Masuk“Tung – tunggu!” teriak Sarah yang dengan susah payah akhirnya mampu mengumpulkan suaranya. “Apa yang sedang kau lakukan sekarang?”
“Apa lagi?” Randy menatapnya dan memiringkan kepala. “Tentu saja bercinta denganmu.”
“Tapi aku tidak berpikir kita akan secepat ini melaku… hmmpp”
Ucapan Sarah terputus karena ciuman dari Randy.
Sarah kesulitan mengambil napas. Wajah dan tubuhnya terasa begitu panas, dan jantungnya berdebar kencang.
“Randy, tunggu… Aku belum...” Sarah masih berusaha menahan pria itu. Tetapi sia-sia, tampaknya Randy sama sekali tidak berniat mendengarkan Sarah. Dia terfokus dengan hal lain. Ciuman Randy berpindah ke leher Sarah dan menuruninya perlahan.
Satu tangan Randy menyelinap cepat ke balik kaus yang dikenakan Sarah. Wanita itu terkesiap saat Randy menyentuhnya.
Apa ini? Apa yang terjadi? Sarah kebingungan karena ia tak pernah mengalami hal semacam ini. Namun ia tahu Randy tak akan mendengarkan kata-katanya lagi. Maka ia memutuskan untuk melawan dengan tenaganya. Ia mendorong tubuh Randy sekuat tenaga dan menendang kakinya.
Sayangnya, dorongan maupun tendangannya tidak terlalu berefek untuk Randy. Pria itu hanya terdiam sebentar, seolah menyadari perlawanan Sarah, lalu menyeringai. “Ah… kau mulai main kasar rupanya... Ini jadi semakin menarik.”
Dia melepaskan kemeja dan celananya, lalu kembali menyerang Sarah. Malam yang panjang itu pun dimulai.
***
Sinar matahari menembus masuk melalui sela-sela tirai yang tidak tertutup rapat.
Sarah terbangun dan bergerak perlahan. Matanya terasa berat, dan tubuhnya… Astaga, ada apa dengan tubuhnya? Ia merasakan pegal yang luar biasa.
Seketika ingatan tentang kejadian semalam mulai masuk ke dalam otaknya. Sarah menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Wah, gila! Aku benar-benar sudah gila!” ucapnya pada dirinya sendiri.
Dia menoleh dan melihat Randy yang masih tertidur di sisinya. Tampak sangat lelap dan wajahnya yang tampan itu bagai orang yang tak berdosa.
‘Cih!’ Sarah mengumpat dalam hati. ‘Tidak adil kan dia terlihat innocent seperti itu sekarang, setelah semua hal yang dia lakukan semalam?!’
Sarah beringsut turun dari kasur, lalu berjalan ke kamar mandi. Ya sudahlah, mandi dulu saja, sisanya akan dia pikirkan lagi nanti.
Kamar mandi berdinding marmer itu cukup luas, dan ada sebuah bathtub di salah satu sisinya. Sarah mengisi bathtub dengan air hangat, lalu ia melangkah masuk dan menikmati mandi paginya yang menenangkan.
“Hmm… enak juga bisa berendam seperti ini,” gumam Sarah.
Merasakan hangatnya air yang menyentuh kulitnya, dan harumnya aroma lavender dari sabun yang ia gunakan… Sarah menjadi lebih rileks.
Lalu dia pun terlarut dalam pikirannya sendiri. ‘Apa yang akan terjadi pada diriku sekarang? Mungkin saja Randy melakukannya tanpa menginginkan hubungan yang serius. Apa baginya yang semalam itu hanya one night stand? Apa dia hanya bermain-main denganku? Apa dia akan pergi begitu saja meninggalkan aku? Lalu bagaimana denganku? Ini pengalaman pertamaku, jadi aku pasti tidak bisa melupakannya dengan mudah. Apa aku akan mengalami patah hati? Apa ini karma untukku karena kabur meninggalkan keluargaku dan calon suamiku begitu saja?’
Tak terasa waktu berlalu dan Sarah sudah menghabiskan lebih dari setengah jam di dalam kamar mandi. Suara ketukan di pintu membuatnya tersadar kembali.
“Sarah?” panggil Randy.
“Y-ya?” sahutnya kaget. Dia merasa belum siap untuk bicara dengan Randy lagi. Bagaimana caranya menghadapi pria itu setelah malam panas mereka kemarin?
“Kau sedang mandi? Apa masih lama?”
“T-tidak, sebentar lagi aku akan keluar.”
“Aku perlu menggunakan toilet.”
“Oh, oke, sebentar!” Sarah buru-buru beranjak dari bathtub, mengelap tubuhnya dengan handuk, lalu memakai bathrobe yang tersedia di sana.
Dia membuka pintu kamar mandi dan melihat Randy yang tersenyum manis padanya.
Saat mereka berpapasan, Randy sempat memeluk pinggangnya sekilas dan mengecup keningnya. “Pagi, Sayang.”
Sarah hanya terdiam dan menahan napas karena tegang, tak yakin bagaimana harus menanggapinya. Ia baru bisa menghembuskan napasnya lagi setelah Randy masuk dan menutup pintu.
Terduduk di kasur yang super berantakan akibat ulah mereka berdua semalam, membuat Sarah merasa tak nyaman. Dia pun beranjak menghampiri jendela dan membuka tirainya, berusaha mengalihkan perhatiannya ke hal yang lain.
Mereka berada di penthouse suite di lantai 10. Pemandangan di luar jendela mengarah ke sebuah taman yang hijau dan asri. Di latar belakang berdiri puluhan gedung pencakar langit. Kaca-kaca gedung itu memantulkan cahaya matahari. Menyilaukan, tapi juga indah.
Randy keluar dari kamar mandi, masih bertelanjang dada. Otot-otot tubuhnya terlihat dengan jelas. Yah, wajar saja, dia bilang sering berolahraga kan. Sejujurnya pemandangan ini jauh lebih menarik daripada taman indah di luar.
Randy memergoki Sarah yang sedang memperhatikannya. ‘Shit!’ umpat Sarah dalam hati. Dia langsung memalingkan wajah.
“Tidak apa-apa, Sarah. Kau boleh melihatku sepuasmu.” Tawa Randy terdengar renyah.
“Kau salah paham…” Sarah asal bicara.
“Aku salah paham? Coba jelaskan, di bagian mana aku salah?” Randy mulai bergerak mendekati Sarah.
Sarah tidak menjawabnya. Semakin Randy mendekat, semakin ia merasakan debaran jantungnya. ‘Ini bahaya,’ batin Sarah.
“Sepertinya kau menyukai tubuhku? Ya kan, Sayang?” Randy melingkarkan lengannya di leher Sarah, dan mulai menciumnya perlahan, mulai dari pipi menuju ke lehernya.
Sarah bergidik, tiba-tiba kilasan kejadian semalam bermunculan di pikirannya. Ia pun merasa panik. “Randy, jangan…” bisiknya pelan.
“Kenapa? Kau menyukai aku kan? Semalam kau terlihat cukup menikmatinya,” seloroh Randy.
Melihat wajah Sarah yang merona justru membuat Randy semakin ingin menggodanya. Wanita ini memang sungguh menarik.
“Jadi… bagaimana? Kita ulangi lagi sekarang?” lanjut Randy.
“T-tidak! Jangan sekarang!” Sarah buru-buru menjawab. Dia melepaskan dirinya dari rangkulan Randy dan bergerak menjauh.
Mata Randy berbinar. “Jangan sekarang? Lalu kapan?”
Sarah menutup mata dan menarik napas panjang. “Tolong hentikan, Randy. Berhenti menggodaku. Ini sudah mulai siang. Bukankah kau orang yang sibuk? Dan bukankah seharusnya kita turun sarapan?”
Randy terkekeh. “Baiklah… Ayo pergi sarapan. Kau pasti lapar berat setelah pertarungan kita semalam...”
“Bisa berhenti, tidak?” sahut Sarah dengan nada galak, diiringi suara tawa Randy yang semakin keras.
Usai acara, Vicky menghampiri Regina ke kamarnya. Dia memilih untuk melakukan pendekatan yang lebih persuasif. Vicky tipe orang yang lebih suka membujuk secara halus, bukan mendebat lantang seperti kakaknya.“Ibu, apa Ibu lelah hari ini?” tanyanya pelan.“Yah, lumayan,” jawab Regina. “Terutama karena ulah kakakmu itu. Bukan hanya lelah, tapi Ibu jadi sakit kepala juga.”“Sini, Bu... Biar kupijat pundak Ibu, supaya ototnya tidak terlalu tegang.” Vicky menawarkan.“Astaga, kau memang anak yang benar-benar baik ya. Kau selalu memperhatikan Ibu…”Tentu saja Regina tak menolaknya. Terkadang memang putranya memanjakannya seperti ini.Pijatan itu perlahan-lahan membuat Regina rileks. Ototnya tak lagi tegang. Suasana hatinya mulai membaik. Dia menutup mata dan menikmati sekian menit itu berlalu.“Ibu…”“Ya, kenapa?”“Ibu kan tahu, kak Randy memang orang yang keras. Kalau Ibu terus menerus bersitegang dengannya, tak akan ada habisnya, Bu. Itu hanya membuat Ibu lelah saja.”“Bagaimana Ibu tidak
Di hari ulang tahun Regina, Sarah meminta suaminya untuk mengajaknya turut serta.Sesungguhnya Randy merasa berat hati. Setelah acara makan bersama ibunya waktu itu, Randy yakin bahwa Regina tak akan memperlakukan istrinya dengan baik. Apalagi jelas-jelas dia malah memanggil Alana dan membuat kesepakatan dengan keluarganya. Situasinya tak akan menguntungkan bagi Sarah.Randy ingin memberi jeda waktu yang lebih lama… Sampai ibunya itu melunak dan mau berusaha menerima Sarah dengan lapang dada, barulah dia akan mempertemukan mereka lagi.“Aku sendiri saja malas untuk pergi ke sana, Sarah. Bahkan aku sempat berpikir untuk mangkir. Kenapa justru kamu yang bersemangat?” oceh Randy.“Ini ulang tahun ibumu, lho. Kau harus ikut merayakannya kan?”“Ya, aku memang terpaksa harus pergi. Tapi kau kan lebih baik tenang-tenang saja di rumah, daripada harus menghadapi perilaku ibuku yang tak masuk akal.”“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengucapkan selamat padanya, dan juga memberi hadiah yang sudah
Setelah selesai menonton, mereka bertiga pergi untuk makan di sebuah restoran bernuansa alam, dengan panorama yang asri dan suasana yang cukup sejuk.Mereka duduk di sebuah saung yang menghadap langsung ke danau yang luas. Danau itu terisi dengan berbagai jenis ikan yang berlompatan kesana kemari dengan lincah. Sarah terpesona akan pemandangan di hadapannya.Sesekali Vicky mengajak Sarah mengobrol dan bercanda, namun tentunya dari jarak yang tidak terlalu dekat. Karena Vicky juga sadar bahwa kakaknya selalu mengawasi mereka. Jika dia mendekat hingga kurang dari satu meter, pasti akan ada omelan. Vicky tak mau mencari masalah dengan kakaknya. Dia ingin menikmati pengalaman langka yang menyenangkan ini sebaik-baiknya.Sedangkan Randy masih melanjutkan aksi tutup mulutnya. Dia hanya duduk diam sambil memperhatikan istrinya. Terkadang dia menggertakkan gigi karena geram melihat keakraban mereka berdua.‘Kenapa mereka jadi sedekat ini, sih? Memang apa bagusnya Vicky sampai Sarah mau saja m
Hari Sabtu siang. Sarah baru saja menyelesaikan riasan ringannya dan menyemprotkan setting spray ke wajahnya, ketika Randy masuk ke dalam kamar. Dilihatnya istrinya yang tampak cantik dengan off shoulder linen dress berwarna hijau sage yang manis itu. “Kau mau pergi, Sayang?” “Iya. Aku mau pergi nonton. Apa kau mau ikut denganku?” tanya Sarah dengan tatapan menggoda. “Tidak. Untuk apa aku ikut,” tolaknya cepat. “Bersenang-senang lah dengan teman-temanmu…” “Siapa bilang aku pergi dengan teman-temanku?” Randy mulai kelihatan bingung. “Bukan dengan Susan dan Dimas? Lalu dengan siapa?” “Aku pergi dengan adikmu.” Seketika itu juga ekspresi wajah Randy berubah drastis. Dia pun mengomel, “Astaga! Yang benar saja, Sarah?! Kau mau pergi nonton dengan anak itu? Lalu, apa-apaan dandananmu ini? Haruskah kau berdandan kalau hanya untuk bertemu dengannya? Ganti juga gaunmu. Jangan yang memperlihatkan bahu seperti itu. Sekarang kau percaya sekali padanya, ya?” “Makanya aku mengajakmu kan… A
Randy mengerutkan keningnya karena keheranan. “Vicky? Untuk apa kau bertemu dengannya?”Roman wajahnya tampak tidak senang.Ya, sudah pasti dia tidak senang jika Sarah menemui adik yang dibencinya. Tapi Sarah tidak ingin merahasiakan hal ini. Randy berhak untuk tahu.“Aku meminta sarannya untuk mencoba mengambil hati ibumu.”“Buat apa kau mengambil hati ibuku, Sarah? Kau tidak perlu melakukan itu. Aku sendiri yang akan menangani ibuku.”“Tapi aku juga ingin dia menerimaku, Randy.”“Itu sama sekali tidak perlu! Dia mau menerimamu ataupun tidak, itu bukan masalah, Sarah. Dia tidak bisa mengontrol hidup kita. Kita jalani saja hidup seperti biasa. Aku akan memastikan dia tidak mengganggumu.”“Aku tahu kau pasti akan melakukannya. Tapi… tidak ada salahnya kan kalau aku berusaha untuk bersikap baik padanya?” bujuk Sarah.“Kau tidak mengenal dia, Sarah. Ibuku orang yang sangat dominan dan keras. Aku tidak mau kau nantinya tersakiti jika harus menghadapi dia. Biar aku saja yang urus semua ini
Siang itu ketika Sarah sedang mengerjakan laporannya dengan penuh semangat, sebuah pesan dari Vicky masuk di ponselnya.“Kau ada waktu nanti sore? Mau bertemu sebentar untuk membahas rencana kita?”“Memangnya kau punya rencana apa?” balas Sarah.“Ibuku berulang tahun sebentar lagi. Bagaimana kalau kau memberinya sebuah hadiah? Aku tahu apa yang ibuku sukai.”Sarah berpikir sejenak. Hmm, ide Vicky tidak buruk juga. Setidaknya dia memang harus berusaha melakukan sesuatu untuk mendekati ibu mertuanya itu kan?“Baiklah. Mari bertemu.”***Sewaktu Sarah tiba di cafe tempat pertemuan mereka, Vicky sudah berada di sana. Dia duduk sendirian di kursi dekat jendela, sambil menikmati minumannya.Sarah melangkah mendekat. Dan saat Vicky menyadari ada bayangan seseorang di dekatnya, dia pun mendongakkan kepala.“Hai, Kakak Ipar! Apa kabar?” sapanya riang.“Berhenti memanggilku seperti itu,” komplain Sarah sembari menarik kursi dan duduk.“Kenapa kau tidak suka kupanggil begitu?”“Usiaku kan lebih







