Share

Bab 5

Author: Yusni Anjani
“Kalau begitu, Pak Peter benar-benar beruntung.”

Weni memujinya, lalu tiba-tiba berkata, “Ngomong-ngomong, aku baru ingat. Di rumahku juga ada sebotol. Dulu aku nggak terlalu ngerti soal anggur. Baru hari ini aku tahu ternyata botol yang ada di rumah adalah Saint-Émilion Bordeaux. Pas sekali untuk dibuka dan dicicipi.”

Weni jalan menuju ruang kerja. Dia nyalakan pengeras suara, lalu letakkan HP-nya di atas meja. Weni ambil sebotol anggur merah, buka tutupnya, kemudian tuangkan ke dalam gelas. Suara anggur yang mengalir terdengar begitu jelas hingga sampai ke telinga Peter melalui sambungan telepon.

Setelah itu, Weni menyesap sedikit. Dia keluarkan suara heran.

“Sepertinya rasanya kok beda dengan yang kita minum malam ini.”

Suara Peter terdengar jauh lebih rendah.

“Harus diangin-anginkan dulu.”

Weni tersenyum tipis.

“Oh, ternyata ngerepotin juga. Harus diangin-anginkan berapa lama supaya rasanya sama seperti yang malam ini?”

“Dua puluh menit.”

Weni menghela napas kecewa.

“Tapi aku sudah ngantuk. Aku nggak bisa tunggu dua puluh menit. Kalau nanti Pak Peter mau minum itu, kasih tahu aku sebelumnya. Aku akan angin-anginkan dulu anggurnya, sambil tungguin Pak Peter datang.”

“Aku sudah bilang, di rumahku ada.”

Weni tersenyum kecil.

“Aku tahu. Kalau gitu, aku kasih tahu Pak Peter dari sekarang, supaya nanti kalau aku datang, anggurnya juga sudah siap untuk diminum.”

Napas Peter seketika jadi kacau.

“Weni, kamu tahu nggak kamu lagi ngapain?”

Weni balik tanya, “Kalau gitu, Pak Peter tahu nggak malam ini kamu ngapain?”

Di seberang telepon, Peter terdiam. Weni tersenyum dalam suaranya.

“Selamat malam, Peter.”

Hening beberapa detik. Kemudian Peter berkata, “Jangan pakai HP-nya Lukas untuk telepon aku lagi.”

Sebelum Weni sempat jawab, panggilan itu sudah diputus.

Weni ambil HP-nya sendiri, cari nomor Peter, lalu tambahkan dia sebagai kontak. Dia hapus riwayat panggilan dari HP Lukas, kembalikan HP itu ke ruang keluarga, lalu kembali ke kamar untuk tidur.

Tengah malam, Lukas bangunkan Weni.

“Sayang, perutku sakit banget.”

Weni terlalu malas untuk buka matanya.

“Minum air hangat.”

“Aku sudah minum. Tapi masih sakit.”

Weni nyalakan lampu tidur. Barulah dia lihat keringat dingin banjiri dahi Lukas.

“Kalau gitu, aku antar ke rumah sakit.”

Weni bergerak dengan sangat lambat. Dia pilih sebuah gaun, kenakan, lalu rapikan rambutnya sebelum akhirnya berangkat.

Setelah jalani serangkaian pemeriksaan, dokter berkata, “Gastroenteritis akut. Dia harus dirawat inap.”

Weni urus administrasi rawat inap Lukas.

“Dua hari ini kamu istirahat yang baik. Nggak usah pikirkan pekerjaan dulu. Jangan sampai penyakitnya malah tambah parah.”

Lukas menatap wajah Weni yang lembut dan tenang. Dia yakin Weni sudah nggak marah lagi. Barulah Lukas bisa menutup mata dengan lega.

“Sayang, jangan pernah bicara soal perceraian lagi. Aku nggak bisa kehilangan kamu. Aku janji, di dunia ini nggak akan pernah ada orang yang perlakukan kamu lebih baik daripada aku.”

Keesokan harinya.

Lukas sedang jalani infus ketika tiba-tiba terima telepon dari kantor. Suara di seberang terdengar tergesa-gesa, seolah ada sesuatu yang sangat mendesak. Setelah tutup telepon, Lukas menatap Weni dengan ekspresi minta bantuan.

“Sayang, ada sebuah dokumen di ruang kerja. Pak Peter butuh itu untuk ketemu klien hari ini. Bisa nggak kamu ambilkan itu?”

Weni angkat pandangannya.

“Aku yang antarkan? Apa itu pantas?”

Lukas begitu panik sampai rasanya ingin cabut jarum infusnya.

“Sekarang Pak Peter lagi dalam perjalanan temui klien. Kalau kita minta orang lain datang ambil itu, waktunya nggak akan cukup. Aku akan kirimkan alamat pertemuannya ke kamu, terus kamu setir mobil ke sana, itu yang paling cepat. Begitu sampai, cukup ketuk pintu dan kasih dokumennya ke dia.”

“Oke. Aku ngerti.”

Weni ambil tasnya lalu pergi. Di komputer Lukas, dia temukan file asli dokumen tersebut. Dia ubah beberapa angka di dalamnya, kemudian cetak ulang satu salinan. Barulah dia setir mobil menuju tempat yang diberikan Lukas.

Alamat yang dikirim Lukas ternyata sebuah kedai teh bergaya Asia. Weni temukan ruang VIP yang dimaksud, lalu ketuk pintunya.

“Masuk.”

Weni dorong pintu. Tatapannya langsung bertemu dengan mata Peter yang tampak terkejut.

“Pak Peter, aku datang antarkan dokumen.”

Hari itu, Weni kenakan blus renda putih yang dipadukan dengan rok biru muda berkualitas tinggi. Panjang roknya pas, perlihatkan betisnya yang ramping dan indah. Pria yang duduk di seberang Peter amati Weni dari atas hingga bawah. Dia tersenyum.

“Aku dengar sekretaris Pak Peter semuanya punya kemampuan luar biasa dan serba bisa. Aku ingin tahu, apa Nona ini juga ngerti tentang teh?”

Pria itu letakkan cangkir teh di tengah meja, kasih isyarat agar Weni tuangkan teh.

Weni noleh ke Peter. Pria itu sama sekali nggak tunjukkan niat untuk belain dia.

Weni tersenyum tipis.

“Saya cuma tahu sedikit. Tolong jangan ditertawakan.”

Weni jalan ke sisi meja. Dia gunakan wadah takar teh untuk ambil daun teh, lalu tunjukkan itu ke pria tersebut agar dapat amati bentuk dan warna daun teh. Setelah itu, Weni gunakan air mendidih untuk bilas dan hangatkan cangkir. Jari-jarinya yang panjang dan putih gerakkan perangkat teh dengan lembut. Setiap gerakannya anggun dan perlahan. Setelah daun teh disiapkan, Weni angkat teko dengan tangan kanan dan tuangkan air mendidih ke dalamnya. Suara aliran air terdengar merdu. Persis seperti suara anggur yang dituangkannya semalam.

“Silakan dicicipi.”

Pria itu ulurkan tangan. Tanpa sungkan, jarinya sentuh punggung tangan Weni yang putih dan lembut, lalu usap itu dengan gerakan penuh arti.

“Katanya cuma tahu sedikit? Beberapa gerakan sederhana ini saja sudah cukup untuk buat anak buahku belajar selama setengah tahun.”

“Anda terlalu memuji saya.”

Weni tersenyum lembut. Senyumnya buat pria itu semakin tertarik. Kemudian dia tarik Weni ke sisinya.

“Teh ini pasti akan terasa lebih nikmat kalau disuapkan langsung ke mulut, kan?”

Akhirnya, Peter angkat bicara, “Pak Wicak, kita bicarakan urusan utama lebih dulu.”

“Oke, oke, oke.”

Pak Wicak Sudarsono mengangguk sambil tersenyum. Kemudian dia keluarkan sebuah kartu kamar hotel dan selipkan itu ke telapak tangan Weni. Dia sama sekali nggak berusaha sembunyikan rasa tertariknya ke wanita itu.

Weni kembali ke rumah sakit. Namun begitu sampai di depan kamar, dia dengar suara Lukas lagi telepon.

“Hal yang terjadi tadi malam pengaruhnya sangat besar ke aku. Kalau sekarang aku beneran cerai, bukannya itu sama saja dengan buktikan kalau kamu beneran hancurkan rumah tanggaku? Aku nggak mau kamu tanggung semua hinaan karena aku. Weni tentu saja percaya ke aku. Semalam dia mabuk berat. Dia sampai nangis dan mohon agar aku nggak tinggalkan dia. Dia baru saja kehilangan anak. Belakangan ini emosinya sangat sensitif. Anggap saja kita lagi kasihani dia. Biarkan dia punya waktu untuk tenangkan diri.”

Tangan Weni cengkeram gagang pintu dengan erat. Dia begitu ingin terobos masuk dan tampar Lukas sepuluh kali. Kalau Lukas memang begitu khawatir dengan sang “Putri”, dan sekarang Weni juga nggak punya apa pun yang bisa tahan dia, kenapa Lukas nggak langsung ceraikan dia dan nikahi wanita itu? Sebenarnya, apa yang sedang direncanakan Lukas?!

Weni benar-benar nggak mampu temukan jawabannya. Bahkan saat makan malam, dia hampir nggak sentuh makanannya.

Malam harinya, ketika sedang setir pulang, kartu kamar yang tadi diberikan Pak Wicak terjatuh dari saku Weni. Dia yakin Peter lihat semuanya ketika Pak Wicak selipkan kartu itu ke tangannya.

Weni penasaran. Apa yang sebenarnya dipikirkan Peter? Karena itu, Weni setir mobilnya kembali ke kedai teh itu.

Malam telah tiba. Lentera yang tergantung di luar kedai teh menyala dengan cahaya redup, ciptakan suasana sunyi dan tenteram. Harga makanan dan minuman di kedai teh ini nggak murah. Namun lingkungannya sangat baik dan privasinya terjaga. Banyak orang pilih tempat ini untuk bicarakan bisnis. Dulu, Lukas juga pernah bawa Weni ke sini.

“Nona, apa Anda sudah lakukan reservasi?”

Weni gelengkan kepalanya. Dia serahkan kartu kamar itu.

“Tadi aku temukan ini di sini. Sepertinya milik salah satu pelanggan kalian.”

“Makasih sudah repot-repot kembalikan.”

Weni jalan keluar dari kedai teh. Dan di sana, dia lihat Peter. Pria itu berdiri di samping mobilnya. Tatapannya tertuju pada Weni yang berdiri di anak tangga. Emosi yang sulit ditebak mengalir samar di dasar matanya. Seolah-olah, Peter memang sudah tunggu dia di sana sejak tadi.

Weni jalan hampiri dia. Senyum tipis hiasi wajahnya.

“Pak Peter, pagi tadi baru minum teh, malam-malam datang lagi? Hati-hati nanti malah insomnia.”

Peter jawab, “Pagi tadi kamu nggak seduhkan teh untuk aku.”

Weni tersenyum.

“Menurutku, teh yang dibuat pakai tangan yang baru saja disentuh Pak Wicak, belum tentu Pak Peter mau minum.”

Ekspresi Peter tetap tenang.

“Sudah dicuci?”

Weni ulurkan tangannya yang putih bersih seperti batu giok.

“Sudah. Aku cuci tiga kali pakai sabun cuci tangan.”

Secercah kegembiraan yang nyaris nggak terlihat melintas di dasar mata Peter. Dia melangkah menuju kedai teh.

“Buatkan aku secangkir lagi.”

Weni ikuti dia. Mereka naik ke lantai atas dan masuk ke ruang VIP. Di dalam ruangan terdapat meja rendah. Keduanya lepas sepatu sebelum masuk dan duduk berhadapan di atas bantal duduk. Peter topang satu kakinya, bersandar santai di sisi meja rendah. Wajahnya tampak santai ketika perhatikan Weni buat teh dengan perlahan.

Di ruangan yang remang-remang, suara peralatan teh yang saling bersentuhan terdengar merdu seperti lonceng angin. Aroma teh menyebar perlahan. Uap hangat mengepul tipis. Ketika Weni tundukkan kepala, beberapa helai rambut jatuh dari sisi pelipisnya. Angin malam berembus dari jendela. Helai rambut itu bergoyang perlahan tertiup angin, menempel lembut di wajahnya yang indah sebelum kembali jatuh ke sisi pipinya.

“Weni, ada beberapa parameter penting dalam dokumen itu yang salah. Karena kesalahan itu, jabatan Lukas akan diturunkan. Awalnya, dia punya peluang besar untuk jadi wakil presiden grup akhir tahun nanti. Tapi sekarang, bahkan posisinya sekarang saja belum tentu bisa dipertahankan.”

Weni tetap tenang selesaikan tehnya. Dia angkat cangkir dan serahkan itu ke Peter.

“Kalau dengar kabar ini, dia pasti sangat terpukul.”

Peter terkekeh dingin. Ujung suaranya sedikit terangkat, terdengar santai sekaligus penuh makna.

“Kalau kamu?”

“Aku senang.”

Peter noleh. Tatapannya lurus menembus Weni. Suaranya terdengar serak.

“Aku tanya gimana perasaanmu setelah ciuman kita semalam.”

Tangan Weni yang sedang pegang cangkir teh berhenti sejenak. Dia angkat matanya. Tatapannya bertaut dengan tatapan Peter. Kehangatan perlahan muncul di dasar mata pria itu. Namun suaranya tetap begitu datar. Nggak terdengar seperti rayuan. Justru lebih menyerupai sebuah perintah.

“Kamu cerai, terus sama aku saja.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 50

    Namun, pada saat seperti ini Weni justru ajukan usulan untuk pergi bulan madu, Lukas nggak punya alasan untuk tolak itu. Weni duduk di tepi ranjang, lalu dengan inisiatif sendiri genggam tangan Lukas.“Kamu baru alami kecelakaan, aku juga sampai dirawat di rumah sakit. Beberapa hari ini aku juga sudah cukup buat keributan, mulai dari hambur-hamburkan uangmu sampai mati-matian cari cara untuk cerai. Rasanya sudah cukup ngerepotin. Kalau dipikir baik-baik, setelah kita nikah, kita belum pernah benar-benar nikmati waktu bersama. Masa-masa kita pacaran waktu kuliah rasanya jauh lebih indah dibanding kehidupan pernikahan kita. Kamu benar. Dalam sebuah pernikahan, pertengkaran dan masalah memang nggak bisa dihindari. Hanya saja, mungkin kita belum benar-benar siap hadapi itu. Lukas, siapa tahu kali ini kita bisa temukan kembali perasaan yang dulu pernah kita miliki?”Nada suara Weni lembut, tetapi juga siratkan sedikit rasa sedih dan terluka. Kalimat-kalimat itu seketika mengenai sudut terda

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 49

    Dokumen itu cantumkan secara rinci seluruh aset yang saat ini dimiliki Lukas. Di dalamnya terdapat saldo rekening di berbagai bank, dana investasi, serta dua unit toko yang terdaftar atas namanya. Namun, satu-satunya yang nggak tercantum adalah rumah di Sentori.Pada bagian bawah dokumen, terdapat pula ketentuan yang menyatakan kalau selama pernikahan mereka masih berlangsung, seluruh penghasilan bulanan Lukas akan jadi hak Weni untuk dimiliki dan digunakan.Weni kernyitkan keningnya, hatinya jadi sangat bingung.“Maksudmu, kamu mau pakai semua uang ini untuk beli aku, biar aku tetap jadi istrimu?”Lukas menghela napas berat.“Weni, emangnya kamu harus bilang semuanya dengan begitu menyakitkan seperti ini? Kamu itu istriku. Sekarang aku bersedia serahkan seluruh kendali keuangan keluarga ke kamu. Aku cuma mau buat kamu bahagia. Jangankan beli mobil balap, meskipun kamu mau tebarkan semua uang ini di jalan pun, aku nggak bakal bilang apa-apa. Aku bersedia pakai semua yang aku miliki unt

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 48

    “Lukas, kamu mau aku tetap di sisimu biar suatu hari nanti kamu bisa bunuh aku diam-diam tanpa seorang pun tahu kan, terus kamu mau pakai uang ganti rugi itu untuk hidupi selingkuhanmu?”“Kamu bilang apa?!”Kali ini Lukas benar-benar tampak marah. Dia tutupi dadanya sambil terbatuk-batuk hebat, sampai wajahnya berubah merah keunguan karena tahan sesak. Kalau ini terjadi dulu, Weni pasti sudah buru-buru hampiri untuk periksa keadaannya dan tenangkan emosinya. Tapi sekarang, Weni hanya berdiri di sana dan menatap penderitaannya dengan tatapan dingin, tanpa sedikit pun rasa iba.Beberapa menit kemudian, Lukas akhirnya berhasil tenangkan napasnya.“Weni, sebenarnya aku harus gimana biar kamu percaya dengan perasaanku ke kamu? Ya, aku akui kalau aku nggak sengaja tampar kamu karena emosi. Tapi pria mana yang bisa tahan diri setelah istrinya selingkuh? Aku nggak pernah salahkan kamu karena hal itu. Gimana bisa kamu gunakan kejadian itu untuk sakitin aku? Kamu tahu nggak betapa hancurnya hati

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 47

    Kantor itu mendadak diliputi keheningan. Yang tersisa hanyalah suara napas lembut mereka berdua. Seolah nggak seorang pun berani pecahkan ketenangan saat itu, dan nggak seorang pun berani jadi orang pertama yang buka suara. Mereka sama-sama takut sebuah mimpi indah akan pecah berkeping-keping.Hati Weni perlahan tenggelam. Sebenarnya, apa yang sedang dia harapkan? Orang yang selamatkan dia di daerah Takara yang nggak berpenghuni adalah Lukas. Orang yang selama ini kirim surat dengan dia juga Lukas. Dan orang yang akhirnya datang temui dia sambil bawa kenangan-kenangan berharga itu juga tetap Lukas. Dia nggak salah menikahi orang. Hanya saja, pria itu sudah nggak cinta dia lagi.“Aku ....”Peter baru saja hendak bicara ketika HP Weni tiba-tiba berdering.Weni tersenyum canggung.“Maaf, tadi aku cuma asal tanya. Aku angkat telepon sebentar.”Weni berbalik, ambil HP-nya, lalu jalan ke samping untuk jawab panggilan. Orang di seberang telepon cuma bilang beberapa kalimat sebelum sambungan t

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 46

    Kelopak mata Peter yang tertunduk tutupi kilatan dingin di dasar matanya.“Kamu pikir itu mungkin?”Weni gelengkan kepalanya“Rasanya nggak mungkin. Kecuali aku dan orang lain .…”Sampai di situ, tiba-tiba dia ngerti. Kemungkinan besar baju-baju ini dibuat berdasarkan ukuran tubuh sosok pujaan lama yang selama ini tersimpan di hati Peter. Dia nggak hanya mirip dengan Nona Pujaan Lama itu dalam hal wajah, bahkan bentuk tubuh mereka pun serupa. Pantas saja setiap kali Peter terbawa suasana, pria itu selalu lingkarkan tangannya erat-erat di pinggangnya. Jangan-jangan, sebenarnya dia lagi mengenang seseorang dari masa lalu?Pikirkan hal itu, Weni merasa jauh lebih lega. Peter perhatikan ekspresi perempuan di hadapannya yang silih berganti, terkadang bingung, terkadang senang, lalu sesaat kemudian berubah jadi tatapan penuh sindiran.“Kamu lagi pikir apa sih?”Weni kibaskan tangannya dan segera alihkan pembicaraan.“Tehnya sudah dingin. Kamu nggak mau suruh sekretaris ganti dengan yang baru

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 45

    Weni pikir, soal perselingkuhan, memang benar kalau sudah lakukan itu sekali, yang kedua akan terasa jauh lebih mudah. Nggak heran Lukas bisa begitu lihai dan tenang hadapi perempuan lain. Sebelumnya, setiap kali ciuman dengan Peter, Weni selalu merasa tegang sekaligus bersalah, seolah-olah ada seratus pasang mata yang sedang mengawasi mereka. Namun, sejak Peter kasih dia “pelajaran” waktu di ruang VIP Klub Malam Holowi, seolah-olah ada sesuatu dalam dirinya yang tiba-tiba terbuka.Saat ini, dia duduk di atas meja kerja Peter, tubuhnya dikekang erat dalam pelukan pria itu, sementara setiap jengkal udara di dalam paru-parunya seolah direnggut habis. Weni hampir nggak bisa napas. Yang lebih buat dia gugup, dari luar kantor masih terdengar suara langkah sepatu hak tinggi yang berlalu-lalang, sesekali diselingi suara orang bicara ....Semua suara itu terus mengetuk pertahanan moralnya yang rapuh. Namun, baru saja akal sehat dan rasa malunya sempat muncul sedikit, keduanya kembali ditenggel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status