FAZER LOGINBenar kata Rose bahwa satu jam lagi pihak Langley benar-benar datang atau lebih tepatnya menyerobot masuk ke kamar rias Anne. Mereka sepertinya ingin memastikan bahwa wanita itu benar ada di sana dan akan melaporkannya pada Victor Langley. Anne sama sekali tidak terganggu dengan hal itu. Selain karena ia telah siap dengan riasannya, serta gaun pengantin yang telah melekat indah pada tubuhnya, Anne memang mengharapkan agar orang-orang Langley melihat wajahnya dengan jelas sebelum ia naik di kereta kuda yang akan membawanya menuju tempat pemberkatan. Gereja tersebut terletak di perbatasan Ibu Kota. Victor sengaja memilihnya agar perjalanan yang Anne tempuh tak terlalu lama, dan Victor pun tak terlalu jauh dari kediamannya sendiri. Anne memasang penutup kepalanya yang berwarna putih dan tak tembus pandang, ketika ia sampai di depan tempat suci itu. Didampingi Rose, Anne menurut saja ketika sang pelayan menuntunnya menuju sebuah ruangan yang telah disediakan khusus untuk mempelai
"Nona, Anda harus segera dirias." Rose tak punya pilihan lain selain segera menjemput Nonanya yang sedang berdiri di balkon seorang diri dan terus menatap ke arah gerbang kediaman Hawthorne, sementara sang Nona harus dirias. Kepala pelayan bersikeras agar Anne harus selesai dirias sebelum matahari terbit, namun wanita itu tak kunjung bersedia. Anne sama sekali tidak menoleh meski ia mendengar kehadiran Rose. Ia hanya terus menatap ke bawah, sambil berharap seseorang yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang. Namun, bahkan setelah setengah jam berlalu sejak fajar menyingsing, orang tersebut tak kunjung menampakkan diri. Anne menggigiti kukunya cemas. Pikiran-pikiran buruk mulai bermunculan di kepalanya. Bagaimana jika Leah berubah pikiran dan memutuskan tidak datang? Atau yang lebih buruk, bagaimana jika Leah justru membeberkan rencananya pada Victor? 'Tetapi Leah tidak mungkin mengizinkan Victor menikahi wanita lain' batin Anne, berusaha menghibur diri. "Nona." panggil R
Tak ada yang dapat menyalahkan hasrat dua insan yang saling jatuh cinta di tengah keadaan yang memaksa mereka untuk menghabiskan waktu tanpa tahu kapan mereka dapat bertemu lagi. Inilah yang dilakukan oleh Anne. Entah mendapatkan keberanian dari mana, wanita itu terus menghujami Luke dengan ciuman-ciuman yang memabukkan yang dengan senang hati pria itu terima. Seolah tak ada hari esok, seolah tak ada pernikahan yang menantinya, Anne tak peduli lagi. Ia ingin menghabiskan seluruh waktunya malam ini hanya bersama Luke. Persetan dengan kesucian yang disebut-sebut oleh masyarakat, Anne tak akan memberikan dirinya pada Victor. Bagi Anne yang sedang berperang dengan takdirnya sendiri, 'lakukan atau tidak sama sekali' adalah pemikiran yang Anne yakini saat ini. Ia tak akan ragu dan menahan dirinya lagi. Ia tahu apa yang ia inginkan. Keyakinan liar Anne berhasil membawanya pada tindakan paling berani yang pernah ia lakukan. Luke membeku di tempatnya dengan napas yang terdengar
"Jadi, semua rumor itu... benar?" bisik Anne, jemari lentiknya bermain menyusuri dada bidang Luke yang berdegub kencang di balik kemejanya. Wanita itu merebahkan kepalanya dengan nyaman di atas lengan kokoh Luke yang tengah bersandar di kepala tempat tidurnya. Tirai jendela dibiarkan terbuka, membiarkan sinar bulan menjadi satu-satunya penerangan di ruang yang gelap itu. Menjadi saksi terhadap dua insan yang tengah memadu kasihnya di atas ranjang. Anne bersikeras bahwa Luke harus beristirahat, dan tak keberatan jika mereka harus mengobrol dalam posisi berbaring. Lagipula Anne menyukai posisi ini, di mana ia bisa merasakan hangat tubuh yang amat ia rindukan itu. Luke menarik napas pelan dan stabil, wajahnya tampak rumit. "Beberapa ya, sisanya.... aku tidak tahu." "Tidak tahu? Bagian mana tepatnya?" tanya Anne pelan, tak ingin terkesan menuntut. "Victor... sepertinya mengambil banyak informasi dari kerabat Ayahku yang jelas membenci ibu kandungku." Luke tersenyum getir, ma
"Luke?" bisik Anne, nyaris tanpa suara. Pria dengan senyuman yang menghantui malam-malam Anne selama ini.... sedang berdiri di hadapannya. Sorot matanya yang tampak begitu lelah, seketika bersinar di bawah lampu remang. Meski penerangan tak cukup untuk melihatnya dengan jelas, Anne tahu bahwa ada serpihan air mata di sudut mata pria itu. Anne kehilangan kata-kata, matanya memanas. Namun sebelum ia sempat menumpahkan segala emosinya, Anne tersadar satu hal. Ia segera menarik tangan pria itu-yang membuatnya terasa lebih nyata-memasuki kamarnya. Anne mengunci pintu dengan tangan gemetar sebelum berbalik. Sosok itu masih ada, membuat Anne terpana di tempatnya. "Kau.... itu tidak mungkin kau..." Lirih Anne, ia jelas tak percaya namun penglihatannya berkata lain. Luke, pria itu perlahan mendekat, dan dari pencahayaan di kamar Anne yang lebih terang dari luar sana, Anne akhirnya melihat bahwa wajah pria itu dipenuhi oleh lebam dan luka goresan yang baru saja mengering. Tetap
Anne Hawthorne yang sebentar lagi akan menyandang gelar The Marchioniss dan menjadi Nyonya Langley tak dapat mengelak segala ritual kecantikan yang telah disiapkan oleh kepala pelayan. Segala macam bedak telah dibalurkan di seluruh tubuhnya. Wewangian yang sempat Anne hindari bahkan ia berikan pada Leah pun tak luput ia dapatkan. Pada akhirnya, sang pelayan menyuruhnya berendam di dalam bak berisi wewangian yang menusuk hidung. "Karena Anda mengaku telah menumpahkan seluruh isi botol wewangian, maka kepala pelayan mempertaruhkan nama baiknya menemui sang peracik sekali lagi demi mendapatkan wewangian yang bahkan tak dijual di manapun." omel Rose kala itu, ketika ia mendapati wangi tubuh Anne keesokan harinya tak seperti yang mereka harapkan. Anne hanya bisa meringis, tanpa memberitahu apa yang sebenarnya terjadi pada botol wewangian itu. "Kepala pelayan pasti sangat kesulitan. Tenang saja, aku akan bersikap baik mulai sekarang.""Sebaiknya begitu, Nona." timpal Rose, menyiratkan
Persiapan pesta dansa puncak di kediaman Ashford telah dimulai sejak pagi tadi. Meski pestanya baru digelar dua hari ke depan yaitu di awal minggu ke empat, The Duke of Ashford memutuskan untuk melalukan persiapan jauh hari demi hasil yang maksimal. Ini kali kedua keluarga Ashford terpilih menja
Tangis Anne seketika pecah. Luke, pria itu berdiri di sana. Sehat tanpa kurang sedikitpun, dengan senyuman menawan yang amat Anne rindukan setiap waktu. Pandangan Anne buram oleh air mata yang terus mendesak keluar. Anne bahkan tidak yakin apakah ia berhalusinasi atau tidak. Namun Anne tetap mele
Sebuah tarikan napas memecah keheningan ruangan. Kelopak mata Luke terbuka secara serentak. Sepasang manik legamnya langsung bertemu langit-langit kamar yang familier. Berwarna emas dengan ukiran-ukiran terampil. Ini... bukankah.... 'Tidak, kenapa aku ada di sini? Bukankah sebelumnya aku bera
"Ah, rupanya Lady Hawthorne juga ada di sini?" Anne perlahan menoleh, menemukan Victor yang tengah menyeringai ke arahnya dengan satu tangan ia masukkan ke saku celananya. Anne memutar bola matanya dan berpaling, sungguh ia tidak punya waktu dengan ini. "Tetapi aku tidak melihat The Duke y







