Share

87. Hak

Penulis: MyMelody
last update Tanggal publikasi: 2024-10-08 23:03:14

Dengan langkah kaki yang berat, aku menuju ke jalan utama. Aku hanya ingin segera pergi dari mansion itu karena pikiranku hanya dipenuhi dengan tatapan terluka dari Gabriel. Jujur, aku tidak pernah menyakiti hati orang sampai sedalam itu, kata-kataku tadi, pastinya sangat menyakitkan hati Gabriel.

“Maafkan aku, Gabriel. Aku hanya ingin kamu bahagia bersama keluarga kecilmu.”

Cairan kristal bening hampir mengalir membasahi wajahku, tapi segera kuhapus dengan gerakan kasar. Sudah cukup aku menang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (23)
goodnovel comment avatar
Iyen97
haha makannya jangan tidur terus nat kamu kalah ma Grace,Gabriel udah mengantarkan Grace lebih dulu......
goodnovel comment avatar
Albhi Lutfianto
nah kan si Natalia langsung nyariin, si Gabriel mah bebal sih coba tadi gak memaksakan diri untuk mengantar Grace kan gak bakal Natalia nyariin............
goodnovel comment avatar
Linda Tamban
tuh kan gabriel ngamuk lagi istrimu
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   165. Kamu Curang

    Dengan ragu, Gabriel melangkah melewati ambang pintu, tapi dia langsung berhenti di sana. Hawa sejuk dari mesin pendingin langsung menyapu sisa-sisa hawa panas jalanan dari pundaknya, tapi ketegangan di wajahnya tidak serta-merta mencair.Ia berdiri terpaku sejenak, mengamati bagaimana lampu gantung di langit-langit memantulkan cahaya keemasan yang lembut, kontras dengan mendung kelabu yang sepanjang hari menggelayuti kepalanya."Masuklah, Gabriel. Di luar anginnya sedang tidak bersahabat," ujarku memecah keheningan sembari merapatkan kaus kebesaran yang membungkus tubuhku. Kandunganku yang sudah berjalan enam bulan mulai terlihat begitu nyata.Akhirnya tanpa aba-aba, Gabriel melangkah maju. Langkahnya tidak lagi ragu, melainkan didorong oleh desakan yang tak tertahankan. Sebelum sempat aku berbalik, sepasang lengan kekar merengkuh tubuhku dari belakang.Dia menarikku ke dalam pelukannya—begitu erat, seolah-olah seluruh dunianya sedang runtuh dan hanya tubuhku satu-satunya pasak yang

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   164. Biarkan Sebentar

    Sepatu pantofel Gabriel mengetuk lantai pualam dengan ragu saat dia melangkah melewati ambang pintu. Kehangatan pendingin ruangan langsung menyapu sisa-sisa hawa dingin jalanan dari pundaknya, tapi ketegangan di wajahnya tidak serta-merta mencair.Ia berdiri terpaku sejenak, mengamati bagaimana lampu gantung di langit-langit memantulkan cahaya keemasan yang lembut, kontras dengan mendung kelabu yang sepanjang hari menggelayuti kepalanya."Masuklah, Gabriel. Di luar anginnya sedang tidak bersahabat," ujarku memecah keheningan sembari merapatkan kaus kebesaran yang membungkus tubuhku.Tanpa aba-aba, Gabriel melangkah maju. Langkahnya tidak lagi ragu, melainkan didorong oleh desakan yang tak tertahankan. Sebelum sempat aku berbalik, sepasang lengan kekar merengkuh tubuhku dari belakang.Dia menarikku ke dalam pelukannya—begitu erat, seolah-olah seluruh dunianya sedang runtuh dan hanya tubuhku satu-satunya pasak yang menahannya agar tidak hancur. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang b

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   163. Malam Tanpa Jawaban

    Rumah itu terlalu sunyi.Gabriel berdiri di depan jendela kamar, menatap jalan di bawah yang basah setelah gerimis tipis. Netranya memperhatikan setiap pasang lampu mobil yang menikung masuk ke kompleks, dan setiap bayangan yang bergerak, menunggu seorang yang belum kembali juga.Natalia belum pulang."Kamu ke mana, Nat?" bisik Gabriel cemas. Akhirnya dia memutuskan untuk turun ke lantai bawah, membuat secangkir kopi. Gabriel akan bergadang sambil menunggu kepulangan istrinya.Aroma kopi memenuhi ruang dapur, Gabriel menuangkan kopi ke dalam sebuah cangkir berukuran besar, dan kembali naik ke lantai atas."Semoga Natalia pulang sebentar lain," ucap Gabriel sambil berjalan mondar-mandir. Sesekali dia menyesap kopi pahit itu.Jam di dinding menunjukkan angka yang semakin tidak masuk akal untuk seseorang yang belum tidur. Ponselnya ia angkat dan turunkan berkali-kali—layarnya penuh riwayat panggilan keluar dengan satu nama yang sama, semua berakhir dengan nada tunggu yang panjang sebelum

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   162. Jelaskan

    Jarum speedometer merayap ke angka yang tidak pernah Natalia sentuh saat dalam keadaan normal.Tangannya mencengkeram setir dengan cara seseorang yang butuh sesuatu untuk dipegang—sesuatu yang tidak akan pergi, diam, atau tidak akan menatapnya dengan wajah kosong ketika ia bertanya apakah ia masih dicintai.Lampu jalan meluncur lewat layaknya bintang yang jatuh ke arah yang salah.Di dalam dada Natalia, ada kebakaran yang dia sendiri tidak tahu bagaimana cara memadamkannya.Grace.Nama itu berputar di kepalanya—bukan seperti bisikan, tapi seperti alarm yang tidak punya tombol mati. Nama yang seharusnya tidak mengambil ruang sebesar ini di dalam pernikahan yang ia jaga dengan seluruh hidupnya. Nama yang meluncur dari bibir suaminya di atas ranjang mereka sendiri, di momen yang paling intim, di saat dia masih merasakan getar-getar percintaan mereka yang penuh gairah.Natalia tertawa kecil di dalam mobil, tapi suaranya tidak terdengar seperti tawa.Tangannya bergerak sendiri ke arah tas d

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   161. Salah Ucap

    Gabriel menggeram parau, gerakannya semakin liar.“Kamu suka begini, ya? Suamimu yang liar dan lapar?” Ia menunduk, menciumnya rakus sambil terus bergerak, satu tangannya meremas bagian depan Natalia, yang lain menahan pinggulnya agar tak bergerak.“Katakan … katakan siapa yang membuatmu seperti ini.”“Kamu … hanya kamu,” erang Natalia, tubuhnya mengejang setiap kali Gabriel menghantam titik paling sensitifnya. “Jangan berhenti … ah, sial, aku hampir …!”Mereka bergerak semakin cepat, irama yang brutal, tapi penuh kenikmatan. Tubuh Natalia melengkung indah, dadanya naik turun dengan cepat, matanya terpejam rapat penuh penghayatan. Gabriel merasakan otot-otot istrinya mengejang di sekitarnya, semakin erat, semakin panas.Saat gelombang itu datang menghantam Natalia lebih dulu, ia menjerit nama suaminya, tubuhnya bergetar hebat, kuku-kukunya menancap dalam di punggung Gabriel. Namun, Gabriel belum selesai. Ia terus bergerak, semakin dalam, semakin kuat, mengejar pelepasannya sendiri.“G

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   Bab 160. Aku Salah?

    Pintu rumah terbuka bahkan sebelum Gabriel sempat memasukkan kunci.Natalia berdiri di ambang pintu dengan wajah kesal dan terlihat sudah menahan emosi selama beberapa waktu. Rambutnya sedikit berantakan, cardigan tipis melingkari tubuhnya, dan matanya langsung mencari sesuatu di wajah Gabriel.“Kamu lama sekali sih?”Gabriel masuk tanpa banyak bicara. “Tadi ada pemeriksaan di rumah sakit.”“Aku tahu. Dengan dia, kan? Perempuan murahan yang mulai mengambil waktumu yang seharusnya untukku.”Nada itu tajam. Ia selalu blak-blakan kalau sedang marah.Gabriel melepas jaketnya pelan. “Grace hampir celaka malam ini, jadi aku harus menemaninya.”“Tapi dia tidak celaka, kan?”“Natalia.”“Apa? Aku salah?”Suasana ruang tamu terasa sesak, seperti dada mereka yang tidak mempunyai ruangan ekstra untuk hal lain. Siap meledak kapan saja.Natalia melangkah mendekat dengan gayanya yang selalu anggun. “Aku meneleponmu karena aku pusing. Aku sendirian di rumah ini. Aku istrimu, Gabriel.”“Aku tahu.”“Ka

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   138. Hidup atau Mati

    Natalia memijat pelipisnya dengan frustasi, matanya sesekali melirik ke jam dinding yang berdetak lambat di sudut ruangan. Ditutupnya buku sketsa yang ada di depannya, kini badannya terasa pegal karena telah duduk terlalu lama."Kenapa dia lama sekali sih?" celetuk Natalia sambil berdiri dan merengga

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   137. Dilema

    Natalia meletakkan gunting tajam di atas meja kayu yang dipenuhi serpihan kain. Sudah lebih dari dua jam dia berkutat dengan tiga pola baru yang menuntut kesempurnaan untuk babak perlombaan berikutnya. Mata indah dan kecokelatannya melirik jam perak di pergelangan tangan.“Sudah jam dua lewat sepuluh

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   135. Haruskah Seperti Ini?

    “Noah, please …, tolong jauhi aku,” bisikku hampir tanpa suara, tapi cukup jelas untuk membuatnya berhenti sejenak. Tatapannya yang penuh perhatian berubah tajam. Namun, senyuman khasnya masih terukir, seakan menolak mempercayai kata-kataku.“Alasannya apa? Kamu punya penyakit kulit yang menular sehi

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   133. Menggemaskan

    “Noah?” Suaraku tiba-tiba memecah kesunyian di taman. Aku mendongak, sedikit terkejut mendapati pria itu berdiri di hadapanku, sorot matanya memancarkan sesuatu yang sulit kumengerti. “Kenapa kamu ada di sini?” tanyaku pelan, suaraku hampir tak keluar dari tenggorokanku. Kutatap Noah yang berdiri de

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status