Se connecterKata-kata tegas penuh percaya diri yang dilontarkan Reygan seketika menyulut amarah Jackson hingga ke puncaknya. Harga dirinya sebagai seorang pria dan calon suami Zhelara Adolf diinjak-injak tepat di hadapan wanita yang ia cintai. "You bastard!" raung Jackson dengan mata memerah murka. Tanpa berpikir panjang, Jackson melayangkan tinjuan keras ke arah wajah Reygan. Namun, Reygan yang sudah mengantisipasi gerakan itu dengan tenang menggeser tubuhnya sedikit ke belakang sambil membawa Elara dalam dekapan satu tangannya. Pukulan Jackson meleset menghantam udara kosong. Sebelum Jackson sempat menarik kembali tangannya, Lingga melangkah maju secara sigap. Dengan gerakan cepat, Lingga memelintir lengan Jackson ke belakang punggungnya dan menekannya ke atas meja rapat hingga terdengar bunyi prak keras dari benturan tubuh Jackson dengan permukaan kayu mahoni. "Get off me, bitch!" teriak Jackson meringis kesakitan, berusaha memberontak, namun cengkeraman Lingga terlalu mengunci per
Mata Jackson menyempit seketika. Tangannya mencengkeram ponsel dengan sangat erat, memperlihatkan kekesalan yang coba ia sembunyikan di balik senyum tipisnya. "Reygan Valero mau datang?" kekeh Jackson dingin, matanya melirik sekilas ke arah Elara yang mendadak membeku di sampingnya. "Bagus. Suruh tim persiapan siapkan ruang rapat utama di lantai paling atas. Kita sambut kekalahannya secara terhormat." Panggilan terputus. Jackson menyimpan kembali ponselnya, lalu menoleh menatap Elara dengan pandangan yang sulit diartikan. "Tampaknya mantan kekasihmu tidak bisa menerima kenyataan dengan tenang, honey. Dia bahkan berniat membuat kekacauan di kantor kita." Jantung Elara berdegup kencang. Reygan mau datang ke sini? Untuk apa? Berbagai spekulasi buruk berputar di kepalanya. Apakah pria itu datang untuk memaki dirinya? Atau untuk meluapkan dendam atas ide proyek yang dicuri? Detik berikutnya, sedan hitam mereka berhenti tepat di depan lobby utama gedung Adolf Group. Beberapa
"Good morning, my lady," sapa Jackson ceria seraya melangkah masuk ke ruang makan kediaman keluarga Adolf pagi itu.Elara sontak mendengus kasar, membuang muka dengan rasa jijik yang teramat sangat. Namun, reaksi berbeda justru ditunjukkan oleh Vanda. Gadis itu langsung bangkit dari kursinya dengan mata berbinar."Jackson!" sambut Vanda penuh semangat. Tanpa canggung, ia bergegas menghampiri pria berdarah campuran itu dan menghambur ke dalam pelukannya, mengabaikan kenyataan bahwa Jackson kini berstatus sebagai calon suami kakaknya."Ehem! Vanda, jaga sikapmu. Jackson itu calon kakak iparmu!" tegur Sherly tajam, melayangkan delikan sinis kepada anak kandungnya sendiri.Gerakan Vanda terhenti seketika, namun ia hanya mendengus pelan sambil melepaskan pelukannya."Chill, Tante. Elara tidak akan cemburu pada adiknya sendiri, right, honey?" ujar Jackson santai, melirik ke arah Elara."Aku mau berangkat ke kantor," balas Elara dingin, sama sekali tidak berniat menanggapi banyolan mur
"Di mana lo?" tembak Reygan tanpa basa-basi. Suaranya gemetar menahan amarah di dalam dadanya, beradu dengan derap langkah lebarnya yang menggema di koridor penthouse menuju lift."Gue udah di parkir Basement apartemen Clarissa, Rey. Lo—""Kenapa semalam lo biarin Clarissa bawa gue?!" potong Reygan setengah berteriak. Ia menekan tombol lift dengan kasar bertubi-tubi. Di seberang telepon, Lingga menghela napas berat. Suaranya terdengar sangat tenang. "Nyonya Katrin yang kasih izin langsung, Rey. Clarissa punya bukti pesan dari nyokap lo. Zavier dan Yuda juga ada di sana. Kita nggak punya celah buat nolak tanpa bikin keributan di tempat umum.""Sialan!" umpat Reygan murka. Pintu lift terbuka, dan ia melangkah masuk dengan napas memburu."Sekarang jebakan dia sempurna. Dia punya foto gue mabuk semalam di Bar dan mengancam bakal sebarin ke media kalau gue nggak nurutin kemauan dia buat nikah bulan depan!""Rey, tenang dulu—""Tenang lo bilang?!" Reygan tertawa sumbang, tawanya dip
Clarissa memberikan isyarat dengan lambaian tangannya kepada dua bodyguard yang berjaga di luar pintu VIP. Dua pria berbadan tegap itu bergegas maju, mengambil alih tubuh tegap Reygan dari rangkulan Lingga, Zavier, dan Yuda. "Kalian boleh pergi," ucap Clarissa tanpa memandang ketiga pria itu lagi. Dengan langkah anggun, Clarissa memimpin jalan menuju lift yang menujulangsung ke area parkir bawah tanah, tempat mobil limousine hitamnya sudah bersiap. Kedua pengawal dengan sigap mendudukkan Reygan di kursi belakang yang luas, lalu menutup pintu dan mengambil alih kemudi di depan. Kaca sekat berwarna gelap otomatis terangkat, memisahkan kemudi dengan ruang penumpang menciptakan area privasi. Clarissa mendaratkan tubuhnya tepat di samping Reygan. Aroma parfum dari tubuhnya seketika memenuhi isi mobil. Ia menatap Reygan yang terkulai lemas dengan kepala menyandar pasrah pada sandaran kursi. Pria yang selama ini begitu dingin dan selalu menolaknya kini berada dalam genggamannya.
"Non Elara tidak mau turun dari kamarnya karena tubuhnya demam, Nyonya." Ujar kepala pelayan yang bekerja di kediaman keluarga Adolf. Tubuhnya bergeming di sisi kiri Sherly yang tengah menikmati teh hangat dari cangkir di tangannya. "Demam? ringkih sekali anak itu, persis seperti ibunya." Ucapan Sherly diiringi dengan senyum sinis tiap kali teringat dengan mendiang dari istri pertama Mario Adolf. "Paling juga hanya pura-pura." Sahut Vanda santai, menyuap sepotong buah apel dari atas piring. "Elara harus segera mempersiapkan pernikahannya dengan Jackson secepat mungkin. Kita harus memastikan kepemilikan seluruh aset Adolf Group jatuh ke tangan Jackson." Vanda mendengus sebal, "Ya. Setelah itu, mereka harus segera bercerai. Aku tidak rela Jackson menikahi Elara!" Sherly melirik tajam kearah putrinya. Menarik nafas panjang dan meletakan cangkir porselen itu dengan hati-hati. "Kenapa kamu tidak mencari laki-laki dari keluarga konglomerat lain, Vanda? Mama akan segera menikahka







