Inicio / Romansa / Cinta di Puncak Dunia / BAB 4 : PRIA YANG DATANG TIBA-TIBA

Compartir

BAB 4 : PRIA YANG DATANG TIBA-TIBA

Autor: Yoongina
last update Fecha de publicación: 2026-05-14 14:17:32

Reygan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru semakin menenggelamkan diri dalam tatapan sendu Elara yang kini hanya berjarak sekian milimeter dari wajahnya. Membiarkan hidung mereka bersentuhan, menghirup aroma napas satu sama lain yang bercampur dengan dinginnya udara gunung yang merayap masuk ke sela-sela kain tenda. Sebelah tangan Reygan yang tadi mendekap wajah Elara kini beralih ke tengkuk gadis itu, menariknya dengan lembut untuk menghilangkan jarak yang tersisa.

Elara tidak mampu menahan diri lagi. Ia melingkarkan tangannya di leher kokoh Reygan, menarik pria itu lebih dalam ke arahnya. Di bawah temaram lampu tenda, perlahan Reygan menyatukan bibir mereka dalam sebuah kecupan yang lembut. Ia berhenti sejenak, bersiap menerima kemarahan Elara karena telah berani bertindak sejauh itu.

Namun, Elara hanya terdiam dengan deru napas yang memburu. Sedetik kemudian ia tersentak sadar, lalu dengan gerakan cepat bergegas menjauhkan diri dari tubuh Reygan ke sudut tenda, hingga ia melupakan luka di kakinya.

​"Aarrghh!" jeritnya tertahan. "Ma—maaf..." ucap Elara gugup, tak berani menatap mata Reygan.

​"Hati-hati, kakimu—" Reygan berusaha meraih kaki Elara untuk memeriksa perbannya, namun gadis itu dengan cepat menepis tangannya.

​"Ti—tidak apa-apa, hanya tidak sengaja tertekan," sahut Elara cepat, berusaha mengatur detak jantungnya yang masih tidak beraturan.

"Maaf aku sudah lancang—"

"Tidak. Aku yang salah, terlalu terbawa suasana." Potong Elara cepat.

Hening seketika menyergap ruang sempit di antara mereka. Hanya suara desau angin malam Saujana yang sesekali menghantam dinding tenda.

Suasana kembali canggung di dalam tenda sempit itu. Reygan menarik kembali tangannya yang tadi sempat ditepis.

Ia menatap langit-langit tenda, mencoba menjernihkan pikirannya yang sempat berantakan karena aroma rambut Elara dan kehangatan napas gadis itu.

Di sampingnya, Elara meringkuk sambil memeluk lututnya, berusaha menahan denyut nyeri di kakinya yang kembali berdenyut hebat.

​"Istirahatlah," ujar Reygan akhirnya, suaranya kembali tenang meski sedikit serak. "Aku tidak akan melakukan apa pun yang membuatmu tidak nyaman lagi. Aku janji."

​Elara hanya mengangguk tanpa suara. Ia menarik selimut daruratnya hingga menutupi dagu, seolah benda tipis itu bisa melindunginya dari perasaan campur aduk yang baru saja meledak di dadanya.

Ada rasa sesal, namun jauh di lubuk hatinya, ada pula secercah rasa hangat yang tidak pernah ia rasakan lagi sejak kepergian ayahnya dan sedikit melupakan masalah besar dalam keluarganya setelah kepergian sang ayah.

​Reygan mematikan lampu tenda, menyisakan kegelapan total yang hanya diterangi sedikit cahaya bulan yang menembus kain tenda. Ia berbaring dengan posisi memunggungi Elara, memberikan ruang privasi yang sangat dibutuhkan gadis itu setelah perbuatan lancangnya.

​"Rey?" panggil Elara lirih setelah beberapa menit berlalu dalam kesunyian.

​"Ya?"

​"Jangan marah karena reaksiku tadi. Aku hanya... aku hanya takut."

​Reygan memutar tubuhnya menghadap langit-langit tenda, meski ia tak bisa melihat wajah Elara dengan jelas dalam kegelapan. "Aku tidak marah. Tidurlah. Besok perjalanan kita panjang untuk bisa turun kebawah."

​Malam itu, di ketinggian ribuan meter di atas permukaan laut, dua jiwa yang belum mengenal satu sama lain, mencoba menemukan cara untuk saling percaya. Reygan memejamkan mata, namun bayangan Elara, seorang gadis yang mendaki gunung demi mengenang mendiang ayahnya, yang kini berbaring tepat di sampingnya, justru semakin kuat tertanam di dalam benak laki-laki itu.

***

Embun pagi seketika membekukan seluruh tulang di tubuh Reygan. Ia terjaga saat jam baru menunjukkan pukul empat pagi. Sejenak ia melupakan kehadiran Elara dalam tendanya. Hingga tersadar ketika tangan gadis itu sudah berada diatas perutnya, kepalanya dengan cepat menoleh kesamping. Terkejut karena tas carrier miliknya yang ia jadikan pembatas, telah berpindah kebawah kaki.

Elara tampak tertidur dengan tenang. Wajahnya yang lelah terlihat jauh lebih cantik saat gadis itu masih terbuai dalam mimpi.

Perlahan, Reygan mengangkat tangan Elara dari perutnya dengan gerakan yang sangat hati-hati. Namun, baru saja ia hendak meletakkan tangan mungil itu kembali ke sisi tubuh Elara, jemari gadis itu bergerak menggenggam erat ujung jaket gunung yang dikenakan Reygan.

​Reygan membeku. Dalam remang cahaya fajar yang menembus celah ritsleting tenda, ia bisa melihat Elara merapat ke arahnya, mencari sumber panas tubuh di tengah suhu Gunung Saujana yang mencapai titik beku.

Reygan akhirnya membiarkan posisi itu tetap bertahan. Ia tidak tega membangunkan gadis yang tampak begitu damai setelah kejadian yang ia lalui sendirian di tepi jurang sebelum bertemu dengannya.

Reygan memutar tubuh menghadap Elara. ​Tatapan matanya jatuh pada wajah gadis itu. Sisa-sisa kesedihan akibat menangis karena teringat ayahnya, hilang sementara. Kini ekspresinya tenang seolah telah menemukan tempat bersandar.

Ia teringat dengan janji Elara untuk menemaninya kembali ke puncak gunung Saujana suatu saat nanti, sudut bibir Reygan terangkat membentuk senyum tipis. Baginya, janji itu kini jauh lebih berharga daripada tumpukan dokumen di perusahaan keluarga yang sebentar lagi akan menghimpit pundaknya.

​Ia kemudian menarik selimut darurat milik Elara yang sedikit tersingkap, memastikannya menutupi tubuh gadis itu hingga ke bahu.

Reygan tidak tahu, begitu matahari benar-benar terbit dan mereka harus turun ke bawah, kembali pada kehidupan masing-masing, apakah ia akan bisa bertemu lagi dengan gadis cantik ini. Namun untuk sekarang, di bawah lindungan tenda dome birunya, Reygan hanya ingin waktu berhenti sejenak.

​"Aku akan menjagamu sampai kita turun nanti," bisik Reygan nyaris tanpa suara.

​Seakan mendengar bisikan itu, Elara menghela napas panjang dalam tidurnya dan semakin menyembunyikan wajahnya di balik leher hangat Reygan.

Kehangatan yang menjalar di dada Reygan pagi itu bukan lagi berasal dari tenda dome birunya, melainkan dari kehadiran seorang gadis yang baru ia temui, namun seolah sudah ia kenal sejak lama.

***

"Apa tidurmu nyenyak semalam?" tanya Elara. Pagi ini ia sudah duduk di atas dipan kayu Pos Empat sambil menikmati sepotong roti dan teh hangat.

​Reygan menghentikan gerakannya sejenak dalam melipat tenda, lalu menoleh ke arah Elara.

"Lumayan pegal, karena kamu terus memelukku sampai pagi." Jawabnya. Senyum manis terbit di wajah tampan Reygan, lalu kembali melanjutkan melipat tenda.

Wajah Elara bersemu merah, "Maaf, aku tidak menyadarinya."

"Benarkah?" tanya Reygan tanpa menoleh.

"Baiklah, aku sengaja. Aku minta maaf. Aku benar-benar kedinginan." Jujur Elara dengan suara rendah, ia khawatir Reygan marah dan menuduhnya mencari kesempatan untuk bisa memeluk laki-laki itu.

Reygan bangkit berdiri dan menepuk pelan tangannya, menghempas debu setelah selesai melipat tenda dan mengikatnya di atas tas carrier hitam miliknya.

Ia lalu berjalan mendekat kearah Elara dan duduk di hadapan gadis itu.

"Tidak masalah. Anggap saja, itu sebagai imbalan karena kamu juga tidak marah saat aku mencium bibirmu." Ucap Reygan santai. Tangannya meraih kaki Elara yang terluka. Memeriksa balutan kain kasa yang sudah lusuh terkena darah yang terus keluar dari luka Elara yang cukup dalam.

"Kain kasanya harus diganti. Kalau tidak lukamu akan membusuk. Tapi di kotak P3K sudah tidak ada stok lagi." Reygan berpikir sejenak. Lalu dengan cepat melepaskan jaket gunung miliknya. Melawan udara beku pegunungan.

"Apa yang kamu lakukan?" tanya Elara dengan nada tertahan. Matanya membelalak saat melihat Reygan tidak hanya melepas jaketnya, tetapi juga menanggalkan kaos slimfit yang membungkus tubuh atletisnya.

Elara terpaku, seolah kehilangan kata-kata saat melihat pahatan otot sempurna milik Reygan yang kini terekspos didepan matanya. Cahaya pagi yang masuk ke sela pepohonan seolah mempertegas setiap lekuk otot perutnya yang keras dan atletis.

Reygan seolah tidak terpengaruh oleh tatapan Elara saat laki-laki itu dengan cepat membuka perban di kakinya, kembali mengoleskan antiseptik dan menutupnya menggunakan kaos slimfit yang baru saja ia lepaskan dari tubuhnya.

"Apa kamu tidak kedinginan?" tanya Elara hati-hati.

"Aku sudah terbiasa dengan hawa dingin di Swiss." Jawab Reygan tanpa menoleh.

"Swiss? kamu kerja di sana?"

Reygan menghela nafas panjang, luka Elara telah tetutup sempurna. Ia menatap gadis itu sekarang.

"Aku baru selesai kuliah master di Swiss." Ia bangkit berdiri dan meraih sebuah kaos bersih dari dalam tasnya dengan gerakan santai.

​"Tidak perlu sungkan. Aku memang harus mengganti baju sebelum kita turun," sahut Reygan pendek, suaranya terdengar tenang meski ia tahu Elara sedang memperhatikannya tanpa berkedip.

"Keringat semalam bisa membuatku masuk angin atau lebih buruk lagi, kram otot karena suhu dingin ini."

​Elara segera membuang muka, mencoba menetralkan kembali detak jantungnya yang berdegup kencang. Merah di pipinya kini jauh lebih merona daripada warna senja kemarin sore. Ia pura-pura sibuk dengan sisa roti di tangannya, meski pikirannya masih tertuju pada bayangan siluet tubuh Reygan yang baru saja ia lihat.

​"Maaf, aku tidak tahu kalau kamu akan..." Elara menggantung kalimatnya, merasa konyol sendiri.

​Reygan terkekeh kecil, sebuah suara rendah yang terdengar sangat seksi di telinga Elara. Ia kembali mengenakan kaos bersih dan jaketnya, lalu melangkah mendekati Elara yang masih salah tingkah.

​"Sudah selesai makannya?" tanya Reygan sambil berlutut di depan Elara untuk mengecek kembali kondisi ikatan kaos miliknya di kaki gadis itu.

"Kita tunggu teman-temanku sebelum kita turun kebawah. Sebentar lagi mereka pasti sampai di sini."

​Elara hanya mengangguk patuh, sambil mengunyah roti yang tersisa di tangannya.

​"Kalau kamu... kuliah atau kerja?" tanya Reygan beranjak duduk di samping Elara.

​"Aku—"

​"Elara!"

​Belum sempat gadis itu menjawab, sebuah suara berat memanggilnya. Seorang laki-laki tegap tampak berdiri tak jauh dari tempat mereka.

​Laki-laki itu berjalan mendekat dengan langkah lebar, lalu tanpa ragu memeluk Elara tepat di hadapan Reygan.

​"Aku mengkhawatirkanmu sejak kemarin kamu memaksa pergi ke gunung sendiri. Tapi jangan khawatir, aku sudah di sini. Sekarang kita pulang ya, sayang."

​Reygan tidak mampu berkata-kata. Rahangnya terkatup rapat, sementara sorot matanya yang tadi melembut kini berubah menjadi sedingin es, menatap pemandangan di depannya dengan perasaan yang bergejolak.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Cinta di Puncak Dunia   SPESIAL CHAPTER 2

    "Sayang, Reygan dan Elara sudah datang?" Seru Zheydan, melangkah masuk ke dalam rumah dan melonggarkan ikatan dasi di lehernya. ​Suaranya yang berat memantul di dinding lorong rumah yang megah itu. Kinan, yang sedang sibuk menyusun piring camilan untuk menyambut kedatangan para tamu di taman belakang, tentu saja tidak mendengar panggilan suaminya. ​"Papi, isch hei cho!" [Papi, sudah pulang!]seru Yara gembira, anak gadis Zheydan dan Kinan yang baru berusia sepuluh tahun, berlari kecil menghampiri ayahnya dari arah ruang keluarga. ​"Hoi Schatzi, wo isch d’Mami und diin Brüeder Alexander?" [Halo sayang, dimana mami dan Kakakmu Alexander?]tanya Zheydan dengan senyum hangat, langsung berlutut untuk mendaratkan ciuman lembut di kedua pipi putri kecilnya. ​"Mami di taman belakang bersama Kak Kaelia, Om Reygan, Om Lingga, tante Elara dan tante Vanda. Kalau Kak Alex sedang di kamarnya bersama Levin," jawab Yara polos. ​Zheydan menaikkan sebelah alisnya. "Hanya Kaelia dan Levin? Lalu

  • Cinta di Puncak Dunia   SPECIAL CHAPTER 1

    Kaelia melangkah pelan memasuki area sekolah menengah atas paling favorit di kota ini. Mata bulatnya yang jernih dengan bingkai bulu mata lentik nan lebat menyapu setiap sudut gedung megah berlantai empat di hadapannya. Udara pagi yang segar menyambut langkah pertamanya sebagai siswi SMA. ​"Akhirnya, diterima juga gue di sekolah ini," gumam Kaelia, mengulas senyum manis yang sanggup mengalihkan perhatian beberapa siswa yang berlalu-lalang. ​Gadis cantik itu baru saja hendak mengayunkan langkah menuju lobi utama, ketika sebuah teriakan nyaring memanggil namanya dari arah belakang. ​"Non! Non Kaelia! Ini bekal dari Mommy ketinggalan!" teriak Pak Damar, sopir setia keluarga Valero, berjalan setengah berlari menghampiri Kaelia. ​Kaelia menghentikan langkahnya dan berbalik cepat. "Pak Damar, jangan teriak-teriak! Aku tidak budek!" tegur Kaelia bersedekap dada. Meski wajahnya menampilkan ekspresi kesal, kecantikan alaminya sama sekali tidak berkurang. ​"Iya, maaf, Non. Pak Damar c

  • Cinta di Puncak Dunia   EPILOG : CERITA KITA 3

    REYGAN VALERO & ZHELARA ADOLF - BUAH HATI - Matahari sore membiaskan cahaya keemasan yang hangat menerobos masuk melalui dinding kaca kediaman Valero. Di area pelataran taman belakang yang asri, alunan musik klasik berputar pelan dari pemutar piringan hitam, menyatu dengan gelak tawa renyah yang menghidupkan suasana rumah megah itu. ​Di atas hamparan karpet empuk, dua bayi mungil berusia delapan bulan merangkak aktif dengan celotehan yang menggemaskan. Kaelen Valero—si jagoan kecil yang mewarisi mata tajam dan rahang tegas Reygan—tampak sibuk menepuk-nepuk bola kain berwarna-warni. Sementara di sisinya, Kaelia Valero—sang putri mungil bernetra jernih bagai kristal mirip Elara—terkekeh riang sambil meraih jemari ibunya. ​Elara duduk bersila di samping si kembar, mengenakan gaun santai berwarna biru muda yang membuat wajah cantiknya memancar alami. Raut wajahnya tampak memancarkan kebahagiaan yang sempurna sebagai seorang ibu. ​Dari arah teras, langkah kaki tegap terdengar mend

  • Cinta di Puncak Dunia   EPILOG : CERITA KITA 2

    ZHEYDAN VON GRAFFENRIED & KINAN - BAHASA CINTA - Rumah tangga Zheydan dan Kinan tidak pernah sepi dari canda tawa. Jika pasangan lain mengisi hari-hari setelah pernikahan mereka dengan candlelight dinner yang romantis, maka Zheydan dan Kinan memilih hal lain yang jauh dari kata romantis. Perdebatan konyol, saling ledek, dan kejutan jahil yang membuat suasana rumah selalu hidup setiap harinya. ​Pagi itu, Kinan duduk di sofa ruang tengah dengan laptop berstiker lucu di pangkuannya dan sebuah buku catatan tebal. Matanya fokus memandangi layar sambil sesekali memicingkan mata. ​"Sedang membaca dokumen rahasia perusahaan, Sayang?" tegur Zheydan yang baru saja keluar dari ruangan gym. Pria Swiss itu bertelanjang dada, menyampirkan handuk kecil di lehernya, memperlihatkan deretan tato yang menghiasi lengan dan dada bidangnya. ​"Bukan," sahut Kinan tanpa berpaling dari layar. "Aku sedang belajar bahasa Swiss." ​Zheydan menaikkan sebelah alisnya, tertarik. Ia melangkah mendekat lal

  • Cinta di Puncak Dunia   EPILOG : CERITA KITA 1

    VANDA ADOLF & LINGGA - DIBALIK JERUJI BESI - Langkah kaki Vanda Adolf bergema pelan menembus lorong yang dingin. Di sampingnya, Lingga berjalan tegap dengan satu tangan menggenggam erat jemari sang istri, memberikan kehangatan di tengah kecemasan yang menggelayuti dada Vanda. Setiap kali jemari kekar Lingga meremas lembut tangannya, Vanda menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya serta pergerakan kecil dari janin di dalam kandungannya yang kian membesar. ​Langkah mereka terhenti di depan sebuah pintu besi berjeruji. Seorang petugas polisi mengangguk sopan pada Lingga sebelum menggeser gerendel besi yang berdecit nyaring. ​Di dalam ruangan kunjungan yang sempit dan remang itu, seorang wanita paruh baya duduk di balik meja kayu lapis. Pakaian tahanan berwarna oranye mencolok terlihat begitu besar melekat di tubuhnya yang kini sangat kurus dan ringkih. Rambutnya yang dulu selalu tertata rapi, kini beruban dan terikat asal-asalan. Tatapan matanya redup, kehilang

  • Cinta di Puncak Dunia   FINAL CHAPTER

    "KUTAKLUKAN GUNUNG SAUJANA BERSAMAMU." ⭐️⭐️⭐️ Yuda dan Zavier sudah tiba di tempat yang disepakati sebagai titik temu sebelum melanjutkan perjalanan menuju Gunung Saujana. Pagi itu, keduanya tengah duduk santai di sebuah rumah makan, menunggu kedatangan Reygan dan Elara. ​"Gila juga takdir hidup. Bisa-bisanya Reygan naik gunung lagi, ditemani bidadari yang dulu dia temui di hutan Saujana," celetuk Yuda sambil menatap langit cerah berawan di atas mereka. ​"Mungkin kali ini giliran lo yang bertemu bidadari di atas sana, Yud," sahut Zavier terkekeh. ​"Bukannya bidadari, paling demit yang ketemu gue. Hiiii...!" ​Zavier tertawa terbahak-bahak. "Sadar diri banget lo kalau nasib lo selalu sial, Yud!" ​"Sialan lo!" Yuda melempar potongan roti ke arah Zavier yang masih tertawa puas. ​"Eh, Zav. Gimana Juna? Lo udah hubungi dia?" ​Mendengar pertanyaan Yuda, tawa Zavier seketika reda. Ia menghela napas panjang. "Udah. Tapi dia nggak mau merusak momen kalau ikut naik gunung bareng

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status