Ahli Waris Sang Putra Mahkota

Ahli Waris Sang Putra Mahkota

last updateLast Updated : 2026-06-02
By:  Kim ChiUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
3views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Jika rahimku dianggap kering olehmu, maka biarkan pria lain yang membasahinya." Dua tahun pernikahan adalah dua tahun neraka bagi Liora. Sebagai istri dari Pangeran Agung Robbert, ia tidak pernah sekalipun disentuh, namun justru dicap mandul dan dianggap sampah oleh ibu mertuanya. Puncaknya, Robbert membawa pulang seorang selir dan memamerkan kehamilan wanita itu di depan wajah Liora. Hancur dan terhina, Liora melakukan dosa besar yang tak termaafkan. Ia masuk ke sebuah tempat remang-remang, melempar sekantong emas, dan menyewa seorang pria asing untuk satu malam panas yang penuh gairah. Ia hanya ingin membalas dendam, ia hanya ingin membuktikan bahwa dirinya bukan wanita gagal. Namun, kejutan besar menantinya. Pria misterius itu ternyata adalah Arsen, sang Putra Mahkota yang baru saja kembali dari medan perang. Kini, Liora terjebak dalam situasi mematikan. Ia positif hamil, namun bukan anak Robbert yang ada di rahimnya, melainkan benih takhta kekaisaran. Di saat Robbert mulai terobsesi mengejarnya kembali karena cemburu, Arsen muncul untuk mengklaim apa yang menjadi miliknya. Di antara suaminya yang kejam dan sang calon Raja yang obsesif, mampukah Liora menyembunyikan rahasia di rahimnya sebelum seluruh kekaisaran mengeksekusinya?

View More

Chapter 1

RAHIM YANG TERHINA

"Ini adalah selirku, dia sedang mengandung pewarisku."

Suara dingin Pangeran Agung Robbert bergema di aula utama, menghujam tepat ke jantung Liora. Setiap kata yang diucapkan pria itu terasa seperti sembilu yang menyayat harga dirinya yang sudah tipis. Di samping suaminya, seorang wanita muda berdiri dengan keangkuhan yang nyata, tangannya dengan sengaja mengusap perut yang mulai membuncit. Liora merasa dunianya runtuh seketika; pemandangan itu adalah bukti nyata dari pengkhianatan yang paling kejam.

Liora mengepalkan tangan di balik lipatan gaun mahalnya, berusaha menyembunyikan getaran hebat yang merambat di jemarinya. Dua tahun pernikahan mereka bukanlah surga, melainkan neraka yang sunyi dan dingin. Selama itu pula, Liora bertahan dalam kesepian, berharap suatu hari suaminya akan luluh, namun kenyataan yang ia terima hari ini jauh lebih pahit dari kematian itu sendiri.

"Karena rahimmu mandul, Liora, kau harus menerima dia di istana ini," tambah ibu mertuanya tanpa sedikit pun rasa iba. Kalimat itu meluncur begitu saja, merendahkan martabat Liora di hadapan para pelayan yang menunduk diam. Kata "mandul" itu mendengung di telinganya, sebuah vonis mati bagi seorang istri di lingkungan kekaisaran yang hanya menghargai wanita berdasarkan kemampuannya melahirkan ahli waris.

Liora menatap lurus ke mata Robbert, mencari setitik saja rasa bersalah atau sisa-sisa kemanusiaan di sana. Namun, yang ia temukan hanyalah kekosongan yang membeku. Pria itu bahkan tidak sudi membalas tatapannya, seolah-olah Liora hanyalah benda rusak yang sudah tidak memiliki nilai lagi untuk dipertahankan. Hati Liora menjerit, menanyakan di mana letak kesalahannya hingga ia harus dipermalukan sedalam ini.

"Dua tahun, Robbert," bisik Liora, suaranya bergetar hebat menahan badai amarah dan luka yang bergejolak di dadanya. "Dua tahun aku menjaga kehormatanku dan nama baikmu, sementara kau justru menanam benih di rahim wanita lain?" Isak tangis yang tertahan membuat tenggorokannya terasa tercekik, sesak oleh ketidakadilan yang ia terima.

"Kesetiaanmu tidak memberikan aku ahli waris, Liora," potong Robbert dengan nada yang begitu datar hingga membuat bulu kuduk berdiri. Jawaban itu adalah tamparan yang lebih menyakitkan daripada kekerasan fisik mana pun. Robbert menyalahkannya atas kekosongan di rahim mereka, seolah-olah itu adalah kesalahan mutlak Liora seorang diri.

Liora tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar lebih seperti rintihan keputusasaan. "Ahli waris? Bagaimana mungkin aku bisa mengandung, Robbert, jika kau sendiri tidak pernah sekalipun menyentuhku selama dua tahun ini?". Rahasia kelam itu akhirnya meledak keluar. Liora ingin dunia tahu bahwa kekosongan itu bukan karena tubuhnya yang gagal, melainkan karena penolakan suaminya yang dingin.

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Liora, membuat kepalanya terhentak ke samping. Bukan dari Robbert, melainkan dari ibu mertuanya yang kini menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. "Jaga mulutmu, wanita tidak berguna! Kau hanyalah sampah yang beruntung bisa menyandang nama keluarga ini!" desis wanita tua itu dengan bibir yang gemetar karena marah.

Liora memegang pipinya yang mulai memanas dan berdenyut nyeri. Rasa perih di kulitnya tidak sebanding dengan hancurnya jiwa yang ia rasakan saat ini. Di sudut matanya, ia melihat Elena sang selir tersenyum tipis penuh kemenangan. Senyuman itu seolah mengejek setiap tetes air mata yang susah payah Liora tahan agar tidak jatuh.

Suasana di ruangan itu menjadi begitu mencekam, seolah-olah dinding-dinding aula itu bergerak menyempit untuk menghimpit tubuhnya. Liora merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri, dikelilingi oleh orang-orang yang menginginkan kehancurannya. Kehangatan yang dulu ia impikan dari sebuah keluarga kini telah berubah menjadi es yang menusuk hingga ke tulang.

"Mulai malam ini, kau akan pindah ke paviliun belakang," perintah Robbert tanpa ekspresi. "Tempat itu jauh lebih tenang untuk Elena menjaga kandungannya tanpa gangguan darimu". Keputusan itu adalah pengusiran secara halus. Liora dibuang ke tempat yang paling terpencil dan lembap di istana, seolah ia adalah penyakit yang harus dijauhkan dari cahaya.

Api dendam mulai menyala di sela-sela reruntuhan hati Liora. Jika kesetiaan hanya membuahkan penghinaan, dan kejujuran hanya dibalas dengan tamparan, maka untuk apa ia terus menjadi istri yang patuh? Pikirannya mulai gelap, didorong oleh rasa sakit yang sudah melampaui batas kewarasan manusia normal.

Jika kau menganggap rahimku adalah tanah yang mati karena kau tak pernah menyiraminya, Robbert... maka biarkan pria lain yang membuktikannya padamu, batin Liora dengan tekad yang mengerikan. Ia tidak akan lagi menangis. Ia tidak akan lagi memohon. Jika dunia menganggapnya berdosa, maka ia akan melakukan dosa yang paling besar sekalian.

Liora berbalik dengan gerakan anggun namun penuh kebencian, meninggalkan aula tanpa sepatah kata pun. Di dalam kepalanya, ia sudah membayangkan sebuah rencana nekat untuk menghancurkan kebanggaan Robbert. Ia akan memberikan ahli waris bagi kekaisaran ini, tapi ia akan memastikan bahwa anak itu bukanlah darah daging pria kejam tersebut.

Malam itu, di bawah lindungan kegelapan, Liora melangkah keluar dengan jubah hitam yang menyembunyikan identitas bangsawannya. Ia menuju sebuah distrik terlarang, tempat di mana moralitas tidak lagi berlaku dan emas bisa membeli apa saja. Tangannya gemetar saat ia berdiri di depan sebuah pintu kayu besar, namun bukan karena ketakutan—melainkan karena antisipasi akan pembalasan dendam yang akan ia mulai malam ini.

Ia mengetuk pintu itu dengan mantap. Saat penjaga membukanya, Liora hanya mengangkat sekantong koin emas tanpa ragu. "Beri aku pria terbaik yang kalian miliki malam ini," ucapnya dengan nada dingin yang tidak menyisakan ruang untuk perdebatan. Di sudut ruangan yang remang, matanya terpaku pada seorang pria dengan aura predator yang begitu kuat.

Liora menunjuk pria itu. "Dia. Aku ingin dia yang mengisi rahimku malam ini.”

Penjaga itu tertegun sejenak, menatap Liora yang berdiri tegak meski tubuhnya dibalut jubah lusuh. Namun, beratnya kantong emas di tangan wanita itu adalah bahasa yang paling dimengerti di tempat ini. Dengan isyarat kepala, penjaga itu mempersilakan Liora melangkah masuk ke dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya lilin temaram.

Liora melangkah mendekat ke sudut ruangan, setiap pijakannya terasa seperti ia sedang menginjak sisa-sisa kesetiaannya pada Robbert. Pria yang ia tunjuk tadi masih duduk diam, wajahnya setengah tersembunyi di balik bayangan, namun bahunya yang lebar dan postur tubuhnya yang tegap memancarkan kekuatan yang mengintimidasi. Pria itu adalah Arsen, sang Putra Mahkota yang sedang menyamar, meski Liora tidak menyadarinya sedikit pun.

"Kau tahu apa yang kau minta, Nona?" suara pria itu rendah dan berat, bergetar di udara seperti dentum lonceng gereja di tengah malam.

Liora menelan ludah, tenggorokannya terasa kering, namun bayangan wajah angkuh Elena dan penghinaan suaminya kembali muncul di pelupuk mata. "Aku tidak datang untuk bicara," jawab Liora dengan nada yang dipaksakan agar tidak bergetar. "Aku membayar untuk sebuah hasil, bukan percakapan."

Arsen bangkit berdiri, perlahan keluar dari bayangan. Tinggi badannya membuat Liora harus mendongak, merasa kecil namun sekaligus terlindungi oleh aura predator pria di depannya. Arsen menatap wanita di depannya dengan rasa ingin tahu; ia bisa melihat kemarahan yang murni di mata Liora, jenis kemarahan yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah kehilangan segalanya.

"Malam ini akan menjadi rahasia yang paling gelap dalam hidupmu," bisik Arsen sembari melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka hingga Liora bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu. "Setelah pintu ini tertutup, tidak ada jalan untuk kembali."

Liora memejamkan mata sejenak, membuang jauh-jauh sisa harga diri sebagai istri seorang Pangeran Agung. "Tutup pintunya," perintahnya lirih namun tajam.

Arsen tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan misteri besar kekaisaran. Tangannya yang kasar karena bekas luka perang meraih dagu Liora, memaksa wanita itu menatapnya langsung. "Baiklah. Mari kita ciptakan dosa yang akan membuat suamimu berlutut di bawah kakimu."

Di balik pintu kayu yang tertutup rapat, Liora menyerahkan dirinya pada kegelapan. 

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status