Mag-log inZheydan menelungkupkan wajahnya di atas kemudi. Bahunya bergetar hebat, menahan isakan sesak yang akhirnya pecah setelah memendam rahasia ini sendirian. Di sampingnya, Kinan hanya bisa mengusap lembut punggung tegap itu, menyalurkan kehangatan dan keheningan—berharap sapuan jemarinya mampu mengikis sedikit saja kepedihan di hati kekasihnya. " Sitt miner Geburt han i mini Familie nie gseh. Aso auch mini Zwillingsschwester nid. Si vo Nöchem z’gsee, macht mer irgedwie s’Härz schwär..." (Sejak lahir aku tidak pernah bertemu keluargaku. Termasuk saudara kembarku. Melihatnya dari dekat... entah kenapa membuat dadaku terasa begitu sesak.)Lirih Zheydan dengan suara parau yang timbul tenggelam di antara napasnya yang patah-patah. Meski Kinan tak memahami deretan kata dalam bahasa yang diucapkan Zheydan, intonasi parau dan getaran suaranya sudah cukup menjadi penerjemah. Kinan tahu, itu adalah jeritan kesedihan mendalam dari seorang pria yang baru saja menatap keluarga satu-satunya dari
Zheydan melangkah maju satu demi satu, mendekati ranjang tempat Zhelara terbaring. Pandangannya tak lepas dari wajah adik kembarnya yang begitu redup. "Zhelara... ini aku—" "Dia kekasihnya Kinan," sambar Reygan memotong cepat kalimat Zheydan sebelum kata kunci itu terucap. Kalimat itu seketika membekukan lidah Zheydan. Pria Swiss itu menatap Reygan dengan mata yang mulai berkabut oleh genangan air mata yang siap tumpah kapan saja. Ada rasa sesak yang menghantam dadanya—keinginan untuk memeluk sang adik terpaksa ditahan kembali. Reygan menggeleng pelan ke arah Zheydan. Lewat tatapan matanya yang tajam dan memberi sebuah peringatan, Reygan seolah bicara tanpa suara: Ini belum waktunya. Elara baru saja sadar, kondisinya belum stabil. Zheydan menghela napas berat, lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela berbingkai kayu yang tertutup rapat oleh tirai. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, berusaha keras menyeka genangan air mata yang membasahi kelopak matanya sebelum ada yang
Lingga melangkah maju mendekati adiknya. Tanpa mempedulikan suasana haru yang baru saja tercipta, ia menarik kasar jemari Kinan agar terlepas dari genggaman Zheydan. Matanya menyala penuh amarah saat menatap tajam ke arah laki-laki itu. "Keluar dari kamar ini! Aku akan buat perhitungan denganmu di luar!" ucap Lingga tegas, memutar tubuhnya dan berjalan lebih dulu ke arah pintu kamar ICU. "Bang! Bang Lingga, jangan marah sama Zheydan! Dia tidak salah, dia hanya—" Kinan mencoba menahan langkah kakinya, merengek panik seraya menatap Zheydan dengan mata berkaca-kaca. "Hei, tenang saja," potong Zheydan lembut. Pria Swiss itu melangkah mendekat, mengabaikan tatapan membunuh dari Lingga, lalu mengusap lembut pipi Kinan untuk menenangkan ketakutannya. "Kakakmu hanya ingin bicara sebentar denganku. Percayalah padaku." Pemandangan itu seketika membuat rahang Lingga mengeras kaku. Ujung matanya berkedut menahan emosi yang siap meledak. Reygan bangkit berdiri dari sisi ranjang Zhela
Keheningan yang mencekam menyelimuti koridor ICU. Suara dengung lampu neon dan bising samar peralatan medis seolah lenyap dari pendengaran Reygan. Kata-kata Zheydan terus bergema di kepalanya, menghantam kesadarannya bagaikan petir di siang bolong.Saudara kembar kandung...Reygan menatap pria di hadapannya dengan rahang mengeras. Otaknya berputar cepat—mencoba menyatukan semua kepingan teka-teki yang selama ini mengusiknya. Sorot mata yang mirip, aura yang tegas, hingga kepedulian Zheydan yang begitu tidak wajar terhadap Zhelara. Semuanya kini masuk akal. Pria yang ia sangka musuh karena hampir membunuhnya di bawah jalan layang malam itu ternyata adalah darah daging kekasihnya sendiri."Kau..." suara Reygan tertahan di tenggorokan, tercekat oleh kenyataan yang belum bisa ia cerna sepenuhnya.Dokter Sekar menjadi orang pertama yang memecah kehening itu. Ilmu kedokterannya langsung mengambil alih. "Tuan, apakah Anda yakin? Fenotipe Rh-Null adalah kelainan genetika yang sangat langk
Reygan sempat pasrah dengan kondisinya yang terdesak. Dalam kondisi pasrah, ia memejamkan mata rapat-rapat saat melihat kaki bersepatu laras tebal itu melayang terangkat, siap menghancurkan wajahnya. Di balik kegelapan matanya yang terpejam, hanya ada satu harapan yang tersisa. Ia ingin pertarungan sialan ini cepat berakhir agar ia bisa segera sampai ke rumah sakit menemui Elara. Namun, insting bertahan hidup dan bayangan wajah kekasihnya mendadak memberi tambahan kekuatan untuknya. Tepat saat ujung sepatu laras itu hampir meremukkan wajahnya, Reygan membelalakkan mata. Dengan refleks cepat, ia memaksa tangannya yang bergetar hebat untuk mencengkeram pergelangan kaki musuh di udara. Mengabaikan rasa sakit yang membakar rusuknya, Reygan mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa untuk memutar pergelangan kaki pria itu dengan kasar. CRACK! "ARRGH!" Raungan kesakitan memecah keheningan malam yang sepi saat tulang pergelangan kaki pria itu retak. Pria itu ambruk memegangi kakinya
Dalam hitungan detik, indikator alarm darurat di atas pintu kamar VVIP itu menjerit nyaring, memicu langkah kaki tergesa-gesa dari tim medis yang langsung menerobos masuk. Tubuh Elara yang kian tak sadarkan diri diangkut dengan cepat ke atas brankar dorong untuk dilarikan ke ruang perawatan intensif. Kinan berlari di samping brankar dengan air mata yang membasahi seluruh wajahnya. Jemari Elara yang makin dingin perlahan terlepas dari genggamannya saat pintu tebal berlapis kaca ICU ditutup rapat di depan wajahnya. Dengan tangan yang gemetar hebat dan napas sesak karena panik, Kinan merogoh ponsel dari dalam sakunya. Jemarinya bergerak cepat mencari kontak pertama yang terlintas di kepalanya tentu saja Reygan Valero. Kinan segera menekan tombol panggil. "Ayo, angkat, Bang... Tolong angkat..." lirih Kinan penuh keputusasaan. Jantungnya berdegup semakin kencang senada dengan nada panggil yang tak kunjung di angkat. Panggilan pertama terputus tanpa jawaban. Tanpa membuang wa







