LOGIN"Lepaskan aku!" jerit Elara mendorong tubuh pria yang tiba-tiba datang dan memeluknya.
"Sayang, jangan marah lagi. Ayo kita pulang, keluargamu sudah menunggu di rumah." "Cukup, Jack. Mereka bukan keluargaku." Pria tampan berdarah campuran bernama Jackson itu, menatap Elara dengan tajam. Ketegangan yang terjadi membuat Jackson tidak menyadari keberadaan Reygan yang duduk disamping Elara. "Pull your head in, Vanya! Your Mum’s frantic because of you." Bentaknya keras. Reygan yang mendengar bentakan dengan kata kasar keluar dari mulut Jackson, bangkit berdiri lalu mendorong tubuh laki-laki itu agar tidak berteriak di depan Elara. "Hey, Man! Calm down." Tegur Reygan dengan wajah mengeras. "Siapa kamu! Jangan ikut campur." Mata Jackson kini beralih ke wajah Reygan sepenuhnya. Dan sedetik kemudian, kesalah pahaman tiba-tiba memenuhi pikirannya. "Oh, aku tahu... jadi kamu memaksakan diri pergi ke Gunung ini dengan alasan rindu dengan ayahmu, tapi sebenarnya kamu pergi berdua dengan laki-laki yang tidak jelas asal usulnya ini? apa nanti yang akan terjadi kalau mamamu tahu, kamu bergaul dengan pria berandal dan tidak sederajat dengan keluargamu, Elara!" "Damn, it!" Umpat Reygan kasar, dia tidak bisa lagi menahan amarahnya, tinjunya melayang begitu saja di wajah Jackson. Pukulan Reygan mendarat telak di rahang Jackson, membuat pria blasteran itu terhuyung ke belakang hingga hampir terjatuh. Suara hantaman itu memecah kesunyian Pos Empat, disusul ringisan Jackson sambil memegang sudut bibirnya yang mulai berdarah. "Rey, cukup!" teriak Elara histeris. Ia berusaha berdiri meski kakinya masih terbalut kaos Reygan, rasa nyeri yang hebat tak ia pedulikan demi menghentikan perkelahian yang baru saja terjadi. Jackson menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan. Ia tertawa sinis, menatap Reygan dengan sorot mata penuh kebencian. "Jadi ini pahlawanmu, Vanya? Seorang berandal yang hanya tahu cara menggunakan otot?" "Tutup mulutmu, Jackson!" Elara membentak dengan suara bergetar. "Dia yang menyelamatkan nyawaku, jangan berani menyebutnya berandal sebelum kamu berkaca siapa yang sebenarnya berandal di sini!" Reygan berdiri tegak, napasnya memburu. Aura dingin dari Swiss yang biasa membuatnya tenang kini membangkitkan sisi gelap Reygan yang mampu menghancurkan apa pun di depannya. Ia maju selangkah, menatap Jackson tepat di manik mata pria itu. "Aku tidak peduli siapa kamu atau apa hubunganmu dengan Elara," suara Reygan rendah penuh ancaman. "Tapi sekali lagi kau membentaknya atau mengeluarkan kata-kata kasar itu di depannya, aku pastikan kau tidak akan bisa berjalan turun dari gunung ini dengan kakimu sendiri." Jackson mendengus, namun ada kilat ketakutan yang tertangkap di matanya. Ia baru menyadari bahwa wajah tampan Reygan dengan penampilan serta postur tubuhnya yang tinggi dan atletis, terlihat berkelas, sesuatu yang mustahil dimiliki oleh seorang 'berandal' gunung biasa. "Elara, ayo pulang," Jackson mengalihkan perhatiannya pada Elara, berusaha meraih pergelangan tangan gadis itu dengan paksa. "Jangan sampai aku menyeretmu!" "Jangan sentuh dia dengan tangan kotormu," Reygan menepis tangan Jackson dengan kasar, menempatkan dirinya di depan Elara. Suasana semakin mencekam. Elara terjepit di tengah-tengah dua pria yang saling melempar tatapan mematikan. Di satu sisi berdiri Jackson, pria berdarah campuran yang menjadi alat perjodohan paksa ibu tirinya, sosok yang kehadirannya tak pernah ia inginkan. Namun di sisi lain ada Reygan, pria asing yang baru ia kenal semalam, tetapi telah memberikan kehangatan di hatinya dan berdiri pasang badan melindunginya hingga detik ini. Tepat saat ketegangan mencapai puncaknya, suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari arah jalur pendakian. "Rey! Apa yang terjadi?" Juna, Zavier, dan Yuda muncul dengan napas terengah-engah. Mereka mematung melihat pemandangan di depan mata, Reygan yang siap berkelahi, Elara yang pucat, dan seorang pria asing yang wajahnya sudah babak belur. "Sepertinya kita harus menginap satu malam lagi di Gunung Saujana," bisik Zavier pelan, menyadari bahwa ketegangan di depan mereka jauh lebih berbahaya daripada medan pendakian manapun. "Ternyata benar-benar berandalan Gunung. Selalu datang bergerombolan." Hinaan tajam Jackson menyambut teman-teman Reygan yang baru datang. "Baiklah, aku mengalah. Terserah kamu mau ikut aku atau tidak, Elara. Yang pasti, aku akan melaporkan ini pada tante Sherly!" Jackson bergegas melangkah pergi menuruni jalan setapak di pos empat. Laki-laki itu tidak menoleh lagi. Emosi yang menguasai pikirannya, membuat langkahnya yang panjang langsung menghilang dari balik pepohonan. Hening seketika menyergap Pos Empat setelah bayangan Jackson hilang ditelan kabut. Suara napas Reygan yang masih memburu menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar, beradu dengan desau angin yang menyapa dedauanan di deretan pohon pinus. Elara lunglai. Kakinya yang cedera tak mampu lagi menopang berat tubuhnya yang gemetar hebat. Sebelum tubuhnya menyentuh tanah, sepasang lengan kokoh milik Reygan sudah lebih dulu menangkapnya, mendekapnya erat. "Dia sudah pergi, Elara. Tenanglah," bisik Reygan, suaranya melembut seketika. "Maaf... maafkan aku, Rey," isak Elara di dada pria itu. Air matanya luruh, membasahi jaket gunung yang dikenakan Reygan. "Gara-gara bertemu denganku... liburanmu jadi berantakan. Lebih baik kalian segera pergi, tinggalkan aku sendiri, aku nggak apa-apa. Jackson... benar-benar akan melaporkan ini pada ibu tiriku. Aku tidak mau dia menuduhmu yang tidak-tidak seperti tadi." Reygan tidak menjawab. Ia justru mempererat pelukannya, memberikan kehangatan yang Elara butuhkan di tengah badai emosi ini. Ia melirik sekilas ke arah Juna, Zavier, dan Yuda yang masih berdiri terpaku beberapa meter dari mereka. "Zav, siapkan lagi tendanya. Kita tidak mungkin turun sekarang dalam kondisi Elara yang terguncang seperti ini, badannya demam dan gemetar," perintah Reygan tegas tanpa melepaskan dekapannya. Zavier mengangguk cepat, "Siap, Rey. Jun, Yud, bantu aku ambil perlengkapan. Sepertinya porsi makan kita harus ditambah satu lagi." "Tapi, Rey. Tenda gue cuma muat dua orang, semalam kami tidur berdesakan." Ujar Juna mengingatkan, "Rencana kita kan memang satu tenda berdua, makanya cuma gue sama Reygan yang bawa tenda." "Benar juga, kita semalam tidur bertiga aja udah sesak, nggak mungkin dong malam ini kita tidur berempat." sahut Yuda. "Gue satu tenda sama Elara." Ucap Rey tegas, membuat ketiga temannya saling berpandangan. Zavier dan Yuda tersenyum penuh arti. Tapi tidak dengan Juna, ia terlihat tidak menyukai ide itu. Matanya beralih menatap dingin kearah Elara. Reygan bergegas menggendong Elara agar bisa beristirahat di dipan kayu, sementara mereka membangun dua tenda di pos empat. "Nyokap lo gimana, Rey? dia udah pesan kalau kita hanya camping tiga hari. Kalau kita nggak pulang sekarang, itu artinya—" ucap Juna mendekati Reygan. "Gue yang akan menjelaskan ke nyokap bokap gue." Potong Devan menyobek sedikit kaos cadangan untuk mengompres Elara yang mendadak demam. Melihat sikap dan perhatian Reygan yang berlebihan pada Elara, ketiga sahabat Reygan tahu bahwa ini bukan sekedar urusan menolong pendaki yang tersesat. Mereka mengenal Reygan, pria yang biasanya selalu menjaga jarak dan sangat tertutup soal perasaan, terutama setelah kisah cintanya dengan Gaby berakhir. Sekarang justru memberi seluruh perhatiannya pada seorang gadis asing yang baru dikenalnya dalam satu hari, itu tandanya... Reygan sudah menaruh hati pada gadis itu. Reygan membaringkan Elara di dipan kayu dan menempelkan kompresan dikeningnya, mengabaikan tatapan penuh tanya dari teman-temannya. Lalu, ia berlutut di depan gadis itu, memeriksa kembali kaos slimfit nya yang kini melilit kaki Elara. Elara menatap wajah tajam Reygan. Di balik rahang yang masih mengeras itu, ia menemukan ketulusan yang sama seperti saat mereka berbagi napas di dalam tenda semalam. Namun, ketakutan baru mulai merayap di hatinya. Elara teringat ancaman Jackson yang akan melaporkannya pada ibu tirinya, Sherly. "Rey, pulanglah dengan teman-temanmu, aku bisa sendiri. Aku mohon." Reygan tersenyum tipis, "Fokuslah pada pemulihanmu. Kita akan turun Gunung sama-sama besok pagi. Saujana mungkin saksi pertemuan kita, tapi aku tidak akan membiarkan tempat ini jadi akhir dari cerita kita. Apalagi, kamu sudah berjanji padaku untuk kembali lagi kesini.""Sayang, Reygan dan Elara sudah datang?" Seru Zheydan, melangkah masuk ke dalam rumah dan melonggarkan ikatan dasi di lehernya. Suaranya yang berat memantul di dinding lorong rumah yang megah itu. Kinan, yang sedang sibuk menyusun piring camilan untuk menyambut kedatangan para tamu di taman belakang, tentu saja tidak mendengar panggilan suaminya. "Papi, isch hei cho!" [Papi, sudah pulang!]seru Yara gembira, anak gadis Zheydan dan Kinan yang baru berusia sepuluh tahun, berlari kecil menghampiri ayahnya dari arah ruang keluarga. "Hoi Schatzi, wo isch d’Mami und diin Brüeder Alexander?" [Halo sayang, dimana mami dan Kakakmu Alexander?]tanya Zheydan dengan senyum hangat, langsung berlutut untuk mendaratkan ciuman lembut di kedua pipi putri kecilnya. "Mami di taman belakang bersama Kak Kaelia, Om Reygan, Om Lingga, tante Elara dan tante Vanda. Kalau Kak Alex sedang di kamarnya bersama Levin," jawab Yara polos. Zheydan menaikkan sebelah alisnya. "Hanya Kaelia dan Levin? Lalu
Kaelia melangkah pelan memasuki area sekolah menengah atas paling favorit di kota ini. Mata bulatnya yang jernih dengan bingkai bulu mata lentik nan lebat menyapu setiap sudut gedung megah berlantai empat di hadapannya. Udara pagi yang segar menyambut langkah pertamanya sebagai siswi SMA. "Akhirnya, diterima juga gue di sekolah ini," gumam Kaelia, mengulas senyum manis yang sanggup mengalihkan perhatian beberapa siswa yang berlalu-lalang. Gadis cantik itu baru saja hendak mengayunkan langkah menuju lobi utama, ketika sebuah teriakan nyaring memanggil namanya dari arah belakang. "Non! Non Kaelia! Ini bekal dari Mommy ketinggalan!" teriak Pak Damar, sopir setia keluarga Valero, berjalan setengah berlari menghampiri Kaelia. Kaelia menghentikan langkahnya dan berbalik cepat. "Pak Damar, jangan teriak-teriak! Aku tidak budek!" tegur Kaelia bersedekap dada. Meski wajahnya menampilkan ekspresi kesal, kecantikan alaminya sama sekali tidak berkurang. "Iya, maaf, Non. Pak Damar c
REYGAN VALERO & ZHELARA ADOLF - BUAH HATI - Matahari sore membiaskan cahaya keemasan yang hangat menerobos masuk melalui dinding kaca kediaman Valero. Di area pelataran taman belakang yang asri, alunan musik klasik berputar pelan dari pemutar piringan hitam, menyatu dengan gelak tawa renyah yang menghidupkan suasana rumah megah itu. Di atas hamparan karpet empuk, dua bayi mungil berusia delapan bulan merangkak aktif dengan celotehan yang menggemaskan. Kaelen Valero—si jagoan kecil yang mewarisi mata tajam dan rahang tegas Reygan—tampak sibuk menepuk-nepuk bola kain berwarna-warni. Sementara di sisinya, Kaelia Valero—sang putri mungil bernetra jernih bagai kristal mirip Elara—terkekeh riang sambil meraih jemari ibunya. Elara duduk bersila di samping si kembar, mengenakan gaun santai berwarna biru muda yang membuat wajah cantiknya memancar alami. Raut wajahnya tampak memancarkan kebahagiaan yang sempurna sebagai seorang ibu. Dari arah teras, langkah kaki tegap terdengar mend
ZHEYDAN VON GRAFFENRIED & KINAN - BAHASA CINTA - Rumah tangga Zheydan dan Kinan tidak pernah sepi dari canda tawa. Jika pasangan lain mengisi hari-hari setelah pernikahan mereka dengan candlelight dinner yang romantis, maka Zheydan dan Kinan memilih hal lain yang jauh dari kata romantis. Perdebatan konyol, saling ledek, dan kejutan jahil yang membuat suasana rumah selalu hidup setiap harinya. Pagi itu, Kinan duduk di sofa ruang tengah dengan laptop berstiker lucu di pangkuannya dan sebuah buku catatan tebal. Matanya fokus memandangi layar sambil sesekali memicingkan mata. "Sedang membaca dokumen rahasia perusahaan, Sayang?" tegur Zheydan yang baru saja keluar dari ruangan gym. Pria Swiss itu bertelanjang dada, menyampirkan handuk kecil di lehernya, memperlihatkan deretan tato yang menghiasi lengan dan dada bidangnya. "Bukan," sahut Kinan tanpa berpaling dari layar. "Aku sedang belajar bahasa Swiss." Zheydan menaikkan sebelah alisnya, tertarik. Ia melangkah mendekat lal
VANDA ADOLF & LINGGA - DIBALIK JERUJI BESI - Langkah kaki Vanda Adolf bergema pelan menembus lorong yang dingin. Di sampingnya, Lingga berjalan tegap dengan satu tangan menggenggam erat jemari sang istri, memberikan kehangatan di tengah kecemasan yang menggelayuti dada Vanda. Setiap kali jemari kekar Lingga meremas lembut tangannya, Vanda menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya serta pergerakan kecil dari janin di dalam kandungannya yang kian membesar. Langkah mereka terhenti di depan sebuah pintu besi berjeruji. Seorang petugas polisi mengangguk sopan pada Lingga sebelum menggeser gerendel besi yang berdecit nyaring. Di dalam ruangan kunjungan yang sempit dan remang itu, seorang wanita paruh baya duduk di balik meja kayu lapis. Pakaian tahanan berwarna oranye mencolok terlihat begitu besar melekat di tubuhnya yang kini sangat kurus dan ringkih. Rambutnya yang dulu selalu tertata rapi, kini beruban dan terikat asal-asalan. Tatapan matanya redup, kehilang
"KUTAKLUKAN GUNUNG SAUJANA BERSAMAMU." ⭐️⭐️⭐️ Yuda dan Zavier sudah tiba di tempat yang disepakati sebagai titik temu sebelum melanjutkan perjalanan menuju Gunung Saujana. Pagi itu, keduanya tengah duduk santai di sebuah rumah makan, menunggu kedatangan Reygan dan Elara. "Gila juga takdir hidup. Bisa-bisanya Reygan naik gunung lagi, ditemani bidadari yang dulu dia temui di hutan Saujana," celetuk Yuda sambil menatap langit cerah berawan di atas mereka. "Mungkin kali ini giliran lo yang bertemu bidadari di atas sana, Yud," sahut Zavier terkekeh. "Bukannya bidadari, paling demit yang ketemu gue. Hiiii...!" Zavier tertawa terbahak-bahak. "Sadar diri banget lo kalau nasib lo selalu sial, Yud!" "Sialan lo!" Yuda melempar potongan roti ke arah Zavier yang masih tertawa puas. "Eh, Zav. Gimana Juna? Lo udah hubungi dia?" Mendengar pertanyaan Yuda, tawa Zavier seketika reda. Ia menghela napas panjang. "Udah. Tapi dia nggak mau merusak momen kalau ikut naik gunung bareng







