu.First of all, tentu saja, karena

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 97

    Hari keberangkatan ke Bali pun tiba. Mereka semua telah berkumpul di airport dan menunggu boarding time di gate yang ditentukan.“Sarah!!”

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 96

    Sepulangnya mereka dari acara makan siang bersama Regina, Sarah lebih banyak berdiam diri. Di perjalanan pulang, Randy sama sekali tidak mengusik istrinya itu. Dia ingin memberikan waktu bagi Sarah untuk menenangkan pikirannya. Mereka berdua berkendara dalam diam. Begitu pun beberapa jam kemudia

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status