Share

Bab 6

Penulis: Blue Moon
last update Tanggal publikasi: 2025-05-15 22:24:42

Di luar perkiraan Sarah, ternyata dirinya mampu bersikap tenang saat sarapan bersama Randy. Mungkin karena sejak keluar dari kamar hotel mereka, Randy pun hanya mengajaknya bicara tentang hal-hal yang ringan, tidak lagi terang-terangan menggodanya.

“Apa kau suka sarapan ini?” tanya Randy perhatian.

Sarah mengangguk. “Iya, semuanya enak. Aku suka.”

“Kalau ada yang kau inginkan lagi, katakan saja. Aku akan mengambilkannya untukmu.”

“Itu tidak perlu. Sudah terlalu banyak. Sepertinya aku tidak bisa nambah lagi.”

Sejak tadi memang Randy yang bolak-balik mengambilkan berbagai jenis makanan dan minuman untuk Sarah. Ia tampak begitu memanjakan Sarah.

Sudah lama Sarah tidak makan sebanyak ini untuk sarapan. Bahkan seringkali dia melewatkan sarapan dan baru makan di jam 12 siang, demi alasan penghematan tentu saja.

“Oh ya Sarah, seperti yang kamu sudah tahu, siang ini aku akan berangkat ke Hong Kong…” Randy membuka percakapan kembali.

Sarah merasa lidahnya kelu.

‘Nah ini dia… Ini hal yang tidak terelakkan. Apakah Randy akan mengucapkan kata-kata perpisahan sekarang?’ batin Sarah sedih. Baru saja dia mulai merasa dekat dengan Randy, dan kini pria itu sudah harus pergi.

“… Dan aku sudah memikirkannya, bagaimana kalau kau ikut denganku?” lanjut Randy.

“Apaaa???” Sarah terbelalak. Ia tak percaya apa yang ia dengar. Ucapan Randy jauh berbeda dari dugaannya.

“Kamu tidak mau?” Randy tampak sedikit kecewa dengan reaksi Sarah. “Yah, aku tak akan memaksamu, tapi… kupikir akan menyenangkan jika kita bisa saling mengenal lebih dekat.”

“Bukan! Bukannya aku tidak mau!” sahut Sarah cepat.

Ups, Sarah merasa dirinya terlalu bersemangat. Dia menjawab terlampau cepat. Tapi ia hanya tak ingin Randy salah paham.

Seutas senyum muncul di wajah Randy. “Jadi kau mau?”

“Ehm… sebenarnya bukan masalah aku mau atau tidak mau.” Sarah berusaha bicara dengan nada cool kembali. “Tapi begini… Kau juga kan tahu aku belum bekerja, jadi uangku terbatas…”

“Aku tidak membahas masalah uang, Sarah. Tentu saja aku yang akan membayarnya. Yang aku ingin tahu, apa kau mau pergi bersamaku?” ucap Randy lembut.

Sarah melongo. “Kau yang akan membayar semua biayanya?”

Randy tertawa. “Tentu saja. Ketika aku mengajakmu, berarti aku sudah siap membayar. Kau tidak perlu memikirkan hal itu.”

“Wah…” Sarah masih speechless.

“Kau belum menjawabku, Sarah…” Randy mengulurkan tangan, meraih tangan Sarah yang berada di atas meja, lalu menarik tangan itu ke bibirnya dan menciumnya. “Yes or no?”

“Yes, aku mau,” jawab Sarah akhirnya.

***

Sarah kembali ke hostel untuk check out, mengambil uang deposit dan juga beberapa stel pakaiannya yang ada di loker. Memang hanya pakaian itulah barang-barang Sarah, yang ia beli di sebuah toko baju murah di Bugis street. Karena saat kabur dari Jakarta dia cuma membawa dompet, ponsel dan paspornya.

Tapi ternyata, tak memiliki barang bawaan seperti ini ada bagusnya juga. Dia tak membutuhkan waktu lama untuk packing.

Tiket penerbangan ke Hong Kong sudah dibeli oleh Randy.

Dan inilah perjalanan impulsif Sarah yang berikutnya… mengikuti seorang pria yang ia sukai ke negara yang bahkan tak pernah ia pikirkan sebelumnya.

Sarah terkekeh sendiri. Dia tak menyangka kehidupannya jadi se-spontan ini.

Ia melangkah tanpa berpikir… hanya mengikuti ke mana takdir akan membawanya. Namun sejujurnya ini hal yang menantang. Ia merasa antusias untuk melihat kejutan apa lagi yang akan terjadi dalam hidupnya yang selama ini terasa membosankan. Ia bagaikan berada dalam sebuah petualangan yang baru.

Randy menunggunya di depan hostel. Ketika Sarah keluar, dia meraih tas Sarah untuk membawakannya.

“Hanya segini barang bawaanmu?” tanyanya heran seraya mengangkat tas kain yang tampak terisi sepertiganya saja.

“Iya. Aku suka kepraktisan. Aku tak suka membawa banyak barang,” jawab Sarah sekenanya. Tidak mungkin dia bilang bahwa dia kabur tanpa sempat membawa barang-barangnya kan?

Randy tersenyum penuh arti. “Baiklah. Aku suka wanita yang praktis.”

Mereka berdua menaiki sebuah taksi, dan segera menuju ke airport. Perjalanan hari itu lancar, sama sekali tak ada kemacetan. Langit pun terlihat cerah, dengan semburat awan putih tipis di beberapa bagian.

“Cuacanya bagus untuk terbang,” komentar Sarah.

“Syukurlah. Karena aku juga tidak terlalu suka turbulensi di dalam pesawat.”

Sarah tersenyum kecil. “Mana mungkin ada orang yang suka...”

Sekitar setengah jam kemudian, mereka tiba di Changi airport. Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Penerbangan mereka di pukul 3.15.

“Sepertinya kita agak mepet ya? Apa sempat jika kita mampir melihat-lihat Jewel Rain Vortex?” Sarah tiba-tiba teringat ada tempat dalam bucket list-nya yang belum sempat ia kunjungi.

Randy menatap jam tangannya sekilas, lalu menggeleng sambil tersenyum. “Maaf, Sayang. Sepertinya tidak bisa. Next time saja ya kita datang lagi ke sini.”

“Kau mau ke sini lagi bersamaku?”

“Of course! Nanti aku akan sesuaikan jadwalku. Aku akan sangat senang pergi kemana pun bersama kekasihku,” ucap Randy ringan sambil meraih kopernya, lalu bergegas masuk ke bandara.

Sarah otomatis melangkah mengikutinya, dengan pikiran yang agak kosong.

‘Kekasihnya? Dia menganggap aku kekasihnya sekarang??’ Sebuah senyum merekah di bibir Sarah. ‘Ah, ternyata jatuh cinta seindah ini.’

***

Sarah menghabiskan hari-hari indah bersama Randy di Hong Kong selama satu minggu. Mereka menghabiskan setiap pagi bercengkerama dan bercanda ringan, lalu Randy pergi mengurus bisnisnya, dan di malam hari barulah mereka bisa menghabiskan waktu bersama lagi.

Siang hari saat Randy sibuk dengan pekerjaannya, Sarah menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan sendirian. Ia bersemangat menjelajahi kota yang baru, negara yang baru. Walau dia sedikit kesulitan karena perbedaan bahasa, tetapi dengan ponselnya dia bisa mengatasi hal itu. Sama sekali tak ada masalah.

Sebelas hari kebersamaannya dengan Randy membuat Sarah merasa semakin nyaman. Dia yakin bahwa pria ini adalah cinta sejatinya... Walaupun sesungguhnya dia tak mengerti apa itu definisi cinta sejati. Yang dia ketahui adalah perasaannya sendiri. Dia menyukai Randy. Dia ingin selalu bersama dengan Randy. Hanya itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 105 (Tamat)

    Beberapa hari kemudian, Miranda datang ke rumah. Awalnya dia menyampaikan permintaan maaf kepada Sarah, karena telah meminta hal yang berlebihan dari menantunya. Miranda tidak sepenuhnya merasa bersalah. Tetapi, karena berbagai teguran dan tekanan dari Steven, akhirnya dia pun bersedia mengalah. Dia memilih untuk menjaga hubungan baik dengan putrinya. Sudah pasti Sarah menerima permintaan maaf ibunya dengan tulus hati. Sarah pun berjanji untuk tidak mempermasalahkan hal itu lagi, jika Ibu memang tidak mengulangi kesalahan yang sama. Pembicaraan mereka berlanjut dengan cukup positif… Hingga di satu titik, mereka kembali berdebat, “Kapan kau akan berusaha untuk punya anak lagi, Sarah? Sudah cukup lama sejak kau keguguran waktu itu kan? Bukankah seharusnya sudah boleh?” Pertanyaan itulah yang seketika mengubah atmosfer di antara mereka. “Secara medis memang boleh, Bu. Tapi aku belum mau memikirkan itu. Aku ingin fokus untuk menjaga kesehatan mental dan kestabilan emosiku dulu.

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 104

    Hari-hari terus berlalu dengan semua rutinitas mereka masing-masing. Randy lebih banyak menghabiskan waktu untuk menjalankan perusahaan asset management yang ditinggalkan oleh ibunya, dengan dibantu oleh Vicky yang perlahan-lahan mempelajari kegiatan operasional di sana. Otomatis Randy pun jarang datang ke perusahaannya sendiri. Segala kebijakan dan strategi krusial perusahaan diserahkan ke tangan Alana yang didapuk menjadi pimpinan tertinggi. Awalnya Alana merasa keberatan, karena dia yang merupakan karyawan baru sudah diberi tanggung jawab sebesar itu. Namun dengan sifat Alana yang pada dasarnya memang ambisius dan menyukai tantangan, tentu saja dia tidak mundur. Dia gigih dan berusaha keras untuk memenuhi tugas barunya. Dia merasa ini lah saatnya untuk membuktikan diri... bahwa seorang wanita yang dahulu diremehkan di dalam keluarganya sendiri, kini mampu menduduki jabatan puncak dalam sebuah perusahaan. Dia akan menunjukkan kualitasnya dan menampilkan performa yang terbaik.

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 103

    Vicky melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang kerja kakaknya dengan ekspresi murung.Wajahnya tampak pucat dan lesu. Pikirannya kacau. Dia juga mengalami insomnia semalam, hingga bayangan lingkaran hitam samar muncul di sekeliling matanya.Randy yang melihatnya pun langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang tak beres.“Duduklah,” kata Randy dengan tenang ketika Vicky sudah berada di dekat mejanya. “Kau mau minum?”“Tidak, tidak,” tolaknya cepat seraya menarik kursi di hadapan kakaknya dan duduk. “Aku hanya ingin bicara.”“Oke,” ucap Randy sambil menautkan jari jemarinya di atas meja. “Ada masalah apa?”Vicky menarik napas panjang dan memberi jeda selama beberapa detik sebelum berkata, “Kau pasti sudah tahu kan, Kak?”“Tentang apa?” tanya Randy waspada.“Tentang ayahku,” jawabnya dengan suara tercekat. Dia merasa seolah tenggorokannya tersumbat. Dia berusaha menahan emosinya sebisa mungkin, agar dapat berbicara dengan kepala dingin.Barulah Randy memahami apa yang sedang dialami adiknya

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 102

    Tentu saja emosi Sarah meledak saat menghadapi ibunya. Apalagi Miranda tetap bersikeras bahwa dia sama sekali tidak melakukan kesalahan.“Memang apa salahnya? Suamimu sendiri rela memberikan semua barang itu. Ibu tidak pernah memaksanya!” protes Miranda kesal.“Ya walaupun begitu, tahu diri sedikit lah, Bu. Jangan memanfaatkannya seperti ini. Aku tidak suka Ibu melakukannya. Aku kan sudah pernah memperingatkan Ibu!” sahut Sarah.“Kau jadi sombong sekali ya, Sarah?! Kau bilang Ibu tidak tahu diri hanya karena Ibu menerima beberapa benda itu?!” Mata Miranda memerah dan dia menatap Sarah dengan murka. “Sekarang kau bisa hidup bersenang-senang bergelimang harta… Kau bisa tinggal di rumah yang bagus… Suamimu membelikanmu mobil, dan mungkin juga barang apa pun yang kau inginkan… Tapi kau bahkan tidak rela jika Ibu mendapatkan sebagian kecil dari itu?! Kau ingin menikmati semuanya seorang diri? Egois sekali! Apa kau tidak pernah memikirkan seberapa besar pengorbanan Ibu untukmu selama ini? M

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 101

    Satu minggu kemudian.Sarah datang berkunjung ke rumah orang tuanya. Beberapa hari yang lalu Steven menelepon, menanyakan kabarnya, lalu berkata bahwa mereka sudah lama tak bertemu. Sarah menangkap nada kerinduan di dalam suaranya. Maka dia pun memutuskan untuk segera mengunjungi ayahnya.Memang sudah cukup lama sejak terakhir kali mereka bertemu. Sesungguhnya Sarah juga merasa sedikit bersalah karena tidak berinisiatif untuk datang lebih awal. Kenapa dia harus menunggu hingga Ayah menghubunginya? Dia terlalu terfokus dengan rutinitas sehari-hari, sampai melupakan bahwa ada seseorang yang menunggunya untuk memberi kabar.Dia pun berniat dalam hati... ke depannya, dia akan bersikap lebih proaktif terhadap orang tuanya.Steven yang membukakan pintu, serta merta memeluk erat putri kesayangannya itu. “Akhirnya kau datang juga, Sarah.”“Hai, Ayah! Maaf ya, aku baru datang sekarang.”“Tidak apa-apa. Ayo, masuklah,” ucap Steven. “Kau datang sendirian?”“Iya. Randy sedang ada urusan pekerjaan

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 100

    Sarah terbangun di kamar yang beratap kayu dan jerami, dengan tirai putih bersih yang bergoyang pelan karena tertiup angin sepoi-sepoi.Sejenak dia sempat linglung dan berpikir, ‘Aku di mana?’Dia bergerak untuk duduk, mengusap matanya beberapa kali agar dapat melihat dengan lebih jelas. Dia memandang ke sekitarnya dan melihat berbagai ukiran estetik, pintu gebyok bergambar wayang dengan warna coklat keemasan, serta dekorasi payung khas Bali yang berada di salah satu sudut ruangan.‘Ah, iya! Aku sedang berada di villa di Bali,’ pikirnya. ‘Lalu di mana suamiku?’Ruangan itu tampak kosong. Dia hanya seorang diri di sana.Sambil bergerak perlahan, Sarah turun dari tempat tidur dan berjalan mendekat ke jendela yang sedikit terbuka. Dia mendorong daun jendela itu agar dapat melihat pemandangan yang lebih luas. Dalam sekejap udara segar dan aroma harum pepohonan menembus masuk ke dalam kamar. Sangat menenangkan dan terasa nyaman.Awalnya pandangan Sarah tertuju ke taman asri yang berada di

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 87

    Di hari Minggu yang cerah, Regina terbangun pukul 9, lalu dia segera mandi dan bersiap-siap untuk pergi.Setelah mengenakan knit dress hitam favoritnya, Regina duduk di depan meja rias. Dia berdandan sambil bersenandung.Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Dan Marcel berjalan masuk mendekatinya.Regina t

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 86

    Melalui kaca spion tengah, Hadi memperhatikan Regina yang terduduk lesu di kursi belakang. Regina tampak tidak sehat. Wajahnya sayu dan pucat.“Anda baik-baik saja, Bu Regina?” tanya Hadi sopan.“Ya,” jawab Regina singkat. Dia tidak menoleh sama sekali. Dia tetap termenung memandang ke luar jendela

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 85

    Malam itu Regina tidak bisa tidur. Di atas ranjangnya, pikirannya melayang ke sana kemari. Dia tenggelam dalam lamunannya sendiri. Pembicaraan dengan putra pertamanya tadi siang terngiang kembali di dalam kepalanya. Benarkah dia tidak mau memberi Vicky kesempatan? Memang, Vicky sudah menyatakan d

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 84

    Dua bulan telah berlalu sejak peristiwa yang menyayat hati itu. Perlahan-lahan, kehidupan Sarah dan Randy kembali berjalan normal. Sarah sudah kembali bekerja. Randy pun kembali disibukkan dengan berbagai jadwal di perusahaan Regina, selain aktivitas di kantornya sendiri, tentu saja. Mereka mulai

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status