ANMELDENAnnelise Hawthorne menjalani pernikahan yang penuh pengkhianatan, saat ia mati dengan tragis karena suaminya memilih menyelamatkan wanita lain. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua untuk kembali ke masa lalu sebelum pernikahannya, Annelise bersumpah untuk tidak mengulang kesalahan yang sama. Dalam usahanya menghindari takdir yang tragis, ia bertemu dengan Luke, seorang pria misterius yang ternyata adalah Duke of Ashford, menawarkan untuk menikahinya. “Tak seorang pun akan berani menyentuh Anda selama Anda berada di bawah nama saya. Biarkan aku melindungimu.”
Mehr anzeigenTubuh Annelise Hawthorne terbaring tak berdaya di tanah penuh darah dan luka, di antara puing-puing kereta kuda yang hancur sebagian.
Annelise merasa tak memiliki tenaga lagi, rasa sakit memenuhi sekujur tubuhnya. Ia yakin ia berada di ambang kematian.
Memorinya berputar ke beberapa waktu lalu. Ia dalam perjalanan menuju pesta yang diselenggarakan di istana kerajaan.
Namun, kecelakaan terjadi saat mereka melalui jalan yang melintasi bukit. Gundukan batu dan tanah curam di tepi jalan mendadak longsor, menimpa kereta yang ia tunggangi.
“Nyonya, Nyonya, Anda bisa mendengar kami? Bertahanlah! Sebentar lagi bantuan dan tabib akan ke sini!”
Para pelayan setia mengelilinginya, berusaha membantu Anne, gurat-gurat kecemasan di wajah mereka. Mereka sendiri saling berbisik satu sama lain dengan khawatir.
“Kenapa mereka lama sekali?!”
“Mereka sudah tiba, tapi menyelamatkan kereta kuda di depan dahulu, yang dinaiki Lady Leah…”
Anne mendengarnya, dan seketika rasa sakit di sekujur badannya tak sebanding dengan sakit di hatinya.
Leah adalah saudara tiri Victor, suaminya, lebih tepatnya anak yang diangkat keluarga besarnya dulu. Ia menaiki kereta yang berada di depan kereta Anne.
Dari sudut matanya, Anne bisa melihat kereta kuda itu, tidak dalam keadaan yang separah kereta kuda Anne.
Ia bisa melihat Victor memapah Leah. Penampilan wanita itu masih rapi, hanya sedikit kusut pada gaunnya. Tapi kedua lengan Victor mendekapnya dengan protektif.
Sikap protektif yang Anne sendiri sebagai istrinya tidak pernah rasakan.
“Tuan Victor!” panggil seorang pelayan yang menghampiri Victor di sana. “Nyonya Annelise dalam keadaan yang parah, butuh segera ditangani tabib, Tuan!”
Victor hanya menatap pelayan itu dingin. Lalu melirik Anne yang tergeletak tak jauh di sana, dikelilingi para pelayan lain.
“Tabib akan memeriksa Leah dulu, dia juga terluka. Anne akan diperiksa setelahnya,” ucap pria itu.
Bagi Victor, Leah adalah orang yang paling penting lebih dari siapapun, termasuk istrinya sendiri.
Bahkan, saat istrinya sekarat seperti ini, kekhawatiran Victor hanya tertuju pada Leah.
“Tak ada waktu, Tuan! Nyonya terluka parah dan berdarah… dia bisa mati karena kehabisan darah!” ucap pelayan panik.
“Pelayan dan majikannya sama-sama dramatis,” decih Victor tajam, mengabaikan permohonan pelayan itu dan pergi memapah Leah. “Tidak usah melebih-lebihkan keadaan. Nyonyamu itu memang gemar cari perhatian. Tahan saja, dia akan diobati setelah Leah.”
Bagaimanapun, Victor Langley adalah Marquess yang berkuasa di wilayah ini. Bahkan para tabib yang bekerja bergantung pada sang tuan pemilik kebijakan.
Rombongan dari kereta kuda Leah pergi meninggalkan lokasi kecelakaan, meninggalkan sang Nyonya Marchioness yang tak berdaya.
Anne tidak menangis ketika dirinya kesakitan, ketika tulang-tulangnya remuk, ketika kepalanya terasa sangat sakit. Namun hanya sebuah kalimat dari Victor yang baru saja didengarnya … mampu membuat air mata itu luruh.
Dan sekarang, Anne mengingatnya. Sejak lama, Victor tidak pernah mencintainya.
Anne hanya Putri Baron yang polos dan jatuh cinta pada pria idamannya. Saat menikah dengan Victor, Anne sangat bahagia. Meski sikap Victor selalu dingin, Anne pikir jika ia menjadi istri yang baik, suaminya akan membuka hatinya suatu hari.
Anne memejamkan matanya. Rasa penyesalan di hatinya mulai menyebar, ingatan-ingatan masa lalu mulai bermunculan di benaknya.
Seandainya ia tidak dibutakan oleh cintanya. Seandainya ia mendengarkan Ayahnya untuk tidak terlalu terburu-buru menikah.
Seandainya saja, ia bisa kembali dan mengulangi semuanya. Ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Ia tidak akan mati seperti ini, ditinggalkan suami demi wanita lain dengan keadaan berdarah-darah.
Mata Anne menutup, kegelapan segera merengkuhnya. Ia menghembuskan napas terakhir.
…
“Nona… Nona?”
Annelise tersentak dan menatap sekelilingnya dengan napas tersengal-sengal.
Ia menyentuh tenggorokannya dan terbatuk. Hal tersebut sontak membuat pelayan di sisinya panik dan mengambil segelas air untuk Nonanya.
“Nona? Nona baik-baik saja?”
Annelise tidak menjawab, tapi menerima gelas tersebut dan langsung meminum airnya hingga tandas. Setelah cukup tenang, matanya bergerak cukup liar ke sekeliling, terbelalak seolah ia baru saja lolos dari kematian.
Kematian?
‘Apa maksudnya ini?’ batin Annelise bertanya-tanya. Wanita itu mengamati wajahnya di cermin meja rias di seberang kasur. Annelise Hawthorne, itu dirinya. Ia masih bernapas dan cantik.
“A-aku di mana?” tanyanya kebingungan.
Pelayan itu terdiam sejenak, heran melihat Anne yang tampak kalut. “Ini kamar Anda. Maaf jika saya lancang membangunkan Nona, tapi sepertinya Anda mengigau karena mimpi buruk.”
Mimpi?
Apa yang terjadi padanya? Bukankah ia baru saja menemui kematian?
Pelayan ini, ia juga salah satu pelayan yang menangisinya di tempat terjadinya kematiannya. Tapi sekarang, Anne seolah hidup kembali.
“Nona baik-baik saja? Sebentar lagi Anda akan menemui sang Ratu untuk meminta izin pernikahan Anda.”
Sebuah tarikan napas memecah keheningan ruangan. Kelopak mata Luke terbuka secara serentak. Sepasang manik legamnya langsung bertemu langit-langit kamar yang familier. Berwarna emas dengan ukiran-ukiran terampil. Ini... bukankah.... 'Tidak, kenapa aku ada di sini? Bukankah sebelumnya aku berada di dalam kereta?' batin Luke, bertanya-tanya. Luke mengedarkan pandangannya yang masih sedikit buram. Namun semakin ia berusaha melihat dengan baik, semakin dirinya menyadari bahwa ia ..... memang sedang berada di kamar pribadinya. Di Ironvale. Apa?! Dengan perasaan terkejut Luke mencoba bangkit untuk duduk. Namun, rasa pening yang hebat langsung menghantam hingga membuatnya segera bersandar pada tumpukan bantal. Dadanya naik turun di balik balutan kemeja linen putih yang longgar. Beberapa pelayan, perawat, dan George yang awalnya tak memperhatikan pun terkejut dengan pergerakan tiba-tiba di atas ranjang. Mereka serempak menoleh. "Your Grace!!" suara familier terdengar lu
"Ah, rupanya Lady Hawthorne juga ada di sini?" Anne perlahan menoleh, menemukan Victor yang tengah menyeringai ke arahnya dengan satu tangan ia masukkan ke saku celananya. Anne memutar bola matanya dan berpaling, sungguh ia tidak punya waktu dengan ini. "Tetapi aku tidak melihat The Duke yang terhormat," Victor menoleh kanan kiri, lalu menyorot jenaka. "Aku kira kalian begitu harmonis." "Aku tidak ada waktu untukmu, Victor." Anne menghela napas lelah, Ia kemudian menatap Rowey. "Aku akan kembali. Rowey, terima kasih." "Tinggallah dulu, aku akan menjamu makan malam sebentar lagi. Aku mohon," Sahut Rowey, matanya melirik Victor sekilas lalu kembali menatap Anne. "Ayo masuk saja." Tepat saat itu, seorang pelayan mendekat dengan terburu-buru dan berhenti di sisi Rowey. Ia menunduk hormat, "Nyonya, Lord Anderson memanggil Anda. Tuan ingin bertemu dengan Nyonya segera." Rowey berdecak, bersiap untuk memberi titah agar Anderson dapat menunggu sebentar saja, namun Anne menyen
Anne berharap Luke memang baik-baik saja. Namun, satu hari, dua hari.... Anne tak kunjung mendengar kabar dari Luke. Ini bukan sekadar dua hari tanpa pertemuan seperti biasanya. Anne merasakan ada sesuatu yang berbeda dari diamnya Luke saat ini. Dua hari setelah pertemuan mereka di lapangan tembak, lalu Luke meninggalkan dirinya begitu saja, Anne sama sekali belum mendapatkan penjelasan tentang apa yang terjadi. Anne menjadi cemas dan bahkan mulai memimpikan hal-hal yang aneh, seperti pada pagi di hari kedua ini. Anne terbangun dengan keringat dingin yang mengucur. Matanya bergerak liar ke sekitar sebelum akhirnya menemukan segelas air. Ia segera meminumnya hingga tandas. "Hah... hah..." Napas Anne terdengar putus-putus. Ia menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya. Tanpa sadar, air mata mulai mengalir di pipinya. Tangisan Anne terdengar tanpa bisa dicegah, bahunya bergetar. Mimpi yang baru saja ia alami benar-benar menyeramkan dan menyayat hati. Anne.... mem
Sebelumnya Anne tidak tahu bahwa kegiatan menembak akan terasa semenyenangkan ini. Tembakan demi tembakan anehnya memberi gemuruh semangat di dada wanita itu. Anne bahkan telah mulai terbiasa. Ia memasukkan sendiri bubuk mesiu, membidik, dan menjatuhkan target. Setiap kali ia berhasil, ia akan bersorak senang layaknya kemenangan besar. Ke mana saja ia selama ini? Mengapa tidak dari dulu saja ia mencoba kegiatan-kegiatan menyenangkan di luar sana? Lagi-lagi Anne selalu menutup dirinya untuk hal-hal positif. Ia tidak mau bergaul terlalu jauh karena selalu disadarkan bahwa dirinya hanyalah bangsawan rendahan. Oleh karena itu, ia lebih memilih melakukan hobi seperti merangkai bunga dan menjahit di halamannya. Namun, pribadi tertutup Anne dahulu tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Faktanya, olahraga yang condong dilakukan oleh pria, masih menjadi hal yang 'tabu' bagi wanita saat ini. Bisa dilihat dari suasana lapangan tembak, hanya Anne lah satu-satunya wanita yang bermain. D






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.