INICIAR SESIÓNSejak matahari belum tinggi menembus tirai jendela, Juna sudah terduduk kaku di ruang kerjanya. Meja eksekutif yang biasa dipenuhi tumpukan berkas laporan keuangan perusahaan kini disisakan bersih, hanya satu map tipis berwarna cokelat di tengahnya. Isinya tak banyak. Beberapa salinan dokumen identitas, surat kuasa hukum, lembar catatan instruksi dari Tomi, serta selembar kertas pemberitahuan jadwal persidangan dari Pengadilan Agama.
Juna memandangi map tersebut tanpa berniat menyenSiska tertegun melihat kesungguhan yang terpatri murni di mata Juna. Lelaki yang selama ini dia kenal sebagai sosok menantu santun dan beretika kini berdiri sebagai pelindung yang tidak lagi bisa diintimidasi."Saya akan mengambil seluruh langkah hukum dan tindakan apapun yang diperlukan untuk menghancurkan posisi Ibu jika Ibu berani menyentuhnya lagi," tambah Juna penuh penekanan.Siska menatap pintu apartemen yang terbuka. Jihan tidak keluar untuk memohon, tidak ada suara tangis pembenaran. Hanya ada Juna--satu-satunya pria yang semula masih bisa dia kendalikan melalui ikatan pernikahan. Tapi, kini berdiri membentenginya dengan tembok keteguhan yang tak tertembus."Ini belum selesai, Juna." Tarikan napasnya mengudara panjang, sembari dia merapikan pakaiannya yang kusut seraya melempar tatapan benci."Bagiku, sudah."Siska menatapnya cukup lama sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi. Suara tumit sepatunya bergema keras menjauh di
Jihan selesai membereskan beberapa buku di meja ruang tengah di saat hari hendak menjelang malam. Sejak pagi pikirannya dipenuhi kabar dari Juna mengenai persidangan. Perceraian itu akhirnya resmi selesai secara hukum. Status yang selama berbulan-bulan menjadi garis batas di antara mereka kini telah runtuh tak berbekas. Ada kebahagiaan kecil yang sulit dia sembunyikan. Juna akhirnya bebas, dan mereka bisa menentukan arah hubungan sendiri tanpa lagi berada di bawah bayang-bayang perkawinan yang menggantung. Jihan mengambil gelas kosong dari meja lalu berjalan menuju dapur. Namun baru beberapa kaki dia melangkah, ketukan keras terdengar dari pintu depan.Jihan praktis menghentikan langkahnya, disusul senyum tipis mengulas di bibir. "Juna?" gumamnya berbisik.Tiada jawaban dari luar. Ketukan kembali terdengar dengan ritme menuntut yang sama. Jihan bergegas mendekati pintu lalu memutar kunci. Saat pintu terbuka lebar, senyum di wajahnya lenyap seutuhnya.
Juna terdiam, mengawasi map itu tanpa berniat menyentuhnya. Sammy membuka sampul map tersebut, memperlihatkan tumpukan salinan dokumen. Itu berupa riwayat transaksi keuangan, skema struktur anak perusahaan, catatan perpindahan saham, serta beberapa lembar korespondensi lama."Aku tahu Siska Admaji punya skenario beracun di balik semua ini," ujar Sammy dengan nada berat.Tatapan Juna berubah waspada. "Siska?"Sammy mengangguk. "Sejak kau baru mengenal Nayla,"Juna kembali duduk di kursinya. Matanya terpaku pada dokumen di hadapannya. "Rencana apa?"Sammy menyodorkan lembaran pertama. "Memanfaatkan keretakan perceraian kalian secara maksimal. Siska tahu betul rumah tanggamu dan Nayla sudah lapuk di ujung tanduk. Dia juga menyelidiki dan menemukan fakta bahwa Nayla menjalin hubungan denganku sebelum kau mengetahuinya. Tapi itu setelah kau akan menceraikan Nayla. Dasarnya, dia memang ingin mengambil segalanya darimu. Dia tidak menduga ak
Juna membelok dari rencananya menuju apartemen Jihan. Sekian kilometer lagi dia akan sampai, sebuah pesan singkat dari Sammy masuk ke ponselnya:[Kita perlu bicara. Berdua.]Juna membaca pesan tersebut tanpa niat membalas, hingga lipatan detik berikutnya dering notifikasi kedua menyusul:[Soal Nayla. Soal bayi itu. Ada hal mendasar yang belum kau ketahui.]Juna mengernyitkan dahi. Sidang talak baru saja usai. Putusan perceraian sudah mengantongi ketetapan hukum. Seharusnya hari ini menjadi garis penutup bagi satu lembar persoalan panjang yang menguras jiwanya. Namun ternyata, takdir belum benar-benar mengizinkannya bernapas lega. Juna menatap sopir di balik kemudi. "Pak, ubah arah. Kita ke bangunan kantor lama milik keluarga."Sopir mengangguk patuh. Sepanjang perjalanan, Juna menyimpan ponselnya di saku jas. Dadanya terasa dihimpit beban berat. Nama Sammy saja sudah lebih dari cukup untuk mengusik ketenangannya. Selama berbulan
Usai kalimat putusan dibacakan, Juna merasa suara di sekitarnya sayup-sayup memudar. Status hukumnya telah tuntas. Sah. Berakhir. Kalimat-kalimat formalistik itu terasa bersahaja, namun di baliknya tersimpan pengujung dari perjalanan panjang yang melelahkan. Juna menundukkan kepalanya sejenak. Memori masa lalu berputar kilat dalam benaknya. Malam-malam dingin yang dipenuhi keheningan menyiksa, pengkhianatan yang meremukkan harga dirinya, hingga sosok gadis sederhana dari kafe penuntun jiwanya keluar dari kegelapan. Di sisi lain ruangan, Nayla menunduk dalam-dalam seraya meneteskan air mata pelepasan. Fina bergegas merangkul dan menggenggam erat jemarinya. Siska berdiri mematung, menatap Nayla dalam raut kehilangan seluruh kendali dan kuasanya. "Nayla, ayo kita pulang." Nayla menyapu air matanya, menatap Siska dengan sorot pelepasan yang damai. "Aku mau pergi bersama Fina, Bu." "Kau anak Ibu! Kenapa kau ter
Sejak matahari belum tinggi menembus tirai jendela, Juna sudah terduduk kaku di ruang kerjanya. Meja eksekutif yang biasa dipenuhi tumpukan berkas laporan keuangan perusahaan kini disisakan bersih, hanya satu map tipis berwarna cokelat di tengahnya. Isinya tak banyak. Beberapa salinan dokumen identitas, surat kuasa hukum, lembar catatan instruksi dari Tomi, serta selembar kertas pemberitahuan jadwal persidangan dari Pengadilan Agama. Juna memandangi map tersebut tanpa berniat menyentuh. Hari ini, setelah menempuh perjalanan panjang yang menguras mental dan mengoyak emosi. Hari yang selama ini terasa jauh akhirnya benar-benar memanggilnya.Pintu terbuka. Kenny melangkah masuk dengan ponsel di tangan dan raut wajah penuh keseriusan. "Juna, mobil dan Driver sudah siap di bawah."Juna mengangguk singkat, "Terima kasih, Ken.""Kau ... baik-baik aja?""Ada yang ku pikirkan. Hanya sedikit.""Memikirkan proses persidangannya?"
Nasi telah menjadi bubur. Dosa terlaksana dan kini Nayla siap menanggung hukuman. Tidak ada lagi bahasa kelembutan, senyum yang teduh, apalagi perhatian hangat seperti hari-hari di saat dia dan suaminya tengah bersama-sama. Ingin mendapat pembelaan dari siapa? Kenyataan itu datang karena ulahnya se
Dua bulan bagai dua tahun bagi Juna Janendra. Jika menyangkut perasaan dan cinta, maka seluruh normalisasi makna kata akan berubah menjadi kiasan majas. Tak tahu di mana letak kewarasan, asal kesadaran masih bertahan di dalam raga. Kepulangannya ke Ibu Kota menjadi momen paling menggembirakan bagin
Rencana Daniel untuk memboyong Jihan ke restoran Prancis terpaksa pupus. Gadis itu memaksakan pilihan dia sendiri dan rumah makan murah yang sangat terkenal di Jakarta adalah tempat tujuannya. RM Sari Rasa, rumah makan ini menyajikan menu masakan rumahan khas Jawa, seperti rawon leker, nasi kuning,
"Nay, katakan apa yang terjadi padamu? Kenapa kau tiba-tiba pulang membawa koper? Suamimu mana?" Siska Admaji melipat kedua lengan di atas meja makan. Tatapan menuntut tak sekalipun beralih dari sosok putrinya di seberang dia. "Bu, a-aku minta maaf. Aku mengacaukan semuanya." "Bicara yang jelas,







