เข้าสู่ระบบPergulatan panas di atas meja itu berlangsung tanpa ampun. Suara gesekan kain, napas yang memburu, dan desahan pasrah Natalia saling bersahutan memecah keheningan ruang kerja yang tertutup rapat."J-Jason ... ahh! Ini terlalu ..." jerit Natalia tertahan, jemarinya beralih mencengkeram kencang bahu jas Jason saat gerakan pria itu kian liar."Nikmati, Natalia. Kamu menyukainya, bukan?" bisik Jason serak. Ia mendongak sejenak, menatap wajah Natalia yang memerah sempurna dengan deru napas yang tak beraturan."Lihat dirimu. Tubuhmu tidak bisa berbohong padaku. Kamu ingin dimanja dan disentuh seperti ini. Diperlakukan seperti Ratu. Aku akan melayanimu kapan saja kamu pengin dimanja, Natalia."Natalia hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat, tidak sanggup membalas kata-kata Jason. Rasa nikmat yang membakar menyapu bersih seluruh akal sehatnya, menggantikan ingatannya tentang Gabriel dengan sentuhan nyata pria yang sedang berlutut di hadapannya ini.Jason kembali membenamkan wajahnya, melancar
"A-apa? Maaf, kamu tanya apa tadi, Natalia?" gagap Jason, berusaha keras menutupi detak jantungnya yang berpacu liar dan rona hangat di wajahnya.Natalia menggelengkan kepala, lalu mendesah pelan seraya menunjuk dua sampel kain di atas meja."Aku tuh nanyain pendapatmu dari tadi, Jason. Menurutmu, bahan silk-velvet warna emerald ini lebih cocok dikombinasikan dengan kain polos ini, atau yang bermotif? Kenapa kamu malah melamun sambil menatap tanganku seperti itu?"Jason tertawa kecil yang terdengar sumbang untuk mencairkan ketegangan di dadanya, lalu berdehem merapikan jasnya. "Maaf, aku Cuma ... memikirkan konsep diproduksi nanti. Kombinasi kain polos jauh lebih elegan, Natalia. Cocok dengan selera kelas atas seperti yang kamu inginkan.""Baiklah kalau begitu."Natalia mengangguk-angguk setuju, kembali menyibukkan diri dengan sampel bahan tanpa menyadari betapa liarnya fantasi yang baru saja melintas di pikiran pria di sampingnya. Sementara Jason, ia menarik napas panjang seraya meny
"Kamu ... serius, Gabriel?" bisik Natalia. Suaranya bergetar antara kebahagiaan yang meluap dan rasa curiga yang mendalam. "Kamu benar-benar meninggalkannya? Bukan cuma akal-akalanmu untuk menyembunyikannya hubunganmu dengannya?" "Aku tidak punya alasan untuk berbohong padamu, Natalia," balas Gabriel tajam, tatapannya tertuju langsung ke mata Natalia."Apa alasannya?" "Natalia, wanita itu hanyalah rahim sewaan. Aku tidak ingin berurusan lagi dengannya. Aku ingin fokus pada rumah tangga kita dan menyembuhkan semua kekacauan ini. Jadi, jangan pernah sebut namanya lagi di rumah ini." Gabriel menegakkan tubuhnya, menunduk menatap Natalia dari ketinggian postur tubuhnya. "Lalu kenapa kamu pulang dengan tangan terluka? Kamu berkelahi sama siapa?” cecar Natalia. “Aku jatuh dan terkena ujung meja yang tajam karena ngantuk setelah lembur semalam.” ‘Bohong!’ Hampir saja kata-kata itu melompat dari bibir Natalia. Untunglah dia mengatup mulutnya rapat-rapat. Kalau tidak, Gabriel past
Melihat Grace yang sudah terlelap akibat pengaruh obat penenang, Gabriel perlahan melepaskan genggaman tangannya dari jemari wanita cantik itu. Gabriel menatap wajah Grace yang lembut, sungguh hatinya meleleh hanya dengan melihatnya tertidur pulas seperti itu. Ia bangkit dari tepi tempat tidur, melangkah pelan menembus temaram kamar menuju jendela kayu yang telah terpaku rapat dari luar. Gabriel menarik napas dalam-dalam. Balutan perban di lengan kirinya mengencang, meletupkan rasa nyeri menusuk dari luka jahitan yang tadi sempat dijahit Dokter Frans setelah kondisi Grace mulai membaik. Baginya, rasa sakit di fisiknya sama sekali tak sebanding dengan emosi yang menggemuruh di dalam dadanya. Dari balik celah gorden, ditatapnya pekatnya malam. Rahangnya mengeras kaku, menahan amarah yang siap meledak. Di saat yang sama, sebuah keputusan pahit berputar tanpa arah di benaknya. Peringatan Dokter Frans semalam terus bergema bagaikan dentang lonceng kematian saat dia berbicara pribadi deng
Suara doppler yang memantulkan detak jantung bayi kembar kami perlahan-lahan mulai melambat dari frekuensi kencang yang menakutkan, berubah menjadi irama yang lebih stabil.Cairan obat penenang dan penghenti kontraksi yang dialirkan perawat melalui jarum infus di punggung tanganku mengalir pelan dan dingin ke dalam pembuluh darah. Nyeri hebat yang tadinya meremas rahimku bagai dicengkeram sesuatu yang menyakitkan perlahan-lahan menumpul. Rasa mules itu meluruh, berganti dengan rasa pegal yang berat dan gelombang kantuk luar biasa yang melumpuhkan seluruh otot tubuhku."Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu lagi, Grace," bisik Gabriel. Tangannya yang bebas membelai lembut rambutku yang lepek oleh keringat dingin, mengusapnya berkali-kali dengan kehangatan yang berusaha meredam badai di dalam dadaku. "Percayalah padaku. Cobalah untuk tidur dan beristirahat. Jangan pikirkan apa pun lagi. Ada aku di sini."Di bawah pengaruh obat penenang yang mulai menguasai kesadaranku, ketakuta
Natalia berdiri di ruang tamu. Rumah mewah itu tampak sepi dan sunyi, hanya diterangi lampu temaram di sudut ruangan. Tampaknya para asisten rumah tangganya sudah berada di alam mimpi.Dibukanya lagi pesan yang sudah terkirim ke nomor Grace. Walaupun belum pernah hamil, Natalia tahu betul bagaimana kondisi psikologis wanita berbadan dua. Satu saja benih ketakutan yang ditanam di saat yang tepat akan berkembang menjadi kepanikan hebat.Ketakutan itu akan berubah menjadi paranoia, memicu stres berat, meningkatkan tekanan darah, dan pada akhirnya ... rahim Grace melemah dan tidak akan sanggup menahan beban guncangan emosional tersebut."Kamu ingin menjadi pahlawan untuknya malam ini, Gabriel?" bisik Natalia lirih pada bayangan suaminya di dalam benaknya. "Lakukanlah. Peluk dia sesuka hatimu malam ini. Tapi kamu tidak akan bisa berada di sampingnya setiap jam, setiap menit, dan setiap detik.".Natalia melangkah melintasi aula utama yang megah. Tanpa kehadiran Gabriel, rumah ini terasa beg
“Noah, please …, tolong jauhi aku,” bisikku hampir tanpa suara, tapi cukup jelas untuk membuatnya berhenti sejenak. Tatapannya yang penuh perhatian berubah tajam. Namun, senyuman khasnya masih terukir, seakan menolak mempercayai kata-kataku.“Alasannya apa? Kamu punya penyakit kulit yang menular sehi
“Noah?” Suaraku tiba-tiba memecah kesunyian di taman. Aku mendongak, sedikit terkejut mendapati pria itu berdiri di hadapanku, sorot matanya memancarkan sesuatu yang sulit kumengerti. “Kenapa kamu ada di sini?” tanyaku pelan, suaraku hampir tak keluar dari tenggorokanku. Kutatap Noah yang berdiri de
“Pagi, Ma,” sapaku begitu memasuki kamar inap mama. Wanita yang melahirkanku itu sedang duduk di pinggir tempat tidur. Matanya tampak kosong, seperti menyimpan beban yang terlalu berat untuk dibagi.“Ada apa, Ma?” tanyaku kalut. Aku mendekati Mama dengan tergesa-gesa dan memeriksa keadaannya.“Ma?” ku
“Sayang, sudah waktunya makan malam,” ajak Gabriel setengah menuntut. Sudah tiga hari berturut-turut, dia berusaha untuk mengajak Natalia agar menemaninya makan malam, tapi wanita itu terlalu sibuk dengan persiapan lomba akhir pekan nanti.Natalia mengangkat wajahnya dari tumpukan kain satin yang ber







