แชร์

88. Curiga

ผู้เขียน: MyMelody
last update วันที่เผยแพร่: 2024-10-09 23:30:40

Gabriel menekan tombol hijau, dan langsung terdengar suara Natalia yang cetar menggelegar separah angin topan yang melanda hutan dan pegunungan.

‘Sayang, kamu di mana??? Bukannya kamu sudah berjanji untuk mengantarkan aku setiap hari? Kenapa kamu ingkar janji? Hellooow, kamu sedang dengan siapa saat ini?’

Kuangkat kedua tanganku untuk menutupi gendang telingaku, mencegah agar tidak terjadi kerusakan di dalam sana.

‘Aku sedang di luar, sebentar lagi aku kembali,’ ucap Gabriel sambil melirik ke a
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (23)
goodnovel comment avatar
Iyen97
udah di buat berbunga bunga kesenengan eh malah kepikiran Gabriel udah nganterin Grace Wkkw
goodnovel comment avatar
Albhi Lutfianto
pasti naik lagi tuh darahnya si Natalia...... padahal sudah senang banget di bawain sarapan sama Gabriel.........
goodnovel comment avatar
Linda Tamban
siap² gabriel bentar lagi singa betinamu ngamuk ...
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   166. Partner Baru

    Setelah menerima pesan singkat dari Gabriel yang terbaca di layar gawai beberapa jam lalu, Natalia hanya bisa mengunci kembali ponselnya dengan gerakan berdarah dingin. Sebuah senyum sinis tersungging di sudut bibirnya—pahit dan penuh ketidakpercayaan."Mencintaiku, katanya?" gumam Natalia lirih pada dinding ruangan yang bisu.Ia mendengus pelan, menatap lurus pada pantulan dirinya di jendela kaca besar. Jika kata 'cinta' itu memang memiliki bobot yang nyata, seharusnya Gabriel mengucapkannya langsung di hadapannya, menatap sepasang matanya yang lelah, bukan menyembunyikannya di balik untaian karakter digital setelah malam yang hancur. Bagi Natalia, pesan itu tak lebih dari sekadar penawar rasa bersalah yang murahan."Aku dan Gabriel perlu menjaga jarak beberapa hari ini. Semoga dengan cara ini, aku dan dia kembali dekat seperti semula."Natalia mengusap wajahnya pelan. Harapan kecil muncul di hatinya. Dia ingin Gabriel sadar bahwa kepergiannya sesaat, akan menyadarkan Gabriel arti ke

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   165. Kamu Curang

    Dengan ragu, Gabriel melangkah melewati ambang pintu, tapi dia langsung berhenti di sana. Hawa sejuk dari mesin pendingin langsung menyapu sisa-sisa hawa panas jalanan dari pundaknya, tapi ketegangan di wajahnya tidak serta-merta mencair.Ia berdiri terpaku sejenak, mengamati bagaimana lampu gantung di langit-langit memantulkan cahaya keemasan yang lembut, kontras dengan mendung kelabu yang sepanjang hari menggelayuti kepalanya."Masuklah, Gabriel. Di luar anginnya sedang tidak bersahabat," ujarku memecah keheningan sembari merapatkan kaus kebesaran yang membungkus tubuhku. Kandunganku yang sudah berjalan enam bulan mulai terlihat begitu nyata.Akhirnya tanpa aba-aba, Gabriel melangkah maju. Langkahnya tidak lagi ragu, melainkan didorong oleh desakan yang tak tertahankan. Sebelum sempat aku berbalik, sepasang lengan kekar merengkuh tubuhku dari belakang.Dia menarikku ke dalam pelukannya—begitu erat, seolah-olah seluruh dunianya sedang runtuh dan hanya tubuhku satu-satunya pasak yang

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   164. Biarkan Sebentar

    Sepatu pantofel Gabriel mengetuk lantai pualam dengan ragu saat dia melangkah melewati ambang pintu. Kehangatan pendingin ruangan langsung menyapu sisa-sisa hawa dingin jalanan dari pundaknya, tapi ketegangan di wajahnya tidak serta-merta mencair.Ia berdiri terpaku sejenak, mengamati bagaimana lampu gantung di langit-langit memantulkan cahaya keemasan yang lembut, kontras dengan mendung kelabu yang sepanjang hari menggelayuti kepalanya."Masuklah, Gabriel. Di luar anginnya sedang tidak bersahabat," ujarku memecah keheningan sembari merapatkan kaus kebesaran yang membungkus tubuhku.Tanpa aba-aba, Gabriel melangkah maju. Langkahnya tidak lagi ragu, melainkan didorong oleh desakan yang tak tertahankan. Sebelum sempat aku berbalik, sepasang lengan kekar merengkuh tubuhku dari belakang.Dia menarikku ke dalam pelukannya—begitu erat, seolah-olah seluruh dunianya sedang runtuh dan hanya tubuhku satu-satunya pasak yang menahannya agar tidak hancur. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang b

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   163. Malam Tanpa Jawaban

    Rumah itu terlalu sunyi.Gabriel berdiri di depan jendela kamar, menatap jalan di bawah yang basah setelah gerimis tipis. Netranya memperhatikan setiap pasang lampu mobil yang menikung masuk ke kompleks, dan setiap bayangan yang bergerak, menunggu seorang yang belum kembali juga.Natalia belum pulang."Kamu ke mana, Nat?" bisik Gabriel cemas. Akhirnya dia memutuskan untuk turun ke lantai bawah, membuat secangkir kopi. Gabriel akan bergadang sambil menunggu kepulangan istrinya.Aroma kopi memenuhi ruang dapur, Gabriel menuangkan kopi ke dalam sebuah cangkir berukuran besar, dan kembali naik ke lantai atas."Semoga Natalia pulang sebentar lain," ucap Gabriel sambil berjalan mondar-mandir. Sesekali dia menyesap kopi pahit itu.Jam di dinding menunjukkan angka yang semakin tidak masuk akal untuk seseorang yang belum tidur. Ponselnya ia angkat dan turunkan berkali-kali—layarnya penuh riwayat panggilan keluar dengan satu nama yang sama, semua berakhir dengan nada tunggu yang panjang sebelum

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   162. Jelaskan

    Jarum speedometer merayap ke angka yang tidak pernah Natalia sentuh saat dalam keadaan normal.Tangannya mencengkeram setir dengan cara seseorang yang butuh sesuatu untuk dipegang—sesuatu yang tidak akan pergi, diam, atau tidak akan menatapnya dengan wajah kosong ketika ia bertanya apakah ia masih dicintai.Lampu jalan meluncur lewat layaknya bintang yang jatuh ke arah yang salah.Di dalam dada Natalia, ada kebakaran yang dia sendiri tidak tahu bagaimana cara memadamkannya.Grace.Nama itu berputar di kepalanya—bukan seperti bisikan, tapi seperti alarm yang tidak punya tombol mati. Nama yang seharusnya tidak mengambil ruang sebesar ini di dalam pernikahan yang ia jaga dengan seluruh hidupnya. Nama yang meluncur dari bibir suaminya di atas ranjang mereka sendiri, di momen yang paling intim, di saat dia masih merasakan getar-getar percintaan mereka yang penuh gairah.Natalia tertawa kecil di dalam mobil, tapi suaranya tidak terdengar seperti tawa.Tangannya bergerak sendiri ke arah tas d

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   161. Salah Ucap

    Gabriel menggeram parau, gerakannya semakin liar.“Kamu suka begini, ya? Suamimu yang liar dan lapar?” Ia menunduk, menciumnya rakus sambil terus bergerak, satu tangannya meremas bagian depan Natalia, yang lain menahan pinggulnya agar tak bergerak.“Katakan … katakan siapa yang membuatmu seperti ini.”“Kamu … hanya kamu,” erang Natalia, tubuhnya mengejang setiap kali Gabriel menghantam titik paling sensitifnya. “Jangan berhenti … ah, sial, aku hampir …!”Mereka bergerak semakin cepat, irama yang brutal, tapi penuh kenikmatan. Tubuh Natalia melengkung indah, dadanya naik turun dengan cepat, matanya terpejam rapat penuh penghayatan. Gabriel merasakan otot-otot istrinya mengejang di sekitarnya, semakin erat, semakin panas.Saat gelombang itu datang menghantam Natalia lebih dulu, ia menjerit nama suaminya, tubuhnya bergetar hebat, kuku-kukunya menancap dalam di punggung Gabriel. Namun, Gabriel belum selesai. Ia terus bergerak, semakin dalam, semakin kuat, mengejar pelepasannya sendiri.“G

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   157. Hormon yang Meresahkan

    Aku menahan napas saat layar yang tadinya terkunci, kini terbuka. Dengan tergesa-gesa aku mengetik nomor ponsel Gabriel dan menunggu agar pria itu segera menjawab panggilanku.“Please, angkat panggilanku, Gabriel,” ucapku penuh harap sambil menggigit bibir bawahku dengan kuat. Namun, sampai nada sa

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   156. Melawan

    Klik, terdengar bunyi kunci diputar dengan pelan dari arah pintu. Aku berdiri tegang dan menunggu dengan waspada, siapa pun yang masuk lewat pintu tersebut.'Apa yang harus aku lakukan?' pikirku panik. Mataku dengan cepat menjelajahi ruangan yang cukup luas itu, lalu pandanganku tertumpu pada sebua

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   155. Pin

    Gabriel berdiri dengan tidak sabar di dalam kantor bagian IT rumah sakit. Saking groginya, kakinya menghentak-hentak lantai dengan gelisah."Bisa dipercepat videonya, Pak? Kalau bisa, ikuti timeline saat aku meninggalkan Grace di mobil.""Sebentar ya, Pak Gabriel. Saya harus meng-unduh dulu file-fi

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   154. Rantai Besi

    Pria itu mendekati dan meraih wajahku. Aroma tubuh dan mulutnya membuat aku ingin muntah. Aku tidak mengenalnya sama sekali. Siapa gerangan pria ini sebenarnya."Diam!! bentaknya kasar.“Kenapa aku harus diam, orang jahat?!” sentakku tak mau kalah."Tutup mulutmu, sebelum aku yang menutupnya."Aku t

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status