Share

Bab 6

Author: Yusni Anjani
Weni turunkan pandangannya. Gerakannya saat menyeruput teh sama sekali nggak terhenti. Seolah-olah hasil seperti ini memang sudah dia duga sejak awal. Justru hal itu buat tatapan Peter perlahan diselimuti hawa dingin.

“Weni.”

Nada suaranya saat panggil nama itu terdengar sedikit nggak sabar.

Weni letakkan cangkir tehnya. Cangkir porselen yang indah itu sentuh permukaan meja dengan bunyi nyaring dan dingin.

“Lalu, Pak Peter, apa yang bisa kamu lakukan untuk aku?”

Weni angkat wajahnya tanpa sedikit pun rasa takut, menatap langsung hawa dingin yang terpancar dari mata Peter. Satu detik sebelumnya, dia masih jadi wanita anggun memikat yang piawai meracik teh. Namun detik berikutnya, dia telah berubah jadi lawan yang rasional dan dingin di meja perundingan.

Peter sipitkan matanya. Kilatan geli sekaligus penuh minat muncul di mata hitamnya. Dia angkat tangan, cengkeram dagu Weni yang ramping dan sedikit lancip, lalu tarik wajah wanita itu mendekat ke arahnya.

“Coba kasih tahu aku. Apa yang kamu mau dari aku?”

“Buat Lukas kehilangan segalanya.”

Peter terkekeh.

“Weni, apa kamu benar-benar kenal suamimu?”

“Maksudmu?”

Peter berkata, “Terlepas dari kenyataan kalau aku nggak akan singkirkan orang berbakat di bawahku tanpa alasan, mari kita bicara tentang Lukas. Usianya baru dua puluh enam tahun, tetapi sebentar lagi dia sudah akan duduki posisi wakil presiden grup. Artinya, seorang mahasiswa biasa tanpa latar belakang maupun koneksi apa pun, hanya dalam empat tahun setelah lulus, sudah capai posisi tinggi yang bahkan belum tentu mampu dicapai orang lain seumur hidup. Tahu kenapa?”

Weni turunkan pandangannya. Dia berusaha sembunyikan gejolak emosi yang nggak mampu ditahan oleh kenangan.

“Dia adalah orang paling cerdas dan paling ambisius yang pernah aku kenal. Selama empat tahun di universitas, dia selalu jadi penerima beasiswa tertinggi. Berbagai kompetisi dia menangkan satu demi satu sampai seolah-olah penghargaan sudah jadi hal biasa bagi dia. Dia bahkan belajar dua bahasa asing secara autodidak dan hampir saja terjun ke dunia diplomasi.”

Weni teringat pada kakak kelas yang dulu begitu penuh semangat dan percaya diri. Bahkan rambutnya seolah bawa aura liar khas masa muda. Namun hanya kepadanya, pria itu selalu bersikap lembut dan penuh perhatian.

“Selain itu, dia sangat teliti. Dia pandai baca situasi dan pahami perubahan ekspresi orang lain. Dalam bicara maupun bertindak, dia hampir nggak pernah lakukan kesalahan.”

Peter berkata, “Bakat seperti itu cuma muncul satu di antara ribuan. Meskipun dia nggak kerja di Grup Pangestu, meskipun aku nggak kasih dia kesempatan untuk naik jabatan, masih ada banyak tempat bagi dia untuk tunjukkan kemampuannya. Kamu mau buat dia kehilangan segalanya. Kamu mau mulai dari mana? Dari perselingkuhan yang belum punya bukti nyata ini? Tapi kehidupan pribadi seseorang nggak pernah jadi standar utama masyarakat dalam menilai kesuksesan seorang pria. Bahkan ada banyak klien yang justru senang bertukar pengalaman dengan dia dalam hal semacam itu.”

Kata-kata Peter menghantam Weni seperti palu demi palu. Sedikit demi sedikit, punggungnya yang semula tegak seolah dipaksa membungkuk. Setelah keheningan panjang, suara Weni kembali terdengar sedingin salju di awal musim semi. Nggak ada sedikit pun kehangatan.

“Jadi maksud Pak Peter, kamu nggak bisa bantu aku?”

Weni bangkit perlahan. Sikapnya tetap sopan, tetapi jelas jaga jarak.

“Kalau gitu, aku nggak akan ganggu lagi. Aku pamit dulu.”

Pintu kayu ruang VIP terbuka dengan suara gesekan panjang. Suara hak tinggi Weni menghantam lantai kayu.

Tak. Tak. Tak.

Langkahnya menjauh dengan tenang dan dingin.

Di dalam ruangan jari-jari panjang Peter cengkeram cangkir teh. Gerakan itu justru terlihat seperti dia sedang tahan keinginan untuk cengkeram leher ramping Weni hingga patah. Detik berikutnya, dia hantamkan cangkir itu ke atas meja. Tenaganya cukup keras hingga beberapa tetes teh terciprat keluar. Noda-noda teh menyebar di atas meja kayu mahoni, menyerupai bunga persik yang bermekaran.

Weni kembali ke dalam mobil. Satu demi satu kenangan selama empat tahun bersama Lukas terlintas di benaknya. Pria itu pernah merawatnya hampir tanpa cela.

Perhatian dan kelembutannya perlahan hangatkan hati Weni, hati yang awalnya nggak pernah taruh harapan pada pernikahan. Namun pria itu seolah-olah dalam sekejap telah membusuk dari dalam.

Weni buka nomor milik “Putri” yang tersimpan di HP-nya, lalu tekan tombol panggil. Setelah beberapa dering, sebuah suara wanita yang lembut dan manja terdengar dari seberang.

“Halo?”

Dalam sekejap, Weni merasa seolah tenggorokannya dicekik. Nggak ada satu kata pun yang mampu keluar.

“Halo? Siapa ini?”

Weni baru hendak buka mulut ketika tiba-tiba terdengar suara Lukas dari seberang telepon.

“Rina, siapa yang telepon?”

Wanita itu jawab dengan nada manja, “Aku nggak tahu. Mungkin salah sambung. Tadi telepon, tapi nggak bicara apa-apa.”

“Kalau gitu, tutup saja. Ayo sini, lihat hadiah yang sudah aku siapkan untuk kamu.”

Panggilan terputus. HP Weni terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai mobil. Air mata mengalir deras dari kedua matanya. Jadi bukan hanya Lukas yang telah membusuk. Pernikahannya, kehidupannya, semuanya ikut membusuk bersamanya.

Weni nyalakan mobil. Saat berbelok di persimpangan, sebuah mobil tiba-tiba potong jalurnya. Weni melirik kaca spion. Ketika berusaha menghindar, Weni banting setir.

Brak!

Mobilnya hantam pagar pembatas di pinggir jalan. Dalam beberapa menit berikutnya, kepalanya berdengung hebat. Dari luar, sepertinya ada orang yang panik ketuk kaca mobil dan berusaha keras tarik gagang pintu.

Weni pegangi dadanya. Dia tundukkan kepala di atas kemudi dan terengah-engah beberapa kali sebelum akhirnya buka kunci pintu. Pintu mobil mendadak ditarik hingga terbuka. Tubuh Weni terangkat dari kursinya. Dalam sekejap, dia sudah ada dalam pelukan seseorang.

Mata Peter yang gelap seperti tinta dipenuhi amarah yang mengerikan.

“Kamu nggak mau hidup lagi? Ini jurus keberapa dari Tiga Puluh Enam Siasat? Jurus mengorbankan diri untuk cari simpati?”

“Pak Peter kebanyakan pikir. Aku cuma nggak terlalu pintar setir mobil.”

Weni berusaha turun dari pelukannya. Namun begitu kedua kakinya sentuh tanah, lututnya langsung kehilangan tenaga. Tubuhnya jatuh terduduk di samping mobil.

Peter menatapnya dari atas. Tatapannya setajam pisau yang baru saja diasah.

“Weni, kalau kamu sampai mati karena tabrakan di sini hari ini, besok Lukas bisa saja urus pemakamanmu. Lusa, dia sudah bisa nikah lagi. Kamu nggak mau cerai, malah terus terjerat dengan dia dalam pernikahan busuk seperti selokan ini. Memangnya kamu bisa dapat untung apa dari ini?”

Weni mendongak menatapnya. Darah merah segar mengalir dari pelipisnya. Kontras dengan wajahnya yang cantik, buat dia tampak semakin menawan sekaligus menyedihkan.

“Aku nggak pernah bilang aku nggak mau cerai. Dengan kata lain, kalau aku cerai terus aku sama kamu, emang aku bisa dapat apa?”

Tatapan mereka bertemu. Untuk pertama kalinya, Peter seolah benar-benar lihat kegigihan yang tersembunyi di dasar mata wanita itu. Topeng lembutnya. Keanggunannya. Sikapnya yang selalu pengertian. Satu per satu telah dilepaskan. Wanita yang sekarang berdiri di hadapannya, meski tubuhnya penuh luka dan harus gertakkan gigi tahan sakit, itulah Weni yang sebenarnya.

Seseorang telah khianati dia. Dan dia pasti akan balas itu. Bahkan jika harus melukai musuh seribu kali dengan korbankan dirinya sendiri delapan ratus kali, dia nggak akan peduli. Weni berpegangan pada roda mobil dan terhuyung-huyung bangkit.

“Peter, tujuan gelapku, pikiran kotorku, bahkan cara amatirku untuk rayu kamu, semuanya sudah aku kasih lihat ke kamu. Kalau kamu adalah pihak pertama dalam sebuah transaksi, sekarang pilihannya sederhana. Kamu tanda tangani kontrak dengan pihak kedua, atau kita berpisah di sini, supaya pihak kedua bisa cari pembeli lain. Bukannya kamu jauh lebih ngertii prinsip bisnis dibanding aku?”

Setelah akhirnya berhasil berdiri dengan stabil, Weni terhuyung kembali ke kursi pengemudi untuk cari HP-nya.

“Tiga kali.”

Suara Peter terdengar dari belakangnya. Dingin hingga nyaris membeku. Tubuh Weni jadi tegang.

“Apa?”

Peter berkata, “Selama nggak merugikan Grup Pangestu maupun diriku secara pribadi, aku akan bantu kamu bereskan Lukas sebanyak tiga kali. Kalau kamu memang punya kemampuan, manfaatkan tiga kesempatan itu sebaik mungkin. Buat Lukas kehilangan segalanya.”

Weni belum sempat jawab ketika Peter kembali berkata, “Tiga bulan kemudian, kamu harus cerai. Jangan harap aku akan temani kamu jadi simpanan seorang wanita yang masih punya suami.”

Weni gelengkan kepalanya.

“Tiga bulan nggak cukup. Setidaknya enam bulan.”

Peter datang mendekat. Telapak tangannya bertumpu di sisi mobil. Sepasang mata hitamnya pancarkan tekanan yang begitu dalam, seolah-olah berubah jadi jaring besar yang mengurung Weni tanpa kasih dia celah untuk kabur.

“Empat bulan. Selama waktu itu, kamu harus datang kapan pun aku panggil. Dan kamu nggak boleh lagi lakukan apa pun sebagai pasangan suami istri dengan dia. Itu batasanku. Kalau nggak setuju, kamu boleh cari pembeli lain.”

“Oke.” Weni jawab pelan. Namun tubuhnya kembali kehilangan tenaga dan nyaris jatuh. Peter segera rangkul dia dengan satu tangan. Tangan lainnya ambil HP Weni. Layar HP kebetulan menyala pada halaman riwayat panggilan.

“Sepuluh menit yang lalu, kamu sudah telepon ambulans.”

Mata Peter menyipit. Tawa dingin keluar dari tenggorokannya.

“Kecelakaan ini bahkan nggak sampai lima menit lalu.”

“Weni, masih bilang ini bukan jurus mengorbankan diri?”

Weni bersandar ke dalam pelukannya. Dia kembali kenakan topeng lembut dan rapuhnya.

“Ini namanya memancing dengan mundur. Aku bertaruh ketertarikanmu ke aku nggak berhenti cuma di secangkir teh.”

Weni menunjuk kaca spion.

“Aku lihat mobilmu ikuti aku dari belakang.”

Tubuhnya nggak mampu bertahan lagi. Dia benar-benar ambruk dalam pelukan Peter. Namun sudut bibirnya masih sunggingkan senyum penuh kemenangan. Peter angkat tubuhnya dan gendong Weni dalam posisi horizontal. Lengannya mengerat. Suaranya terdengar sedikit serak.

“Kamu seharusnya bersyukur sekarang kamu bakal dibawa ke rumah sakit.”

“Kalau nggak?”

“Kalau nggak, malam ini akan jadi pertama kalinya kamu selingkuh. Dan aku bisa jamin besok kamu nggak akan sanggup turun dari tempat tidur.”

Pernyataan yang terang-terangan sekaligus dominan itu buat pipi Weni seketika memerah. Dengan tenang dia meringkuk dalam pelukan Peter dan pejamkan mata. Pisau yang begitu dia butuhkan untuk balas dendam, akhirnya jadi miliknya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 50

    Namun, pada saat seperti ini Weni justru ajukan usulan untuk pergi bulan madu, Lukas nggak punya alasan untuk tolak itu. Weni duduk di tepi ranjang, lalu dengan inisiatif sendiri genggam tangan Lukas.“Kamu baru alami kecelakaan, aku juga sampai dirawat di rumah sakit. Beberapa hari ini aku juga sudah cukup buat keributan, mulai dari hambur-hamburkan uangmu sampai mati-matian cari cara untuk cerai. Rasanya sudah cukup ngerepotin. Kalau dipikir baik-baik, setelah kita nikah, kita belum pernah benar-benar nikmati waktu bersama. Masa-masa kita pacaran waktu kuliah rasanya jauh lebih indah dibanding kehidupan pernikahan kita. Kamu benar. Dalam sebuah pernikahan, pertengkaran dan masalah memang nggak bisa dihindari. Hanya saja, mungkin kita belum benar-benar siap hadapi itu. Lukas, siapa tahu kali ini kita bisa temukan kembali perasaan yang dulu pernah kita miliki?”Nada suara Weni lembut, tetapi juga siratkan sedikit rasa sedih dan terluka. Kalimat-kalimat itu seketika mengenai sudut terda

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 49

    Dokumen itu cantumkan secara rinci seluruh aset yang saat ini dimiliki Lukas. Di dalamnya terdapat saldo rekening di berbagai bank, dana investasi, serta dua unit toko yang terdaftar atas namanya. Namun, satu-satunya yang nggak tercantum adalah rumah di Sentori.Pada bagian bawah dokumen, terdapat pula ketentuan yang menyatakan kalau selama pernikahan mereka masih berlangsung, seluruh penghasilan bulanan Lukas akan jadi hak Weni untuk dimiliki dan digunakan.Weni kernyitkan keningnya, hatinya jadi sangat bingung.“Maksudmu, kamu mau pakai semua uang ini untuk beli aku, biar aku tetap jadi istrimu?”Lukas menghela napas berat.“Weni, emangnya kamu harus bilang semuanya dengan begitu menyakitkan seperti ini? Kamu itu istriku. Sekarang aku bersedia serahkan seluruh kendali keuangan keluarga ke kamu. Aku cuma mau buat kamu bahagia. Jangankan beli mobil balap, meskipun kamu mau tebarkan semua uang ini di jalan pun, aku nggak bakal bilang apa-apa. Aku bersedia pakai semua yang aku miliki unt

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 48

    “Lukas, kamu mau aku tetap di sisimu biar suatu hari nanti kamu bisa bunuh aku diam-diam tanpa seorang pun tahu kan, terus kamu mau pakai uang ganti rugi itu untuk hidupi selingkuhanmu?”“Kamu bilang apa?!”Kali ini Lukas benar-benar tampak marah. Dia tutupi dadanya sambil terbatuk-batuk hebat, sampai wajahnya berubah merah keunguan karena tahan sesak. Kalau ini terjadi dulu, Weni pasti sudah buru-buru hampiri untuk periksa keadaannya dan tenangkan emosinya. Tapi sekarang, Weni hanya berdiri di sana dan menatap penderitaannya dengan tatapan dingin, tanpa sedikit pun rasa iba.Beberapa menit kemudian, Lukas akhirnya berhasil tenangkan napasnya.“Weni, sebenarnya aku harus gimana biar kamu percaya dengan perasaanku ke kamu? Ya, aku akui kalau aku nggak sengaja tampar kamu karena emosi. Tapi pria mana yang bisa tahan diri setelah istrinya selingkuh? Aku nggak pernah salahkan kamu karena hal itu. Gimana bisa kamu gunakan kejadian itu untuk sakitin aku? Kamu tahu nggak betapa hancurnya hati

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 47

    Kantor itu mendadak diliputi keheningan. Yang tersisa hanyalah suara napas lembut mereka berdua. Seolah nggak seorang pun berani pecahkan ketenangan saat itu, dan nggak seorang pun berani jadi orang pertama yang buka suara. Mereka sama-sama takut sebuah mimpi indah akan pecah berkeping-keping.Hati Weni perlahan tenggelam. Sebenarnya, apa yang sedang dia harapkan? Orang yang selamatkan dia di daerah Takara yang nggak berpenghuni adalah Lukas. Orang yang selama ini kirim surat dengan dia juga Lukas. Dan orang yang akhirnya datang temui dia sambil bawa kenangan-kenangan berharga itu juga tetap Lukas. Dia nggak salah menikahi orang. Hanya saja, pria itu sudah nggak cinta dia lagi.“Aku ....”Peter baru saja hendak bicara ketika HP Weni tiba-tiba berdering.Weni tersenyum canggung.“Maaf, tadi aku cuma asal tanya. Aku angkat telepon sebentar.”Weni berbalik, ambil HP-nya, lalu jalan ke samping untuk jawab panggilan. Orang di seberang telepon cuma bilang beberapa kalimat sebelum sambungan t

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 46

    Kelopak mata Peter yang tertunduk tutupi kilatan dingin di dasar matanya.“Kamu pikir itu mungkin?”Weni gelengkan kepalanya“Rasanya nggak mungkin. Kecuali aku dan orang lain .…”Sampai di situ, tiba-tiba dia ngerti. Kemungkinan besar baju-baju ini dibuat berdasarkan ukuran tubuh sosok pujaan lama yang selama ini tersimpan di hati Peter. Dia nggak hanya mirip dengan Nona Pujaan Lama itu dalam hal wajah, bahkan bentuk tubuh mereka pun serupa. Pantas saja setiap kali Peter terbawa suasana, pria itu selalu lingkarkan tangannya erat-erat di pinggangnya. Jangan-jangan, sebenarnya dia lagi mengenang seseorang dari masa lalu?Pikirkan hal itu, Weni merasa jauh lebih lega. Peter perhatikan ekspresi perempuan di hadapannya yang silih berganti, terkadang bingung, terkadang senang, lalu sesaat kemudian berubah jadi tatapan penuh sindiran.“Kamu lagi pikir apa sih?”Weni kibaskan tangannya dan segera alihkan pembicaraan.“Tehnya sudah dingin. Kamu nggak mau suruh sekretaris ganti dengan yang baru

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 45

    Weni pikir, soal perselingkuhan, memang benar kalau sudah lakukan itu sekali, yang kedua akan terasa jauh lebih mudah. Nggak heran Lukas bisa begitu lihai dan tenang hadapi perempuan lain. Sebelumnya, setiap kali ciuman dengan Peter, Weni selalu merasa tegang sekaligus bersalah, seolah-olah ada seratus pasang mata yang sedang mengawasi mereka. Namun, sejak Peter kasih dia “pelajaran” waktu di ruang VIP Klub Malam Holowi, seolah-olah ada sesuatu dalam dirinya yang tiba-tiba terbuka.Saat ini, dia duduk di atas meja kerja Peter, tubuhnya dikekang erat dalam pelukan pria itu, sementara setiap jengkal udara di dalam paru-parunya seolah direnggut habis. Weni hampir nggak bisa napas. Yang lebih buat dia gugup, dari luar kantor masih terdengar suara langkah sepatu hak tinggi yang berlalu-lalang, sesekali diselingi suara orang bicara ....Semua suara itu terus mengetuk pertahanan moralnya yang rapuh. Namun, baru saja akal sehat dan rasa malunya sempat muncul sedikit, keduanya kembali ditenggel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status