Teilen

Bab 2

Yusni Anjani
Peter bantu Weni masuk ke dalam mobil. Bentley hitam itu seolah pisahkan mereka dari segala suara di luar. Kabinnya hangat dan sunyi, hadirkan ketenangan yang nyaris sempurna.

Diam-diam, Weni amati sekeliling. Nggak ada sedikit pun jejak keberadaan wanita lain di dalam mobil.

“Apa pekerjaan Nyonya Weni?”

Suara Peter terdengar datar dari sampingnya.

“Sebelum lulus, aku sudah dapat tawaran sebagai pembawa berita di stasiun TV.”

“Stasiun TV Jerisa?”

“Ya. Tapi aku baru bisa resmi jadi karyawan tetap akhir tahun nanti, jadi kesempatan tampil di layar masih sangat sedikit. Untuk sementara, sebagian besar pekerjaanku masih urusin liputan dan wawancara. Ditambah belakangan ini kondisi tubuhku kurang fit, jadi aku ambil cuti beberapa hari.”

“Wawancara .…”

Peter ulangi satu kata itu, kemudian tanya, “Sekarang kamu sudah enakan?”

“Sudah lumayan. Minggu depan aku rencana balik kerja.”

Peter nggak tanya lagi. Suasana di dalam mobil kembali sunyi. Tiba-tiba HP Weni berdering. Begitu lihat nama sahabatnya, Minda Utami, di layar HP, Weni langsung angkat itu.

“Halo?”

“Weni, malam ini kamu ada waktu nggak? Temani aku ke sebuah jamuan, dong. Kalau nanti aku kebanyakan minum, setidaknya masih ada kamu yang bisa jagain aku ….”

Weni terkekeh.

“Lagi-lagi kamu atasnamakan perusahaan ayahmu untuk kirim sumber daya ke pria pujaanmu?”

Minda mendengus manja.

“Nggak! Malam ini aku langsung undang para investor drama yang dia bintangi. Ada Grup Furada, Grup Olinda, dan masih banyak lagi … Ah, nanti saja kita bicarakan langsung. Kamu siap-siap, yah. Malam ini aku jemput kamu!”

Weni noleh sekilas ke arah Peter, lalu sengaja pastikan sekali lagi, “Tempatnya di Klub Nirwana?”

“Iya, iya! Ruang VIP.”

“Oke.”

Weni sanggupi permintaan Minda lalu tutup telepon.

“Kompleks Sedati. Kita sudah sampai.”

Peter parkir mobilnya dengan rapi, kemudian noleh ke Weni.

“Makasih, Pak Peter.”

Klik. Sabuk pengamannya terlepas.

Di bawah tatapan Peter yang sulit ditebak, perlahan Weni segera mainkan taktik tarik ulur.

“Aku nggak akan undang Pak Peter naik. Aku mau istirahat sebentar karena malam ini masih harus keluar. Lain kali aku yang traktir Pak Peter minum teh.”

Peter sedikit angkat alisnya.

“Oke.”

Weni kembali ke rumah.

Gambar hati, simbol kebahagiaan yang belum sempat dilepas dari pintu, terlihat begitu mencolok hingga menusuk matanya. Weni pandangi seluruh apartemen tiga kamar yang selama ini dia rawat dengan sepenuh hati, ciptakan suasana hangat dan nyaman di setiap sudutnya.

Pakaian Lukas tersusun dan tersetrika dengan rapi. Setiap sudut rumah bersih tanpa setitik debu. Weni masih ingat betapa bahagianya dia, pada hari ketika Lukas lamar dia. Malam itu, karena terlalu bersemangat, dia sampai nggak bisa tidur semalaman.

Empat tahun pacaran pada akhirnya hanya antarkan dia jadi wanita di depan cermin, tubuh penuh luka, dengan kedua mata bengkak karena nangis. Kebencian di dalam hatinya tumbuh liar seperti sulur tanaman merambat. Weni bahkan berharap bisa bunuh bajingan nggak berperasaan itu malam ini juga!

Dan mengenai pisau yang paling tepat untuk membalasnya, malam ini, dia akan tahu apa pria itu bersedia terima tawaran yang telah dia ulurkan.

Malam hari.

Weni mandi terlebih dulu. Setelah itu, dia ambil kembali kosmetik yang sudah berbulan-bulan nggak dia sentuh. Dia rias wajahnya dengan makeup tipis yang elegan, lalu pilih sebuah gaun selutut berwarna ungu muda dari dalam lemari.

Begitu lihat Weni, mata Minda langsung berbinar. Dia bahkan cubit pinggang sahabatnya.

“Memang nggak salah kamu dulu jadi primadona kampus. Nanti kalau kamu sudah tampil di TV sebagai pembawa berita, rating acaranya pasti langsung naik dua kali lipat.”

“Semoga ucapanmu jadi kenyataan. Doakan aku bisa diangkat jadi karyawan tetap akhir tahun nanti.”

Mobil akhirnya tiba di Klub Nirwana.

Begitu pintu dibuka, Weni menyapu pandangan ke seluruh ruangan. Dan dia langsung lihat Peter duduk di tengah sofa. Penampilan pria itu benar-benar terlalu sempurna.

Di dalam ruangan VIP yang remang-remang, wajahnya yang tampan memiliki garis-garis tegas, seolah dipahat langsung dari sebuah patung. Sebuah rokok terselip di antara jemarinya. Kerutan samar tampak di antara kedua alisnya, tunjukkan sedikit ketidaksabaran. Orang-orang di sekelilingnya berlomba-lomba tuangkan minuman dan bersulang dengan dia. Suara gelas beradu terdengar tanpa henti. Aroma asap rokok yang pekat buat Weni tersedak dan batuk kecil.

Peter tiba-tiba angkat pandangannya. Matanya langsung mengarah ke pintu. Tatapannya tepat bertemu dengan mata Weni yang sudah berkaca-kaca karena batuk. Sudut bibir tipisnya sedikit terangkat. Samar-samar. Minda tarik Weni dan langsung dudukkan dia di samping Peter.

Minda lalu tersenyum sapa Peter, “Pak Peter, saya kira Anda nggak akan datang. Asisten Anda bilang malam ini Anda nggak punya waktu, bahkan tolak undangan saya dengan sangat tegas!”

Peter matikan rokok yang baru diisapnya dua kali ke dalam asbak. Dia kibaskan asap di hadapannya sebelum angkat gelas dan menatap Minda.

“Awalnya memang nggak ada waktu.”

Setelah ucapkan kalimat itu, dia terdiam selama dua detik. Jantung Weni seketika jadi tegang.

Peter kemudian lanjutkan, “Kalau ada waktu, kita bisa sering ketemu. Sampaikan salamku ke ayahmu, Nona Minda.”

“Pasti, pasti! Aku bersulang untuk Pak Peter!”

Minda dentingkan gelasnya dengan gelas Peter, lalu minum sampai habis sebelum beralih sapa orang-orang lain.

Weni duduk di sofa, hanya berjarak sekitar beberapa jengkal dari Peter.

“Pak Peter, kita ketemu lagi.”

Peter mengangguk kecil.

“Lukas bilang kamu nggak bisa minum alkohol. Mau jus?”

Dengar nama Lukas, perasaan Weni langsung jadi buruk.

“Aku bisa minum kok.”

Alis Peter sedikit terangkat. Dia tuangkan segelas minuman untuk Weni, lalu kasih ke dia.

“Whisky.”

Weni menyesap sedikit. Namun rasa alkohol yang kuat langsung buat dia tersedak. Dia nggak kuasa tahan batuk. Dada Peter keluarkan tawa rendah yang samar. Dia tanya lagi, “Mau diganti jus?”

Weni gelengkan kepalanya dengan keras.

“Nggak usah. Aku mau yang ini saja.”

Tiba-tiba telapak tangannya terasa kosong. Peter ambil gelas itu dari tangannya, lalu ganti dengan gelas yang lain.

“Meskipun mau coba rasa yang baru, tetap harus pelan-pelan. Yang tadi terlalu keras. Nggak cocok buat kamu.”

Tangan Weni yang hendak terima gelas itu seketika membeku. Tatapannya bertemu dengan mata Peter yang dalam dan sulit dibaca. Dia paham maksud tersirat pria itu. Bahkan hampir bisa disebut terang-terangan. Mata Weni berkilat.

Detik berikutnya, Weni geser tubuhnya beberapa senti lebih dekat dengan Peter. Satu tangannya bertumpu di sofa, sementara tangan lainnya raih gelas minuman keras yang tadi diambil pria itu dari tangannya. Jarak mereka kini begitu dekat hingga napas mereka hampir bersentuhan.

“Belum pernah coba, gimana Pak Peter tahu kalau itu nggak cocok untuk aku? Siapa tahu … justru aku suka yang keras.”

Weni ambil kembali gelas itu. Sepasang matanya menatap Peter tanpa gentar sedikit pun. Kemudian dia tenggak habis minuman keras itu. Rasa panas bakar tenggorokannya, lalu menjalar hingga ke lambung.

Weni sedikit mengernyit. Namun dia tetap paksakan senyum cerah di wajahnya. Jantungnya justru berdetak semakin liar, seakan hendak lompat keluar dari dadanya. Tiba-tiba ujung jarinya terasa panas. Tangan Peter tekan punggung tangannya yang ada di atas sofa. Tatapannya terkunci pada mata Weni yang mulai sedikit berkabut.

“Sudah mabuk?”

Weni nggak tarik tangannya. Dia hanya dongakkan kepala dan menatap pria itu.

“Belum. Aku masih sadar.”

“Menurutku nggak gitu.”

Weni angkat alis, nggak mau kalah.

“Kalau gitu, menurut Pak Peter seperti apa orang yang masih sadar?”

Peter mendekat beberapa senti. Jarak mereka begitu dekat hingga bibir pria itu hampir sentuh bibirnya. Di sela napas mereka, Weni bisa cium samar aroma alkohol dari napas Peter.

“Kalau mau cerai, seharusnya cari pengacara. Kalau mau balas dendam, seharusnya sewa orang untuk lakukan itu. Seorang wanita yang sudah punya suami seharusnya jaga jarak dengan pria lain. Itulah yang disebut tetap sadar.”

Suara Weni terdengar serak.

“Kalau cerai, dia nggak akan tinggalkan pernikahan ini dengan tangan kosong. Kalau sewa orang untuk hajar dia, juga belum tentu bisa ambil nyawanya.”

Weni menatap Peter tanpa gentar.

“Jadi, cara paling sadar yang bisa aku lakukan adalah malam ini pilih orang dan jadikan dia kekasih gelapku.”

Tatapan Peter bergetar hebat. Weni tangkap perubahan emosi di dasar matanya. Senyum yang sangat memikat perlahan merekah di wajahnya. Kemudian Weni bangkit dan jalan menuju kamar kecil. Setelah basuh kedua tangannya dengan air dingin, Weni berdiri di depan wastafel selama beberapa saat untuk tenangkan diri sebelum akhirnya keluar. Weni sudah bersiap untuk pamitan ke Minda.

Hasil malam ini sudah jauh melampaui ekspektasinya. Kalau Weni terus godain pria itu, mungkin justru akan berbalik bikin dia rugi. Namun begitu pintu dibuka, Peter berdiri tepat di luar.

“Pak Peter, ini toilet wanita.”

“Iya. Aku tahu.”

Peter melangkah mendekat, selangkah demi selangkah. Weni terus mundur hingga terpaksa kembali masuk ke dalam kamar kecil.

Peter tutup pintu dari dalam.

Klik. Pintu itu terkunci.

Weni mundur beberapa langkah. Pinggang belakangnya akhirnya sentuh wastafel yang dingin dan keras. Suaranya terdengar sedikit terbata-bata.

“Pak Peter … kamu mau apa?”

Kedua tangan Peter bertumpu di sisi tubuh Weni, jebak dia di antara kedua lengannya.

Peter angkat alisnya. Tatapannya mengandung ejekan samar.

“Aku kira waktu Nyonya Weni mulai godain aku, kamu sudah persiapkan diri untuk hadapi akibatnya. Jangan-jangan aku salah ngerti? Kamu nggak lagi … rayu aku?”

“Aku .…”

Memang itu yang dia pikirkan. Hanya saja, dia nggak nyangka semua akan berkembang secepat ini.

“Nyonya Weni, nggak keberatan kalau kita lakukan itu di sini?”

Tangan kanan Peter perlahan menyusuri pinggang ramping Weni, kemudian turun. Telapak tangannya yang hangat sentuh ujung gaunnya. Sepasang mata hitam Peter yang dalam terus mengunci pandangannya, nggak kasih Weni sedikit pun kesempatan untuk menghindar.

Weni telan ludahnya dengan gugup. Namun tepat ketika jemari pria itu hampir sentuh pahanya, HP-nya berdering. Satu kata “Suami” berkedip-kedip di layar. Begitu mencolok. Begitu menyakitkan mata.

“Nyonya Weni, kalau mau menyesal, masih belum terlambat.”

Weni angkat wajahnya dan bertemu dengan tatapan Peter yang sedikit mengejek. Di balik mata indahnya, kebencian yang membara terpancar tanpa sedikit pun tersamarkan.

“Panggil namaku saja.”

Weni letakkan HP-nya di atas wastafel.

Dia biarkan HP itu terus bergetar tanpa berniat angkat panggilan itu. Sudut bibir Peter terangkat dengan senyum penuh makna. Lalu, perlahan, satu demi satu suku kata keluar dari bibirnya.

“We … ni ….”

Seolah nggak mau kalah, Weni juga sebut namanya.

“Peter.”

Tatapan Peter menghitam seperti tinta. Ada sedikit bahaya yang tersembunyi di dalamnya. Bahkan suaranya terdengar semakin serak.

“Panggil aku apa?”

“Pe … ter.”

Pria itu menatap bibir merah muda Weni yang perlahan buka tutup saat sebut namanya.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 50

    Namun, pada saat seperti ini Weni justru ajukan usulan untuk pergi bulan madu, Lukas nggak punya alasan untuk tolak itu. Weni duduk di tepi ranjang, lalu dengan inisiatif sendiri genggam tangan Lukas.“Kamu baru alami kecelakaan, aku juga sampai dirawat di rumah sakit. Beberapa hari ini aku juga sudah cukup buat keributan, mulai dari hambur-hamburkan uangmu sampai mati-matian cari cara untuk cerai. Rasanya sudah cukup ngerepotin. Kalau dipikir baik-baik, setelah kita nikah, kita belum pernah benar-benar nikmati waktu bersama. Masa-masa kita pacaran waktu kuliah rasanya jauh lebih indah dibanding kehidupan pernikahan kita. Kamu benar. Dalam sebuah pernikahan, pertengkaran dan masalah memang nggak bisa dihindari. Hanya saja, mungkin kita belum benar-benar siap hadapi itu. Lukas, siapa tahu kali ini kita bisa temukan kembali perasaan yang dulu pernah kita miliki?”Nada suara Weni lembut, tetapi juga siratkan sedikit rasa sedih dan terluka. Kalimat-kalimat itu seketika mengenai sudut terda

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 49

    Dokumen itu cantumkan secara rinci seluruh aset yang saat ini dimiliki Lukas. Di dalamnya terdapat saldo rekening di berbagai bank, dana investasi, serta dua unit toko yang terdaftar atas namanya. Namun, satu-satunya yang nggak tercantum adalah rumah di Sentori.Pada bagian bawah dokumen, terdapat pula ketentuan yang menyatakan kalau selama pernikahan mereka masih berlangsung, seluruh penghasilan bulanan Lukas akan jadi hak Weni untuk dimiliki dan digunakan.Weni kernyitkan keningnya, hatinya jadi sangat bingung.“Maksudmu, kamu mau pakai semua uang ini untuk beli aku, biar aku tetap jadi istrimu?”Lukas menghela napas berat.“Weni, emangnya kamu harus bilang semuanya dengan begitu menyakitkan seperti ini? Kamu itu istriku. Sekarang aku bersedia serahkan seluruh kendali keuangan keluarga ke kamu. Aku cuma mau buat kamu bahagia. Jangankan beli mobil balap, meskipun kamu mau tebarkan semua uang ini di jalan pun, aku nggak bakal bilang apa-apa. Aku bersedia pakai semua yang aku miliki unt

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 48

    “Lukas, kamu mau aku tetap di sisimu biar suatu hari nanti kamu bisa bunuh aku diam-diam tanpa seorang pun tahu kan, terus kamu mau pakai uang ganti rugi itu untuk hidupi selingkuhanmu?”“Kamu bilang apa?!”Kali ini Lukas benar-benar tampak marah. Dia tutupi dadanya sambil terbatuk-batuk hebat, sampai wajahnya berubah merah keunguan karena tahan sesak. Kalau ini terjadi dulu, Weni pasti sudah buru-buru hampiri untuk periksa keadaannya dan tenangkan emosinya. Tapi sekarang, Weni hanya berdiri di sana dan menatap penderitaannya dengan tatapan dingin, tanpa sedikit pun rasa iba.Beberapa menit kemudian, Lukas akhirnya berhasil tenangkan napasnya.“Weni, sebenarnya aku harus gimana biar kamu percaya dengan perasaanku ke kamu? Ya, aku akui kalau aku nggak sengaja tampar kamu karena emosi. Tapi pria mana yang bisa tahan diri setelah istrinya selingkuh? Aku nggak pernah salahkan kamu karena hal itu. Gimana bisa kamu gunakan kejadian itu untuk sakitin aku? Kamu tahu nggak betapa hancurnya hati

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 47

    Kantor itu mendadak diliputi keheningan. Yang tersisa hanyalah suara napas lembut mereka berdua. Seolah nggak seorang pun berani pecahkan ketenangan saat itu, dan nggak seorang pun berani jadi orang pertama yang buka suara. Mereka sama-sama takut sebuah mimpi indah akan pecah berkeping-keping.Hati Weni perlahan tenggelam. Sebenarnya, apa yang sedang dia harapkan? Orang yang selamatkan dia di daerah Takara yang nggak berpenghuni adalah Lukas. Orang yang selama ini kirim surat dengan dia juga Lukas. Dan orang yang akhirnya datang temui dia sambil bawa kenangan-kenangan berharga itu juga tetap Lukas. Dia nggak salah menikahi orang. Hanya saja, pria itu sudah nggak cinta dia lagi.“Aku ....”Peter baru saja hendak bicara ketika HP Weni tiba-tiba berdering.Weni tersenyum canggung.“Maaf, tadi aku cuma asal tanya. Aku angkat telepon sebentar.”Weni berbalik, ambil HP-nya, lalu jalan ke samping untuk jawab panggilan. Orang di seberang telepon cuma bilang beberapa kalimat sebelum sambungan t

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 46

    Kelopak mata Peter yang tertunduk tutupi kilatan dingin di dasar matanya.“Kamu pikir itu mungkin?”Weni gelengkan kepalanya“Rasanya nggak mungkin. Kecuali aku dan orang lain .…”Sampai di situ, tiba-tiba dia ngerti. Kemungkinan besar baju-baju ini dibuat berdasarkan ukuran tubuh sosok pujaan lama yang selama ini tersimpan di hati Peter. Dia nggak hanya mirip dengan Nona Pujaan Lama itu dalam hal wajah, bahkan bentuk tubuh mereka pun serupa. Pantas saja setiap kali Peter terbawa suasana, pria itu selalu lingkarkan tangannya erat-erat di pinggangnya. Jangan-jangan, sebenarnya dia lagi mengenang seseorang dari masa lalu?Pikirkan hal itu, Weni merasa jauh lebih lega. Peter perhatikan ekspresi perempuan di hadapannya yang silih berganti, terkadang bingung, terkadang senang, lalu sesaat kemudian berubah jadi tatapan penuh sindiran.“Kamu lagi pikir apa sih?”Weni kibaskan tangannya dan segera alihkan pembicaraan.“Tehnya sudah dingin. Kamu nggak mau suruh sekretaris ganti dengan yang baru

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 45

    Weni pikir, soal perselingkuhan, memang benar kalau sudah lakukan itu sekali, yang kedua akan terasa jauh lebih mudah. Nggak heran Lukas bisa begitu lihai dan tenang hadapi perempuan lain. Sebelumnya, setiap kali ciuman dengan Peter, Weni selalu merasa tegang sekaligus bersalah, seolah-olah ada seratus pasang mata yang sedang mengawasi mereka. Namun, sejak Peter kasih dia “pelajaran” waktu di ruang VIP Klub Malam Holowi, seolah-olah ada sesuatu dalam dirinya yang tiba-tiba terbuka.Saat ini, dia duduk di atas meja kerja Peter, tubuhnya dikekang erat dalam pelukan pria itu, sementara setiap jengkal udara di dalam paru-parunya seolah direnggut habis. Weni hampir nggak bisa napas. Yang lebih buat dia gugup, dari luar kantor masih terdengar suara langkah sepatu hak tinggi yang berlalu-lalang, sesekali diselingi suara orang bicara ....Semua suara itu terus mengetuk pertahanan moralnya yang rapuh. Namun, baru saja akal sehat dan rasa malunya sempat muncul sedikit, keduanya kembali ditenggel

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status