تسجيل الدخولSiska menutup mulutnya cepat. Ia masih mengantuk tetapi memaksakan diri untuk bangun.“ Ini semua gara-gara Andin, menelpon sampai tengah malam,” keluhnya seraya meregangkan otot-ototnya. Semalam sahabatnya itu sangat cerewet karena Siska pergi ke Paris tanpa memberitahukannya. Andin sedikit khawatir, namun setelah melihat unggahan Siska yang sedang bersama Evan di menara Eiffel rasa kesalnya justru semakin meningkat, karena tidak diajak. Siska tersenyum kecil mengingat percakapannya bersama Andin. Tak lama, ketukan di pintu terdengar, seorang pelayan masuk setelah Siska mengizinkan masuk. “Nona, ditunggu sarapan sama Grandma.” “Baik. Saya segera turun.”Pelayan itu lantas meninggalkan Siska. “Evan kemana?” ***Di taman di samping mansion, Siska mendorong kursi roda Nenek Evan. “Ada yang ingin Grandma bicarakan?” ucap Siska. Sejak sarapan Siska sudah memperhatikan wanita tua itu. Siska dapat menebak jika ada sesuatu yang ingin disampaikan. “Apa begitu kentara?” Wanita tua itu
Bab 32 – Singkat Tetapi BerdebarEvan mengulum senyum di depan cermin bulat. Masih berada di kamar mandi. Bayangan kejadian di perjalanan pulang tadi kembali terlintas, saat ia mengirimkan pesan kepada Nando.Evan: Kau hanya bisa mengagumi dia di sosial media. Sedangkan aku melihatnya secara langsung, berdiri di depanku.Tak lama kemudian, Evan mengirimkan foto Siska yang diam-diam ia ambil tadi.Sepanjang perjalanan pulang, Evan sibuk meladeni Nando yang mendadak uring-uringan. Pria itu bahkan mengancam, jika Evan tidak membawa Siska ke restoran untuk berkenalan, maka Nando sendiri yang akan datang langsung ke apartemen hanya demi numpang makan.Tanpa Evan sadari, sejak tadi Siska sering meliriknya dengan hati yang nyaris retak.“Ternyata dia benar-benar fans sama Siska,” gumam Evan. Ia mengulurkan tangan, menghapus embun di cermin, berusaha menatap wajahnya sendiri dengan lebih jelas.“Aku akan mempertemukan mereka, sebelum Nando berbuat aneh.”Ya, Nando sempat mengancam akan membu
Bangunan itu berdiri megah di hadapan mereka. Kubah kaca besar dengan rangka besi berornamen klasik memanjakan mata. Orang-orang berlalu-lalang, sebagian berhenti sekadar mengambil foto.Siska terdiam cukup lama.“Ini …” Suaranya pelan. “Ini Galeries Lafayette?”Evan mengangguk. “Iya.”Siska menelan ludah. Tangannya tanpa sadar mencengkeram lengan mantel Evan.“Aku cuma pernah lihat di majalah,” ucapnya lirih. “Aku tidak pernah membayangkan bisa ke sini.”Evan menoleh. Matanya menangkap ekspresi Siska yang sulit disembunyikan, mata berbinar, bibir sedikit terbuka, seperti anak kecil yang baru masuk ke dunia impiannya.Lucu, pikir Evan.Dan entah kenapa, dadanya terasa hangat.Siska dan Evan masuk.Langit-langit kubah kaca langsung menyambut. Tangga melengkung, etalase butik kelas dunia, dan aroma parfum mahal bercampur menjadi satu.Siska berdiri terpaku.“Evan …” Ia berputar perlahan, menatap ke segala arah. “Ini gila.”“Kau berlebihan,” ujar Evan, tetapi sudut bibirnya terangkat.“A
Menara Eiffel berdiri megah di hadapan mereka. Langit Paris berwarna jingga keemasan, matahari belum sepenuhnya tenggelam. Angin sore berhembus pelan, membawa udara dingin yang membuat Siska refleks merapatkan jaket tipisnya. Namun dingin itu sama sekali tidak mengurangi senyum di wajahnya.Setelah meminta izin secara diam-diam kepada Nenek Evan, Siska dan Evan akhirnya memutuskan ke Menara Eiffel. Siska pikir Evan akan menolaknya, tetapi lelaki itu justru lebih dulu bersiap.Di depan Menara Eiffel, Siska berhenti melangkah. Matanya membulat, bibirnya sedikit terbuka. Ia menatap ke atas, ke arah menara besi yang selama ini hanya ia lihat dari layar ponsel atau televisi.“Ini … beneran ya?” gumamnya lirih, seperti takut kalau semua ini hanya mimpi.
Halaman restoran Evan sore itu cukup ramai. Kamera berdiri di tripod, menghadap ke arah dapur terbuka yang sudah dipercantik dengan nuansa kayu dan tanaman hijau. Evan berdiri di depan, mengenakan baju koki hitam dengan potongan tegas, lengan dilipat rapi hingga siku.“Take satu,” ucap kru singkat.Evan langsung tersenyum profesional. “Selamat datang di—”“Stop, stop,” Nando tiba-tiba menyela sambil mendekat, matanya menyipit menatap pakaian Evan. “Eh, Van … aku baru ngeh.”Evan menoleh. “Kenapa?”“Itu baju koki baru?” Nando meraba sedikit bagian lengan. “Gila, cocok banget di badanmu. Hitam memang lebih menawan.”Evan menunduk sekilas melihat pakaiannya sendiri, lalu tanpa sadar tersenyum kecil. “Iya,” jawabnya ringan. “Nyaman. Potongannya pas.”Nando mengangkat alis. “Dari mana? Jangan bilang dari Fatin.”Evan refleks menggeleng. “Bukan.”“Terus?”Evan diam sebentar, lalu berkata datar tapi jujur, “Dari istriku,” ucap Evan setengah berbisik. Ia tidak mungkin membiarkan semua orang
Pagi-pagi sekali Evan telah berangkat ke restoran. Katanya sore ini dia adalah acara take video untuk mempromosikan menu baru di restoran. Siska merasa bosan tinggal di apartemen. Karena Andin masih proses resign jadi Siska tak punya teman. Untuk itu Siska memutuskan untuk menghibur diri diluar sekalian untuk mencari referensi untuk rencana karirnya ke depan. Mall siang itu cukup ramai. Musik lembut mengalun dari pengeras suara, bercampur dengan suara langkah kaki dan tawa pengunjung. Siska berdiri di depan etalase sebuah butik pakaian wanita. Tangannya memegang hanger gaun sederhana berwarna krem. Ia menimbang-nimbang, ragu.“Bagus itu.”Siska menoleh spontan.Seorang wanita berhijab berdiri di sampingnya. Senyumnya lembut dan matanya hangat.“Eh … Fatin?” Siska agak terkejut.“Iya.” Fatin tersenyum lebih lebar. “Aku kira salah lihat.”Mereka sama-sama terdiam sejenak. Canggung, tapi tidak sampai kikuk. Ada rasa asing yang aneh, padahal mereka sudah pernah bertemu beberapa kali.“Ka







