LOGINDi luar perkiraan Sarah, ternyata dirinya mampu bersikap tenang saat sarapan bersama Randy. Mungkin karena sejak keluar dari kamar hotel mereka, Randy pun hanya mengajaknya bicara tentang hal-hal yang ringan, tidak lagi terang-terangan menggodanya.
“Apa kau suka sarapan ini?” tanya Randy perhatian.
Sarah mengangguk. “Iya, semuanya enak. Aku suka.”
“Kalau ada yang kau inginkan lagi, katakan saja. Aku akan mengambilkannya untukmu.”
“Itu tidak perlu. Sudah terlalu banyak. Sepertinya aku tidak bisa nambah lagi.”
Sejak tadi memang Randy yang bolak-balik mengambilkan berbagai jenis makanan dan minuman untuk Sarah. Ia tampak begitu memanjakan Sarah.
Sudah lama Sarah tidak makan sebanyak ini untuk sarapan. Bahkan seringkali dia melewatkan sarapan dan baru makan di jam 12 siang, demi alasan penghematan tentu saja.
“Oh ya Sarah, seperti yang kamu sudah tahu, siang ini aku akan berangkat ke Hong Kong…” Randy membuka percakapan kembali.
Sarah merasa lidahnya kelu.
‘Nah ini dia… Ini hal yang tidak terelakkan. Apakah Randy akan mengucapkan kata-kata perpisahan sekarang?’ batin Sarah sedih. Baru saja dia mulai merasa dekat dengan Randy, dan kini pria itu sudah harus pergi.
“… Dan aku sudah memikirkannya, bagaimana kalau kau ikut denganku?” lanjut Randy.
“Apaaa???” Sarah terbelalak. Ia tak percaya apa yang ia dengar. Ucapan Randy jauh berbeda dari pemikirannya.
“Kamu tidak mau?” Randy tampak sedikit kecewa dengan reaksi Sarah. “Yah, aku tak akan memaksamu, tapi… kupikir akan menyenangkan jika kita bisa saling mengenal lebih dekat.”
“Bukan! Bukan aku tidak mau!” sahut Sarah cepat.
Ups, Sarah merasa dirinya terlalu bersemangat. Tapi ia hanya tak ingin Randy salah paham.
Seutas senyum muncul di wajah Randy. “Jadi kau mau?”
“Ehm… sebenarnya bukan masalah aku mau atau tidak mau.” Sarah berusaha bicara dengan nada cool kembali. “Tapi begini… Kau juga kan tahu aku belum bekerja, jadi uangku terbatas…”
“Aku tidak membahas masalah uang, Sarah. Tentu saja aku yang akan membayarnya. Yang aku ingin tahu, apa kau mau pergi bersamaku?” ucap Randy lembut.
Sarah melongo. “Kau yang akan membayar semua biayanya?”
Randy tertawa. “Tentu saja. Ketika aku mengajakmu, berarti aku sudah siap membayar. Kau tidak perlu memikirkan hal itu.”
“Wah…” Sarah masih speechless.
“Kau belum menjawabku, Sarah…” Randy mengulurkan tangan, meraih tangan Sarah yang berada di atas meja, lalu menarik tangan itu ke bibirnya dan menciumnya. “Yes or no?”
“Yes, aku mau,” jawab Sarah akhirnya.
***
Sarah kembali ke hostel untuk check out, mengambil uang deposit dan juga beberapa stel pakaiannya yang ada di loker. Memang hanya pakaian itulah barang-barang Sarah, yang ia beli di sebuah toko baju murah di Bugis street. Karena saat kabur dari Jakarta dia cuma membawa dompet, ponsel dan paspornya.
Dan ternyata, tak memiliki barang bawaan seperti ini ada bagusnya juga. Dia tak membutuhkan waktu lama untuk packing.
Tiket penerbangan ke Hong Kong sudah dibeli oleh Randy. Dan inilah perjalanan impulsif Sarah yang berikutnya… mengikuti seorang pria yang ia sukai ke negara yang bahkan tak pernah ia pikirkan sebelumnya.
Sarah terkekeh sendiri. Dia tak menyangka kehidupannya jadi se-spontan ini. Ia melangkah tanpa berpikir… hanya mengikuti ke mana takdir akan membawanya. Namun sejujurnya ini hal yang menantang. Ia merasa antusias untuk melihat kejutan apa lagi yang akan terjadi dalam hidupnya yang selama ini terasa membosankan. Ia bagaikan berada dalam sebuah petualangan yang baru.
Randy menunggunya di depan hostel. Ketika Sarah keluar, dia meraih tas Sarah untuk membawakannya.
“Hanya segini barang bawaanmu?” tanyanya heran seraya mengangkat tas kain yang tampak terisi sepertiganya saja.
“Iya. Aku suka kepraktisan. Aku tak suka membawa banyak barang,” jawab Sarah sekenanya. Tidak mungkin dia bilang bahwa dia kabur tanpa sempat membawa barang-barangnya kan?
Randy tersenyum penuh arti. “Baiklah. Aku suka wanita yang praktis.”
Mereka berdua menaiki sebuah taksi, dan segera menuju ke airport. Perjalanan hari itu lancar, sama sekali tak ada kemacetan. Langit pun terlihat cerah, dengan semburat awan putih tipis di beberapa bagian.
“Cuacanya bagus untuk terbang,” komentar Sarah.
“Syukurlah. Karena aku juga tidak terlalu suka turbulensi di dalam pesawat.”
Sarah tersenyum kecil. “Mana mungkin ada orang yang suka...”
Sekitar setengah jam kemudian, mereka tiba di Changi airport. Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Penerbangan mereka di pukul 3.15.
“Sepertinya kita agak mepet ya? Apa sempat jika kita mampir melihat-lihat Jewel Rain Vortex?” Sarah tiba-tiba teringat ada tempat dalam bucket list-nya yang belum sempat ia kunjungi.
Randy menatap jam tangannya, lalu menggeleng sambil tersenyum. “Maaf, Sayang. Sepertinya tidak bisa. Next time saja ya kita datang lagi ke sini.”
“Kau mau ke sini lagi bersamaku?”
“Of course! Nanti aku akan sesuaikan jadwalku. Aku akan sangat senang pergi kemana pun bersama kekasihku,” ucap Randy ringan sambil meraih kopernya, lalu bergegas masuk ke bandara.
Sarah otomatis melangkah mengikutinya, dengan pikiran yang agak kosong.
‘Kekasihnya? Dia menganggap aku kekasihnya sekarang??’ Sebuah senyum merekah di bibir Sarah. ‘Ah, ternyata jatuh cinta seindah ini.’
***
Sarah menghabiskan hari-hari indah bersama Randy di Hong Kong selama satu minggu. Mereka menghabiskan setiap pagi bercengkerama dan bercanda ringan, lalu Randy pergi mengurus bisnisnya, dan di malam hari barulah mereka bisa menghabiskan waktu bersama lagi.
Siang hari saat Randy sibuk dengan pekerjaannya, Sarah menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan sendirian. Ia bersemangat menjelajahi kota yang baru, negara yang baru. Walau dia sedikit kesulitan karena perbedaan bahasa, tetapi dengan ponselnya dia bisa mengatasi hal itu. Sama sekali tak ada masalah.
Sebelas hari kebersamaannya dengan Randy membuat Sarah merasa semakin nyaman. Dia yakin bahwa pria ini adalah cinta sejatinya... Walaupun sesungguhnya dia tak mengerti apa itu definisi cinta sejati. Yang dia ketahui adalah perasaannya sendiri. Dia menyukai Randy. Dia ingin selalu bersama dengan Randy. Hanya itu.
Vicky melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang kerja kakaknya dengan ekspresi murung.Wajahnya tampak pucat dan lesu. Pikirannya kacau. Dia juga mengalami insomnia semalam, hingga bayangan lingkaran hitam samar muncul di sekeliling matanya.Randy yang melihatnya pun langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang tak beres.“Duduklah,” kata Randy dengan tenang ketika Vicky sudah berada di dekat mejanya. “Kau mau minum?”“Tidak, tidak,” tolaknya cepat seraya menarik kursi di hadapan kakaknya dan duduk. “Aku hanya ingin bicara.”“Oke,” ucap Randy sambil menautkan jari jemarinya di atas meja. “Ada masalah apa?”Vicky menarik napas panjang dan memberi jeda selama beberapa detik sebelum berkata, “Kau pasti sudah tahu kan, Kak?”“Tentang apa?” tanya Randy waspada.“Tentang ayahku,” jawabnya dengan suara tercekat. Dia merasa seolah tenggorokannya tersumbat. Dia berusaha menahan emosinya sebisa mungkin, agar dapat berbicara dengan kepala dingin.Barulah Randy memahami apa yang sedang dialami adiknya
Tentu saja emosi Sarah meledak saat menghadapi ibunya. Apalagi Miranda tetap bersikeras bahwa dia sama sekali tidak melakukan kesalahan.“Memang apa salahnya? Suamimu sendiri rela memberikan semua barang itu. Ibu tidak pernah memaksanya!” protes Miranda kesal.“Ya walaupun begitu, tahu diri sedikit lah, Bu. Jangan memanfaatkannya seperti ini. Aku tidak suka Ibu melakukannya. Aku kan sudah pernah memperingatkan Ibu!” sahut Sarah.“Kau jadi sombong sekali ya, Sarah?! Kau bilang Ibu tidak tahu diri hanya karena Ibu menerima beberapa benda itu?!” Mata Miranda memerah dan dia menatap Sarah dengan murka. “Sekarang kau bisa hidup bersenang-senang bergelimang harta… Kau bisa tinggal di rumah yang bagus… Suamimu membelikanmu mobil, dan mungkin juga barang apa pun yang kau inginkan… Tapi kau bahkan tidak rela jika Ibu mendapatkan sebagian kecil dari itu?! Kau ingin menikmati semuanya seorang diri? Egois sekali! Apa kau tidak pernah memikirkan seberapa besar pengorbanan Ibu untukmu selama ini? M
Satu minggu kemudian.Sarah datang berkunjung ke rumah orang tuanya. Beberapa hari yang lalu Steven menelepon, menanyakan kabarnya, lalu berkata bahwa mereka sudah lama tak bertemu. Sarah menangkap nada kerinduan di dalam suaranya. Maka dia pun memutuskan untuk segera mengunjungi ayahnya.Memang sudah cukup lama sejak terakhir kali mereka bertemu. Sesungguhnya Sarah juga merasa sedikit bersalah karena tidak berinisiatif untuk datang lebih awal. Kenapa dia harus menunggu hingga Ayah menghubunginya? Dia terlalu terfokus dengan rutinitas sehari-hari, sampai melupakan bahwa ada seseorang yang menunggunya untuk memberi kabar.Dia pun berniat dalam hati... ke depannya, dia akan bersikap lebih proaktif terhadap orang tuanya.Steven yang membukakan pintu, serta merta memeluk erat putri kesayangannya itu. “Akhirnya kau datang juga, Sarah.”“Hai, Ayah! Maaf ya, aku baru datang sekarang.”“Tidak apa-apa. Ayo, masuklah,” ucap Steven. “Kau datang sendirian?”“Iya. Randy sedang ada urusan pekerjaan
Sarah terbangun di kamar yang beratap kayu dan jerami, dengan tirai putih bersih yang bergoyang pelan karena tertiup angin sepoi-sepoi.Sejenak dia sempat linglung dan berpikir, ‘Aku di mana?’Dia bergerak untuk duduk, mengusap matanya beberapa kali agar dapat melihat dengan lebih jelas. Dia memandang ke sekitarnya dan melihat berbagai ukiran estetik, pintu gebyok bergambar wayang dengan warna coklat keemasan, serta dekorasi payung khas Bali yang berada di salah satu sudut ruangan.‘Ah, iya! Aku sedang berada di villa di Bali,’ pikirnya. ‘Lalu di mana suamiku?’Ruangan itu tampak kosong. Dia hanya seorang diri di sana.Sambil bergerak perlahan, Sarah turun dari tempat tidur dan berjalan mendekat ke jendela yang sedikit terbuka. Dia mendorong daun jendela itu agar dapat melihat pemandangan yang lebih luas. Dalam sekejap udara segar dan aroma harum pepohonan menembus masuk ke dalam kamar. Sangat menenangkan dan terasa nyaman.Awalnya pandangan Sarah tertuju ke taman asri yang berada di
Ronde ketiga dimulai.Tim mereka beranjak maju perlahan sambil menembak secara teratur, hanya untuk menahan dan menghalangi pergerakan lawan. Tidak ada yang berlari cepat ke arah bendera seperti yang Mario lakukan di dua babak awal.Satu orang dari tim lawan telah berlari maju terlebih dahulu. Dan mereka mengira bahwa di babak ini mereka lebih unggul. Well, terlalu cepat untuk menyimpulkan.Karena sesungguhnya, Randy juga telah merangkak maju di tanah di sisi terluar arena, tanpa ada lawan yang menyadarinya. Dia bergerak cepat hingga ke bagian tengah arena. Setelah dia berada cukup dekat, barulah kemudian dia bangkit berdiri dan serta merta berlari menghampiri bendera.Begitu melihat Randy yang sedang berlari, hampir seluruh anggota tim melaju dan melepaskan tembakan dengan brutal, mengakibatkan pelari lawan harus menunduk bersembunyi dan tidak bisa bergerak sama sekali.Demikianlah mereka berhasil merebut bendera terakhir, dan memenangkan pertandingan itu.Susan melompat bahagia dan
Siang itu mereka semua berkumpul di sebuah lokasi untuk kegiatan team building. Ternyata aktivitas yang telah disiapkan oleh panitia ialah paint ball.Sarah sedikit terkejut saat mendengar tentang gambaran kegiatan yang akan mereka lakukan itu.First of all, tentu saja, karena dia tidak memiliki pengalaman sama sekali. Dia bahkan tidak pernah bermain game menembak, atau game apa pun. Jadi bagaimana mungkin dia bisa menembak lawan tepat sasaran? Sepertinya itu merupakan hal yang mustahil.Lalu yang kedua, dia yakin dia pasti akan merasa ketakutan ketika harus berhadapan face to face dengan lawan yang memegang senjata semacam itu. Jangankan menembak dengan tepat... jika dia mampu mengalahkan ketakutannya sendiri dan menarik pelatuk saja itu sudah sangat bagus.Sedikit khawatir, dia berujar pelan pada Susan. “Sepertinya aku akan jadi pemain yang paling payah,” ucapnya jujur.Susan pun tertawa. “Sama saja denganku. Aku jug
“Bagaimana pembicaraannya tadi?” tanya Randy penasaran saat menjemput Sarah. “Lancar. Aku sudah berdamai dengan Ayah.” Sarah menjawab dengan wajah berseri-seri. “Lalu, Ayah bilang dia menyetujui pernikahan kita.” “Benarkah?” Randy pun ikut tersenyum. “Iya. Katanya mulai sekarang dia mendukung pil
Randy mengantar Sarah untuk bertemu dengan Steven di sebuah coffee shop yang berada tidak jauh dari toko tempat ayahnya itu bekerja. Steven tersenyum lebar melihat kedatangan Sarah. Namun senyum itu segera memudar ketika dia juga melihat Randy yang datang bersamanya. Steven penuh dengan kewaspadaan
Di akhir pekan berikutnya, Sarah dan Reina bertemu di sebuah cafe outdoor dengan pemandangan taman yang asri. Mereka duduk di bangku anyaman yang estetik dan menikmati makan siang dengan beragam hidangan seafood. Ketika mereka sedang asyik bersenda gurau, seorang wanita menghampiri meja mereka, dan
Sebelum Sarah sempat menceritakan apapun kepada suaminya, Randy telah mengetahuinya terlebih dulu.Julio yang sering berinteraksi dengan para manajer di sana, tentu saja mendapatkan informasi mengenai rumor yang menghebohkan seisi kantor itu. Julio segera menanggapinya dengan serius. Apalagi masalah







