Se connecterNico angkat kedua telapak tangannya dan tangkup wajah Puput dengan lembut. Dia dekatkan bibirnya perlahan, lalu cium gadis itu berulang kali, lembut, manis, dan penuh kerinduan, hingga Puput hampir kehabisan napas.Napasnya semakin terputus ketika sesuatu di bawah permukaan air tekan tubuhnya. Sebuah hasrat keras yang tertahan oleh kain menempel erat pada tubuh Puput.“Puput .…”Suara Nico terdengar serak, jelas tunjukkan perasaannya saat itu. Nggak tunggu lama, Nico tarik pergelangan tangan Puput, bawa dia menuju tangga di sudut kolam yang tersembunyi. Sudut itu benar-benar gelap, tertutup papan kayu yang halangi pemandangan tebing.“Nico … ah!”Puput yang terus-menerus dihujani ciuman tanpa sempat bersiap langsung melemah. Nico duduk di anak tangga paling bawah. Dia tarik Puput untuk duduk di pangkuannya, jaga tubuh bagian atasnya tetap berada di atas air. Puput peluk dia erat, sementara tali bra-nya terlepas. Telapak tangan Nico yang besar menyelinap ke dalam tank top kecil yang dik
Begitu Puput tutup teleponnya, Nico langsung tertawa keras. Dia benar-benar terhibur oleh kepandaian Puput untuk bohong. Dia hampir nggak percaya gadis itu berani katakan semua itu.“Kamu ini benar-benar licik.”“Tunggu dulu, kenapa kamu sebut aku gitu, Puput? Aku nggak pernah suruh kamu bohong ke ibumu. Kamu sendiri yang pikirkan semuanya.”“Itu karena kamu, Nico, aku jadi sampai harus bohong.”Puput pasang wajah cemberut, seolah semua kesalahan sepenuhnya miliknya.“Sudah, sudah. Jangan gitu. Jangan ngambek.”“Aku bukan anak kecil. Kamu selalu bilang aku ngambek.”“Tapi itu cocok untuk kamu, Puput. Kamu memang suka ngambek dan juga gampang nangis, tapi semua tentang kamu tetap terlihat manis dan menggemaskan.”Senyum Nico sampai ke matanya. Puput yang duduk di atas tempat tidur hanya sedikit putar tubuhnya karena malu.“Menurutmu ibumu percaya dengan yang barusan kamu bilang?”“Aku nggak tahu. Sebelum tutup telepon, aku sempat dengar dia menghela napas pelan.”“Kalau dia percaya, itu
“Makasih. Ngomong-ngomong, kita bisa makan malam di mana?”“Dapur kami buka sampai pukul 22.00. Kamu juga bisa telepon untuk pesan makanan dan nikmatin itu di balkon dekat kolam renang, atau makan langsung di restoran. Nomor teleponnya ada di samping telepon.”“Makasih.”Setelah staf itu pergi, Nico kunci pintu kamar sambil cari sosok yang tadi sudah masuk lebih dulu. Ternyata Puput sudah buka pintu balkon dan duduk di sana, nikmati keindahan kolam renang yang berpadu dengan pemandangan hutan dan pegunungan di depannya.Kamar mereka hampir tepat di tepi lereng gunung yang curam. Untungnya ada pagar pembatas di depan kolam renang.“Udara setelah hujan benar-benar segar, Nico.”Puput yang duduk di kursi rotan bundar menoleh ke arah Nico yang baru saja buka pintu geser dan duduk di hadapannya.“Kamu nggak lapar, Puput? Aku mulai lapar. Sejak kita sepedaan tadi kita belum makan malam. Kita cuma setir bolak-balik saja.”Nico pegang menu makanan yang ada di kursi santai dekatnya.“Aku juga l
Mereka berdua terus mengayuh sepeda kelilingi waduk hingga selesaikan satu putaran penuh, sebelum akhirnya kembalikan sepeda itu ke tempat sewa. Nico kemudian beli sebuah kelapa utuh dari kios kecil di dekat sana untuk Puput minum, biar dia nggak haus lagi.Mereka duduk berdampingan untuk istirahat, menyeruput air kelapa sambil pulihkan tenaga setelah naik sepeda cukup lama.“Tadi itu pesan apa kok sampai buat kamu senang banget, Puput? Sepanjang tadi kita naik sepeda, aku lihat kamu senyum-senyum sendiri,” tanya Nico, nggak mampu sembunyikan rasa penasarannya. Sejak terima pesan itu, pipi Puput terus mengembang karena senyumnya.“Nggak ada apa-apa.”“Hei, Puput, nggak boleh main rahasia-rahasiaan dari aku.”“Kalau begitu gimana dengan kamu, Nico? Apa kamu juga punya rahasia?”“Nggak ada. Sama sekali nggak ada, Puput.” Nico menggeleng cepat.“Yakin?”“Tentu saja. Ngapain aku bohong ke kamu?”Mereka saling tersenyum, masing-masing merasa telah simpan rahasia mereka dengan sangat baik. W
“Aku dengar sekarang sudah ada vaksinnya. Kalau nggak karena COVID, aku pasti sudah bawa kamu terbang ke mana pun yang kamu mau.”“Memangnya kamu tahu aku pingin pergi ke mana?”“Aku nggak tahu.”Jawaban itu buat Puput tertawa pelan. Namun hubungan mereka begitu rapuh. Dia pilih biarkan semuanya mengalir sebagaimana mestinya. Untuk saat ini, dia belum siap paksa takdir berjalan lebih cepat. Bisa lewati hari demi hari saja sudah cukup baginya.Setelah nyetir cukup jauh tinggalkan kota, Puput nggak bisa alihkan pandangannya dari kehidupan masyarakat lokal yang terhampar di sepanjang jalan. Para pedagang masih patuhi protokol keselamatan, pakai masker dan sediakan hand sanitizer di dekat mereka. Namun pengunjung tampak sangat sedikit, hampir di setiap toko yang mereka lewati, jarang terlihat ada orang yang beli.Nico sempat berhenti di sebuah rumah makan pinggir jalan untuk ajak Puput cobain makanan lokal. Itu adalah kedua kalinya Puput lihat dia makan hidangan favoritnya. Sekarang dia pe
“Apa maksudmu, Kirana? Berubah gimana?”“Menurutku Nico sudah benar-benar lupakan aku, Pasha.”Dengar itu, alis Pasha langsung berkerut rapat. Pikirannya nggak bisa berhenti pikirkan adik perempuannya, bertanya-tanya apa keadaan memang benar-benar telah berubah.“Kamu nggak marah ke aku, kan, Pasha?”“Kalau kamu nggak marah ke aku, aku juga nggak marah ke kamu.”“Oke. Berarti kita impas. Aku juga sudah stres selama beberapa hari ini.”“Makasih sudah ngerti aku, Kirana.”“Yah, aku cuma merasa kasihan ke Puput. Aku nggak tahu gimana semuanya akan berakhir antara dia dan Nico.”“Kita lihat saja nanti. Dari yang aku lihat, Nico juga bertingkah aneh akhir-akhir ini. Dia sering jemput dan antar Puput pulang, juga kasih tahu Ibu dan Ayah kalau dia pacarnya.”“Benar juga. Kalau Nico masih simpan dendam, rasanya dia nggak akan repot-repot temui orang tuamu seperti itu. Memang aneh.”“Biarkan aku yang urus Puput. Kamu nggak perlu khawatir, Kirana. Santai saja. Hari pernikahan kita sudah hampir t
“Nico baru beberapa bulan kembali dari luar negeri. Seharusnya dia nggak punya musuh di sini, Paul,” ujar Jihan setelah dengar seluruh cerita.“Benar juga, Jihan. Aku juga bingung.”Keduanya kemudian lihat ke arah Puput secara bersamaan.“Puput, apa kamu pernah punya mantan pacar?” Jihan akhirnya ta
Beberapa hari kemudian, seperti biasa Nico pergi ke spa dengan Puput. Setelah itu mereka seharusnya pulang ke apartemen Nico untuk bersantai. Namun saat Nico baru saja keluar dari spa, sebuah sepeda motor mendekat lalu melambat di dekatnya. Penumpang yang duduk di belakang keluarkan sesuatu dan lang
Puput nggak jawab. Dia hanya berikan senyum tipis yang terasa dipaksakan ke kakaknya sebelum diam-diam tinggalkan kantor. Pasha hanya bisa kepalkan tangannya erat-erat. Gimana mungkin dia bisa selamatkan adiknya jika Puput sendiri terus biarkan Nico hancurkan dia seperti ini?Beberapa waktu kemudian
Nico sering lakukan hal seperti ini, datang ke tempat kerja Puput agar semua orang tahu kalau dia adalah pacarnya Puput, dan nuntut Puput datang ke kondominiumnya setiap kali dia libur, atau kapan pun Nico pingin.“Puput, bisa nggak kamu datang minggu ini?”Nico tanya ke wanita yang duduk di depan k







