LOGINReygan baru saja selesai mendirikan tenda saat matahari hampir terbenam. Semburat senja kemerahan di langit Saujana mengintip dari balik rimbunnya pohon pinus.
Ia menghantamkan batu pada pasak tenda sekali lagi, memastikan tarikan talinya sudah cukup kencang. Reygan bangkit berdiri, menyeka keringat tipis di pelipisnya meski udara di sekeliling mereka mulai terasa membeku. Ia menatap tenda dome kecil yang kini berdiri kokoh di tengah sunyinya Pos Empat. "Hanya ada satu tenda," suara Reygan terdengar rendah, berusaha mengusir kecanggungan yang sempat menggantung di antara mereka. "Suhu malam di Saujana bisa merosot hingga di bawah lima derajat. Tidur di luar tenda tanpa perlindungan memang tindakan bunuh diri." Elara masih mematung di atas dipan kayu, merapatkan selimut darurat yang tadi diberikan Reygan. Matanya menatap tenda itu, lalu beralih pada pria tegap di hadapannya yang seolah tidak terpengaruh oleh hawa dingin pegunungan. "Tapi... aku tidak menyangka kalau tendamu sekecil ini, apa itu cukup untuk berdua?" "Pas-pasan, tapi jauh lebih baik daripada aku mati membeku di luar," jawab Reygan cepat. Ia membungkuk, membuka ritsleting tenda dan mulai menghamparkan sleeping bag miliknya di atas alas tenda. "Aku akan tidur di sisi dekat pintu. Kalau kamu merasa tidak nyaman, kita bisa meletakkan tas di tengah sebagai pembatas." Elara mengangguk pelan, menyadari bahwa dalam kondisi darurat seperti ini, mereka harus mengalah demi untuk bertahan hidup. Ia mencoba berdiri, namun ringisan kecil kembali lolos dari bibirnya saat kaki kirinya tak sengaja menyentuh tanah. Dengan sigap, Reygan kembali berada di sisi Elara. Tanpa meminta izin lebih dulu, ia merangkul pinggang Elara dan membantu gadis itu berjalan pincang menuju tenda. "Duduklah di sini," ucap Reygan saat mereka sampai di bibir tenda. Ia membantu Elara melepas sepatu pendakinya yang kotor, lalu membimbingnya masuk ke dalam ruang sempit yang kini terasa lebih hangat. Saat keduanya sudah berada di dalam, ruang di dalam tenda itu terasa begitu sesak. Aroma pinus dan dinginnya malam yang menyeruak dari luar kini bercampur dengan aroma parfum maskulin milik Reygan yang memenuhi sudut tenda. "Rey," panggil Elara lirih saat laki-laki itu sibuk mengatur posisi tas miliknya. "Ya?" Reygan menoleh, jarak wajah mereka kini hanya terpaut beberapa senti. "Terima kasih sudah memilih untuk tinggal. Maksudku... aku mendengar ucapan temanmu tadi, kalau puncak itu sangat penting bagimu," ujar Elara tulus. Reygan terdiam sejenak, menatap manik mata Elara yang memantulkan cahaya temaram dari lampu tenda. "Tidak masalah, asal kamu berjanji, untuk menemaniku kembali ke gunung ini dan menuju puncak itu berdua." Elara terpaku, tanpa ia sadari, wajahnya kini tersipu mendengar kalimat manis dari mulut Reygan. "Bagaimana?" tanya Reygan sekali lagi. Elara mengangguk pelan, "Baiklah, aku akan membalas kebaikanmu yang telah menyelamatkan nyawaku." Reygan tersenyum mendengar jawaban Elara, "Aku akan tagih janjimu." bisiknya di depan wajah cantik itu. Setelah merapihkan tas sebagai pembatas diantara mereka, Reygan memutar tubuhnya menghadap bibir tenda. Ia menyalakan kompor dan menuang air dalam botol untuk membuat mie instan. "Persediaan air kita hampir habis. Bagaimana kalau aku kebawah sebentar sebelum gelap? aku lihat ada mata air tidak jauh dari sini." "Iya, cepatlah. Jangan lama-lama." Tangan Reygan terangkat, mengusap puncak kepala Elara, "Jangan kemana-mana," kemudian ia bergegas keluar dari tenda, meninggalkan Elara yang masih terdiam dengan jantung yang berdegup kencang akibat perlakuan manis pria itu. Reygan meraih botol minum kosong dan melangkah menembus kabut yang kini mulai menyelimuti jalur setapak di sekitar Pos Empat. Udara malam yang menusuk membuat Reygan mempercepat gerakannya. Berbekal senter kecil di kepalanya, ia menemukan aliran air kecil yang jernih di sela-sela bebatuan, tak jauh dari lokasi tenda. Suara gemericik air menjadi satu-satunya melodi di tengah kesunyian hutan yang kian mencekam. Sambil mengisi botol, pikirannya melayang pada janji yang baru saja ia buat bersama Elara. Dua tahun di Swiss yang dingin biasanya ia habiskan dalam kesendirian. Namun kini, di tengah suhu Gunung Saujana yang mulai merosot hingga di bawah lima derajat, ia justru merasakan kehangatan yang berbeda. Reygan tahu bahwa ada sesuatu pada Elara yang membuatnya bersedia melepaskan ambisi puncaknya begitu saja. Hatinya menghangat saat pertama kali menemukan gadis itu. Belum pernah Reygan merasakan jatuh cinta secepat ini pada seorang gadis. Seakan tidak ingin melepaskan Elara saat mereka sudah berada di bawah esok hari. Setelah semua botol terisi penuh, ia segera kembali. Ia tidak ingin membiarkan Elara menunggu terlalu lama dan ketakutan sendirian. Saat bayangan tenda dome birunya mulai terlihat, Reygan menarik napas lega. Ia melihat siluet Elara dari balik kain tenda yang tipis, gadis itu tampak duduk memeluk lututnya. "Aku kembali," ucap Reygan pelan sambil membuka ritsleting tenda. Elara menoleh, wajahnya yang tadi tampak cemas seketika berubah cerah. "Cepat sekali." "Mata airnya dekat sekali dengan tenda," sahut Reygan sambil meletakkan botol-botol air di sudut tenda. Ia segera kembali ke depan kompor. Tak lama aroma gurih mie instan mulai memenuhi ruangan sempit itu, mengalahkan aroma pinus yang menusuk dari luar. Mereka menikmati makan malam sederhana itu dalam keheningan yang nyaman. Hanya suara denting sendok yang sesekali terdengar. Setelah selesai, Reygan merapihkan kompor dan memastikan ritsleting tenda tertutup rapat untuk menghalau hawa dingin dan binatang dari arah hutan. "Tidurlah. Kamu butuh tenaga untuk perjalanan turun besok," ujar Reygan sambil mengatur sleeping bag-nya. "Rey, apa sebelumnya kamu pernah berada dalam satu tenda dengan seorang gadis?" Reygan menatap wajah Elara yang terlihat lebih cantik di bawah lampu tenda yang redup. "Baru pertama kali. Kalau kamu?" "Aku pernah satu tenda dengan laki-laki—"Jawaban Elara entah kenapa menimbulkan rasa tidak nyaman dalam hati Reygan. Ia menghela nafas pendek, memalingkan wajahnya kearah lain. "Ternyata sudah punya pacar?" tanya Reygan, dengan nada suara yang berubah sedingin udara malam gunung Saujana. "Dengan ayahku." Lanjut Elara menundukkan kepala. Rambut panjangnya bergetar seiring dengan suara isak tangis tertahan. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya, mencoba menahan isakan yang terasa menyesakkan dadanya. Reygan tertegun. Ia sudah salah paham. Dengan cepat, kedua tangan itu meraih tangan Elara yang menutupi wajahnya yang sudah basah oleh air mata. "Maaf," bisik Reygan lembut. Ia menarik pelan tubuh Elara dan membiarkannya menangis dalam pelukannya. "Ayahku... baru saja meninggal, dan aku naik ke gunung ini untuk mengenangnya karena aku sangat merindukannya." Elara menarik nafas sejenak, "Sebenarnya, aku datang sendirian ke gunung ini, tapi di tengah perndakian, aku bertemu dengan rombongan para remaja. Mereka mengajakku untuk mendaki bersama. Tapi, saat kami turun kebawah, aku terpisah karena terlalu asik mengambil foto pemandangan di atas bukit. Aku bukan bagian dari rombongan mereka, mungkin karena itu mereka tidak menyadari kalau aku tertinggal." Reygan semakin mempererat pelukannya, membiarkan keheningan malam di Gunung Saujana menjadi saksi kesedihan Elara yang tumpah di pelukannya. Rasa bersalah karena sempat meragukan gadis itu, berubah menjadi rasa empati yang mendalam. Ia mengerti arti sebuah kehilangan, meski dalam konteks yang berbeda. Ia baru saja kehilangan dua tahun hidupnya di Swiss dalam kesendirian demi memenuhi permintaan kedua orang tuanya. Saat itu, Reygan memilih untuk menuruti perintah Papa dan Mamanya untuk melanjutkan pendidikan master di Swiss sebelum diberi kepercayaan untuk mengelola Valero corps milik keluarganya. Ia pun memilih pergi sekaligus untuk bisa melupakan bayang-bayang Gaby. Kekasih yang terpaksa ia tinggalkan karena tidak mendapat restu dari kedua orang tuanya. Sejak kisah cintanya dengan Gaby berakhir, Reygan mencoba menutup diri dari semua wanita. Ia hanya takut jatuh cinta lagi, dan kembali dihadapi oleh restu orang tua. Tapi kali ini, hatinya kembali terjebak pada seorang gadis yang hampir saja kehilangan nyawanya di tengah hutan gunung Saujana. "Jangan minta maaf," bisik Reygan, tangannya mengusap punggung Elara dengan lembut untuk menenangkan isak tangisnya. "Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah berprasangka buruk." Elara masih sesenggukan, namun kehangatan dari dekapan Reygan perlahan meredakan gemetar di tubuhnya. Ia merasa aman, sesuatu yang hilang sejak ayahnya pergi meninggalkannya selamanya. Di dalam tenda sempit ini, bau parfum maskulin Reygan yang tadi sempat membuatnya canggung kini telah menjadi penenang hatinya. "Ayahmu pasti bangga melihat putrinya seberani ini mendaki Saujana sendirian hanya untuk mengenangnya," lanjut Reygan dengan suara yang dalam dan tenang. Ia sedikit melonggarkan pelukan untuk menatap wajah Elara, menghapus sisa air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya. Tatapannya yang tajam namun lembut mengunci manik mata Elara. Kegelapan di luar tenda yang tadinya terasa mengancam, kini seolah terhapus oleh kehadiran pria yang baru dikenalnya beberapa jam itu. Elara melihat ketulusan yang sama dengan pria yang dulu pernah menggendongnya menuju puncak gunung ini saat ia masih usia remaja dan ayahnya masih kuat menopang tubuhnya. "Tidurlah," bisik Reygan. kedua tangannya mendekap lembut wajah Elara. Gadis itu tidak lantas memejamkan mata. Sebaliknya, Elara justru bergerak maju, mengikis jarak yang tersisa di antara mereka hingga napasnya yang hangat menerpa permukaan kulit Reygan. Dalam remang cahaya lampu tenda, tatapan Elara terpaku pada sepasang mata tajam milik pria yang baru saja memberikan kenyamanan luar biasa baginya. Perlahan, Elara menyandarkan keningnya pada kening Reygan. Ia seolah mencari sedikit kekuatan dari pria itu, seperti cara ia bersandar pada ayahnya beberapa hari yang lalu di gunung yang sama. Reygan membeku, napasnya tertahan saat merasakan jemari Elara yang masih dingin menyentuh pergelangan tangannya yang melingkar di wajah gadis itu. "Jangan lepaskan aku malam ini," bisik Elara nyaris tak terdengar. Suaranya yang lirih bergetar tepat di depan bibir Reygan, menciptakan debaran yang jauh lebih kencang daripada saat ia mendaki tanjakan terjal Saujana."Sayang, Reygan dan Elara sudah datang?" Seru Zheydan, melangkah masuk ke dalam rumah dan melonggarkan ikatan dasi di lehernya. Suaranya yang berat memantul di dinding lorong rumah yang megah itu. Kinan, yang sedang sibuk menyusun piring camilan untuk menyambut kedatangan para tamu di taman belakang, tentu saja tidak mendengar panggilan suaminya. "Papi, isch hei cho!" [Papi, sudah pulang!]seru Yara gembira, anak gadis Zheydan dan Kinan yang baru berusia sepuluh tahun, berlari kecil menghampiri ayahnya dari arah ruang keluarga. "Hoi Schatzi, wo isch d’Mami und diin Brüeder Alexander?" [Halo sayang, dimana mami dan Kakakmu Alexander?]tanya Zheydan dengan senyum hangat, langsung berlutut untuk mendaratkan ciuman lembut di kedua pipi putri kecilnya. "Mami di taman belakang bersama Kak Kaelia, Om Reygan, Om Lingga, tante Elara dan tante Vanda. Kalau Kak Alex sedang di kamarnya bersama Levin," jawab Yara polos. Zheydan menaikkan sebelah alisnya. "Hanya Kaelia dan Levin? Lalu
Kaelia melangkah pelan memasuki area sekolah menengah atas paling favorit di kota ini. Mata bulatnya yang jernih dengan bingkai bulu mata lentik nan lebat menyapu setiap sudut gedung megah berlantai empat di hadapannya. Udara pagi yang segar menyambut langkah pertamanya sebagai siswi SMA. "Akhirnya, diterima juga gue di sekolah ini," gumam Kaelia, mengulas senyum manis yang sanggup mengalihkan perhatian beberapa siswa yang berlalu-lalang. Gadis cantik itu baru saja hendak mengayunkan langkah menuju lobi utama, ketika sebuah teriakan nyaring memanggil namanya dari arah belakang. "Non! Non Kaelia! Ini bekal dari Mommy ketinggalan!" teriak Pak Damar, sopir setia keluarga Valero, berjalan setengah berlari menghampiri Kaelia. Kaelia menghentikan langkahnya dan berbalik cepat. "Pak Damar, jangan teriak-teriak! Aku tidak budek!" tegur Kaelia bersedekap dada. Meski wajahnya menampilkan ekspresi kesal, kecantikan alaminya sama sekali tidak berkurang. "Iya, maaf, Non. Pak Damar c
REYGAN VALERO & ZHELARA ADOLF - BUAH HATI - Matahari sore membiaskan cahaya keemasan yang hangat menerobos masuk melalui dinding kaca kediaman Valero. Di area pelataran taman belakang yang asri, alunan musik klasik berputar pelan dari pemutar piringan hitam, menyatu dengan gelak tawa renyah yang menghidupkan suasana rumah megah itu. Di atas hamparan karpet empuk, dua bayi mungil berusia delapan bulan merangkak aktif dengan celotehan yang menggemaskan. Kaelen Valero—si jagoan kecil yang mewarisi mata tajam dan rahang tegas Reygan—tampak sibuk menepuk-nepuk bola kain berwarna-warni. Sementara di sisinya, Kaelia Valero—sang putri mungil bernetra jernih bagai kristal mirip Elara—terkekeh riang sambil meraih jemari ibunya. Elara duduk bersila di samping si kembar, mengenakan gaun santai berwarna biru muda yang membuat wajah cantiknya memancar alami. Raut wajahnya tampak memancarkan kebahagiaan yang sempurna sebagai seorang ibu. Dari arah teras, langkah kaki tegap terdengar mend
ZHEYDAN VON GRAFFENRIED & KINAN - BAHASA CINTA - Rumah tangga Zheydan dan Kinan tidak pernah sepi dari canda tawa. Jika pasangan lain mengisi hari-hari setelah pernikahan mereka dengan candlelight dinner yang romantis, maka Zheydan dan Kinan memilih hal lain yang jauh dari kata romantis. Perdebatan konyol, saling ledek, dan kejutan jahil yang membuat suasana rumah selalu hidup setiap harinya. Pagi itu, Kinan duduk di sofa ruang tengah dengan laptop berstiker lucu di pangkuannya dan sebuah buku catatan tebal. Matanya fokus memandangi layar sambil sesekali memicingkan mata. "Sedang membaca dokumen rahasia perusahaan, Sayang?" tegur Zheydan yang baru saja keluar dari ruangan gym. Pria Swiss itu bertelanjang dada, menyampirkan handuk kecil di lehernya, memperlihatkan deretan tato yang menghiasi lengan dan dada bidangnya. "Bukan," sahut Kinan tanpa berpaling dari layar. "Aku sedang belajar bahasa Swiss." Zheydan menaikkan sebelah alisnya, tertarik. Ia melangkah mendekat lal
VANDA ADOLF & LINGGA - DIBALIK JERUJI BESI - Langkah kaki Vanda Adolf bergema pelan menembus lorong yang dingin. Di sampingnya, Lingga berjalan tegap dengan satu tangan menggenggam erat jemari sang istri, memberikan kehangatan di tengah kecemasan yang menggelayuti dada Vanda. Setiap kali jemari kekar Lingga meremas lembut tangannya, Vanda menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya serta pergerakan kecil dari janin di dalam kandungannya yang kian membesar. Langkah mereka terhenti di depan sebuah pintu besi berjeruji. Seorang petugas polisi mengangguk sopan pada Lingga sebelum menggeser gerendel besi yang berdecit nyaring. Di dalam ruangan kunjungan yang sempit dan remang itu, seorang wanita paruh baya duduk di balik meja kayu lapis. Pakaian tahanan berwarna oranye mencolok terlihat begitu besar melekat di tubuhnya yang kini sangat kurus dan ringkih. Rambutnya yang dulu selalu tertata rapi, kini beruban dan terikat asal-asalan. Tatapan matanya redup, kehilang
"KUTAKLUKAN GUNUNG SAUJANA BERSAMAMU." ⭐️⭐️⭐️ Yuda dan Zavier sudah tiba di tempat yang disepakati sebagai titik temu sebelum melanjutkan perjalanan menuju Gunung Saujana. Pagi itu, keduanya tengah duduk santai di sebuah rumah makan, menunggu kedatangan Reygan dan Elara. "Gila juga takdir hidup. Bisa-bisanya Reygan naik gunung lagi, ditemani bidadari yang dulu dia temui di hutan Saujana," celetuk Yuda sambil menatap langit cerah berawan di atas mereka. "Mungkin kali ini giliran lo yang bertemu bidadari di atas sana, Yud," sahut Zavier terkekeh. "Bukannya bidadari, paling demit yang ketemu gue. Hiiii...!" Zavier tertawa terbahak-bahak. "Sadar diri banget lo kalau nasib lo selalu sial, Yud!" "Sialan lo!" Yuda melempar potongan roti ke arah Zavier yang masih tertawa puas. "Eh, Zav. Gimana Juna? Lo udah hubungi dia?" Mendengar pertanyaan Yuda, tawa Zavier seketika reda. Ia menghela napas panjang. "Udah. Tapi dia nggak mau merusak momen kalau ikut naik gunung bareng







