Share

Bab 5

Author: Mettiza
Tubuh Dilla terhenti sejenak. Dia refleks langsung menutup telepon dan menghela napas dalam hati, 'Kenapa sih suka banget tiba-tiba bicara di belakang orang?'

Dilla menoleh, lalu langsung melihat wajah Vino yang tampak muram.

Setelah terdiam sejenak, dia baru menjelaskan, "Nggak apa-apa. Tadi cuma rekan kerja lama yang nanya aku mau kerja apa setelah resign, jadi aku bercanda sama mereka, bilang mau pulang mewarisi bisnis keluarga."

Vino mengerutkan kening. Dia bukan orang yang suka bercanda seperti itu.

Vino spontan merasa ada sesuatu yang tidak beres. Baru saja hendak berbicara, Dilla sudah berjalan beberapa langkah ke depan. Dia menoleh dan memanggil Vino, "Nggak jalan? Masih ada beberapa koleksi perhiasan yang belum ditampilkan."

Mendengar hal itu, Vino mengira Dilla ingin membeli beberapa perhiasan. Jadi, dia mengangguk dan mengikuti langkah Dilla.

Setelah kembali ke aula lelang, Vino menawar beberapa koleksi perhiasan berikutnya dengan harga tinggi. Setelah semuanya dikemas, dia menyerahkannya langsung ke tangan Dilla. Dilla menatap kotak-kotak di tangannya dan berkata pelan, "Aku nggak pakai perhiasan begini."

Vino tersenyum, lalu mengusap kepalanya dengan lembut. "Nanti kamu akan terbiasa. Nggak perlu takut menghabiskan uang, aku bakal beliin kamu berlian seumur hidup."

Bibir Dilla sedikit bergerak, tetapi pada akhirnya dia tetap tidak mengatakan kalimat yang ingin dia ucapkan. Dia memang tidak memakai perhiasan yang bernilai puluhan miliar.

Setiap perhiasan yang dia miliki bernilai ratusan miliar.

Lelang sudah berakhir dan orang-orang di dalam aula mulai pergi satu per satu. Vino dan Dilla juga tidak tinggal lama.

Semua orang datang dengan mobil masing-masing. Sebenarnya mereka hanya perlu pulang ke rumah masing-masing. Namun, baru saja Vino dan Dilla duduk di dalam mobil dan bahkan belum menyalakan mesin, jendela kursi penumpang tiba-tiba diketuk oleh Serena.

Jendela mobil perlahan turun, memperlihatkan wajahnya yang tampak malu-malu. Suaranya juga lembut dan manja, sama sekali tidak terlihat seperti wanita yang bersikap sinis kepada Dilla di toilet beberapa saat lalu.

"Vino, mobilku mogok. Bisa nggak kamu antarin aku pulang?"

Vino mengerutkan kening dan hendak menolak, tetapi Serena segera menambahkan, "Om dan Tante sudah bilang kamu harus jagain aku. Kamu nggak lupa, 'kan?"

Seolah teringat sesuatu, ekspresi Vino menjadi muram. Pada akhirnya, dia tetap mengangguk setuju.

Melihat Vino langsung menyetujuinya, senyum di wajah Serena semakin jelas. Lalu, dia kembali melangkah lebih jauh dengan berkata kepada Dilla, "Tapi aku mabuk perjalanan, nggak bisa duduk di kursi belakang. Gimana?"

Vino menoleh ke arah Dilla. Sebelum dia sempat mengatakan sesuatu, Dilla sudah membuka pintu mobil dan turun, lalu langsung berpindah ke kursi belakang. Gerakannya begitu cepat dan lancar hingga Vino bahkan belum sempat bereaksi ketika Dilla sudah duduk dengan tenang di kursi belakang.

Kata-kata yang hendak dia ucapkan langsung tertahan di tenggorokannya, membuatnya merasa sangat tidak nyaman.

Vino tampak ragu-ragu, seolah ingin mengatakan bahwa itu hanya masalah tempat duduk dan tidak perlu dipermasalahkan. Namun ketika pandangannya melirik ke kursi belakang melalui kaca spion, Dilla sudah menutup mata seakan ingin beristirahat.

Kebetulan, pada saat itu Serena juga sudah masuk ke mobil. Setelah pintu tertutup dan dia melihat Dilla yang duduk di belakang dengan mata terpejam, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum penuh kemenangan.

'Dilla, memangnya kenapa kalau orang yang dia sukai sekarang itu masih kamu? Apa yang aku inginkan pada akhirnya tetap akan menjadi milikku. Mendapatkan hatinya juga hanya masalah waktu.'

Memikirkan hal itu membuat suasana hatinya tiba-tiba menjadi sangat baik. Suaranya terdengar lembut dan manja. Ketika menatap Vino, sorot matanya tampak tersipu. "Bu Dilla sepertinya capek? Kalau begitu biarkan dia istirahat sebentar."

Seolah menyadari ada sesuatu yang tidak biasa pada Dilla, Vino juga tidak banyak berbicara dengan Serena. Dia hanya mengangguk, lalu menyalakan mobil dalam diam.

Entah sejak kapan, Dilla benar-benar tertidur.

Ketika dia terbangun lagi, mobil sudah berhenti di garasi vila Keluarga Radhika dan Serena juga sudah lama turun dari mobil. Vino mengusap wajahnya dengan lembut dan berkata, "Sudah bangun? Tadi kamu tidur nyenyak sekali, jadi aku nggak tega bangunin kamu."

Kesadaran Dilla masih sedikit kabur. Dia hanya mengangguk, lalu membuka pintu mobil dan turun. Tanpa menunggu Vino, dia langsung berjalan menuju pintu rumah.

Saat Vino turun dari mobil, Dilla sudah sampai di depan pintu. Vino segera menyusul beberapa langkah dan menghalanginya di depan pintu.

"Kamu marah? Serena benar-benar cuma putri dari keluarga sahabat lama keluargaku saja. Jangan dipikirkan."

Dilla hanya menjawab pelan, "Mm."

Vino mengira Dilla masih marah. Dia mengulurkan tangan untuk menarik Dilla, lalu membujuk dengan nada lembut, "Dia benar-benar cuma putri dari keluarga sahabat lama. Sayang, orang yang aku cintai cuma kamu. Kamu tahu itu."

Setelah berkata demikian, Vino mencium aroma mawar dari tubuh Dilla. Dia juga teringat bahwa sudah cukup lama dia tidak benar-benar dekat dengan Dilla. Tenggorokannya bergerak sedikit. Dia menunduk hendak mencium Dilla, tetapi Dilla langsung mendorongnya menjauh.

Melihat ekspresi terkejut di wajahnya, Dilla langsung masuk ke dalam rumah.

"Aku sedang datang bulan, nggak enak badan. Aku mau istirahat dulu di kamar."

Setelah berkata demikian, dia langsung mengunci pintu kamar dan benar-benar menutup kesempatan bagi Vino untuk masuk.

Keesokan paginya di ruang makan lantai satu, Dilla dan Vino sedang sarapan. Ponsel yang diletakkan di sampingnya tiba-tiba berbunyi. Itu adalah alarm pengingat yang dia pasang beberapa waktu lalu, dengan catatan: "Hari bertemu orang tua".

Vino juga melihat tulisan itu.

Sebelumnya, Dilla memang berniat jujur tentang identitasnya kepada Vino, jadi dia pernah mengajak Vino pulang untuk bertemu orang tuanya dan saat itu Vino juga menyetujuinya.

Keduanya saling memandang.

Dilla sedang memikirkan bagaimana cara membatalkan pertemuan itu, tetapi pada detik berikutnya ponsel Vino juga berdering.

Panggilan dari Serena.

Entah apa yang dikatakan Serena, tetapi ekspresi Vino tampak agak berubah. Ketika kembali berjalan ke arah Dilla, Vino menatapnya dengan penuh rasa bersalah lalu membatalkan rencana pertemuan itu.

"Dilla, tiba-tiba ada urusan yang harus aku tangani. Lain kali aku temani kamu temui orang tuamu, ya?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 24

    "Orang yang menekan Grup Radhika bukan aku. Kenapa kamu nggak mohon sama dia saja?" ucap Dilla sambil tersenyum. Senyumnya tampak tidak tulus."Lagian, Vino, bukannya kamu sudah habisin perasaan kita semua dulu, ya?"Saat Vino diam-diam bertunangan dengan orang lain di belakangnya dan hanya berniat menjadikannya sebagai kekasih gelap.Saat dia berbicara dalam bahasa Prancis bersama teman-temannya dan menertawakan serta merendahkan Dilla dengan bebas, tanpa pernah berpikir untuk menghentikan mereka.Saat Serena dan teman-temannya menyebarkan fitnah tentang dirinya, sementara Vino memilih untuk menjadi orang yang tidak terlihat.Sekarang Vino malah datang untuk membahas tentang hubungan mereka di masa lalu. Namun pada saat-saat itu, kenapa Vino tidak pernah ingat bahwa mereka pernah saling mencintai?Begitu kata-kata itu diucapkan, wajah Vino langsung memucat. Pada saat itu dia hanya merasakan tenggorokannya pahit dan sulit untuk menelan ludah."Dilla, aku tahu aku salah. Aku minta maaf

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 23

    Serena benar-benar telah ditinggalkan sepenuhnya.Dilla tidak terlalu memperhatikan kelanjutan dari masalah itu lagi. Dia percaya bahwa dengan kemampuan tim legal Group Prosper, mereka pasti bisa membuat orang-orang itu menerima ganjaran yang setimpal.Hanya saja, Dilla tetap merasa agak terkejut ketika mendengar bahwa tidak ada seorang pun yang menyewa pengacara untuk membela Serena saat dia diadili.Sebenarnya, jika Serena tidak mencari masalah dengan Dilla, dia bisa saja mempertahankan kedamaian dengan Vino dan menjadi pasangan pernikahan politik yang sangat biasa di kalangan keluarga kaya.Namun, dia malah tidak pernah merasa puas.Saat Dilla masih berada di sisi Vino, dia ingin menyingkirkan Dilla. Setelah Dilla pergi, dia malah melampiaskan semua keluhannya kepada Dilla dan bersikeras ingin menginjak Dilla di bawah kakinya. Pada akhirnya, dia malah berakhir seperti ini.Teman-teman Vino yang dipimpin oleh Yufan juga sama. Mereka selalu menyanjung orang yang lebih kuat dan meremeh

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 22

    Suara mesin mobil yang melaju semakin menjauh, dan kebencian di mata Serena pun semakin dalam. Apa yang dia lakukan bukanlah tindakan impulsif.Sejak dia kembali dari Kota Edo kali ini, Keluarga Albirru mengetahui bahwa Serena telah merusak proses tender dan bahkan menyinggung putri keluarga terkaya. Oleh karena itu, mereka langsung meninggalkannya tanpa ragu.Serena sebenarnya ingin menggunakan pernikahannya dengan Vino untuk mengokohkan posisinya di Keluarga Albirru. Namun begitu dia baru saja menyinggung hal itu, orang tua Serena langsung menamparnya."Kamu masih berani ngomong soal pernikahan sama Vino? Begitu Vino kembali hari ini, dia langsung datang untuk membatalkan pertunangan. Bahkan seorang pria pun nggak bisa kamu pertahankan. Coba kamu bilang sendiri, kamu ini ada gunanya nggak, sih?"Baru pada saat itulah, Serena menyadari bahwa dia telah ditinggalkan oleh semua orang.Namun, kenapa?'Dilla, karena kamu ... aku ditinggalkan oleh Keluarga Albirru dan dibenci oleh Vino. Lal

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 21

    Mendengar kelembutan dan kegelisahan dalam suara Zior, Dilla hanya merasa perasaan sesak di dadanya seketika lenyap. Dia tertawa pelan sebelum berkata, "Nggak apa-apa. Aku nggak selemah itu. Ini cuma rumor, aku bisa menanganinya sendiri.""Baik."Melihat suasana hatinya masih baik, hati Zior yang semula tegang akhirnya sedikit lega. Dia sebenarnya tidak ingin menutup telepon, tetapi juga tidak tahu harus mengatakan apa lagi saat ini. Suasana di antara mereka tiba-tiba menjadi sunyi.Dalam keheningan yang panjang itu, Dilla seolah bisa mendengar napas Zior yang pelan lewat telepon. Pada akhirnya, Dilla yang duluan berkata, "Zior, terima kasih."'Walaupun aku nggak bakal gimana-gimana hanya karena rumor nggak berdasar itu, tapi terima kasih atas perhatianmu.'Kalimat terakhir itu dia tambahkan dalam hati. Setelah itu, Dilla buru-buru menutup telepon.Di sisi lain, Zior memegang ponsel yang sudah terputus sambungannya. Dia hanya merasa waktu berlalu begitu cepat. Seandainya waktu bisa ber

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 20

    Zior sudah menunggu selama bertahun-tahun, jadi tentu dia tidak keberatan menunggu sedikit lebih lama lagi. Seperti yang dikatakan Dilla, untuk sementara mereka hanya menjadi teman. Terlebih lagi, dari orang asing bisa berkembang menjadi teman saja sudah membuatnya sangat puas.Malam itu, berbeda dengan dua orang di Kota Harcos yang tidak bisa tidur semalaman, Dilla dan Zior malah tidur dengan sangat nyenyak.Hingga keesokan paginya, Dilla terbangun karena ponselnya terus berbunyi tanpa henti. Dengan mata masih setengah terbuka karena mengantuk, dia baru menyadari bahwa akun media sosialnya sedang dibombardir.Nada notifikasi terus berbunyi tanpa henti. Dilihat sekilas, semuanya dipenuhi makian penuh kebencian. Tepat pada saat itu, sebuah nomor dari Kota Harcos meneleponnya. Setelah dia mengangkatnya, barulah dia tahu penelepon itu adalah temannya di Kota Harcos, Indah."Dilla, kamu sudah lihat komentar-komentar di internet itu belum? Netizen itu benar-benar tukang ikut-ikutan, langsun

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 19

    Kata "kami" itu langsung membuat Vino dan Serena terpaku di tempat.Jadi maksudnya, bukan hanya dia, Dilla juga datang untuk ikut dalam tender?Informasi orang lainnya yang ikut dalam tender jelas tidak cocok dengan identitas Dilla. Satu-satunya yang tersisa hanyalah ... putri tunggal keluarga terkaya Kota Edo, Nona Besar Keluarga Safira.Begitu menyadari hal itu, wajah Vino dan Serena seketika menjadi pucat. Ketika mereka menoleh ke sekeliling, mereka melihat orang-orang di sekitar sedang memandang dengan ekspresi seru. Pada saat itu, mereka baru menyadari bahwa sebenarnya merekalah yang sedang menjadi tontonan.Wajah Vino menjadi pucat dan merah secara bergantian. Dia bahkan tidak lagi peduli bahwa mereka datang untuk mengikuti tender. Dia langsung berbalik dan buru-buru meninggalkan aula pesta dengan perasaan malu.Melihat Vino pergi, Serena menatap Dilla dengan penuh kebencian, lalu segera mengejarnya dan pergi dengan langkah tergesa-gesa. Dilla melihat tatapan penuh kebencian itu,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status