แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Mettiza
Sambil bicara, beberapa orang itu juga melirik ke arah Dilla dengan tatapan meremehkan. Mereka seakan-akan sedang berbisik, tetapi Dilla malah merasa mereka sengaja mengatakannya agar didengar oleh Dilla.

Dilla tidak mempermasalahkannya. Lagi pula, jika nanti mereka bertemu lagi, mereka pasti harus berdiri dengan hormat di depannya dan memanggilnya Nona Dilla.

Saat itu, transaksi untuk barang sebelumnya sudah selesai dan barang berikutnya pun diangkat ke atas panggung.

Barang yang dilelang selanjutnya adalah sebuah ukiran giok bertema "Pinus dan Bangau Panjang Umur". Kualitas gioknya sangat baik. Yang paling penting adalah, penjelasan dari pembawa acara yang mengatakan bahwa ukiran ini adalah karya dari seorang Master yang dikenal sebagai leluhur seni ukir giok.

Begitu mendengar perkenalan itu, Serena langsung terlihat sangat bersemangat. Dia mengangkat papan tawarannya.

"Vino, barang ini punya nilai koleksi yang sangat tinggi. Lusa adalah ulang tahun nenekmu. Kita bisa beli lukisan ini untuk dijadikan hadiah ke nenekmu."

Ketika Dilla mendengar nama master tersebut, dia refleks mendongak dan melihat ke arah barang di panggung. Namun setelah hanya melihat sekilas, dia langsung menarik kembali pandangannya. Suaranya terdengar datar, tetapi kata-katanya langsung membuat harapan Serena pupus.

"Itu barang palsu."

Serena menatapnya dengan tidak percaya. Dia hampir saja ingin bertanya, memangnya gadis kampung sepertinya itu ngerti apa?

Namun ketika melihat Vino duduk di sampingnya, Serena menahan amarahnya dan tersenyum, "Bu Dilla, gimana kamu bisa tahu?"

"Karena yang asli sudah diberikan oleh putri keluarga orang terkaya kepada neneknya."

Di seluruh dunia hanya ada satu ukiran itu. Yang asli berada di rumahnya, jadi yang ada di panggung pasti palsu.

Dilla sebenarnya hanya berniat mengingatkan dengan baik. Namun begitu kata-kata itu keluar, Serena malah tertawa keras. Bahkan para teman Vino di belakang mereka juga mulai mentertawakannya tanpa menahan diri.

"Dilla, kalau nggak ngerti, jangan sok berlagak. Benar-benar memalukan."

"Iya, nih. Katanya sudah dikasih sama putri orang terkaya. Jangan-jangan, kamu lihat sendiri dari bawah tempat tidurnya? Atau karena nama belakangmu juga Safira, kamu kira bisa mengaku jadi kerabat Nona Besar Keluarga Safira?"

Suara ejekan mereka semakin lama semakin keras. Pada akhirnya, Vino yang menghentikan sindiran mereka dengan ekspresi dingin.

Vino menatap Dilla, lalu menggenggam tangannya. "Dilla, aku tahu akhir-akhir ini kamu baca beberapa buku tentang apresiasi benda seni, tapi kemampuan menilai nggak bisa didapat hanya dari buku. Serena sering datang ke acara lelang sejak kecil dan juga cukup mendalami ukiran giok, jadi wajar kalau dia lebih mengerti daripada kamu."

Vino memang tidak mengatakan kata-kata yang terlalu kasar, tetapi tersirat jelas bahwa dia menganggap Dilla hanya asal bicara.

Dilla tersenyum tipis dan tidak mengatakan apa pun.

Pada akhirnya Serena menghabiskan 200 miliar untuk menawar ukiran giok itu dengan harga tinggi. Melihat momen ketika Serena pergi membayar, Dilla malah tersenyum.

Dia benar-benar penasaran bagaimana reaksi nenek Vino ketika mengetahui bahwa Serena menghabiskan 200 miliar untuk membeli giok palsu sebagai hadiah ulang tahun untuknya.

Dilla tidak menghentikan ataupun mempermasalahkannya. Dia bangkit, lalu pergi ke toilet. Baru saja selesai mencuci tangan, dari belakang terdengar suara yang tidak asing.

"Dilla, kupikir aku sudah cukup jelas ngomongnya. Tapi kamu masih saja nggak tahu malu dan tetap tinggal. Apa kamu memang ingin jadi pelakor?"

Nada bicaranya tajam dan menusuk, sangat berbeda dengan sikap lembut dan anggun yang dia tunjukkan sebelumnya.

Dilla mengangkat pandangannya dengan tenang, lalu menoleh ke arahnya. "Bu Serena, sebaiknya kamu mengerti satu hal. Yang pacaran dengan Vino selama lima tahun adalah aku. Kalau bicara soal pelakor, sepertinya bukan aku yang pantas disebut begitu."

Setelah berkata demikian, Dilla hendak langsung melewatinya dan pergi. Namun, Serena masih belum mau melepaskannya. Dia mencibir lalu melanjutkan sindirannya, "Benar, lima tahun pacaran sama dia, tapi dia tetap nggak menikahimu. Kamu nggak pernah mikir kenapa? Aku ini putri Keluarga Albirru, dia pewaris Keluarga Radhika. Kami setara. Tapi kamu?"

"Ayah penjudi, ibu yang sakit-sakitan. Keluarga berantakan seperti itu, nggak punya apa-apa. Bagian mana dari dirimu yang pantas untuknya?"

Langkah Dilla terhenti.

Latar belakang keluarga itu sebenarnya hanya cerita yang dia karang sendiri. Namun, dia benar-benar tidak pernah menyangka bahwa Vino bahkan menceritakan hal itu kepada Serena.

Dilla tersenyum sinis. Jika benar dia berasal dari latar belakang keluarga seperti itu, bukankah berarti pacar yang notabene hanya mencintainya seorang itu ... telah menyerahkan pisau kedua kepada wanita lain untuk melukainya?

"Memang nggak pantas." Hatinya terasa perih. Dia menoleh kembali ke arah Serena dan emosi yang selama ini tertekan di dalam hatinya tiba-tiba terasa menghilang. "Kalian memang pasangan yang sempurna. Aku doakan kalian benar-benar berakhir bersama."

Usai bicara, dia kembali melangkah pergi.

Belum berjalan jauh, ponselnya tiba-tiba berdering. Itu adalah telepon dari ibunya.

"Dilla, cepat pulanglah. Semua orang di rumah sudah nungguin kamu dan kami juga sudah siapin banyak hadiah untukmu."

"Aku dan ayahmu beli sebuah kastel di luar negeri untukmu. Tantemu beliin sebuah mahkota berlian yang katanya pernah dipakai sama Ratu Inggris. Om juga sama, dia siapin satu garasi penuh mobil mewah untukmu ...."

Mendengar ibunya terus berbicara tanpa henti tentang berbagai hadiah yang telah disiapkan keluarga untuk menyambut kepulangannya, Dilla hanya bisa tersenyum tidak berdaya.

"Bu, aku pulang untuk mewarisi bisnis keluarga, bukan untuk menghabiskan kekayaan keluarga."

Baru saja dia selesai berbicara, sebuah suara yang sangat familier terdengar dari belakangnya. "Mewarisi bisnis keluarga apa?"
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 24

    "Orang yang menekan Grup Radhika bukan aku. Kenapa kamu nggak mohon sama dia saja?" ucap Dilla sambil tersenyum. Senyumnya tampak tidak tulus."Lagian, Vino, bukannya kamu sudah habisin perasaan kita semua dulu, ya?"Saat Vino diam-diam bertunangan dengan orang lain di belakangnya dan hanya berniat menjadikannya sebagai kekasih gelap.Saat dia berbicara dalam bahasa Prancis bersama teman-temannya dan menertawakan serta merendahkan Dilla dengan bebas, tanpa pernah berpikir untuk menghentikan mereka.Saat Serena dan teman-temannya menyebarkan fitnah tentang dirinya, sementara Vino memilih untuk menjadi orang yang tidak terlihat.Sekarang Vino malah datang untuk membahas tentang hubungan mereka di masa lalu. Namun pada saat-saat itu, kenapa Vino tidak pernah ingat bahwa mereka pernah saling mencintai?Begitu kata-kata itu diucapkan, wajah Vino langsung memucat. Pada saat itu dia hanya merasakan tenggorokannya pahit dan sulit untuk menelan ludah."Dilla, aku tahu aku salah. Aku minta maaf

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 23

    Serena benar-benar telah ditinggalkan sepenuhnya.Dilla tidak terlalu memperhatikan kelanjutan dari masalah itu lagi. Dia percaya bahwa dengan kemampuan tim legal Group Prosper, mereka pasti bisa membuat orang-orang itu menerima ganjaran yang setimpal.Hanya saja, Dilla tetap merasa agak terkejut ketika mendengar bahwa tidak ada seorang pun yang menyewa pengacara untuk membela Serena saat dia diadili.Sebenarnya, jika Serena tidak mencari masalah dengan Dilla, dia bisa saja mempertahankan kedamaian dengan Vino dan menjadi pasangan pernikahan politik yang sangat biasa di kalangan keluarga kaya.Namun, dia malah tidak pernah merasa puas.Saat Dilla masih berada di sisi Vino, dia ingin menyingkirkan Dilla. Setelah Dilla pergi, dia malah melampiaskan semua keluhannya kepada Dilla dan bersikeras ingin menginjak Dilla di bawah kakinya. Pada akhirnya, dia malah berakhir seperti ini.Teman-teman Vino yang dipimpin oleh Yufan juga sama. Mereka selalu menyanjung orang yang lebih kuat dan meremeh

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 22

    Suara mesin mobil yang melaju semakin menjauh, dan kebencian di mata Serena pun semakin dalam. Apa yang dia lakukan bukanlah tindakan impulsif.Sejak dia kembali dari Kota Edo kali ini, Keluarga Albirru mengetahui bahwa Serena telah merusak proses tender dan bahkan menyinggung putri keluarga terkaya. Oleh karena itu, mereka langsung meninggalkannya tanpa ragu.Serena sebenarnya ingin menggunakan pernikahannya dengan Vino untuk mengokohkan posisinya di Keluarga Albirru. Namun begitu dia baru saja menyinggung hal itu, orang tua Serena langsung menamparnya."Kamu masih berani ngomong soal pernikahan sama Vino? Begitu Vino kembali hari ini, dia langsung datang untuk membatalkan pertunangan. Bahkan seorang pria pun nggak bisa kamu pertahankan. Coba kamu bilang sendiri, kamu ini ada gunanya nggak, sih?"Baru pada saat itulah, Serena menyadari bahwa dia telah ditinggalkan oleh semua orang.Namun, kenapa?'Dilla, karena kamu ... aku ditinggalkan oleh Keluarga Albirru dan dibenci oleh Vino. Lal

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 21

    Mendengar kelembutan dan kegelisahan dalam suara Zior, Dilla hanya merasa perasaan sesak di dadanya seketika lenyap. Dia tertawa pelan sebelum berkata, "Nggak apa-apa. Aku nggak selemah itu. Ini cuma rumor, aku bisa menanganinya sendiri.""Baik."Melihat suasana hatinya masih baik, hati Zior yang semula tegang akhirnya sedikit lega. Dia sebenarnya tidak ingin menutup telepon, tetapi juga tidak tahu harus mengatakan apa lagi saat ini. Suasana di antara mereka tiba-tiba menjadi sunyi.Dalam keheningan yang panjang itu, Dilla seolah bisa mendengar napas Zior yang pelan lewat telepon. Pada akhirnya, Dilla yang duluan berkata, "Zior, terima kasih."'Walaupun aku nggak bakal gimana-gimana hanya karena rumor nggak berdasar itu, tapi terima kasih atas perhatianmu.'Kalimat terakhir itu dia tambahkan dalam hati. Setelah itu, Dilla buru-buru menutup telepon.Di sisi lain, Zior memegang ponsel yang sudah terputus sambungannya. Dia hanya merasa waktu berlalu begitu cepat. Seandainya waktu bisa ber

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 20

    Zior sudah menunggu selama bertahun-tahun, jadi tentu dia tidak keberatan menunggu sedikit lebih lama lagi. Seperti yang dikatakan Dilla, untuk sementara mereka hanya menjadi teman. Terlebih lagi, dari orang asing bisa berkembang menjadi teman saja sudah membuatnya sangat puas.Malam itu, berbeda dengan dua orang di Kota Harcos yang tidak bisa tidur semalaman, Dilla dan Zior malah tidur dengan sangat nyenyak.Hingga keesokan paginya, Dilla terbangun karena ponselnya terus berbunyi tanpa henti. Dengan mata masih setengah terbuka karena mengantuk, dia baru menyadari bahwa akun media sosialnya sedang dibombardir.Nada notifikasi terus berbunyi tanpa henti. Dilihat sekilas, semuanya dipenuhi makian penuh kebencian. Tepat pada saat itu, sebuah nomor dari Kota Harcos meneleponnya. Setelah dia mengangkatnya, barulah dia tahu penelepon itu adalah temannya di Kota Harcos, Indah."Dilla, kamu sudah lihat komentar-komentar di internet itu belum? Netizen itu benar-benar tukang ikut-ikutan, langsun

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 19

    Kata "kami" itu langsung membuat Vino dan Serena terpaku di tempat.Jadi maksudnya, bukan hanya dia, Dilla juga datang untuk ikut dalam tender?Informasi orang lainnya yang ikut dalam tender jelas tidak cocok dengan identitas Dilla. Satu-satunya yang tersisa hanyalah ... putri tunggal keluarga terkaya Kota Edo, Nona Besar Keluarga Safira.Begitu menyadari hal itu, wajah Vino dan Serena seketika menjadi pucat. Ketika mereka menoleh ke sekeliling, mereka melihat orang-orang di sekitar sedang memandang dengan ekspresi seru. Pada saat itu, mereka baru menyadari bahwa sebenarnya merekalah yang sedang menjadi tontonan.Wajah Vino menjadi pucat dan merah secara bergantian. Dia bahkan tidak lagi peduli bahwa mereka datang untuk mengikuti tender. Dia langsung berbalik dan buru-buru meninggalkan aula pesta dengan perasaan malu.Melihat Vino pergi, Serena menatap Dilla dengan penuh kebencian, lalu segera mengejarnya dan pergi dengan langkah tergesa-gesa. Dilla melihat tatapan penuh kebencian itu,

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status