LOGINJika rahimku dianggap kering olehmu, maka biarkan pria lain yang membasahinya." Dua tahun pernikahan adalah dua tahun neraka bagi Liora. Sebagai istri dari Pangeran Agung Robbert, ia tidak pernah sekalipun disentuh, namun justru dicap mandul dan dianggap sampah oleh ibu mertuanya. Puncaknya, Robbert membawa pulang seorang selir dan memamerkan kehamilan wanita itu di depan wajah Liora. Hancur dan terhina, Liora melakukan dosa besar yang tak termaafkan. Ia masuk ke sebuah tempat remang-remang, melempar sekantong emas, dan menyewa seorang pria asing untuk satu malam panas yang penuh gairah. Ia hanya ingin membalas dendam, ia hanya ingin membuktikan bahwa dirinya bukan wanita gagal. Namun, kejutan besar menantinya. Pria misterius itu ternyata adalah Arsen, sang Putra Mahkota yang baru saja kembali dari medan perang. Kini, Liora terjebak dalam situasi mematikan. Ia positif hamil, namun bukan anak Robbert yang ada di rahimnya, melainkan benih takhta kekaisaran. Di saat Robbert mulai terobsesi mengejarnya kembali karena cemburu, Arsen muncul untuk mengklaim apa yang menjadi miliknya. Di antara suaminya yang kejam dan sang calon Raja yang obsesif, mampukah Liora menyembunyikan rahasia di rahimnya sebelum seluruh kekaisaran mengeksekusinya?
View MoreLiora bersandar pada batang pohon ek di sudut terjauh taman istana, napasnya tersengal-sengal. Rasa mual yang tadi menyerang secara mendadak kini menyisakan rasa asam yang pahit di pangkal tenggorokannya. Ia memegangi perutnya yang masih rata, merasakan getaran aneh yang merayap dari sana hingga ke ujung jari-jarinya. Pengusiran ke paviliun belakang oleh Robbert ternyata menjadi berkah terselubung; di tempat terpencil itu, pengawasan tidak seketat di bangunan utama. Dengan bantuan seorang pelayan setia yang berutang nyawa padanya, Liora berhasil menyelundup keluar untuk menemui Tabib Han, satu-satunya orang yang ia percayai di luar tembok tinggi ini.Suasana di klinik kecil Tabib Han sangat tenang, berbanding terbalik dengan badai yang berkecamuk di dalam dada Liora. Bau rempah-rempah dan akar-akaran kering memenuhi ruangan kayu yang sempit itu. Tabib tua itu baru saja melepaskan jemarinya dari pergelangan tangan Liora, wajahnya yang penuh keriput tampak serius sekaligus takjub. Liora
Fajar baru saja menyingsing ketika kereta kuda sewaan yang membawa Liora berhenti di gerbang samping kediaman Pangeran Agung. Udara pagi yang lembap menusuk kulitnya, namun rasa dingin itu tak sebanding dengan kekosongan yang kembali menyelimuti hatinya begitu melihat tembok tinggi istana itu. Liora merapatkan jubah hitamnya, memastikan cadar dan sisa-sisa aroma dosa semalam tertutup rapat. Ia melangkah masuk melalui pintu kecil para pelayan, menyelinap di antara bayang-bayang pilar batu yang dingin, berusaha kembali ke kamarnya sebelum seluruh penghuni istana terbangun.Setiap langkahnya di atas lantai marmer yang kaku terasa seperti pengingat akan statusnya yang kini telah berubah. Ia bukan lagi istri yang hanya bisa menangis meratapi nasib. Di dalam rahimnya, ia membawa rahasia besar yang bisa menghancurkan atau justru membebaskannya. Liora merasa seperti membawa bom waktu yang detaknya hanya bisa ia dengar sendiri. Namun, alih-alih ketakutan, ada ketenangan aneh yang mulai merayap
Kegelapan paviliun itu terasa begitu pekat, seolah-olah dunia di luar sana telah berhenti berputar. Hanya ada suara deru napas yang saling berkejaran dan detak jantung yang berpacu liar. Liora merasakan jemari Arsen yang kasar mulai menelusuri lekuk lehernya, sebuah sentuhan yang mengirimkan sengatan listrik ke seluruh sarafnya. Selama dua tahun menjadi istri Robbert, ia terbiasa dengan keheningan dan pengabaian. Namun malam ini, di tangan seorang pria yang bahkan tidak ia ketahui namanya, Liora merasa seperti sebuah instrumen yang baru saja dipetik senar-senarnya.Arsen tidak terburu-buru. Ia adalah seorang pemangsa yang tahu benar cara menikmati setiap detik perburuannya. Dengan perlahan, ia melepaskan cadar tipis yang masih menempel di wajah Liora, membiarkan kain sutra itu jatuh ke lantai tanpa suara. Cahaya remang dari sisa perapian menyoroti wajah Liora yang pucat namun terlihat begitu cantik dalam balutan rasa takut dan gairah yang bercampur aduk. Arsen bisa melihat bibir wanit
Liora melangkah melewati ambang pintu kayu ek yang berat, meninggalkan udara malam yang menusuk hanya untuk disambut oleh aroma kemenyan dan parfum murahan yang menyesakkan. Ini adalah *The Velvet Rose*, sebuah rumah bordil paling elit di sudut terlarang ibu kota, tempat di mana moralitas hanyalah komoditas yang bisa diperjualbelikan. Di tempat ini, tidak ada yang peduli pada gelar atau kehormatan; hanya emas yang memiliki suara.Jantung Liora berdentum begitu keras hingga ia merasa dadanya akan pecah. Setiap pasang mata di ruangan remang itu seolah menelanjanginya, mencari tahu siapa wanita di balik jubah hitam yang tampak begitu asing di lingkungan penuh dosa ini. Namun, Liora tidak menunduk. Rasa perih di pipinya akibat tamparan ibu mertuanya tadi siang jauh lebih menyakitkan daripada tatapan merendahkan para pemabuk di sini.Ia terus berjalan menuju meja bar yang tinggi, di mana seorang pria berwajah licin sedang menghitung koin. Tanpa sepatah kata pun, Liora menghantamkan kantong






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.