MasukClarissa memberikan isyarat dengan lambaian tangannya kepada dua bodyguard yang berjaga di luar pintu VIP. Dua pria berbadan tegap itu bergegas maju, mengambil alih tubuh tegap Reygan dari rangkulan Lingga, Zavier, dan Yuda. "Kalian boleh pergi," ucap Clarissa tanpa memandang ketiga pria itu lagi. Dengan langkah anggun, Clarissa memimpin jalan menuju lift yang menujulangsung ke area parkir bawah tanah, tempat mobil limousine hitamnya sudah bersiap. Kedua pengawal dengan sigap mendudukkan Reygan di kursi belakang yang luas, lalu menutup pintu dan mengambil alih kemudi di depan. Kaca sekat berwarna gelap otomatis terangkat, memisahkan kemudi dengan ruang penumpang menciptakan area privasi. Clarissa mendaratkan tubuhnya tepat di samping Reygan. Aroma parfum dari tubuhnya seketika memenuhi isi mobil. Ia menatap Reygan yang terkulai lemas dengan kepala menyandar pasrah pada sandaran kursi. Pria yang selama ini begitu dingin dan selalu menolaknya kini berada dalam genggamannya.
"Non Elara tidak mau turun dari kamarnya karena tubuhnya demam, Nyonya." Ujar kepala pelayan yang bekerja di kediaman keluarga Adolf. Tubuhnya bergeming di sisi kiri Sherly yang tengah menikmati teh hangat dari cangkir di tangannya. "Demam? ringkih sekali anak itu, persis seperti ibunya." Ucapan Sherly diiringi dengan senyum sinis tiap kali teringat dengan mendiang dari istri pertama Mario Adolf. "Paling juga hanya pura-pura." Sahut Vanda santai, menyuap sepotong buah apel dari atas piring. "Elara harus segera mempersiapkan pernikahannya dengan Jackson secepat mungkin. Kita harus memastikan kepemilikan seluruh aset Adolf Group jatuh ke tangan Jackson." Vanda mendengus sebal, "Ya. Setelah itu, mereka harus segera bercerai. Aku tidak rela Jackson menikahi Elara!" Sherly melirik tajam kearah putrinya. Menarik nafas panjang dan meletakan cangkir porselen itu dengan hati-hati. "Kenapa kamu tidak mencari laki-laki dari keluarga konglomerat lain, Vanda? Mama akan segera menikahka
Dua pria bertubuh tegap langsung melompat keluar dari pintu depan mobil. Pria pertama, seorang berambut cepak dengan tato menjalar di lehernya, langsung mengambil langkah serang. Tanpa basa-basi, ia melayangkan pukulan lurus dengan tangan kanannya yang mengarah tepat ke pelipis Lingga. Namun, Lingga bukan pria kantoran biasa yang hanya tahu cara memegang pena dan mengatur jadwal rapat Reygan. Sebagai kepala keamanan Valero Corps, kecepatan gerak tubuhnya sangat terlatih. Hasil latihan ilmu bela diri yang ia lakukan bersama Reygan saat masih sekolah dulu selalu berhasil melindungi dirinya dan keluarga Valero sampai hari ini. Dengan gerakan memutar yang sangat lihai, Lingga merendahkan tubuhnya, membiarkan tinju angin itu lewat beberapa sentimeter di atas kepalanya. Belum sempat pria bertato menarik kembali tangannya, Lingga menyergap pergelangan tangan pria itu. Dengan satu gerakan cepat, Lingga memutar tubuhnya membelakangi lawan, menyelipkan bahunya ke bawah ketiak pria itu, la
Elara membeku saat mendengar namanya disebut bersamaan dengan tuduhan kejam itu. Keningnya berkerut dalam, mencoba mencerna rentetan kalimat gila yang baru saja keluar dari bibir Reygan. "Mencuri proyek? Apa maksudmu, Rey?" "Masih mau berakting polos di depanku?!" desis Reygan, cengkeramannya kian mengerat. "Rey! Aku benar-benar tidak mengerti! Mencuri apa?!" pekik Elara dengan air mata yang mulai menggenang. Reygan menyentak kasar tubuh mungil itu hingga dada mereka merapat tanpa jarak. Tatapan matanya menghunjam langsung ke bola mata Elara. "Tender Grand Valero Center jatuh ke tangan Adolf Group dengan rancangan yang sama persis dengan milikku. Kamu pikir aku ini siapa, Elara? Aku adalah CEO utama Valero Corps! Otak di balik seluruh proyek itu!" Reygan menyipitkan mata dengan rahang mengeras. "Jadi kalau kamu dan keluargamu berencana menghancurkan Valero Corps lewat jalur kotor ini... langkahi dulu mayatku!" Ujar Reygan melepaskan cengkeramananya dengan menghempaskan
Reygan masih membeku di tempatnya. Tangannya mencengkeram kuat berkas kepemilikan Adolf Group. "Ide presentasi proyek Adolf Group berasal dari Elara?" bisik Reygan pada diri sendiri. Seketika ingatan Reygan kembali ke beberapa hari yang lalu saat ia dengan santai nya membawa seluruh kunci kemenangan Valero Corps untuk bekerja di depan Elara. Bahkan ia membawa gadis itu ke apartemennya dan membiarkannya masuk ke ruang pribadinya yang menyimpan seluruh rahasia Valero Corps. "Tidak mungkin!" Reygan tersentak dari kebenaran yang menusuk jantungnya. "Tidak ada yang tidak mungkin, Reygan," potong sebuah suara lembut yang datang dari arah pintu. Gadis itu menyilangkan kedua tangan di depan dada sambil melempar tatapan merendahkan. "Elara sengaja mendekatimu, berpura-pura menjadi korban yang teraniaya, membiarkanmu menjadi pahlawan kesiangan, lalu dengan mudah merampok seluruh isi kepalamu saat kamu sedang tertidur lelap di ranjang apartemenmu. Menakjubkan, bukan?" Kata-kata Clar
"Apa yang kamu lakukan di apartemen putraku?" Desis Katrin melangkah masuk dengan perlahan, membuat Elara mundur menjauh. "Aku... aku..." Elara mendadak kelu. Lidahnya kaku tak mampu menyelesaikan satu kalimat pun di hadapan wanita paruh baya berpenampilan elegan itu yang memiliki garis wajah mirip dengan Reygan. Tatapan mata Katrin yang tajam menyapu penampilan Elara dari atas ke bawah. 'Gadis ini benar-benar cantik, pantas saja putraku tergila-gila padanya,' batin Katrin menilai gadis yang berdiri gelisah di hadapannya. "Apartemen ini dibeli dengan fasilitas dari perusahaan keluarga kami," ucap Katrin dingin, suaranya tenang namun tegas. Ia meletakkan tas tangan mewahnya di atas meja makan, tepat di sebelah buku yang sempat dibaca Elara tadi. "Bukan untuk dijadikan tempat penampungan perempuan yang tidak jelas asal-usulnya." Elara menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia tidak boleh terlihat lemah jika ingin melindungi hubungannya dengan







