MasukPenerbangan belasan jam melintasi beberapa benua akhirnya tiba pada garis akhir. Dering halus penanda sabuk pengaman dilepaskan berbunyi merdu di dalam kabin Etihad Airways, menyambut pagi yang baru saja merekah di Kota Zürich. Saat roda-roda pesawat berbadan lebar itu menyentuh landasan pacu Bandara Flughafen Zürich, pemandangan dari balik jendela kaca pesawat menyajikan mahakarya alam yang menakjubkan. Langit biru bersih tanpa setitik awan menjadi latar bagi jajaran pegunungan Alpen yang megah di kejauhan, dengan puncak-puncak yang diselimuti salju abadi, berkilauan diterpa sinar matahari pagi yang hangat.Langkah kaki rombongan Reygan dan Lingga menyusuri garbarata, disambut oleh hembusan udara sejuk khas musim gugur yang membawa aroma kesegaran pinus dan pegunungan. Bandara Zurich berdiri anggun dengan arsitektur modern berpadu material kayu hangat serta kaca-kaca besar yang membiarkan cahaya alami menerangi setiap sudut terminal. Karpet tebal yang meredam suara, menciptakan keten
Langkah kaki Reygan menghantam lantai pualam Terminal 3 Internasional Soekarno-Hatta yang luas dan mengkilat. Kedua tangannya mendorong Stroller si kembar yang tengah asik dengan botol susu mereka, dan sang istri, melingkarkan tangannya di lengan Reygan. Di belakang keluarga kecil Valero, Lingga dan Vanda tampak meributkan baju kemeja yang dikenangan Lingga atas desakan sang istri. "Kamu yang benar aja sayang, masa aku harus pakai warna cerah begini sampai Swiss!" Protes Lingga merasa tidak percaya diri.Vanda mendelik tajam, menoleh kearah suaminya yang bersembunyi di balik kacamata hitamnya. "Shhttt...! Pokoknya jangan diganti. Kita harus pakai baju senada, sayang."Lingga tiba-tiba menghentikan langkahnya, membuat Vanda hampir terjungkal kalau saja Lingga tidak menahan tubuhnya."Sayang, kamu kenapa berhenti tiba-tiba, sih!" Protes Vanda menepuk pelan dada Lingga."Aku baru ingat. Kamu yang menyiapkan koper kita, baju apa yg akan aku pakai di acara pernikahan Kinan?"Vanda seketik
"Tidak, Elara, lihat aku!" Reygan menangkup kedua pipi Elara, memaksa mata wanita itu menatap langsung ke dalam manik matanya."Satu lagi, Sayang. Hanya satu lagi. Aku mohon, berjuanglah sekali lagi untuk anak kita." Jemari Reygan yang saling bertaut erat dengan jemari Elara menyalurkan sisa energi terakhir. Elara memejamkan mata rapat-rapat, mengambil napas panjang yang bergetar, dan menarik dorongan terdalam dari dalam dadanya. Jeritan panjang kembali terdengar, dan beberapa detik kemudian— Oeeekkk! Oeeeekkk! Suara tangisan bayi kedua bersahut-sahutan dengan tangisan bayi pertama, menciptakan harmoni paling indah yang pernah didengar Reygan sepanjang hidupnya. "Bayi kedua, perempuan! Selamat, Tuan dan Nyonya, bayi kembar kalian lahir dengan selamat dan sempurna!" Tubuh Elara seketika terkulai lemas, napasnya tersengal-sengal, namun senyum bahagia yang sangat tulus terukir di bibirnya yang pucat. Dokter meletakkan kedua bayi mungil yang telah dibersihkan sejenak di
"Kenapa pakaian bayi selucu ini?" tanya Zheydan dengan kening berkerut. Tangannya yang kekar, berurat, dan bertato itu mengangkat sebuah baju bayi mungil tepat di depan wajahnya. Elara mendengus pelan lalu menyambar baju itu dari tangan Zheydan. "Kalau tahu lucu, segeralah nikahi Kinan," ucapnya santai, kembali melipat rapi pakaian bayi yang baru saja selesai dicuci bersih. Momen kelahiran si kembar tinggal menghitung hari. Elara sibuk mempersiapkan segala perlengkapan yang akan dibawa ke rumah sakit. Zheydan, yang semula hanya ingin bersantai, terpaksa turun tangan membantu karena Reygan sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri bersama Lingga dan baru dijadwalkan pulang hari ini. Zheydan merebahkan tubuhnya di atas kasur, tepat di samping Elara. "Aku ingin menikah di Swiss, tapi Kinan sepertinya tidak ingin meninggalkan negara ini," ujarnya menatap lampu kristal yang menggantung di langit-langit kamar. "Kalau begitu, menikahlah di sini." Zheydan mengangkat kepa
Gereja tua di salah satu pusat kota berdiri megah di bawah naungan langit pagi yang cerah. Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela-jendela stained glass berwarna-warni, membiaskan cahaya keemasan yang indah di sepanjang lorong utama gereja. Alunan musik orgen gereja terdengar begitu khidmat, mengiringi momen paling sakral dan bersejarah bagi Lingga dan Vanda. Di balik pintu utama gereja yang terbuka lebar, Vanda melangkah perlahan. Anggun, mempesona, dan begitu memikat dalam balutan gaun pengantin berwarna putih gading bercorak renda klasik. Hari ini, di atas karpet merah yang ditaburi kelopak bunga mawar putih, Vanda Adolf berjalan didampingi oleh Elara selaku wali keluarga dengan senyum haru. Di depan altar, Lingga telah berdiri tegap. Pria yang biasa tampil kaku dalam pengawalan itu kini tampak sangat gagah dan menawan dalam setelan tuksedo hitam buatan penjahit terbaik. Tatapan mata Lingga tidak pernah lepas dari sosok Vanda. Saat mata mereka bertemu di tengah lorong
Reygan melangkah pelan menuju kamar perawatan Elara. Sudah hampir dua bulan lamanya ia menjadikan rumah sakit ini sebagai rumah kedua. Pascaoperasi pasokan darah golden blood—yang selamat dari maut atas pertolongan donor darah Zheydan waktu itu—kondisi Elara sudah jauh lebih baik. Namun, Reygan tidak ingin mengambil risiko dengan memaksakan istrinya pulang terlalu cepat. Hari ini Elara kembali merajuk, mendesaknya agar bisa segera pulang ke rumah. Kekesalan Elara sebenarnya cukup beralasan. Dokter Sekar sudah memberikan izin bagi Elara untuk beristirahat di rumah sejak dua hari lalu. Namun, Reygan tetap bersikeras menunggu sampai kondisi istrinya benar-benar pulih total, mengingat acara pernikahan Lingga dan Vanda sudah makin dekat. Reygan ingin Elara menjaga kesehatannya agar bisa mendampinginya hadir di gereja kelak. Pintu kamar VVIP itu terbuka perlahan. Langkah kaki Reygan terdengar jelas membelah keheningan ruangan. Ia menutup pintu, melepaskan jas hitamnya, lalu melempa







