Share

Bab 3

Penulis: Mettiza
Mendengar ucapannya, Vino pun tidak banyak bertanya. Dia hanya berkata, "Kalau terlalu capek kerja, pulang saja. Kamu kerja mati-matian begitu tiap hari, aku sampai nggak tega lihatnya. Dilla, kamu harus tahu aku sanggup menghidupimu."

Dilla menggeleng, lalu berkata dengan jelas, "Aku bukan milik siapa pun."

Vino tertegun sejenak. "Mana mungkin kamu jadi milik seseorang ...."

Dilla tidak ingin mendengarnya lagi dan langsung memotong, "Kenapa kamu pulang cepat hari ini? Nggak ke perusahaan?"

"Akhir-akhir ini kerjaan terlalu sibuk sampai aku nggak ada waktu untuk temani kamu. Jadi, hari ini aku sengaja meluangkan waktu buat kamu." Alisnya kembali rileks dan dia kembali menjadi pacar yang selalu menuruti segala keinginan Dilla.

"Kamu mau ke mana? Makan makanan barat atau nonton film? Apa pun yang ingin kamu lakukan hari ini, akan aku temani."

Kalau Dilla yang dulu mendengar kata-kata seperti ini, dia pasti akan sangat terharu.

Bagaimanapun juga, dia tahu bahwa Vino adalah pewaris Keluarga Radhika. Setiap hari ada banyak sekali pekerjaan yang harus dia tangani. Jadi, jika Vino bersedia meluangkan waktu untuk menemaninya melakukan hal-hal yang dia inginkan, setidaknya itu membuktikan bahwa Dilla menempati posisi yang sangat penting di hatinya.

Namun saat menatap Vino sekarang, Dilla tak kuasa berpikir, 'Terlalu sibuk kerja ... atau sibuk siapin pernikahan?'

'Kenapa sih dia bisa ngelakuin dua hal sekaligus? Di satu sisi, dia menyiapkan pernikahan sama wanita lain, tapi di sisi lain masih bisa datang untuk menghiburku dan bilang aku adalah satu-satunya orang yang dicintainya?'

Namun pada akhirnya, Dilla tetap tidak membongkar kebohongannya. Lagi pula, hanya tersisa beberapa hari lagi. Saat waktunya tiba, Dilla akan menghilang dari hidup Vino tanpa jejak.

Dilla menggeleng dan menolak usulnya. Setelah berpikir sejenak, dia berkata, "Temani aku bersih-bersih. Banyak barang di vila ini sudah lama, disimpan juga nggak ada gunanya."

Vino menyetujuinya dan menemani Dilla membereskan rumah untuk waktu yang cukup lama. Namun saat hampir selesai, dia baru menyadari bahwa semua barang yang dipisahkan oleh Dilla ternyata adalah barang-barang pasangan yang dulu mereka beli bersama.

Dari gelas air, perhiasan, pakaian, sampai sandal, semuanya dibuang Dilla tanpa ragu ke dalam tempat sampah.

Senyum di wajah Vino perlahan menjadi kaku seiring semakin banyak barang pasangan yang dibuangnya. Sampai barang terakhir juga masuk ke tempat sampah, kepanikan di hati Vino akhirnya tidak bisa lagi disembunyikan.

"Dilla, kamu ... tahu sesuatu?"

"Tahu apa?" Dilla mengangkat alis sambil menatap Vino. Dia menghindari pertanyaan Vino dan malah balik bertanya, "Memangnya ada yang kamu sembunyikan dariku?"

Vino mengalihkan pandangan dan tidak berani menatap mata Dilla. Dia terdiam beberapa saat, tetapi pada akhirnya tetap tidak menjawab secara langsung. Dia hanya menggenggam tangan Dilla dan berkata, "Dilla, apa pun yang terjadi, kamu hanya perlu ingat kalau orang yang kucintai itu kamu."

Dilla hanya menarik sudut bibirnya yang tipis dan tidak berkata apa-apa lagi.

Setelah selesai bersih-bersih, Vino tetap bersikeras mengajaknya keluar untuk berkencan. Dilla khawatir Vino akan menyadari kejanggalannya, jadi dia tidak menolak lagi.

Vino membawanya makan malam, lalu menonton film. Pada akhirnya, mobil mereka berhenti di depan sebuah gedung tempat lelang.

Baru saja hendak masuk, mereka melihat seorang wanita muda dari keluarga kaya berjalan anggun ke arah mereka. Dia mengenakan setelan elegan dengan riasan yang sangat rapi. Ekspresi Vino sempat menunjukkan sedikit ketidaknyamanan dan Dilla langsung menyadari ekspresi itu.

"Kenapa? Ketemu kenalan?"

Begitu kata-katanya selesai, wanita muda itu sudah berhenti di depan mereka. Dia menyapa mereka dengan senyum manis. Pada saat yang sama, Vino pun mulai memperkenalkan, "Dia putri dari keluarga sahabat lama keluargaku, Serena."

Vino berhenti sejenak, lalu baru memperkenalkan Dilla, "Dia pacarku, Dilla."

Mendengar perkenalan yang sangat berbeda di antara keduanya, senyum di wajah Serena langsung membeku sejenak. Namun, beberapa detik kemudian dia tetap memaksakan senyum dan mengulurkan tangannya kepada Dilla.

"Dari dulu aku sudah dengar kalau pacar Vino itu cantik sekali. Setelah ketemu langsung hari ini, ternyata memang benar, ya."

Saat mereka sedang berbicara, teman-teman Vino yang kemarin meledeknya dalam bahasa Prancis juga berjalan mendekat. Dari arah yang tidak bisa dilihat Dilla, mereka mengedipkan mata kepada Vino.

Baru saat itulah, Dilla menyadari bahwa pertemuan ini bukan kebetulan, melainkan mereka sengaja membawa Serena ke sini.

Amarah berkecamuk di dalam hatinya, tetapi dalam situasi seperti ini, Dilla malah akan sulit memberi penjelasan jika dia tiba-tiba marah. Akhirnya, Dilla pun menahan semua emosinya.

Di dalam aula lelang, kursi Serena tepat berada di sebelah Vino.

Berbeda dengan nada provokatif dalam pesan singkatnya, di dunia nyata Serena tampak lembut, anggun, dan berpengetahuan luas. Setelah mengetahui bahwa Vino tertarik pada porselen, dia terus mengobrol dengan Vino tentang topik itu. Vino yang awalnya bersikap agak menjauh, perlahan mulai condong mendekatinya.

Sampai Dilla batuk pelan, Vino baru teringat bahwa dia telah membiarkan Dilla duduk sendirian begitu saja. Dia segera melepas jasnya dan menyelimutkannya ke tubuh Dilla, lalu berkata dengan lembut, "Kamu kedinginan? Sekarang sudah mendingan belum? Dilla, aku tahu kamu nggak tertarik sama barang-barang begini. Kalau ada sesuatu yang kamu suka, langsung saja tawar."

Dilla belum sempat berbicara, ketika dari belakang terdengar lagi bisikan teman-temannya. Meskipun mereka sengaja merendahkan suara, Dilla tetap bisa mendengar dengan jelas ucapan mereka karena hanya terpisah satu baris kursi.

"Kak Vino memang pintar jaga harga diri Dilla. Memangnya gimana kalau Dilla tertarik? Dia nggak ngerti apa-apa. Mungkin bahkan nggak tahu cara angkat papan tawaran, hahaha."

"Benar. Dia pasti baru pertama kali datang ke lelang kalangan atas begini."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 24

    "Orang yang menekan Grup Radhika bukan aku. Kenapa kamu nggak mohon sama dia saja?" ucap Dilla sambil tersenyum. Senyumnya tampak tidak tulus."Lagian, Vino, bukannya kamu sudah habisin perasaan kita semua dulu, ya?"Saat Vino diam-diam bertunangan dengan orang lain di belakangnya dan hanya berniat menjadikannya sebagai kekasih gelap.Saat dia berbicara dalam bahasa Prancis bersama teman-temannya dan menertawakan serta merendahkan Dilla dengan bebas, tanpa pernah berpikir untuk menghentikan mereka.Saat Serena dan teman-temannya menyebarkan fitnah tentang dirinya, sementara Vino memilih untuk menjadi orang yang tidak terlihat.Sekarang Vino malah datang untuk membahas tentang hubungan mereka di masa lalu. Namun pada saat-saat itu, kenapa Vino tidak pernah ingat bahwa mereka pernah saling mencintai?Begitu kata-kata itu diucapkan, wajah Vino langsung memucat. Pada saat itu dia hanya merasakan tenggorokannya pahit dan sulit untuk menelan ludah."Dilla, aku tahu aku salah. Aku minta maaf

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 23

    Serena benar-benar telah ditinggalkan sepenuhnya.Dilla tidak terlalu memperhatikan kelanjutan dari masalah itu lagi. Dia percaya bahwa dengan kemampuan tim legal Group Prosper, mereka pasti bisa membuat orang-orang itu menerima ganjaran yang setimpal.Hanya saja, Dilla tetap merasa agak terkejut ketika mendengar bahwa tidak ada seorang pun yang menyewa pengacara untuk membela Serena saat dia diadili.Sebenarnya, jika Serena tidak mencari masalah dengan Dilla, dia bisa saja mempertahankan kedamaian dengan Vino dan menjadi pasangan pernikahan politik yang sangat biasa di kalangan keluarga kaya.Namun, dia malah tidak pernah merasa puas.Saat Dilla masih berada di sisi Vino, dia ingin menyingkirkan Dilla. Setelah Dilla pergi, dia malah melampiaskan semua keluhannya kepada Dilla dan bersikeras ingin menginjak Dilla di bawah kakinya. Pada akhirnya, dia malah berakhir seperti ini.Teman-teman Vino yang dipimpin oleh Yufan juga sama. Mereka selalu menyanjung orang yang lebih kuat dan meremeh

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 22

    Suara mesin mobil yang melaju semakin menjauh, dan kebencian di mata Serena pun semakin dalam. Apa yang dia lakukan bukanlah tindakan impulsif.Sejak dia kembali dari Kota Edo kali ini, Keluarga Albirru mengetahui bahwa Serena telah merusak proses tender dan bahkan menyinggung putri keluarga terkaya. Oleh karena itu, mereka langsung meninggalkannya tanpa ragu.Serena sebenarnya ingin menggunakan pernikahannya dengan Vino untuk mengokohkan posisinya di Keluarga Albirru. Namun begitu dia baru saja menyinggung hal itu, orang tua Serena langsung menamparnya."Kamu masih berani ngomong soal pernikahan sama Vino? Begitu Vino kembali hari ini, dia langsung datang untuk membatalkan pertunangan. Bahkan seorang pria pun nggak bisa kamu pertahankan. Coba kamu bilang sendiri, kamu ini ada gunanya nggak, sih?"Baru pada saat itulah, Serena menyadari bahwa dia telah ditinggalkan oleh semua orang.Namun, kenapa?'Dilla, karena kamu ... aku ditinggalkan oleh Keluarga Albirru dan dibenci oleh Vino. Lal

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 21

    Mendengar kelembutan dan kegelisahan dalam suara Zior, Dilla hanya merasa perasaan sesak di dadanya seketika lenyap. Dia tertawa pelan sebelum berkata, "Nggak apa-apa. Aku nggak selemah itu. Ini cuma rumor, aku bisa menanganinya sendiri.""Baik."Melihat suasana hatinya masih baik, hati Zior yang semula tegang akhirnya sedikit lega. Dia sebenarnya tidak ingin menutup telepon, tetapi juga tidak tahu harus mengatakan apa lagi saat ini. Suasana di antara mereka tiba-tiba menjadi sunyi.Dalam keheningan yang panjang itu, Dilla seolah bisa mendengar napas Zior yang pelan lewat telepon. Pada akhirnya, Dilla yang duluan berkata, "Zior, terima kasih."'Walaupun aku nggak bakal gimana-gimana hanya karena rumor nggak berdasar itu, tapi terima kasih atas perhatianmu.'Kalimat terakhir itu dia tambahkan dalam hati. Setelah itu, Dilla buru-buru menutup telepon.Di sisi lain, Zior memegang ponsel yang sudah terputus sambungannya. Dia hanya merasa waktu berlalu begitu cepat. Seandainya waktu bisa ber

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 20

    Zior sudah menunggu selama bertahun-tahun, jadi tentu dia tidak keberatan menunggu sedikit lebih lama lagi. Seperti yang dikatakan Dilla, untuk sementara mereka hanya menjadi teman. Terlebih lagi, dari orang asing bisa berkembang menjadi teman saja sudah membuatnya sangat puas.Malam itu, berbeda dengan dua orang di Kota Harcos yang tidak bisa tidur semalaman, Dilla dan Zior malah tidur dengan sangat nyenyak.Hingga keesokan paginya, Dilla terbangun karena ponselnya terus berbunyi tanpa henti. Dengan mata masih setengah terbuka karena mengantuk, dia baru menyadari bahwa akun media sosialnya sedang dibombardir.Nada notifikasi terus berbunyi tanpa henti. Dilihat sekilas, semuanya dipenuhi makian penuh kebencian. Tepat pada saat itu, sebuah nomor dari Kota Harcos meneleponnya. Setelah dia mengangkatnya, barulah dia tahu penelepon itu adalah temannya di Kota Harcos, Indah."Dilla, kamu sudah lihat komentar-komentar di internet itu belum? Netizen itu benar-benar tukang ikut-ikutan, langsun

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 19

    Kata "kami" itu langsung membuat Vino dan Serena terpaku di tempat.Jadi maksudnya, bukan hanya dia, Dilla juga datang untuk ikut dalam tender?Informasi orang lainnya yang ikut dalam tender jelas tidak cocok dengan identitas Dilla. Satu-satunya yang tersisa hanyalah ... putri tunggal keluarga terkaya Kota Edo, Nona Besar Keluarga Safira.Begitu menyadari hal itu, wajah Vino dan Serena seketika menjadi pucat. Ketika mereka menoleh ke sekeliling, mereka melihat orang-orang di sekitar sedang memandang dengan ekspresi seru. Pada saat itu, mereka baru menyadari bahwa sebenarnya merekalah yang sedang menjadi tontonan.Wajah Vino menjadi pucat dan merah secara bergantian. Dia bahkan tidak lagi peduli bahwa mereka datang untuk mengikuti tender. Dia langsung berbalik dan buru-buru meninggalkan aula pesta dengan perasaan malu.Melihat Vino pergi, Serena menatap Dilla dengan penuh kebencian, lalu segera mengejarnya dan pergi dengan langkah tergesa-gesa. Dilla melihat tatapan penuh kebencian itu,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status