MasukBAB 3
Keesokan harinya. Siska sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Sejak subuh tadi, dia sudah menyiapkan sarapan sederhana untuk Evan, sekadar roti dan kopi, agar pria itu tidak lagi berteriak seperti kemarin.
Semalam, Siska sebenarnya menunggu Evan pulang. Bukan karena rindu, tetapi karena dia takut sendirian di apartemen baru itu. Lingkungan sekitar masih asing dan dia belum tahu bagaimana keamanan di kawasan tersebut. Tetapi hingga jam sepuluh malam, Evan tak kunjung datang. Akhirnya Siska menyerah dan memutuskan untuk tidur lebih dulu.
“Oke, aku sudah siap.” Siska menatap jam di pergelangan tangannya, memastikan tidak terlambat. “Aku harus berangkat sekarang.”
Baru saja ia keluar kamar, Evan juga muncul dari kamarnya. Pria itu sudah rapi dengan kemeja panjang dan rambut yang disisir klimis.
“Aku sudah buatkan kamu roti di meja makan dan juga kopi. Aku berangkat, ya!” seru Siska sambil bergegas menuju pintu. Tetapi baru dua langkah, ia berhenti, berbalik, lalu berlari kecil ke arah Evan dan meraih tangan pria itu untuk diciumnya.
“Lupa salim,” ujarnya sambil menyengir malu. “Aku pergi, ya!” serunya kembali.
Evan hanya berdiri terpaku.
Beberapa detik berlalu sebelum pria itu bisa bernapas normal kembali. “A-apa yang barusan dia lakukan?” gumamnya, masih tak percaya.
Evan menghela napas pelan. “Wanita itu … benar-benar aneh. Tapi di balik keterpaksaan pernikahan ini, setidaknya Siska masih tahu sopan santun.”
Evan berjalan ke meja makan. Benar saja, di sana sudah ada sepiring roti dan secangkir kopi hitam. Ia menatapnya ragu. “Ini tidak bikin sakit perut, kan?”
Demi menghargai usaha Siska, ia tetap duduk dan mulai menyantap rotinya.
“Lumayan,” ujarnya pelan setelah mengunyah sepotong. “Akan lebih nikmat kalau dipanggang.”
Merasa aman-aman saja, Evan kemudian menyeruput kopi buatan Siska. Tetapi baru satu teguk, wajahnya langsung berubah drastis. Ia menahan batuk dan buru-buru menyemburkan kopi itu ke wastafel terdekat.
“Ya Tuhan … ini … ini asin?” serunya frustasi. “Dia nggak bisa bedain gula sama garam, apa?”
Evan mengusap wajahnya lelah. “Aku menyesal sudah memuji rotinya.”
***
Siska tiba di kantor dengan langkah mantap. Ia menarik napas panjang, menegakkan kepala dan berusaha tak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitarnya. Sudah sejak pagi, ia tahu kalau banyak yang memperbincangkan dirinya. Berita tentang pernikahannya yang mendadak tersebar di mana-mana — televisi, media sosial, bahkan gosip antar karyawan. Tetapi Siska sudah menyiapkan mental. Hari ini dia harus tetap kuat, apapun yang terjadi.
Begitu sampai di lantai tiga, ia langsung menuju ruangan yang bertuliskan Wakil Direktur Operasional. Ruangan yang dulu menjadi kebanggaannya, hasil kerja keras bertahun-tahun. Tetapi hari ini, sesuatu terasa berbeda.
Begitu pintu terbuka, Siska langsung menemukan dua sosok yang sudah menunggunya di dalam: ayahnya, Heriawan, dan adiknya, Sesil. Keduanya menatap Siska dengan ekspresi dingin yang sudah sangat ia kenal.
Siska menghela napas panjang sebelum membuka suara. “Kenapa Papa dan Sesil ada di sini? Ada urusan penting?” tanyanya tenang, meski dadanya mulai berdegup kencang.
Sesil, yang duduk santai di kursi kerjanya — ya, di kursi yang biasanya diduduki Siska tersenyum puas. “Mulai hari ini, aku yang menempati kursi ini, Kak.”
Siska berhenti melangkah. “Apa maksudmu?”
“Mulai hari ini, aku yang menjabat sebagai Wakil Direktur Operasional,” jawab Sesil dengan nada manja tapi menusuk. “Papa sudah tanda tangan surat keputusan tadi pagi.”
Siska menatap ayahnya tak percaya. “Papa serius?”
Heriawan menautkan jemarinya di atas meja. “Ya. Sesil punya kemampuan yang lebih cocok di posisi ini. Kamu akan kami pindahkan ke bagian Divisi Produksi dan Kualitas untuk sementara waktu.”
Divisi Produksi? Itu berarti Siska harus turun langsung ke pabrik — bagian paling sibuk dan paling melelahkan dari seluruh rantai kerja.
Siska mencoba tetap tenang. “Kalau begitu, boleh aku minta dipindahkan ke Divisi Desain Produk saja, Pa? Papa tahu sendiri aku lebih paham di situ. Aku bahkan yang mendesain koleksi sportwear musim lalu—”
“Tidak bisa!” Sesil langsung memotong dengan suara nyaring. “Papa dan Mama sudah bilang, mereka tidak suka kalau Kakak terlibat di bagian desain. Itu bukan bidangmu.”
“Tapi—”
“Sudahlah,” potong Heriawan tegas, seolah tak ingin mendengar pembelaan apa pun. “Terima saja keputusan ini.”
Siska menarik napas panjang, menahan air mata yang hampir pecah.
Dulu, ketika ia masih kuliah seni rupa, Heriawan memaksanya pindah jurusan bisnis agar bisa membantu di perusahaan keluarga: HeriSport Apparel, perusahaan besar yang memproduksi pakaian olahraga. Meski awalnya ia menolak, akhirnya Siska menyerah demi menyenangkan orang tua. Tetapi sampai sekarang, hasil kerja kerasnya tidak pernah diakui. Sekarang, jabatan yang ia perjuangkan bertahun-tahun diambil begitu saja, bahkan oleh adiknya sendiri.
Ya Allah … aku pengin resign saja. Tapi kalau keluar, aku dapat uang dari mana? Semua fasilitas udah dicabut. Tabunganku juga tinggal sedikit. Aku nggak mungkin bilang ke Evan kalau aku udah nggak punya apa-apa.
Siska hanya bisa menghela napas dan keluar dari ruangan tanpa menatap siapa pun lagi.
***
Sore harinya, Siska sudah berada di supermarket dekat apartemen. Wajahnya masih terlihat murung, tetapi semangat kecil mulai tumbuh ketika ia mendorong troli melewati deretan rak bahan makanan.
Dia memutuskan untuk belajar memasak sungguhan. Kalau perlu, dia akan memaksa Evan untuk menjadi guru dadakan. Setidaknya dengan begitu, dia bisa merasa berguna, meski hanya sebagai istri yang baik.
Setelah mengambil ayam, udang, dan ikan, langkahnya berhenti di bagian sayuran. Matanya menatap kosong ke arah rak yang dipenuhi warna hijau.
“Evan suka makan sayur apa, ya?” gumamnya bingung. Ia berdiri cukup lama di situ, menatap sayur kangkung dan bayam seperti menatap soal ujian matematika.
“Halo, maaf … apa kamu butuh bantuan?” Suara lembut seseorang mengejutkannya.
Siska menoleh. Seorang wanita berhijab berdiri di sampingnya, membawa keranjang belanja. Wajahnya lembut dan senyumnya menenangkan.
“Hah? Oh, iya. Aku … aku cuma bingung mau beli sayur apa,” jawab Siska kikuk. “Aku nggak tahu suamiku suka makan apa.”
Wanita itu tersenyum ramah. “Kalau begitu, pilih saja yang umum disukai banyak orang. Tumis kangkung, capcay, atau sop ayam, itu aman kok.”
Siska ikut tersenyum malu. “Iya juga, ya. Aku Siska, by the way.”
Wanita itu mengulurkan tangan. “Fatin Alesha. Senang kenal kamu.”
Siska membalas jabat tangan itu dengan tulus, lalu dalam hati bergumam pelan. “Cantik sekali orang ini … adem banget auranya.”
Mungkin pertemuan ini bukan kebetulan. Mungkin Fatin akan jadi seseorang yang berarti di kehidupannya nanti.
***
Fatin tidak pernah benar-benar berniat mengintai.Namun entah kenapa, setiap kali secara tidak sengaja ia selalu melihat sesuatu.Sore itu, ia baru saja keluar dari butik tempatnya fitting gaun untuk sebuah acara amal. Ia berdiri di tepi jalan, menunggu mobilnya dijemput.Dan di seberang sana … Ia melihat Evan, bersama Siska.Mereka tidak menyadari keberadaannya.Evan sedang memegang tas belanja di tangan kiri. Tangan kanannya menggenggam jemari Siska. Bukan sekadar menyentuh. Tetapi menggenggam. Seolah takut terlepas.Siska tertawa karena sesuatu yang Evan katakan. Pria itu menunduk sedikit, mendekatkan wajahnya untuk mendengar lebih jelas.Mereka terlalu dekat, terlalu akrab.Fatin menahan napas.Selama bersamanya, ia tidak pernah melihat Evan seperti itu. Tertawa bahagia.Evan memang perhatian. Lembut. Tetapi selalu memberi jarak tak kasat mata yang selalu ia rasakan.Namun dengan Siska?Tampak tak ada jarak.Fatin menggigit bibirnya pelan.Kekasih atau istri? Dua kata itu selalu
“Siska! Kau gila!” seru Andin tertahan. Ia tidak habis pikir dengan isi kepala sahabatnya tersebut. “Apa otakmu kemasukan air?” Andin menatap bingung. Wanita itu tampak syok dengan penjelasan yang baru saja disampaikan Siska padanya.Siang ini, Siska mengajak Andin bertemu di sebuah cafe yang tidak terlalu ramai. Untuk menjelaskan semuanya. Bagaimanapun, Andin adalah seseorang yang selama ini sangat dekat dengannya, ia merasa perlu untuk bercerita.Siska tersenyum kecil. Andin frustasi.“Sekarang berikan aku penjelasan yang masuk akal?” Andin menatap Siska dengan serius. “Untuk apa kau menginginkan anak dari Evan?”Siska beranjak duduk disamping Andin. Meraih tangan Andin dan menggenggamnya. Kemudian menarik napas dalam.“Kamu tahu kan, sejak kematian ibuku, hanya kau satu-satunya keluarga yang aku punya.” Ucapan Siska terhenti sejenak, namun Andin tidak menyelah.“Setelah menikah aku pikir, aku bisa merasakan kembali rasanya punya keluarga. Tetapi sepertinya takdir itu sedang tidak
Pagi itu terasa berbeda. Sinar matahari masuk melalui celah tirai. Hangatnya menyentuh wajah Siska yang masih terpejam. Namun bukan cahaya yang membuatnya terbangun. Melainkan pelukan.Evan.Pria itu masih memeluknya dari belakang. Tangan besarnya melingkar di pinggang Siska, erat. Seolah takut wanita itu menghilang saat ia melepaskan.Siska membuka mata perlahan.“Van …” gumamnya lirih.“Hm …” Evan mendekatkan wajahnya ke tengkuk Siska. Menghirup pelan aroma rambut istrinya.Siska tidak bergerak. Biasanya ia akan mengeluh, menggeser tubuhnya atau pura-pura kesal. Tetapi kali ini tidak. Ia justru memegang tangan Evan yang berada di perutnya.Evan terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat.“Kamu kenapa?” tanyanya pelan.Siska menggeleng. “Tidak apa-apa.”Hanya saja … aku sedang menguatkan diri.Evan mengecup bahunya. “Hari ini jangan ke mana-mana.”“Memangnya kenapa?”“Aku ingin di rumah.”Siska menoleh sedikit. “Tidak kerja?”“Aku bisa terlambat sedikit.”Siska tidak menjawab. Ia hanya
“Maafkan aku,” ucap Evan lembut seraya memeluk Siska.Baru saja Evan meminta izin atau lebih tepatnya memberitahukan bahwa malam ini ia harus mengantar Fatin pulang kampung untuk menjenguk ibunya yang sedang sakit.Jujur saja, tadi Evan ingin menolak. Ia sudah berniat menjaga jarak. Namun suara Fatin yang bergetar di telepon, isakan kecil yang ditahannya, membuat hatinya tak tega.Padahal ia sudah mencoba menjauh. Sudah mencoba menata ulang semuanya. Tetapi waktu seolah belum berpihak padanya.Mungkin … ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk jujur pada Fatin tentang statusnya yang sebenarnya. Berharap, saat hari itu tiba, Fatin tidak membencinya.Siska tidak membalas pelukan itu. Tubuhnya kaku, tangannya menggantung di samping tubuhnya.“Aku mengerti,” jawabnya pelan.Aku mengerti, Van. Fatin lebih penting untukmu.Van … aku benar-benar menyerah.Siska mendorong pelan dada Evan. “Pergilah. Jangan membuatnya menunggu terlalu lama.”Evan terdiam. Ia menatap wajah istrinya, mencari ses
Evan menghentikan mobil di depan sebuah toko olahraga ternama. Siska yang sejak tadi diam akhirnya menoleh.“Kita kesini ngapain?” tanyanya curiga.Evan membuka sabuk pengamannya. “Belanja.”“Belanja apa?” Siska menyipitkan mata.“Baju olahraga.” Evan menoleh santai. “Kau kan mau mulai hidup sehat, kan?”“Aku tidak pernah bilang mau,” bantah Siska cepat.“Tapi aku yang bilang,” jawab Evan ringan. “Turun.”Siska mendengus, tetapi tetap menuruti. Begitu masuk ke dalam toko, matanya langsung menangkap deretan pakaian olahraga dengan warna-warna cerah.“Pilih,” ucap Evan.“Aku tidak biasa pakai yang begini,” gumam Siska sambil menyentuh bahan jaket training.“Itu sebabnya kau harus mulai,” sahut Evan. Ia mengambil satu set baju berwarna abu muda lalu menempelkannya ke tubuh Siska. “Yang ini cocok.”“Kau asal saja,” Siska merengut.Evan tersenyum kecil. “Percaya seleraku.”Siska mendengus lagi, tetapi akhirnya masuk ke ruang ganti. Saat keluar, Evan terdiam sejenak. Bukan karena baju itu l
Usai pamit dan memberikan kecupan di kening Siska, Evan berangkat ke restoran. Pria itu bersama dengan Fatin. Ya, saat menelpon tadi, fatin minta tolong diantar ke butik karena mobilnya sedang berada di bengkel. Di dalam mobil, Evan menyetir dengan fokus. Fatin duduk di sampingnya, sesekali melirik pria itu.“Van,” panggil Fatin pelan.“Hm?”“Ad sesuatu yang terjadi? Kamu sedikit … terlihat berbeda hari ini,” ucapnya ragu. Fatin dapat melihat raut wajah bahagia pria itu. Wajahnya bahkan tampak berseri-seri. Evan mengerling sekilas. “Beda bagaimana?”“Kamu tampak bahagia” jawab Fatin jujur. Evan terdiam sejenak. Tangannya tetap menggenggam kemudi. “Mungkin, karena aku mendapatkan tawaran endorse.” Evan tertawa terpaksa.Ia tidak mungkin mengatakan, jika malam tadi ia baru saja melepas status perjakanya setelah sekian lama. Dan ia merasa sangat puas. Bahkan rasanya tidak ingin berhenti. Tahu begini, sejak awal Evan sudah meminta haknya kepada istrinya tersebut.Seketika wajah lelah S







