Share

Bab 62

Author: Blue Moon
last update publish date: 2026-04-04 00:58:30
Sepulangnya Randy dari perjalanan bisnisnya, hal yang tak terduga pun terjadi. Regina mengundang Sarah untuk menikmati afternoon tea di rumahnya.

“Aku tak tahu apakah ini hal yang baik atau bukan,” ucap Sarah jujur.

“Tentu saja hal yang baik dong, Sayang,” kata Randy percaya diri.

“Benarkah? Menurutmu begitu?”

“Dia sudah setuju untuk bersikap baik padamu. Kalau sampai dia melanggar, aku tak akan memaafkannya,” sahut Randy. “Kau tenang saja, Sarah. Aku tahu ibuku orang yang berdedikasi ti
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 65

    Dengan hati-hati Julio mengompres pergelangan kaki Alana yang mulai membengkak. Wanita itu sudah tertidur sejak tadi, sehabis kelelahan menangis.Setelah dia membalut kaki Alana dengan perban yang dibelinya tadi, Julio pun duduk di sofa.‘Aku mau memejamkan mata dulu sebentar. Lima belas menit lagi aku akan pulang,’ pikir Julio.***Keesokan harinya Alana terbangun di kamar yang tak dikenalnya.Sedikit kebingungan, dia menatap sekeliling. Lalu dilihatnya Julio yang tertidur dengan kepala menengadah di sofa.‘Hah?! Kenapa aku berada di sini dengannya?’Alana berusaha mengingat-ingat kembali apa yang terjadi semalam. Dan perlahan, semua memori itu pun muncul.Dia ingat bahwa Julio menggendongnya yang tak sanggup berjalan, masuk ke dalam cafe untuk membayarkan minumannya, lalu dia melakukan check in dan membawanya ke dalam kamar hotel. Setelah mendudukkan Alana di tempat tidur, pria itu bilang akan pergi membeli kantong es untuk mengompresnya. Dan ingatan terakhir Alana terhenti di sana.

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 64

    Alana terduduk lunglai di cafe sebuah hotel bintang lima di lantai 32. Pemandangan kota di hadapannya tampak indah. Suasana di dalam cafe juga romantis dengan warm light dan alunan musik akustik yang pelan. Alana dapat melihat beberapa pasangan yang menikmati candle light dinner mereka di sana. Mereka tampak bahagia.‘Tidak sepertiku.’ Alana tersenyum kecut.Dia meraih gelas kristalnya yang berisi Sauvignon red wine. Entah ini sudah gelas keberapa yang diteguknya, Alana tak menghitungnya lagi.Hidupnya pasti terlihat sempurna di mata banyak orang. Keluarga kaya, intelektual, bertalenta, berprestasi. Dia pun sadar bahwa penampilan fisiknya jauh di atas rata-rata. ‘Lalu mengapa aku tidak bahagia?’ batinnya sedih.Hari ini dia menerima kabar buruk dari Ayahnya. Yaitu bahwa Ayah telah memutuskan untuk memberikan posisi Direktur Pelaksana kepada putra keduanya. Itu adalah posisi yang sudah Alana inginkan sejak lama. Dia telah bekerja sangat keras untuk mencapainya. Dan Alana tahu, dirinya

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 63

    Sejak pertemuan mereka di hari itu, perubahan sikap Regina benar-benar nyata. Dia mulai mengirimkan berbagai macam hadiah ke rumah Randy. Sebagian besar merupakan perlengkapan bayi. Dari baby crib, selimut dan perlengkapan tidur, mainan, hingga lusinan pakaian yang manis, topi, sarung tangan dan sarung kaki...Sarah terkejut melihat semua hadiah yang memenuhi ruang tamunya ini.“Sayang, ini terlalu berlebihan kan?” ucap Sarah pada suaminya.Randy tertawa geli. “Biarkan saja, Sarah. Aku lebih suka Ibu yang sibuk memilih hadiah, daripada Ibu yang berusaha memisahkan kita seperti sebelumnya.”“Kita bahkan belum tahu bayinya laki-laki atau perempuan…” Sarah menunjuk ke tumpukan pakaian-pakaian tersebut. Baik pakaian untuk bayi laki-laki maupun perempuan sudah tersedia di sana.“Tidak masalah, Sayang. Karena kita sudah mendapatkan kedua jenisnya, nanti kita singkirkan saja barang-barang yang tak terpakai.”“Iya, tapi ini pemborosan kan?” ujar Sarah lagi. “Tolong sampaikan pada Ibu, jangan

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 62

    Sepulangnya Randy dari perjalanan bisnisnya, hal yang tak terduga pun terjadi. Regina mengundang Sarah untuk menikmati afternoon tea di rumahnya. “Aku tak tahu apakah ini hal yang baik atau bukan,” ucap Sarah jujur. “Tentu saja hal yang baik dong, Sayang,” kata Randy percaya diri. “Benarkah? Menurutmu begitu?” “Dia sudah setuju untuk bersikap baik padamu. Kalau sampai dia melanggar, aku tak akan memaafkannya,” sahut Randy. “Kau tenang saja, Sarah. Aku tahu ibuku orang yang berdedikasi tinggi. Dia tak mungkin melakukan sesuatu yang dapat merugikan perusahaan. Jika kali ini dia mengingkari janji, aku akan meninggalkannya sepenuhnya, dan itu jelas-jelas situasi yang ingin dia hindari.” Sarah mengangguk-angguk. “Iya, aku berharap semuanya baik-baik saja.” “Kau tidak perlu takut… Aku akan selalu ada bersamamu. Aku tak akan membiarkannya menyakitimu, Sarah.” “Terima kasih. Aku memang sangat beruntung karena memilikimu.” Sarah pun tersenyum lebar dan mendekap suaminya. *** U

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 61

    Di kantor, Julio mendatangi Sarah. Dia membawa dua paper bag thermal yang berisikan delapan gelas kopi, dan meletakkannya di meja Sarah. “Eh, apa ini?” tanya Sarah heran. “Untukmu. Bagikan saja dengan teman-temanmu.” “Tapi dalam rangka apa?” “Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin memberikannya,” ujar Julio. “Apa adikku merepotkanmu, Sarah?” “Jadi karena itu? Pak Julio tidak perlu begini. Reina sama sekali tidak merepotkanku. Justru dia datang untuk menemani aku. Aku sangat berterima kasih padanya.” “Tapi dia anak yang suka seenaknya. Semoga dia tidak membuatmu kesulitan.” “Jangan khawatir… Dia sama sekali tidak bersikap seperti itu padaku.” Julio mengangguk. “Syukurlah kalau begitu. Oh ya, Sarah, semua kopi ini decaf. Seharusnya aman untukmu kan?” “Ah, iya, terima kasih,” sahut Sarah cepat. Pria itu tersenyum sebelum berbalik dan meninggalkan ruangan. “Susan…” panggil Sarah. “Ini ambillah. Kopi hari ini dari Pak Julio.” “Okay, thank youu...” “Bisa tolong panggilkan Dimas untu

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 60

    Seiring dengan semakin aktifnya Randy di dalam tim basket sekolah, perhatian terhadapnya pun semakin meningkat.Bahkan beberapa orang gadis di luar lingkaran pertemanan Reina pun terkadang mendatanginya, meminta tolong pada Reina untuk menyampaikan berbagai pesan dan juga hadiah-hadiah kecil.Sudah tentu lebih parah lagi di hari Valentine. Reina disibukkan dengan begitu banyaknya cokelat dan hadiah yang dititipkan kepadanya.“Sebanyak ini cokelat di hadapanku, tapi tak ada satu pun yang untukku,” keluh Reina jengkel, sambil menatap tumpukan cokelat berpita cantik di mejanya.Kay tertawa mendengar uneg-uneg sahabatnya.“Ini deh… Aku berikan satu untukmu…” ucapnya sambil mengeluarkan satu kotak cokelat dan memberikannya pada Reina.Mata Reina berbinar senang. “Wah, terima kasih, Kay! Kau memang temanku yang paling spesial!”Namun kemudian Kay mengeluarkan satu cokelat lagi dan berkata, “Tapi aku juga mau titip satu ya untuk Kak Randy. Boleh kan?”Ekspresi Reina langsung berubah sinis. “

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status