Share

Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi
Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi
Author: Yusni Anjani

Bab 1

Author: Yusni Anjani
Sebulan setelah alami keguguran yang nggak terduga, Weni Kusuma dapati kalau suaminya selingkuh.

Jam satu dini hari.

Weni kembali terbangun dengan terkejut karena mimpi buruk. Lagi-lagi, dalam mimpinya, dia lihat anaknya yang belum sempat lahir.

Setelah kembali dari kamar mandi, tanpa sengaja dia lihat HP-nya Lukas Lukmanto yang tergeletak di sisi bantal lagi menyala, terangi sudut kecil di samping tempat tidur. Weni raih dan buka HP itu.

Seseorang dengan nama panggilan “Putri Tidur” baru saja kirimi beberapa foto.

Seorang gadis muda duduk di sudut bar, menopang dagu dengan sebelah tangan. Tatapannya tampak begitu merana, sementara di hadapannya berjejer aneka minuman berwarna-warni. Nggak lama kemudian, serangkaian pesan muncul.

[Bukannya kamu bilang bakal terus terang ke dia? Kegugurannya sudah sebulan lalu. Sampai kapan kamu masih mau pertimbangkan perasaannya?]

Kepala Weni seketika langsung berdengung.

Dia dan Lukas baru nikah selama tiga bulan!

Weni lihat percakapan di atasnya.

Selain beberapa obrolan sehari-hari, topik yang paling sering muncul ternyata adalah tentang dirinya.

[Katamu orang yang kamu cintai itu aku. Setidaknya kamu harus buktikan itu, kan? Kamu mau nggak tinggalkan istri barumu itu dan temani aku pergi ke luar negeri selama setengah bulan?]

Tanggal pesan itu ternyata tepat pada hari pernikahan mereka.

Weni masih ingat dengan jelas gimana saat itu Lukas peluk dia dengan lembut dan minta maaf. Katanya, perusahaan tugaskan dia pergi ke luar negeri selama setengah bulan dan dia benar-benar nggak bisa tolak itu. Karena paham kalau karier Lukas lagi dalam masa perkembangan, Weni akhirnya batalkan rencana bulan madu mereka.

Selama setengah bulan itu, Lukas selalu kasih tahu dia tentang kegiatannya tiga kali sehari, nggak pernah lalai sekalipun.

‘Benar-benar pintar ngatur waktu!’

[Aku dengar dia lagi hamil? Jangan-jangan kamu sudah nggak niat ceraikan dia?”

[Sebenarnya kamu mau buat aku tunggu sampai kapan? Apa aku harus tunggu sampai anak kalian lahir?]

[Maaf. Aku benar-benar nggak nyangka kamu sampai buat dia keguguran demi aku. Tunggu sampai kondisinya sedikit baikan, baru kita bicara tentang perceraian.]

[Lukas, aku cinta kamu. Aku bisa tunggu kamu .…]

Setiap kata itu bagaikan binatang buas nggak kasatmata yang mencabik-cabik daging dan darah Weni. Tangannya cengkeram HP itu erat-erat. Seluruh tubuhnya terasa membeku, sementara rasa sakit yang nggak tertahankan menjalar ke setiap tulang dan persendiannya. Dia masih ingat, nggak lama setelah Lukas berangkat untuk perjalanan dinas, Weni tahu kalau dirinya hamil. Saat itu, Weni begitu bahagia sampai hampir kehilangan akal sehatnya. Begitu tahu kabar itu, Lukas segera pulang untuk temani dia periksa kandungan dan beli berbagai perlengkapan bayi. Namun sebulan lalu, ketika Weni turun untuk jalan-jalan, ada orang yang nggak sengaja tabrak dia. Dan begitu saja, anak mereka pergi untuk selamanya. Awalnya, Weni kira semua itu cuma kecelakaan tragis.

Lukas tiba-tiba balikkan tubuhnya. Weni buru-buru letakkan HP itu dan kembali berbaring, pura-pura nggak terjadi apa-apa. Dua menit kemudian, dia dengar Lukas nyalakan HP-nya. Sesaat setelah itu, terdengar suara gemerisik orang lagi pakai baju. Weni pura-pura baru terbangun.

“Sudah malam gini, kamu mau ke mana?”

Lukas tundukkan kepalanya dan kecup keningnya dengan lembut. Suaranya terdengar tenang saat lagi bujuk dia, “Perusahaan ada urusan mendesak. Aku harus pergi urus. Kamu nggak perlu tunggu aku.”

Nggak lama kemudian, suara pintu ditutup terdengar dari luar. Weni segera bangkit, pakai jaket , lalu panggil taksi.

“Pak, tolong antar aku ke Bar Hola.”

Mobil berhenti di depan bar. Bahkan sebelum Weni sempat turun, dia sudah lihat Lukas seret gadis muda itu keluar dengan langkah lebar. Lukas dorong gadis itu hingga tubuhnya terhuyung di samping mobil. Tatapannya dipenuhi kegelisahan sekaligus kepedihan.

“Demi kamu, aku sudah buat dia keguguran! Aku mesti gimana lagi untuk buktikan perasaanku ke kamu?!”

Seolah baru saja dipukul keras di kepalanya, seluruh tubuh Weni terasa mati rasa. Telinganya berdenging hebat. Namun yang terjadi berikutnya bahkan lebih menyakitkan. Lukas cengkeram leher gadis itu, lalu cium dia dengan penuh gairah. Keduanya berciuman di pinggir jalan, sulit dipisahkan, seolah mereka adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta hingga hilang kendali.

Weni hanya bisa menatap tanpa berkedip ketika Lukas masukkan gadis itu ke kursi penumpang depan, kemudian setir mobil pergi.

“Pak, ikuti mobil itu.”

Taksi itu ikuti kendaraan Lukas hingga berhenti di sebuah hotel. Weni saksikan dari jauh ketika Lukas gendong gadis itu masuk ke hotel, pesan kamar, lalu bawa dia ke lantai atas.

Weni keluarkan HP-nya dan telepon Lukas. Panggilan itu langsung diputus. Beberapa saat kemudian, Lukas hanya balas dua kata:

[Lagi sibuk]

Bahkan dia nggak sempat kasih tanda titik. Dalam sekejap, Weni merasa seolah seluruh daging dan darah di tubuhnya telah dikosongkan, sisakan kerangka yang rapuh dan nggak berdaya. Bahkan suaranya terdengar lemah, seperti kehilangan seluruh kekuatan untuk bernapas.

Perselingkuhan itu sudah begitu jelas. Tapi kalau gitu, apa maksudnya dengan “buat dia keguguran”?

Sesampainya di rumah, Weni buka kamar bayi yang selama ini terkunci. Dia kumpulkan semua obat dan suplemen yang masih tersisa sejak masa kehamilannya, lalu bawa ke rumah sakit. Angin malam berembus dingin dan menusuk tulang. Weni duduk membisu di depan rumah sakit sepanjang malam, seperti bunga yang telah layu sebelum sempat mekar.

Begitu dokter mulai kerja pagi itu, dia segera serahkan semua barang itu untuk diperiksa.

“Nona Weni, isi botol ini adalah sejenis obat aborsi yang sudah nggak dipakai lagi di dalam negeri. Namun karena efeknya nggak terlalu kuat, kemungkinan besar kegugurannya nggak akan berlangsung sempurna, tetap butuh tindakan kuret. Saya harus ingatkan Anda. Kalau memang nggak mau anak ini, sebaiknya lakukan prosedur aborsi yang resmi. Jangan minum obat-obatan semacam ini. Jika sampai terjadi perdarahan hebat, Anda sendiri yang akan tanggung akibatnya.”

Weni keluar dari rumah sakit dengan langkah gontai, seperti orang yang kehilangan jiwanya. Setiap langkah terasa seperti menginjak ujung pisau dengan kaki telanjang. Rasa sakitnya begitu hebat sampai pandangannya berulang kali jadi hitam. Kenangan tentang hari kegugurannya kembali muncul dengan begitu jelas. Dia masih ingat gimana dirinya hanya bisa saksikan darah hangat mengalir dari tubuhnya. Dokter bilang anaknya sudah nggak ada dan dia harus segera jalani operasi kuret. Alat medis yang dingin dimasukkan ke dalam tubuhnya, lalu bergerak bolak-balik di dalam rahim seperti mesin penggiling daging. Anak yang belum sempat terbentuk sempurna itu dihancurkan, lalu dikeluarkan dari dalam tubuhnya.

Weni menjerit berkali-kali di ruang operasi karena tahan sakit. Semuanya terasa seperti ada di neraka. Namun siksaan yang begitu mengerikan itu, ternyata hanya bukti cinta yang diberikan Lukas ke sang “Putri”.

Tubuh Weni akhirnya ambruk dan dia terduduk di tanah. Rasa terhina, putus asa, dan kebencian kembali menyerbu dirinya sekaligus. Dia nangis hingga seluruh tubuhnya gemetar. Saat itu, dia berharap bisa mencincang Lukas jadi seribu bagian!

“Nyonya Weni? Kamu nggak apa-apa?”

Weni dongakkan kepalanya. Dengan mata berkabut oleh air mata, dia menatap pria yang berdiri di hadapannya. Pria itu kenakan kemeja dan setelan jas. Lengan kemejanya digulung hingga siku, perlihatkan sebuah jam tangan mewah di pergelangan tangannya. Jas luarnya disampirkan santai di lekukan lengannya. Pria itu tampak santai, tetapi tetap pancarkan keanggunan yang sulit diabaikan.

Peter Pangestu. Presiden Grup Pangestu, perusahaan tempat Lukas kerja.

Enam bulan lalu, Peter adakan pesta ulang tahun di atas kapal pesiar. Lukas bawa dia ikut hadiri pesta itu. Saat Weni sedang rapikan riasannya di sebuah kamar, Peter yang mabuk tanpa sengaja masuk ke sana. Karena salah kenali orang, Peter tekan dia ke dinding dan cium Weni dengan paksa, sambil bilang kalau Weni begitu kejam.

Weni nggak pernah berani ceritakan kejadian itu ke siapa pun. Seminggu kemudian, Lukas dapat promosi.

Saat ini, sebuah kalimat yang sering diucapkan Lukas tiba-tiba terlintas di benaknya, “Soal apa aku bisa nggak masuk ke jajaran petinggi Grup Pangestu, semuanya hanya bergantung pada satu kalimat dari Pak Peter.”

Hati Weni bergetar. Sebuah pikiran yang begitu gelap perlahan muncul di benaknya. Kalau ingin cincang seorang bajingan jadi ribuan bagian, hal terpenting adalah temukan pisau yang tepat untuk lakukan itu.

“Nyonya Weni?”

“Nggak apa-apa. Akhir-akhir ini aku nggak bisa tidur, jadi aku datang ke rumah sakit untuk periksa.”

Ketika Weni bangkit, tiba-tiba pergelangan kakinya terkilir dan tubuhnya terhuyung ke depan.

“Hati-hati!”

Pria itu dengan sigap tangkap tubuhnya. Lengannya yang kokoh segera lingkari pinggang Weni, tahan dia agar nggak jatuh. Aroma lembut kayu cendana seketika selimuti tubuh Weni.

“Keseleo?”

Weni angkat wajahnya. Tatapannya bertemu dengan mata Peter yang hitam pekat, sedalam tinta.

“Nggak tahu. Agak sakit.”

Weni perlahan berdiri. Dengan bantuan Peter, dia putar pergelangan kakinya dengan hati-hati.

Peter kembali tanya, “Lukas di mana? Kok dia nggak temani kamu ke sini?”

Jari-jari Weni yang putih dan ramping perlahan menyeka sisa air mata di sudut matanya.

Suaranya terdengar tenang.

“Katanya perusahaan punya urusan mendesak yang harus dia urus. Tadi malam dia pergi ke kantor untuk lembur semalaman. Sampai sekarang belum pulang.”

Tangan pria yang melingkari pinggang rampingnya sedikit mengencang. Sepasang mata hitamnya yang dalam pancarkan secercah rasa terkejut.

Weni balik tanya, “Pak Peter datang ke rumah sakit sepagi ini untuk jenguk orang atau .…”

“Urus sedikit urusan pribadi.”

“Oh … kalau gitu .…”

Peter tiba-tiba tambahkan, “Sudah selesai kok. Aku juga sudah mau balik.”

Weni tertegun selama dua detik. Tangannya yang menggantung di sisi tubuh cengkeram ujung rok. Dia telan ludah dengan gugup sebelum ucapkan kalimat yang hendak disampaikannya.

Peter menatapnya tanpa berkedip. Di dasar matanya, secercah cahaya yang sulit dijelaskan melintas dan entah gimana pancarkan daya tarik yang menggoda.

Untuk sesaat jantung Weni seakan berhenti berdetak. Akhirnya, dia buka mulut.

“Pak Peter, bisa nggak kamu antar aku pulang? Aku datangnya naik taksi. Sekarang sudah masuk jam ramai, jadi sepertinya akan sulit dapat taksi lagi. Lagian, pergelangan kakiku memang masih agak sakit.”

Weni ucapkan semuanya dalam satu tarikan napas. Tatapannya penuh keberanian yang rasanya nyaris agak nekat. Jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang.

“Bisa.”

Di tengah keheningan, suara pria itu terdengar begitu jelas dan lembut. Lembut seperti sehelai bulu yang usap perlahan ujung hatinya, buat dia merasa geli dan berdebar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 50

    Namun, pada saat seperti ini Weni justru ajukan usulan untuk pergi bulan madu, Lukas nggak punya alasan untuk tolak itu. Weni duduk di tepi ranjang, lalu dengan inisiatif sendiri genggam tangan Lukas.“Kamu baru alami kecelakaan, aku juga sampai dirawat di rumah sakit. Beberapa hari ini aku juga sudah cukup buat keributan, mulai dari hambur-hamburkan uangmu sampai mati-matian cari cara untuk cerai. Rasanya sudah cukup ngerepotin. Kalau dipikir baik-baik, setelah kita nikah, kita belum pernah benar-benar nikmati waktu bersama. Masa-masa kita pacaran waktu kuliah rasanya jauh lebih indah dibanding kehidupan pernikahan kita. Kamu benar. Dalam sebuah pernikahan, pertengkaran dan masalah memang nggak bisa dihindari. Hanya saja, mungkin kita belum benar-benar siap hadapi itu. Lukas, siapa tahu kali ini kita bisa temukan kembali perasaan yang dulu pernah kita miliki?”Nada suara Weni lembut, tetapi juga siratkan sedikit rasa sedih dan terluka. Kalimat-kalimat itu seketika mengenai sudut terda

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 49

    Dokumen itu cantumkan secara rinci seluruh aset yang saat ini dimiliki Lukas. Di dalamnya terdapat saldo rekening di berbagai bank, dana investasi, serta dua unit toko yang terdaftar atas namanya. Namun, satu-satunya yang nggak tercantum adalah rumah di Sentori.Pada bagian bawah dokumen, terdapat pula ketentuan yang menyatakan kalau selama pernikahan mereka masih berlangsung, seluruh penghasilan bulanan Lukas akan jadi hak Weni untuk dimiliki dan digunakan.Weni kernyitkan keningnya, hatinya jadi sangat bingung.“Maksudmu, kamu mau pakai semua uang ini untuk beli aku, biar aku tetap jadi istrimu?”Lukas menghela napas berat.“Weni, emangnya kamu harus bilang semuanya dengan begitu menyakitkan seperti ini? Kamu itu istriku. Sekarang aku bersedia serahkan seluruh kendali keuangan keluarga ke kamu. Aku cuma mau buat kamu bahagia. Jangankan beli mobil balap, meskipun kamu mau tebarkan semua uang ini di jalan pun, aku nggak bakal bilang apa-apa. Aku bersedia pakai semua yang aku miliki unt

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 48

    “Lukas, kamu mau aku tetap di sisimu biar suatu hari nanti kamu bisa bunuh aku diam-diam tanpa seorang pun tahu kan, terus kamu mau pakai uang ganti rugi itu untuk hidupi selingkuhanmu?”“Kamu bilang apa?!”Kali ini Lukas benar-benar tampak marah. Dia tutupi dadanya sambil terbatuk-batuk hebat, sampai wajahnya berubah merah keunguan karena tahan sesak. Kalau ini terjadi dulu, Weni pasti sudah buru-buru hampiri untuk periksa keadaannya dan tenangkan emosinya. Tapi sekarang, Weni hanya berdiri di sana dan menatap penderitaannya dengan tatapan dingin, tanpa sedikit pun rasa iba.Beberapa menit kemudian, Lukas akhirnya berhasil tenangkan napasnya.“Weni, sebenarnya aku harus gimana biar kamu percaya dengan perasaanku ke kamu? Ya, aku akui kalau aku nggak sengaja tampar kamu karena emosi. Tapi pria mana yang bisa tahan diri setelah istrinya selingkuh? Aku nggak pernah salahkan kamu karena hal itu. Gimana bisa kamu gunakan kejadian itu untuk sakitin aku? Kamu tahu nggak betapa hancurnya hati

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 47

    Kantor itu mendadak diliputi keheningan. Yang tersisa hanyalah suara napas lembut mereka berdua. Seolah nggak seorang pun berani pecahkan ketenangan saat itu, dan nggak seorang pun berani jadi orang pertama yang buka suara. Mereka sama-sama takut sebuah mimpi indah akan pecah berkeping-keping.Hati Weni perlahan tenggelam. Sebenarnya, apa yang sedang dia harapkan? Orang yang selamatkan dia di daerah Takara yang nggak berpenghuni adalah Lukas. Orang yang selama ini kirim surat dengan dia juga Lukas. Dan orang yang akhirnya datang temui dia sambil bawa kenangan-kenangan berharga itu juga tetap Lukas. Dia nggak salah menikahi orang. Hanya saja, pria itu sudah nggak cinta dia lagi.“Aku ....”Peter baru saja hendak bicara ketika HP Weni tiba-tiba berdering.Weni tersenyum canggung.“Maaf, tadi aku cuma asal tanya. Aku angkat telepon sebentar.”Weni berbalik, ambil HP-nya, lalu jalan ke samping untuk jawab panggilan. Orang di seberang telepon cuma bilang beberapa kalimat sebelum sambungan t

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 46

    Kelopak mata Peter yang tertunduk tutupi kilatan dingin di dasar matanya.“Kamu pikir itu mungkin?”Weni gelengkan kepalanya“Rasanya nggak mungkin. Kecuali aku dan orang lain .…”Sampai di situ, tiba-tiba dia ngerti. Kemungkinan besar baju-baju ini dibuat berdasarkan ukuran tubuh sosok pujaan lama yang selama ini tersimpan di hati Peter. Dia nggak hanya mirip dengan Nona Pujaan Lama itu dalam hal wajah, bahkan bentuk tubuh mereka pun serupa. Pantas saja setiap kali Peter terbawa suasana, pria itu selalu lingkarkan tangannya erat-erat di pinggangnya. Jangan-jangan, sebenarnya dia lagi mengenang seseorang dari masa lalu?Pikirkan hal itu, Weni merasa jauh lebih lega. Peter perhatikan ekspresi perempuan di hadapannya yang silih berganti, terkadang bingung, terkadang senang, lalu sesaat kemudian berubah jadi tatapan penuh sindiran.“Kamu lagi pikir apa sih?”Weni kibaskan tangannya dan segera alihkan pembicaraan.“Tehnya sudah dingin. Kamu nggak mau suruh sekretaris ganti dengan yang baru

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 45

    Weni pikir, soal perselingkuhan, memang benar kalau sudah lakukan itu sekali, yang kedua akan terasa jauh lebih mudah. Nggak heran Lukas bisa begitu lihai dan tenang hadapi perempuan lain. Sebelumnya, setiap kali ciuman dengan Peter, Weni selalu merasa tegang sekaligus bersalah, seolah-olah ada seratus pasang mata yang sedang mengawasi mereka. Namun, sejak Peter kasih dia “pelajaran” waktu di ruang VIP Klub Malam Holowi, seolah-olah ada sesuatu dalam dirinya yang tiba-tiba terbuka.Saat ini, dia duduk di atas meja kerja Peter, tubuhnya dikekang erat dalam pelukan pria itu, sementara setiap jengkal udara di dalam paru-parunya seolah direnggut habis. Weni hampir nggak bisa napas. Yang lebih buat dia gugup, dari luar kantor masih terdengar suara langkah sepatu hak tinggi yang berlalu-lalang, sesekali diselingi suara orang bicara ....Semua suara itu terus mengetuk pertahanan moralnya yang rapuh. Namun, baru saja akal sehat dan rasa malunya sempat muncul sedikit, keduanya kembali ditenggel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status