로그인"Good morning, my lady," sapa Jackson ceria seraya melangkah masuk ke ruang makan kediaman keluarga Adolf pagi itu.Elara sontak mendengus kasar, membuang muka dengan rasa jijik yang teramat sangat. Namun, reaksi berbeda justru ditunjukkan oleh Vanda. Gadis itu langsung bangkit dari kursinya dengan mata berbinar."Jackson!" sambut Vanda penuh semangat. Tanpa canggung, ia bergegas menghampiri pria berdarah campuran itu dan menghambur ke dalam pelukannya, mengabaikan kenyataan bahwa Jackson kini berstatus sebagai calon suami kakaknya."Ehem! Vanda, jaga sikapmu. Jackson itu calon kakak iparmu!" tegur Sherly tajam, melayangkan delikan sinis kepada anak kandungnya sendiri.Gerakan Vanda terhenti seketika, namun ia hanya mendengus pelan sambil melepaskan pelukannya."Chill, Tante. Elara tidak akan cemburu pada adiknya sendiri, right, honey?" ujar Jackson santai, melirik ke arah Elara."Aku mau berangkat ke kantor," balas Elara dingin, sama sekali tidak berniat menanggapi banyolan mur
"Di mana lo?" tembak Reygan tanpa basa-basi. Suaranya gemetar menahan amarah di dalam dadanya, beradu dengan derap langkah lebarnya yang menggema di koridor penthouse menuju lift."Gue udah di parkir Basement apartemen Clarissa, Rey. Lo—""Kenapa semalam lo biarin Clarissa bawa gue?!" potong Reygan setengah berteriak. Ia menekan tombol lift dengan kasar bertubi-tubi. Di seberang telepon, Lingga menghela napas berat. Suaranya terdengar sangat tenang. "Nyonya Katrin yang kasih izin langsung, Rey. Clarissa punya bukti pesan dari nyokap lo. Zavier dan Yuda juga ada di sana. Kita nggak punya celah buat nolak tanpa bikin keributan di tempat umum.""Sialan!" umpat Reygan murka. Pintu lift terbuka, dan ia melangkah masuk dengan napas memburu."Sekarang jebakan dia sempurna. Dia punya foto gue mabuk semalam di Bar dan mengancam bakal sebarin ke media kalau gue nggak nurutin kemauan dia buat nikah bulan depan!""Rey, tenang dulu—""Tenang lo bilang?!" Reygan tertawa sumbang, tawanya dip
Clarissa memberikan isyarat dengan lambaian tangannya kepada dua bodyguard yang berjaga di luar pintu VIP. Dua pria berbadan tegap itu bergegas maju, mengambil alih tubuh tegap Reygan dari rangkulan Lingga, Zavier, dan Yuda. "Kalian boleh pergi," ucap Clarissa tanpa memandang ketiga pria itu lagi. Dengan langkah anggun, Clarissa memimpin jalan menuju lift yang menujulangsung ke area parkir bawah tanah, tempat mobil limousine hitamnya sudah bersiap. Kedua pengawal dengan sigap mendudukkan Reygan di kursi belakang yang luas, lalu menutup pintu dan mengambil alih kemudi di depan. Kaca sekat berwarna gelap otomatis terangkat, memisahkan kemudi dengan ruang penumpang menciptakan area privasi. Clarissa mendaratkan tubuhnya tepat di samping Reygan. Aroma parfum dari tubuhnya seketika memenuhi isi mobil. Ia menatap Reygan yang terkulai lemas dengan kepala menyandar pasrah pada sandaran kursi. Pria yang selama ini begitu dingin dan selalu menolaknya kini berada dalam genggamannya.
"Non Elara tidak mau turun dari kamarnya karena tubuhnya demam, Nyonya." Ujar kepala pelayan yang bekerja di kediaman keluarga Adolf. Tubuhnya bergeming di sisi kiri Sherly yang tengah menikmati teh hangat dari cangkir di tangannya. "Demam? ringkih sekali anak itu, persis seperti ibunya." Ucapan Sherly diiringi dengan senyum sinis tiap kali teringat dengan mendiang dari istri pertama Mario Adolf. "Paling juga hanya pura-pura." Sahut Vanda santai, menyuap sepotong buah apel dari atas piring. "Elara harus segera mempersiapkan pernikahannya dengan Jackson secepat mungkin. Kita harus memastikan kepemilikan seluruh aset Adolf Group jatuh ke tangan Jackson." Vanda mendengus sebal, "Ya. Setelah itu, mereka harus segera bercerai. Aku tidak rela Jackson menikahi Elara!" Sherly melirik tajam kearah putrinya. Menarik nafas panjang dan meletakan cangkir porselen itu dengan hati-hati. "Kenapa kamu tidak mencari laki-laki dari keluarga konglomerat lain, Vanda? Mama akan segera menikahka
Dua pria bertubuh tegap langsung melompat keluar dari pintu depan mobil. Pria pertama, seorang berambut cepak dengan tato menjalar di lehernya, langsung mengambil langkah serang. Tanpa basa-basi, ia melayangkan pukulan lurus dengan tangan kanannya yang mengarah tepat ke pelipis Lingga. Namun, Lingga bukan pria kantoran biasa yang hanya tahu cara memegang pena dan mengatur jadwal rapat Reygan. Sebagai kepala keamanan Valero Corps, kecepatan gerak tubuhnya sangat terlatih. Hasil latihan ilmu bela diri yang ia lakukan bersama Reygan saat masih sekolah dulu selalu berhasil melindungi dirinya dan keluarga Valero sampai hari ini. Dengan gerakan memutar yang sangat lihai, Lingga merendahkan tubuhnya, membiarkan tinju angin itu lewat beberapa sentimeter di atas kepalanya. Belum sempat pria bertato menarik kembali tangannya, Lingga menyergap pergelangan tangan pria itu. Dengan satu gerakan cepat, Lingga memutar tubuhnya membelakangi lawan, menyelipkan bahunya ke bawah ketiak pria itu, la
Elara membeku saat mendengar namanya disebut bersamaan dengan tuduhan kejam itu. Keningnya berkerut dalam, mencoba mencerna rentetan kalimat gila yang baru saja keluar dari bibir Reygan. "Mencuri proyek? Apa maksudmu, Rey?" "Masih mau berakting polos di depanku?!" desis Reygan, cengkeramannya kian mengerat. "Rey! Aku benar-benar tidak mengerti! Mencuri apa?!" pekik Elara dengan air mata yang mulai menggenang. Reygan menyentak kasar tubuh mungil itu hingga dada mereka merapat tanpa jarak. Tatapan matanya menghunjam langsung ke bola mata Elara. "Tender Grand Valero Center jatuh ke tangan Adolf Group dengan rancangan yang sama persis dengan milikku. Kamu pikir aku ini siapa, Elara? Aku adalah CEO utama Valero Corps! Otak di balik seluruh proyek itu!" Reygan menyipitkan mata dengan rahang mengeras. "Jadi kalau kamu dan keluargamu berencana menghancurkan Valero Corps lewat jalur kotor ini... langkahi dulu mayatku!" Ujar Reygan melepaskan cengkeramananya dengan menghempaskan







