FAZER LOGINNamun, pada saat seperti ini Weni justru ajukan usulan untuk pergi bulan madu, Lukas nggak punya alasan untuk tolak itu. Weni duduk di tepi ranjang, lalu dengan inisiatif sendiri genggam tangan Lukas.“Kamu baru alami kecelakaan, aku juga sampai dirawat di rumah sakit. Beberapa hari ini aku juga sudah cukup buat keributan, mulai dari hambur-hamburkan uangmu sampai mati-matian cari cara untuk cerai. Rasanya sudah cukup ngerepotin. Kalau dipikir baik-baik, setelah kita nikah, kita belum pernah benar-benar nikmati waktu bersama. Masa-masa kita pacaran waktu kuliah rasanya jauh lebih indah dibanding kehidupan pernikahan kita. Kamu benar. Dalam sebuah pernikahan, pertengkaran dan masalah memang nggak bisa dihindari. Hanya saja, mungkin kita belum benar-benar siap hadapi itu. Lukas, siapa tahu kali ini kita bisa temukan kembali perasaan yang dulu pernah kita miliki?”Nada suara Weni lembut, tetapi juga siratkan sedikit rasa sedih dan terluka. Kalimat-kalimat itu seketika mengenai sudut terda
Dokumen itu cantumkan secara rinci seluruh aset yang saat ini dimiliki Lukas. Di dalamnya terdapat saldo rekening di berbagai bank, dana investasi, serta dua unit toko yang terdaftar atas namanya. Namun, satu-satunya yang nggak tercantum adalah rumah di Sentori.Pada bagian bawah dokumen, terdapat pula ketentuan yang menyatakan kalau selama pernikahan mereka masih berlangsung, seluruh penghasilan bulanan Lukas akan jadi hak Weni untuk dimiliki dan digunakan.Weni kernyitkan keningnya, hatinya jadi sangat bingung.“Maksudmu, kamu mau pakai semua uang ini untuk beli aku, biar aku tetap jadi istrimu?”Lukas menghela napas berat.“Weni, emangnya kamu harus bilang semuanya dengan begitu menyakitkan seperti ini? Kamu itu istriku. Sekarang aku bersedia serahkan seluruh kendali keuangan keluarga ke kamu. Aku cuma mau buat kamu bahagia. Jangankan beli mobil balap, meskipun kamu mau tebarkan semua uang ini di jalan pun, aku nggak bakal bilang apa-apa. Aku bersedia pakai semua yang aku miliki unt
“Lukas, kamu mau aku tetap di sisimu biar suatu hari nanti kamu bisa bunuh aku diam-diam tanpa seorang pun tahu kan, terus kamu mau pakai uang ganti rugi itu untuk hidupi selingkuhanmu?”“Kamu bilang apa?!”Kali ini Lukas benar-benar tampak marah. Dia tutupi dadanya sambil terbatuk-batuk hebat, sampai wajahnya berubah merah keunguan karena tahan sesak. Kalau ini terjadi dulu, Weni pasti sudah buru-buru hampiri untuk periksa keadaannya dan tenangkan emosinya. Tapi sekarang, Weni hanya berdiri di sana dan menatap penderitaannya dengan tatapan dingin, tanpa sedikit pun rasa iba.Beberapa menit kemudian, Lukas akhirnya berhasil tenangkan napasnya.“Weni, sebenarnya aku harus gimana biar kamu percaya dengan perasaanku ke kamu? Ya, aku akui kalau aku nggak sengaja tampar kamu karena emosi. Tapi pria mana yang bisa tahan diri setelah istrinya selingkuh? Aku nggak pernah salahkan kamu karena hal itu. Gimana bisa kamu gunakan kejadian itu untuk sakitin aku? Kamu tahu nggak betapa hancurnya hati
Kantor itu mendadak diliputi keheningan. Yang tersisa hanyalah suara napas lembut mereka berdua. Seolah nggak seorang pun berani pecahkan ketenangan saat itu, dan nggak seorang pun berani jadi orang pertama yang buka suara. Mereka sama-sama takut sebuah mimpi indah akan pecah berkeping-keping.Hati Weni perlahan tenggelam. Sebenarnya, apa yang sedang dia harapkan? Orang yang selamatkan dia di daerah Takara yang nggak berpenghuni adalah Lukas. Orang yang selama ini kirim surat dengan dia juga Lukas. Dan orang yang akhirnya datang temui dia sambil bawa kenangan-kenangan berharga itu juga tetap Lukas. Dia nggak salah menikahi orang. Hanya saja, pria itu sudah nggak cinta dia lagi.“Aku ....”Peter baru saja hendak bicara ketika HP Weni tiba-tiba berdering.Weni tersenyum canggung.“Maaf, tadi aku cuma asal tanya. Aku angkat telepon sebentar.”Weni berbalik, ambil HP-nya, lalu jalan ke samping untuk jawab panggilan. Orang di seberang telepon cuma bilang beberapa kalimat sebelum sambungan t
Kelopak mata Peter yang tertunduk tutupi kilatan dingin di dasar matanya.“Kamu pikir itu mungkin?”Weni gelengkan kepalanya“Rasanya nggak mungkin. Kecuali aku dan orang lain .…”Sampai di situ, tiba-tiba dia ngerti. Kemungkinan besar baju-baju ini dibuat berdasarkan ukuran tubuh sosok pujaan lama yang selama ini tersimpan di hati Peter. Dia nggak hanya mirip dengan Nona Pujaan Lama itu dalam hal wajah, bahkan bentuk tubuh mereka pun serupa. Pantas saja setiap kali Peter terbawa suasana, pria itu selalu lingkarkan tangannya erat-erat di pinggangnya. Jangan-jangan, sebenarnya dia lagi mengenang seseorang dari masa lalu?Pikirkan hal itu, Weni merasa jauh lebih lega. Peter perhatikan ekspresi perempuan di hadapannya yang silih berganti, terkadang bingung, terkadang senang, lalu sesaat kemudian berubah jadi tatapan penuh sindiran.“Kamu lagi pikir apa sih?”Weni kibaskan tangannya dan segera alihkan pembicaraan.“Tehnya sudah dingin. Kamu nggak mau suruh sekretaris ganti dengan yang baru
Weni pikir, soal perselingkuhan, memang benar kalau sudah lakukan itu sekali, yang kedua akan terasa jauh lebih mudah. Nggak heran Lukas bisa begitu lihai dan tenang hadapi perempuan lain. Sebelumnya, setiap kali ciuman dengan Peter, Weni selalu merasa tegang sekaligus bersalah, seolah-olah ada seratus pasang mata yang sedang mengawasi mereka. Namun, sejak Peter kasih dia “pelajaran” waktu di ruang VIP Klub Malam Holowi, seolah-olah ada sesuatu dalam dirinya yang tiba-tiba terbuka.Saat ini, dia duduk di atas meja kerja Peter, tubuhnya dikekang erat dalam pelukan pria itu, sementara setiap jengkal udara di dalam paru-parunya seolah direnggut habis. Weni hampir nggak bisa napas. Yang lebih buat dia gugup, dari luar kantor masih terdengar suara langkah sepatu hak tinggi yang berlalu-lalang, sesekali diselingi suara orang bicara ....Semua suara itu terus mengetuk pertahanan moralnya yang rapuh. Namun, baru saja akal sehat dan rasa malunya sempat muncul sedikit, keduanya kembali ditenggel







