LOGINJika rahimku dianggap kering olehmu, maka biarkan pria lain yang membasahinya." Dua tahun pernikahan adalah dua tahun neraka bagi Liora. Sebagai istri dari Pangeran Agung Robbert, ia tidak pernah sekalipun disentuh, namun justru dicap mandul dan dianggap sampah oleh ibu mertuanya. Puncaknya, Robbert membawa pulang seorang selir dan memamerkan kehamilan wanita itu di depan wajah Liora. Hancur dan terhina, Liora melakukan dosa besar yang tak termaafkan. Ia masuk ke sebuah tempat remang-remang, melempar sekantong emas, dan menyewa seorang pria asing untuk satu malam panas yang penuh gairah. Ia hanya ingin membalas dendam, ia hanya ingin membuktikan bahwa dirinya bukan wanita gagal. Namun, kejutan besar menantinya. Pria misterius itu ternyata adalah Arsen, sang Putra Mahkota yang baru saja kembali dari medan perang. Kini, Liora terjebak dalam situasi mematikan. Ia positif hamil, namun bukan anak Robbert yang ada di rahimnya, melainkan benih takhta kekaisaran. Di saat Robbert mulai terobsesi mengejarnya kembali karena cemburu, Arsen muncul untuk mengklaim apa yang menjadi miliknya. Di antara suaminya yang kejam dan sang calon Raja yang obsesif, mampukah Liora menyembunyikan rahasia di rahimnya sebelum seluruh kekaisaran mengeksekusinya?
View MoreKehadiran Arsen di aula itu mengubah segalanya dalam hitungan detik.Semua orang membeku — Robbert dengan tangan yang masih mencengkeram bahu Liora, Elena yang senyumnya membatu di bibirnya, ibu mertua yang mendadak tegak seperti boneka kayu, dan Tabib Kwon yang tangannya masih terulur di udara, tidak jadi meraba nadi Liora.Arsen melangkah masuk dengan kecepatan yang terkendali. Setiap langkahnya adalah pernyataan kekuasaan — dia tidak terburu-buru, tidak panik, dan tidak meminta izin. Putra Mahkota tidak membutuhkan izin untuk memasuki rumah siapa pun di kekaisaran ini, termasuk rumah adiknya sendiri."Kakanda Arsen," kata Robbert, suaranya berubah dari dingin menjadi defensif. Cengkeramannya di bahu Liora sedikit mengendur, sebuah refleks bawah sadar seorang adik yang selalu merasa lebih kecil di hadapan kakaknya. "Ini urusan internal keluargaku. Saya tidak menyangka Kakanda akan —""Urusan internal?" Arsen mengangkat alis. Ia berhenti di tengah aula, tepat di antara Liora dan Tabi
Dua minggu setelah kepulangan Arsen, kehidupan di kediaman Pangeran Agung berubah menjadi medan perang yang tidak kasat mata. Di permukaan, semuanya tampak normal — Robbert tetap menjalankan tugasnya sebagai pangeran, Elena tetap memamerkan kehamilannya yang kini memasuki bulan kelima, dan Liora tetap menjadi bayangan pucat yang berjalan tanpa suara di koridor-koridor belakang istana. Namun, di bawah permukaan itu, arus-arus berbahaya saling bertabrakan dengan kekuatan yang bisa menghancurkan siapa pun yang tidak cukup kuat berenang.Pagi itu, Liora terbangun dengan rasa mual yang sudah menjadi teman setia setiap fajarnya. Ia berlari ke sudut kamar, mencengkeram baskom tembaga yang sudah ia letakkan di samping ranjang sejak seminggu lalu, dan memuntahkan isi perutnya yang kosong. Asam lambung membakar tenggorokannya, air mata refleks mengalir di pipinya, dan tubuhnya bergetar hebat oleh kontraksi perut yang menyiksa. Morning sickness yang ia alami jauh lebih buruk daripada yang pernah
Ketakutan terbesar Liora tidak lagi berupa bayang-bayang abstrak, melainkan sesosok pria nyata yang kini memiliki akses penuh untuk menghancurkannya kapan saja. Sejak malam penyambutan di istana agung, tidur Liora tidak pernah nyenyak. Setiap kali memejamkan mata, ia kembali mendengar suara berat Arsen yang membisikkan kata-kata mengerikan itu di telinganya.Namun, siksaan yang sesungguhnya baru saja dimulai.Arsen tidak berniat membiarkan Liora bernapas lega. Hanya berselang tiga hari sejak kepulangannya, Sang Putra Mahkota mulai sering mengunjungi kediaman Pangeran Agung Robbert. Alasannya selalu sama dan sangat tak terbantahkan: urusan logistik militer pascaperang dan koordinasi wilayah perbatasan yang membutuhkan masukan dari adik lakinya. Robbert, yang merasa tersanjung karena sang kakak mendadak sering melibatkannya dalam urusan negara, menyambut kunjungan-kunjungan itu dengan tangan terbuka. Ia tidak menyadari bahwa di balik jubah kebesaran sang singa, ada sepasang mata elang y
Seluruh ibu kota kekaisaran seolah meledak dalam kemeriahan. Genderang perang digantikan oleh tiupan terompet emas, dan kelopak bunga mawar ditaburkan di sepanjang jalan utama menuju istana agung. Kabar yang telah lama dinanti akhirnya menjadi kenyataan: Putra Mahkota Arsen, Sang Singa dari Utara, telah kembali setelah memenangkan perang perbatasan selama bertahun-tahun. Keberhasilannya mengamankan wilayah kekaisaran menjadikannya sosok yang paling dipuja sekaligus ditakuti. Namun, di kediaman Pangeran Agung, suasana jauh dari kata meriah. Liora dipaksa berdiri di depan cermin besar, sementara tiga orang pelayan bekerja keras menutupi wajah pucatnya dengan riasan tebal. Gaun berwarna burgundy pekat,warna favorit Robbert yang melambangkan kekuasaan, melekat di tubuhnya, menonjolkan lekuk tubuh yang kini terasa begitu asing baginya. "Pastikan kau tersenyum, Liora," desis Robbert yang berdiri di belakangnya, menatap pantulan mereka di cermin. "Aku tidak ingin kakakku melihat wajah
Liora melangkah melewati ambang pintu kayu ek yang berat, meninggalkan udara malam yang menusuk hanya untuk disambut oleh aroma kemenyan dan parfum murahan yang menyesakkan. Ini adalah *The Velvet Rose*, sebuah rumah bordil paling elit di sudut terlarang ibu kota, tempat di mana moralitas hanyalah
Liora bersandar pada batang pohon ek di sudut terjauh taman istana, napasnya tersengal-sengal. Rasa mual yang tadi menyerang secara mendadak kini menyisakan rasa asam yang pahit di pangkal tenggorokannya. Ia memegangi perutnya yang masih rata, merasakan getaran aneh yang merayap dari sana hingga ke
Kegelapan paviliun itu terasa begitu pekat, seolah-olah dunia di luar sana telah berhenti berputar. Hanya ada suara deru napas yang saling berkejaran dan detak jantung yang berpacu liar. Liora merasakan jemari Arsen yang kasar mulai menelusuri lekuk lehernya, sebuah sentuhan yang mengirimkan sengat
"Ini adalah selirku, dia sedang mengandung pewarisku."Suara dingin Pangeran Agung Robbert bergema di aula utama, menghujam tepat ke jantung Liora. Setiap kata yang diucapkan pria itu terasa seperti sembilu yang menyayat harga dirinya yang sudah tipis. Di samping suaminya, seorang wanita muda berdi


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews